Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pertemuan kisruh


__ADS_3

Tangan Chayra terasa dingin. Tiba-tiba dia deg-degan saat akan bertemu dengan Amira. Apalagi setelah melihat pesan yang dikirimkan Amira lalu Ardian yang membalasnya. Ingin rasanya dia membekap laki-laki itu dengan bantal saking kesalnya hari itu. Ardian memang menyembunyikan diri. Tapi, dia lupa menghapus pesan balasan yang dia tulis untuk Amira. Sehingga saat membuka pesan, Chayra langsung mendelik kesal menatap suaminya.


"Kenapa Kakak membalas pesan dari Amira?" Protes Chayra


Ardian pura-pura tidak mendengar. Sengaja menyibukkan diri dengan laptop yang terbuka di depannya.


"Mas Ardian kenapa membalas pesan Amira?!" Chayra sengaja memakai kata 'Mas' karena biasanya Ardian langsung menoleh.


Benar saja, Ardian langsung menoleh begitu Chayra memanggilnya dengan kata itu. "Aku nggak suka dia terlalu ikut campur. Pakai acara mengancam segala. Memangnya siapa dia berani mengancam-ngancam kamu."


Chayra melengos. "Seseorang mempunyai hak sendiri. Dia pakai mulut dia untuk ngomong, kenapa Kak Ardian yang sewot."


"Intinya aku nggak suka. Mau dia pakai hak asasi manusia atau apa kek namanya. Tetap saja dia sudah mengganggu kenyamanan kamu. Aku yang menjadi suami keberatan atas tingkah dia yang semaunya."


"Udah ah, lain kali kalau kesel melihat pesan di handphone aku, jangan dibuka tanpa izin. Kebiasaan suka ngecek handphone, ujung-ujungnya pasti ada saja protes yang keluar."


Pertikaian itu akhirnya selesai setelah Bian datang untuk memanggil mereka berdua untuk makan malam.


Chayra menghela nafas mengingat kejadian itu. Kembali meremas tangannya yang terasa semakin dingin. Ia masih nervous membayangkan ekspresi Amira saat akan bertemu dengannya. Apalagi pertemuan terakhir mereka yang berujung pada pertikaian yang melibatkan kakeknya.


Chayra menatap sekeliling tempat itu. Berharap Alesha dan Tina segera datang. Sudah setengah jam dia menunggu, tetapi kedua temannya itu belum ada tanda-tanda akan muncul. Beberapa kali bangkit untuk mengusir rasa pegal karena terllau lama duduk.


Chayra menelan ludahnya saat melihat malah Amira yang terlihat di pintu masuk. Wanita itu datang dengan memakai dress pendek yang memperlihatkan setengah pahanya. Ia terlihat mengedarkan pandangannya. Terlihat menghubungi seseorang sambil duduk di sofa dekat pintu. Chayra hanya bisa tersenyum getir melihat penampilan Amira.

__ADS_1


Chayra menarik nafas dalam, bayangan Amira yang mendorong tubuhnya saat acara pernikahan Zidane kembali terngiang dalam ingatannya. Bukannya dia tidak berani melawan, tetapi keadaannya yang sedang hamil membuatnya harus membatasi gerakannya. "Ya Allah, masalah itu harus dihadapi bukan dihindari." Ucapnya lirih untuk menguatkan dirinya sendiri. Ada rasa penyesalan juga kenapa dia tidak mengikuti saran Ardian untuk menunggunya pulang kerja dulu.


Amira berjalan mendekati ruang VIP di Resto itu. Dimana Chayra sudah menunggunya dengan perasaan bimbang, antara rasa khawatir dan keinginan untuk bertemu menyatu jadi satu.


"Kok lho yang ada di sini? Perasaan gue nggak pernah mengundang lho untuk acara perpisahan ini. Lho tau kenapa? Karena gue nggak butuh bertemu dengan lho."


"Astagfirullahal'adzim.. maaf, Mira. Tina yang mengajakku makan malam di tempat ini. A.. aku juga nggak tau kalau kamu juga diajak sama dia."


"Dasar gila lho, perebut pacar orang. Tampang aja sok alim solehah. Gue kan udah bilang sama lho kalau gue nggak sudi bertemu lagi sama lho. Bikin jijik tau nggak." Amira tersenyum getir.


"Silahkan ucapkan saja apapun yang ingin kamu katakan. Aku..." belum selesai Chayra ngomong, Amira langsung memotongnya.


"Gue mau bilang apapun, tidak akan membuat lho menyerahkan kembali Kak Ardian sama gue. Lho cinta kan, sama dia sekarang? Lho malah sampai hamil anaknya dia." Amira melengos sambil mengalihkan pandangannya. "Bisa-bisanya lho mengkhianati persahabatan kita karena hal ini. Apa lho tidak memikirkan perasaan gue selama ini." Amira mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini disimpannya. Mumpung belum ada orang yang datang untuk mencegahnya. "Lho tau nggak, lho itu seperti setan yang bertopeng. Terlihat anggun dan Solehah di luar. Tapi, dalamnya BUSUK." Mendekati Chayra seraya mencengkram dagunya dengan kasar.


