Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana pemberantasan pembuat onar


__ADS_3

Pak Akmal menghubungi Ardian, kalau dirinya benar-benar akan datang ke Kantor Ardian untuk menyelesaikan masalah semalam. Anita tidak masuk kerja hari ini. Kata Dodit, Anita tidak masuk karena kurang enak badan. Sebenarnya Ardian sudah memperkirakan kalau wanita itu tidak akan berani masuk kerja gara-gara perbuatannya semalam. Ardian berulang kali meminta Dodit untuk menghubungi wanita itu. Karena untuk melakukannya sendiri dia merasa gengsi.


"Dit, dicoba sekali lagi. Kakek akan datang jam sebelas ini."


"Tapi nomor handphonenya tidak aktif, Ar. Aku sudah mencobanya beberapa kali."


"Terus aku harus bilang apa sama Kakek nanti. Beliau mau datang kemari karena ingin bertemu dengan Anita."


"Memangnya Pak Akmal ada urusan apa sih dengan wanita itu?"


"Kenapa kamu tidak hadir di pesta semalam?"


"Eh, apa hubungannya dengan aku yang tidak hadir. Memangnya aku mau hadir atau tidak, apa ada pengaruhnya untuk kamu?"


"Itu makanya kamu ketinggalan informasi. Kamu nggak tau kalau cewek kamu yang kegatelan itu menyiram muka bini gue pakai air kola." Ardian berkata sambil melengos kesal.


Dodit melototkan matanya. "Yang benar saja, Ar? Memangnya si Anita tidak tau wajah istri kamu?"


"Siapa bilang dia tidak tau. Dia sengaja melakukan itu bahkan saat aku sedang memberikan sambutan di atas panggung."


"What...?! Berani sekali tu cewek.." Dodit berdecak-decak sambil menggeleng-geleng pelan.


"Itu makanya cewek kamu itu benar-benar kurang ajar. Andaikan acara tadi malam bukan acara Papi aku. Pasti sudah aku bacok tu cewek."


"Enak saja bilang cewek aku. Yang ada dia kan selalu mengejar-ngejar kamu. Terus.. terus.. gimana ceritanya kenapa dia sampai menyiram muka istri kamu."


"Hal itu masih menjadi tanda tanya besar dipikiranku. Chay tidak mau menceritakan apapun. Dia malah menyuruhku bertanya pada si Anita." Ardian kembali melengos.


"Aku masih nggak percaya kalau tu cewek berani berbuat seperti itu."


"Aku akan semakin tidak nyaman kalau setiap hari harus bekerja dengan dia."


"Kalau kamu tidak nyaman, tinggal bilang aja ke Pak Sucipto. Pasti beliau akan mengabulkan permintaan kamu."


"Tapi Anita itu kan anak temannya Papi. Aku jadi nggak enak kalau komplain sama Papi."


"Aku kok curiga kalau orang tuanya Anita ada hubungan spesial dengan Pak Sucipto. Dulu..." Dodit menambahkan di akhir kalimatnya.


"Maksudnya?"


Dodit menarik nafas panjang. "Mungkin Pak Sucipto dan ibunya si Anita itu pernah ada hubungan spesial dulu, sebelum Pak Sucipto menikah dengan Mami kamu."


Ardian mengernyit. "Alasan kamu apa berkata begitu? Itu hanya ilusi kamu semata. Istriku saja yang mengalami kejadian semalam tidak mau menceritakan apapun. Kamu malah menduga-duga hal yang tidak pasti. Dosa tau nggak, Dit.."

__ADS_1


"Heh... Pak Ustadz sudah mulai kambuh lagi. Tapi... ucapan kamu ada benarnya juga sih." Dodit menggaruk-garuk kepalanya. "Udah ah, aku mau mencoba menghubungi wanita pembuat onar itu lagi. Siapa tau nomornya sudah aktif sekarang."


"Coba lagi dah, aku tunggu kabar baiknya." Ardian menggoyang-goyang kursi kebesarannya sambil memperhatikan Dodit yang terlihat sibuk menghubungi Anita.


"Ehehehe.. nyambung dia, Ar. Ssstttt...."


"Hallo, selamat pagi, Pak Dodit." Suara Anita serak bangun tidur.


"Anda masih istirahat, Bu?"


"Eh iya, Pak. Soalnya pulang dari pesta semalam kepalaku terasa sangat berat."


"Mmm.... tapi, Pak Ardian diminta untuk menyerahkan hasil evaluasi pekerjaannya selama menjadi sekretaris Direksi, Bu. Tapi berkasnya ada di Ibu semua katanya ini. Sedangkan Dewan Direksi memintanya hari ini dan pagi ini."


"Mmm... harus hari ini ya, Pak."


"Iya, Bu." Jawab Dodit dengan penuh kesungguhan.


"Apa tidak ada yang bisa diminta untuk mengambilnya ke kostan aku, Pak."


"Mm... saya harus minta bantuan ke siapa ya, Bu? Aku nggak enak kalau harus mengganggu orang yang sedang bekerja."


"Mmm... bagiamana ya, Pak. Kepala saya masih terasa berat."


Dodit hanya terdiam. Dia menatap Ardian mengisyaratkan dengan anggukan kepala dan acungan jempol.


