Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menjalankan misi rencana


__ADS_3

Malam itu, Ardian memutar otaknya untuk menjalankan misi yang diberikan Kate tadi siang. Mencari cara agar Chayra bisa tertarik pada tubuhnya.


"Kok rasanya berat banget ya. Belum mulai aja gue udah mau menyerah." Ardian bergumam pelan. Pikirannya melayang jauh masih memikirkan apa yang akan dia lakukan. Matanya berulang kali melirik ke arah Balkon tempat Chayra sedang melakukan panggilan dengan ibunya. Bibirnya tiba-tiba tersenyum licik. "Gue tau caranya."


Ardian bangkit dan masuk ke ruang ganti. Mengambil baju kaos yang paling tipis yang dia miliki. Sengaja tidak memakainya dan hanya memakai celana pendek selutut. Ingin menertawakan dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia yang laki-laki yang menggoda wanita.


Samar-samar dia mendengar Chayra mengakhiri panggilannya. Itu berarti wanita itu akan masuk kembali ke dalam kamar. Ardian mengambil posisi. Berdiri di samping ranjang dengan berkacak pinggang. Sengaja membelakangi Balkon, agar bisa menyembunyikan kegugupannya. Memejamkan matanya menunggu reaksi Chayra melihatnya tanpa baju.


"Astagfirullahal'adzim.. apa yang kamu lakukan, Kak?" Chayra menggeleng-geleng pelan.


Ardian membelalakkan matanya. Dia pikir Chayra akan menjerit dan menutup wajahnya. Membalik tubuhnya seraya tersenyum salah tingkah.


"Kenapa Kakak nggak pakai baju?" Chayra berjalan mendekat. "Astagfirullah, Kak. Ini apa lagi?" Chayra menusuk-nusuk punggung Ardian yang bertato.


"Kenapa kamu tidak menjerit dan menutup mata saat melihat aku seperti ini?" Pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Ardian.


"Ngapain harus menjerit?" Chayra bertanya heran. "Pakai bajunya, Kak. Mata aku sakit melihat Kakak seperti itu. Apalagi gambar menjijikkan di punggung Kakak membuat perutku mual." Chayra mencari keberadaan baju Ardian. Melemparkannya pada pria itu.


"Ngapain coba buat tato menjijikkan seperti itu?" Chayra hanya bisa menghela nafas berat. Sudah tujuh bulan dia menikah dengan pria itu. Kenapa baru sekarang dia sadar kalau suaminya itu bertato.


Ardian menggaruk-garuk kepalanya. "Kenapa kamu terlihat biasa-biasa aja saat melihat aku seperti tadi?" Ardian mendekati Chayra setelah memakai bajunya.


"Terus aku harus bagaimana? Awalnya sih aku terkejut tadi. Ada niat untuk kembali ke Balkon. Aku pikir Kakak sedang menggaruk-garuk punggung karena gatal. Tapi, saat melihat tato tadi, kok aku jadi kesal dan ingin rasanya menyetrika punggung Kakak biar benda itu hilang." Kembali menusuk-nusuk punggung Ardian karena kesal.


"What..?!" Ardian membelalakkan matanya. "Tega banget kamu.."


"Apa enaknya sih melukis-lukis tubuh seperti itu? Sudah dikasih tubuh indah sama Allah, eh malah dicoret-coret. Eneg tau, lihatnya."


"Ini hobi, Sayang, hobi. Kamu tau kan, kelamnya kehidupan aku yang dulu."


"Apaan sih, panggil-panggil sayang. Kakak beneran mau tobat nggak sih?!"


"Kok nanya gitu? Iya gue beneran mau berubah lah. Masa akting terus? Aku kan sudah bilang kalau aku mau berubah sekarang. Kan kamu yang larang aku untuk akting."


"Yakin..?"


"Ya Allah aku serius. Pernah nggak lho dengar gue menyebut nama Allah sebelum ini?"


"Kalau begitu, aku punya permintaan."

__ADS_1


"Apa.. sebutkan saja. Aku akan berusaha untuk memenuhinya. Tapi, aku juga ada permintaan untukmu jika aku berhasil memenuhi permintaan kamu."


Chayra menatap Ardian tajam. "Apa Kakak yakin, akan mampu memenuhi permintaanku ini?"


"Mm... insya.. Allah," Ardian tersenyum. "Ucapku benar kan?"


"Iya, Kak. Kak Ardian kan sudah pandai sekarang."


"Mm.. buruan katakan."


"Hapus benda yang ada di tubuh Kakak itu."


"Yang benar dong, Sayang. Ini permanen. Akan sangat sulit untuk menghilangkannya.


"Jangan panggil sayang." Chayra kembali menegaskan, agar Ardian tidak memakai panggilan itu lagi. "Aku nggak mau tau pokoknya. Kakak cari cara agar itu bisa dihapus. Aku akan mengabulkan apapun itu keinginan Kakak jika benda itu bisa hilang."


