
Ardian masuk kembali setelah urusannya dengan Bu Rani selesai. Dodit mengekor di belakang Ardian dengan gaya penuh hormat. Pria itu benar-benar bisa diajak kerjasama. Ghibran yang masih berada di ruangan itu, melirik ke arah dua pria yang baru masuk kembali ke dalam ruangan.
"Sudah selesai?" Zidane menatap asik iparnya.
"Iya, Kak. Masalahnya sedikit tadi. Bu Rani hanya tidak paham dengan satu kalimat yang tertera dalam perjanjian tertulis dengan Investor dari Tiongkok. Ada telepon juga dari orang itu. Tapi, Bu Rani kurang percaya diri kalau harus menggunakan bahasa Tiongkok. Dianya kurang lancar katanya." Ardian dan Dodit kembali duduk di sofa.
Ghibran melengkungkan sedikit bibirnya seolah-olah meremehkan Ardian. "Memangnya kamu bisa menggunakan bahasa itu?" Pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutnya tanpa ada saringan sedikitpun.
"Insya Allah bisa dikit-dikit." Jawab Ardian diiringi dengan senyuman.
"Ardian tidak akan bisa diangkat jadi General Manager kalau dia tidak bisa berkomunikasi dengan orang asing, Ghi. Kalau mau bertanya, tanyakan hal yang logis biar kamu tidak malu dengan pertanyaan kamu sendiri."
Ucapan Zidane seperti tamparan keras untuk Ghibran. Pria itu langsung diam seribu bahasa. Mukanya pun terlihat memerah karena malu.
Sebenarnya Zidane juga tidak mengerti dengan pertanyaan yang terus-menerus diajukan Ghibran dari tadi. Berkas yang dibawa pria itu akan dibahas nanti siang. Kemarin saat Zidane tanda tangan, Ghibran bilang kalau dia sudah paham. Tetapi, sekarang dia malah mengulang-ulang pertanyaan yang keluar dari konten berkas.
"Istri kamu ada di dalam." Zidane menatap Ardian yang terlihat celingukan.
"Eh, maaf Kak."
"Baru beberapa menit tidak melihat istri sudah terlihat khawatir kayak gitu."
"Ehehehe... tadinya aku kira Chay sedang di kamar mandi, Kak. Tapi Adzra juga tidak kelihatan, makanya aku celingukan."
"Hah.. Chay? Panggilan macam apa itu." Ghibran melengos kesal mendengar panggilan Ardian untuk Chayra.
Zidane bangkit sambil membuang nafas dengan kasar. "Sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi kan, Ghi? Kamu bisa keluar sekarang. Nanti kita bertemu di jam makan siang." Zidane mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan agar Ghibran segera keluar. Dia tidak mau terjadi keributan jika temannya itu masih tinggal satu ruangan dengan Ardian.
Ghibran meraih berkasnya seraya berlalu keluar. Hari ini kesabarannya benar-benar diuji sampai ke akar-akarnya.
Sampai di ruangannya, Ghibran langsung duduk di meja kerjanya. Ia memutar-mutar tubuhnya, merenungi perjalan hidupnya yang seperti ini.
Ghibran POV...
Aku beberapa kali menarik nafas panjang. Dada ini terasa sesak melihat kemesraan pasangan suami istri di ruangan Zidane tadi. Ya Allah.. sampai kapan aku akan seperti ini. Aku ingin move on, tapi kenapa sesulit ini. Aku bahkan sering mengigau menyebut nama wanita itu.
__ADS_1
Chayra Azzahra...
Kenapa namamu begitu istimewa di hati ini. Aku sampai-sampai sering bertengkar dengan istriku gara-gara hal itu. Aku akui aku memang menikahi Lita istriku hanya untuk pelampiasan saja. Aku memang berusaha untuk bisa mencintainya. Tapi, aku belum bisa melakukannya sampai saat ini. Hati ini masih saja sakit saat melihat Zahra bahagia bersama orang lain.
Lita sering mengeluh karena aku jarang sekali memberikan nafkah batin untuknya. Bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan perasaan cinta dan suka tidak ada sama sekali untuknya. Hah... aku ingin menertawakan kebodohan ku ini. Aku bahkan terlihat kekanak-kanakan seperti yang selalu dikatakan Zidane padaku.
Perbuatan Zidane mengusirku tadi ada baiknya juga kalau aku pikir. Andaikan aku masih disana, aku tidak tau apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan melampiaskan rasa kesalku pada Ardian. Mungkin saja aku akan menonjoknya saking marahnya aku. Dia telah merebut wanita belahan jiwaku. Andaikan boleh, aku akan menculik Zahra dan memaksanya untuk menjadi istriku.
Hahaha... aku tertawa dengan apa yang aku pikirkan. Benar-benar gila. Pantas saja Zidane mengatakan aku gila, bodoh, kekanak-kanakan dan macam lagi perumpamaan yang dia sebutkan untukku. Aku memang terlihat seperti itu. Bagaimanapun juga aku menjadi seperti ini karena adiknya. Jika saja Zahra tidak meninggalkanku menikah dengan orang lain, aku pasti tidak seperti ini.
