Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ditembak wanita sangar


__ADS_3

Dodit bergegas menuju ruangan Ardian dengan langkah gontai. Bu Rani yang mengikutinya dari belakang sampai kewalahan mengikuti langkahnya. "Jangan terlalu cepat, Pak Dodit. Aku kewalahan mengikuti langkah Bapak."


"Pak Ardian sudah menungguku, Bu. Ibu bisa langsung ke ruangan Ibu, biar saya yang melaporkan hasilnya pada Pak Ardian."


"Tidak bisa seperti itu. Aku curiga kalau kalian berdua sekongkol."


Dodit menghentikan langkahnya. Wanita berwajah sangar ini selalu saja ingin tau urusan orang. "Kapan Ibu melihat saya bicara berdua dengan Pak Ardian? Bukankah saat kita berangkat tadi, Ibu juga berada di ruangan Pak Ardian?" Dodit kembali melanjutkan langkahnya. Ia mendengar Bu Rani mendengus, tetapi ia enggan untuk merespon.


Ia mengetuk pintu saat sampai di depan ruangan Ardian. "Ibu mau ikut masuk atau mau menunggu di sini saja?" Dodit hanya melirik Bu Rani. Malas rasanya untuk menatap wanita itu. Tatapan matanya terlalu tajam, belum lagi raut wajahnya yang tidak friendly membuat kebanyakan orang enggan untuk menatapnya lebih dari tiga detik.


"Ya ikutlah, Pak. Untuk apa aku mengikuti Pak Dodit kalau ujung-ujungnya hanya berdiam diri di depan ruangan ini."


"Terserah.." Dodit melangkah masuk, Bu Rani masih mengekor di belakangnya.


"Kamu sudah kembali, Dit?" Ardian langsung berdiri begitu melihat kedatangan Dodit.


Dodit meletakkan berkas di atas meja kerja Ardian. "Mereka terlihat kecewa, Pak. Tapi, alasan yang aku berikan terdengar cukup meyakinkan. Mereka terlihat percaya dan siap untuk bertemu dengan Bapak setelah Bapak sehat."


"Huh," Bu Rani mendengus, "kalian ini kok kekanak-kanakan sekali sih?! Ngapain coba pakai alasan jatuh di kamar mandi segala. Hati-hati, ntar kalau dapat karma tau rasa kalian." Bu Rani melengos kesal seraya berlalu.


Dodit dan Ardian saling pandang. Dodit langsung tertawa setelah wanita berwajah sangar itu keluar dari ruangan. "Tadi katanya mau ikutan masuk, sekarang kok malah pergi sebelum kita mulai membahas masalah tadi."


Ardian tersenyum kecil, sebenarnya ia tidak ingin mereka berbohong karena dia tidak bisa menemui Investor dari Tiongkok itu. Tapi, entah darimana Dodit mendapatkan ide, sehingga dia mengatakan kalau Ardian jatuh di kamar mandi.


"Dit, Bu Rani kayaknya kesel gara-gara kamu berbohong. Lagian kenapa sih kamu pakai acara bilang kalau aku jatuh di kamar mandi?" Ardian kembali duduk, menggerak-gerakkan kursi kerjanya yang empuk.


"Awalnya aku bilang kalau kamu pusing seperti yang kamu katakan padaku saat belum menemui mereka tadi. Tapi, mereka terlihat tidak percaya. Bahkan mereka menanyakan sebab kenapa kamu pusing. Makanya aku bilang kalau kamu jatuh di kamar mandi. Bu Rani juga terkejut saat aku mengatakan itu. Jangankan Bu Rani, aku saja terkejut, kenapa alasan itu yang keluar dari mulutku."


Ardian menautkan alisnya sambil menahan senyum. "Kamu lucu deh, Dit."


"Hehehe ... Bu Rani bahkan mengira kita sekongkol, Ar. Aku sih nggak perduli. Wanita itu terlalu sombong dan sok berkuasa. Sekali-kali dibuat marah biar tau batasan."


"Mm.. nggak boleh kayak gitu, Dit." Ardian bangkit. "Kamu bisa bantu jelaskan nanti padanya. Aku mau pulang sekarang, Dit. Aku benar-benar tidak bisa konsentrasi kalau harus diminta untuk bekerja lagi."


"Baru saja setengah tiga, Ar." Dodit melirik ke arah jam dinding.

__ADS_1


"Tapi aku mau pulang. Aku mau istirahat sambil dibelai istri. Sekalian aku juga mau minta maaf karena merusak masa depannya."


"Eh, kamu masih ingat masalah tadi, Ar? Gila lu, benar-benar termakan masa lalu. Kalau aku mah nyantai aja walaupun punya masa lalu buruk juga."


"Tapi pas mencoba melamar Tina dulu, kenapa kamu tidak berani mengangkat wajah di depan papanya Tina. Udah ah, Dit. Aku mau pulang saja. Kalau ada pekerjaan yang membutuhkan persetujuan dariku, call me oke..!" Ardian memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kerjanya. "Kamu baik-baik disini."