Ardian termenung. "Aku.. aku butuh waktu untuk melakukan itu semua. Dan yang paling penting, aku sangat membutuhkan dukungan dari kamu." Menarik tangan Chayra, menempelkan tangan itu di dadanya dan mendekapnya dengan erat.


"Jangan menariknya karena aku butuh ini." Ardian langsung mencegah Chayra yang sudah mulai bereaksi karena tindakannya.


Chayra menelan ludahnya. Nafasnya sudah naik turun, jantungnya berdegup sangat kencang.


Chayra kembali menelan ludahnya. "Aku.. aku butuh waktu untuk itu."


"Sampai kapan..? Sudah tujuh bulan kita menikah. Kamu bahkan tidak mengizinkan aku melihat wajahmu sampai sekarang. Apakah hukuman ini belum cukup bagimu?"


Chayra menatap lurus ke depan. Matanya terasa memanas karena ingin segera menumpahkan air mata. "K.. Kakak yang membuatku seperti ini."


"Tapi kalau aku tidak melakukan itu dulu, kamu pasti sudah menikah dengan Dosen itu."


"Tentu saja, karena dia adalah pria yang aku cintai."


"Lalu bagaimana dengan perasaan kamu padaku?"


"Aku perlu beradaptasi dulu. Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan."


"Tapi sampai kapan? Apakah kamu membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk memaafkan aku?"


"Aku sudah memaafkan Kakak. Aku tidak akan bisa bersikap seperti ini kalau aku masih membenci Kakak." Melirik tangan kirinya yang masih digenggam Ardian. Sedangkan tangan kanannya sibuk mengusap air matanya.

__ADS_1


Ardian menunduk. "Maafkan aku.. jangan pernah bosan membimbing aku sampai aku benar-benar bisa berubah." Menatap Chayra dengan penuh harap.


"Insya Allah.."


"Tapi..." Ardian menunduk menatap tangan Chayra yang masih dia genggam di atas pangkuannya.


Chayra menatap pria itu heran. Apa lagi yang akan pria itu katakan. "Tapi apa?"


"Jangan pernah memintaku untuk melepaskan kamu. Karena... karena aku tidak akan bisa melakukan itu."


Chayra menghela nafas berat. "Jangan pikirkan hal itu dulu. Kita serahkan kepada yang Maha membolak-balikkan perasaan. Aku hanya ingin, sekarang Kakak fokus pada benda di punggung itu."


Ardian meralihkan pandangannya. "Ada sih cara menghilangkan benda ini. Kalau nggak salah, mungkin ada tiga cara. Salah satunya dengan operasi. Satunya lagi dengan sinar laser. Dan yang satunya lagi.. aku lupa namanya. Intinya yang satu itu dengan mengikis kulit. Semua cara itu mengandung resiko. Dan aku masih merasa berat kalau harus berobat dengan menanggung resiko yang besar." Ardian mengakhiri kalimatnya dengan membuang nafas kasar.


Chayra melirik Ardian kesal. "Itu berarti Kak Ardian tidak mau benar-benar menghilang benda itu."


"Aku mau.. serius, aku mau. Jangan marah."


"Lalu kenapa harus memikirkan resiko. Itu semua demi kebaikan Kak Ardian sendiri. Iya sekarang Kakak masih hidup. Tapi, apakah Kakak pernah memikirkan resikonya saat Kakak menjadi Jenazah nanti?"


"Jangan bilang gitu ah. Gue masih mau hidup belum mau mati."


"Tapi benda itu akan menjadi penghalang saat Jenazah manusia dimandikan."


"Maksud kamu?"


"Air tidak bisa langsung menyentuh kulit karena benda itu. Untung saja benda itu ada di punggung. Kalau di anggota wudhu bagaimana?"


Ardian tersenyum meringis. "Mimpi apa aku punya istri secerdas dan sebaik kamu?"


Chayra tersenyum sinis. "Jangan memuji! Pujian itu tanpa sadar membuat kita menjadi sombong. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling mengingatkan."


Ardian tercengang. Baru kali ini dia menemukan seseorang yang tidak suka dipuji. Bahkan semua wanita yang dia kenal sangat senang di puji. Termasuk juga di dalamnya Amira.


Chayra menarik tangannya. Sudah cukup Ardian menggenggamnya dari tadi. "Apa itu tujuan Kakak tidak ber***a***ng dada di depanku tadi? Kakak ingin memamerkan benda yang menjadi kebanggaan Kakak itu?"


Chayra bangkit. "Jujur, Kak. Mungkin bagi kebanyakan wanita, itu tidak menjadi masalah. Tapi, bagi wanita yang berdiri di depanmu ini. Hal itu seperti benda menjijikkan."


Ardian menggaruk-garuk kepalanya. Tidak mungkin dia akan berkata jujur tentang tujuannya tidak memakai baju tadi. Pasti akan sangat memalukan kalau Chayra sampai tau.

__ADS_1


********


__ADS_2