Dari belakang Tina dan Alesha, Ardian berdiri dengan muka merah padam. Ucapan Amira benar-benar membuatnya naik pitam. "Apa yang sudah kamu lakukan pada istriku, Amira.." Mengeratkan giginya karena kekesalan yang sudah terasa mendidih di ubun-ubun. Ardian berjalan mendekat lalu mendorong pundak Amira. "Sekali lagi kamu menyakitinya, kamu akan menyesal seumur hidup telah mengenal Ardian Baskara. Ayo, Sayang kita pulang sekarang." Ardian meraih tangan istrinya. Menariknya paksa agar wanita itu tidak membantah. "Aku udah bilang juga jangan datang kesini. Sepenting apa sih maaf dari dia sampai-sampai kamu tidak menghiraukan fisikmu yang selalu disakiti dia saat kalian bertemu."


Ardian menghentikan langkahnya setelah berjarak beberapa meter dari tempat duduk yang tadi ditempati istrinya. Berbalik seraya menatap Amira dengan tatapan tajam penuh kebencian. "Oh iya, Amira. Gue hampir lupa untuk bilang sama lho." Menarik tangan Chayra untuk berjalan lebih mendekat. "Lho jangan coba-coba menyogok orang seperti kemarin untuk menghancurkan rumah tangga gue. Karena apa? Sekuat apapun lho berusaha untuk menghancurkannya, maka gue juga memiliki kekuatan yang lebih kuat untuk mempertahankannya." Ardian kembali berbalik. Tangannya masih erat mencengkram tangan Chayra yang hanya bisa pasrah ditarik suaminya.


Ardian bahkan sampai lupa mengganti baju Koko yang digunakannya shalat Isya tadi saking paniknya. Saat Alesha mengirim pesan kalau Amira sudah datang di tempat perjanjian. Untung saja lokasi pertemuan tidak terlalu jauh dengan kantor tempatnya bekerja.


Alesha hanya menggeleng-geleng pelan, menatap Amira dengan penuh kekecewaan. "Gue kecewa sama lho, Mira. Lho nggak bisa menjaga perasaan sahabat lho sama sekali. Gue juga mau pulang, Tina. Gue nggak mau lagi bersahabat dengan dia." Menunjuk Amira seraya berlalu. Tetapi, baru saja Amira berbalik, dia dikejutkan dengan Husein, suami Amira yang sudah berdiri di belakangnya. Pantas saja Amira tidak bisa berkedip dari tadi. Ternyata ada orang yang paling dia takuti hadir di tempat itu.


"Aku butuh penjelasan kalian atas kejadian ini. Aku nggak ngerti." Husein menarik tangan Alesha agar duduk di kursi.

__ADS_1


"Eh, gue nggak suka disentuh." Menepis tangan


Husein yang mencengkram lengannya. Mengibas-ngibas tangannya yang dicengkeram Husein tadi.


"Ng.. ngapain kamu ada disini, Mas.." wajah Amira sudah memerah seperti kepiting rebus melihat keberadaan suaminya.


"Aku sudah curiga dengan tingkah laku kamu sejak kita datang, Amira. Aku sudah capek dibohongi kamu terus."


"Aku nggak pernah membohongi kamu, Mas. Kamu yang terlalu posesif." Amira langsung meninggalkan tempat itu dengan air mata berlinang.


Alesha dan Tina saling pandang. Bingung bagaimana harus bertindak sekarang. Rencana yang sudah disusun rapi ternyata jauh dari kata sukses. Tina menjatuhkan tubuhnya perlahan di atas kursi.


"Amira tidak pernah mau terbuka padaku selama ini." Husein memecah keheningan yang tercipta setelah Amira pergi. Mengusap-usap wajahnya. "Aku juga bingung dengan Amira. Di rumah kami di Turki, dia selalu menggunakan pakaian tertutup, bahkan sampai memakai cadar. Tapi, saat kami pulang kemari dia berpakaian semaunya."


Alesha dan Tina masih bungkam. Mereka memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab seandainya Husein bertanya nantinya.


"Aku ingin mendengar cerita kalian tentang kehidupan Amira selama ini. Aku butuh itu untuk mempersiapkan kehidupanku dengannya ke depan. Aku harus bisa bertindak tegas agar aku bisa mengontrolnya." Husein menatap Alesha dan Tina bergantian. "Siapa wanita bercadar yang tadi menangis ditarik laki-laki itu?"


Alesha dan Tina langsung menatap Husein. Tapi, mulut mereka masih belum bisa berkata apa-apa.


"Aku tau kalau kalian berdua adalah teman baik istriku. Aku hanya ingin tau tentang dia versi kalian. Aku tidak bisa menanyakan apapun padanya karena dia selalu marah jika aku bertanya."


Alesha langsung mengisyaratkan pada Tina untuk menjawab pertanyaan Husein.

__ADS_1


********


__ADS_2