"Bagaimana, Bu?" Dodit kembali bertanya ketika Anita masih diam.


"Nanti saya usahakan, Pak. Saya akan usahakan untuk datang ke Kantor."


"Baik, Bu. Pak Ardian juga sudah menunggu Ibu di ruangannya. Selamat pagi, Bu." Dodit segera mematikan sambungan telepon. "Yes...!" Dodit mengepalkan tangannya.


"Eh, kenapa kamu yang terlampau bahagian?"


"Ya jelas aku yang bahagia dong, Ar. Kan aku yang berhasil membujuk Bu Anita untuk datang ke Kantor. Itu adalah salah satu rencana menuju pemberantasan wanita pembuat onar."


Ardian mengerutkan keningnya sambil menahan senyum. "Bagus banget sebutannya. Tapi... sebutan itu terdengar cocok untuk dia. Dia kan sering carper sama aku."


"Ayo kita mulai bekerja, Bro. Kita sudah menghabiskan banyak waktu untuk membahas wanita pembuat onar. Posisi Pak Ardian paling tinggi sekarang. Jangan sampai di hari pertama menjadi GM, Pak Ardian malah tidak fokus bekerja karena memikirkan wanita pembuat onar."


"Nggak usah manggil aku Bapak segala, Dit. Kedengarannya aku terkesan sudah sangat tua. Apalagi ini kita sedang bicara berdua."


"Ok.. ok.. Bos. Aku hanya bercanda tadi. Aku mau kembali ke ruangan ku dulu. Kamu harus menandatangani berkas yang ditinggal Pak Randi."

__ADS_1


Ardian mengangguk seraya memberikan senyuman tipis untuk Dodit. "Terimakasih bantuannya hari ini. Terimakasih juga untuk rencana pemberantasan wanita pembuat onarnya."


"Hahahaha..." Dodit tertawa renyah sambil berlalu dari hadapan Ardian.


Ardian masih tersenyum sampai Dodit menghilang dan menutup pintu ruangannya. Ada-ada saja rencana yang dibuat temannya yang satu itu. Dulu pada zaman jahiliahnya, pasti Kate yang selalu gercep membantunya. Dan di zaman kebajikannya sekarang, ada Dodit yang selalu menjadi pahlawannya.


Bukannya mulai bekerja saat Dodit sudah keluar, Ardian malah meraih handphonenya. Ia ingin menghubungi istrinya sebelum mulai bekerja. Panggilan langsung terjawab pada deringan pertama.


"Assalamualaikum Mamanya Adzra.."


"Wa'alaikumsalam, Mas. Belum mulai kerja, kenapa menghubungi aku jam segini?"


"Masih nganggur aja nih. Masih menunggu pekerjaan dari Dodit dulu. Kamu lagi apa?"


"Jagain Adzra yang sedang belajar berjalan. Apa nggak apa-apa kamu menelepon aku sekarang?"


"Nggak apa-apa, Sayang. Mm... sebenarnya aku mau menyampaikan amanah dari Kakek untuk kamu."


"Amanah apaan, Mas?"


"Kamu diminta datang ke Kantor nanti jam sebelas."


"Untuk apa?"


"Kakek mau menyelesaikan masalah semalam. Kakek mau masalah semalam selesai agar tidak ada masalah lagi ke depannya."


"Masalah itu sudah aku anggap selesai, Mas. Ngapain diperpanjang lagi sih. Aku kan sudah bilang semalam, kalau aku tidak mau membahas itu lagi."


"Inikan permintaan Kakek, Sayang. Aku tidak berani membantah. Kamu tau sendiri kan, aku paling tidak suka melihat tampang Kakek saat marah."


"Intinya aku nggak mau datang ke sana. Kalau Kakek datang ke Kantor kamu dan menanyakan aku, bilang saja kalau aku tidak mau datang. Kakek selalu saja begitu. Masalah kecil kok dibesar-besarkan. Udah dulu, Mas. Adzra mau mimik nih."


"Kamu beneran tidak akan datang, Sayang."


"Iya, Mas. Aku sudah bilang tidak. Jadi Mas Ardian jangan mengharapkan kedatanganku. Seandainya kamu memintaku datang untuk urusan yang lain, aku akan datang."


"Ini kan acara dalam rangka pemberantasan wanita pembuat onar, Chay."


"Aku nggak perduli, Mas. Mau acara pemberantasan wanita pembuat onar kek, mau acara pemberantasan korupsi kek. Aku tetap tidak mau datang. Assalamualaikum, suamiku.."


Chayra menutup panggilan dari suaminya. Kalau menunggu Ardian yang mematikannya, pria itu akan sangat berat melakukannya.


Ardian hanya bisa melongo saat istrinya sudah mematikan sambungan teleponnya. Kalau Chayra sudah berkata tidak, akan sangat sulit membalikkan keadaannya. Istrinya itu sangat teguh pendiriannya. Ia juga masih heran, kenapa semua cucu Pak Akmal sangat suka menentang ucapan sang Kakek. Sedangkan setaunya, orang-orang yang kenal dengan Pak Akmal jarang ada yang menentang ucapannya.

__ADS_1


Ardian kembali termenung. Dia harus membuat alasan agar sang Kakek tidak banyak mengintrogasinya nanti karena sang istri tak mau datang.


**********


__ADS_2