Astagfirullahal'adzim, karena kebodohan ku wanita yang tidak bersalah yang menjadi korban. Maafkan aku Lita. Aku tidak ada niat untuk menyakitimu. Keadaan hati yang masih rapuh ini yang membuatmu tersakiti.
Author POV...
Ardian berpamitan pada Zidane setelah Chayra terbangun. Chayra berulang kali minta maaf karena ketiduran. Sebenarnya Ardian tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi Chayra tidak enak hati pada Dodit. Bagaimanapun juga, Dodit meluangkan waktunya untuk rencananya yang entah ada manfaatnya atau malahan hanya menimbulkan mudharat.
"Kami pamit, Kak. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu pekerjaan Kakak."
"Kalau sesekali sih, aku tidak merasa terganggu. Tapi kalau setiap hari kalian seperti ini, aku akan mengusir kalian sebelum masuk ke dalam ruangan ini."
"Kamu cinta banget emangnya sama istri kamu, sampai-sampai kamu rela mengorbankan jam kerja hanya untuk menemaninya datang kemari."
"Tumben dia mau datang kemari, Kak. Makanya aku berani memakai jam kerja. Kalau dia mau seperti ini setiap hari, seperti yang Kak Zidane katakan tadi."
"Ok.. kalau begitu kalian hati-hati di jalan. Jangan lupa oleh-olehnya kalau kalian sudah kembali dari bulan madu yang entah ke berapa kali."
Dodit menahan senyum. Tidak menyangka kalau akting yang dibawakan secara dadakan itu membuahkan hasil yang memuaskan.
___________
Zidane mengetuk pintu ruangan Ghibran saat jam makan siang tiba. "Ghi, kita makan siang dulu."
"Kamu duluan saja, aku baru selesai wudhu' belum shalat."
"Aku tunggu kamu disini sampai selesai shalat."
__ADS_1
Ghibran keluar dari ruangan setelah sepuluh menit Zidane menunggu. "Maaf membuatmu menunggu lama."
"It's no problem."
"Apa tamu kamu sudah pergi?"
Zidane mengangguk. "Aku tidak akan memanggilmu kalau mereka masih disini. Kamu tau, Ghi?"
"Apa?"
"Reaksi kamu berlebihan tadi. Seharusnya kamu tidak usah membanting pintu. Apalagi kamu sampai meremehkan Ardian seperti tadi. Jangan terlalu meremehkan dia, Ghi. Kamu tidak tau kalau dia memiliki kelebihan yang tidak kamu miliki. Menurut aku, kamu hanya unggul di bidang ilmu agama."
"Aku pernah mengajarnya ketika dia masih kuliah di Universitas XYZ, Zidane. Iya... dia memang aktif di kelas, aku akui itu. Terus, dia selalu bertanya sekiranya ada materi yang tidak dia pahami. Tapi, terkadang dia juga membuatku jengkel karena terlalu banyak bertanya."
"Heh, pantas saja dia tidak berani menimpali ucapanmu ketika kamu mengolok panggilannya untuk Ayra tadi. Ternyata kamu adalah gurunya." Zidane manggut-manggut. "Tapi, kamu malah memperlihatkan sikap yang arogan tadi. Kamu menanggapi semuanya dengan berlebihan."
"Kamu tau sendiri kan, Zidane. Aku tidak pernah bisa bersikap biasa jika itu menyangkut Chayra Azzahra."
"Makanya kamu belajar, Ghi. Seharusnya kamu memperjuangkan kebahagiaan dengan istri kamu. Bukan malah iri dengan kebahagiaan orang lain. Apalagi tadi itu. Terlihat sangat kentara kalau kamu cemburu melihat kebersamaan adikku. Kamu ini benar-benar aneh. Punya istri malah tidak diperlakukan dengan baik. Kalau aku jadi Lita, dari dulu aku sudah meninggalkan kamu. Untuk apa aku hidup dengan orang yang hanya fisiknya yang ada disini, tetapi hati dan perasaannya melayang entah kemana."
"Maafkan aku, Zidane. Aku sadar kalau yang aku lakukan ini salah. Aku sedang berjuang untuk Lita. Aku akan mencoba memperbaiki hubunganku lagi dengannya. Mudah-mudahan dia masih mau memaafkan kebodohan ku ini."
"Semoga Allah segera menghapus jejak Ayra di hatimu."
"Aamiin... terimakasih do'anya, teman. Kamu memang sahabat terbaikku."
"Sudah, kita makan dulu sekarang. Menghadapi ketegangan kamu tadi saat bertemu Ardian membuatku harus makan lebih banyak sekarang."
"Ghibran menautkan alisnya bingung. "Apa hubungannya?"
"Tenagaku terkuras banyak karena kamu bersikap tidak wajar. Aku berulang kali menarik nafas panjang karena sikapmu tadi."
Ghibran akhirnya hanya melengos. Hanya tangannya yang sibuk melipat lengan kemejanya sebelum mulai makan.
*******
__ADS_1