"Huh, dasar lu. Mentang-mentang jadi Bos, pulang semaunya.." Dodit membuntuti Ardian dari belakang.


"Siapa suruh kamu nggak jadi Bos biar bisa pulang kapanpun kamu mau?"


"That's impossible, Ardian..!"


"Hahaha.." Ardian tertawa kecil. "Nothing is impossible if you want, Dit. Ok, see you next time.. assalamu'alaikum.." Ardian menutup pintu lift.


"Eh, kok gw ngikutin Bos sampai kesini sih?" Dodit menepuk jidatnya, baru sadar kalau mengikuti Ardian sampai ke depan lift. Buru-buru ia berbalik arah untuk kembali menjalankan tugas.


"Bos kamu nggak bisa jalan sendiri sampai harus ditemani sampai masuk lift segala?" Bu Rani tiba-tiba menghalangi jalan Dodit. Berdiri bersandar di tembok dengan melipat tangannya di dada.


Dodit langsung melengos melihat Bu Rani. "Bu Rani kenapa sih? Perasaan dari tadi ngegas terus deh.. Makanya buruan kawin biar nggak sakit hati melihat orang yang sudah menikah." Dodit ingin berlalu, tetapi lengan bajunya ditarik Bu Rani.


"Hah...?!" Dodit sampai menganga mendengar ucapan wanita di depannya. "Ibu nggak salah ngomong kan, Bu?"


"Ngapain salah ngomong, Dodit. Aku serius. Aku juga sudah bosan sendirian, ingin segera punya gandengan."


Dodit langsung menelan ludahnya. "Bu Rani terlalu tua, nggak cocok lah sama aku. Permisi, Bu.. jangan menghalangi jalan." Dodit mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir.


"Lebih tua juga lu, Dodit..." Bu Rani menepi, tetapi ekspresi wajahnya langsung berubah total.


"Sorry, just kidding, Miss. Tapi aku sudah punya calon, Bu. Ibu terlambat mengutarakan keinginan Ibu. Coba Ibu katakan itu sebelum aku punya gandengan. Insya Allah, aku akan mempertimbangkan ajakan Bu Rani." Dodit berbicara tanpa menghentikan langkahnya, berjalan mundur sambil bicara pada Bu Rani. Ia kembali berbalik setelah selesai bicara.


Dodit tersenyum sendiri setelah masuk ke dalam ruangannya. "Huh, ada-ada saja Bu Rani ini, menggeleng-geleng pelan. Ia bergidik ngeri membayangkan seorang Rani yang akan menjadi istrinya. Dia pasti akan terlihat seperti suami yang takut istri. Bukan hanya terlihat, tetapi beneran takut istri. Bagaimana tidak takut, dipelototi Bu Rani tiga menit akan membuat darahnya langsung beku.


*********


"Alhamdulillah..." Ardian menyandarkan tubuhnya setelah selesai makan.

__ADS_1


"Pasti makan siangnya terlewat lagi ya, Mas?" Chayra duduk di hadapan suaminya dengan Adzra di atas pangkuannya.


"Aku nggak selera makan dari tadi, Sayang."


"Kamu kurang enak badan, Mas?"


Ardian menegakkan duduknya. "Sedikit, tapi ada sesuatu yang membuat aku sampai tidak selera makan."


"Ada masalah?"


Ardian menatap dalam mata istrinya. Hal itu membuat Chayra tertegun. "A.. ada masalah apa, Mas?" tanyanya setelah cukup lama suaminya menatap matanya.


Ardian tersenyum getir seraya menyandarkan kembali tubuhnya. "Aku akan menjelaskannya nanti."


Chayra menelan ludahnya seraya mengalihkan pandangannya. "Terserah kamu, Mas. Aku bingung dengan sikapmu."


"Titip Adzra pada Bi Idah. Aku akan jelaskan semuanya sekarang." Ardian bangkit, "aku tunggu kamu di mobil. Jangan terlalu lama.." ucapnya seraya langsung berlalu tanpa sedikitpun menatap istri dan anaknya.


Chayra masih berdiri tertegun. Perasaannya jadi campur aduk. Antara perasaan ingin tahu dan perasaan takut karena sikap suaminya, perasaannya bercampur jadi satu. Segera ia mencari Bi Idah setelah kesadarannya pulih.


Chayra bergegas menemui suaminya setelah menitip Adzra pada Bi Idah. Ardian yang melihat kedatangan istrinya langsung menghidupkan mesin mobilnya. "Kita mau kemana, Mas?"


"Ikut saja, Chay. Aku sudah bilang kalau aku akan menjelaskan saat kita berdua."


"Ini juga kita sedang berdua, Mas."


"Maksud aku, saat kita sudah sampai di tempat tujuan."


"Ada apa sih, Mas.. aku kok jadi nggak nyaman dengan sikap kamu yang seperti ini."


"Aku tidak apa-apa, Chay. Aku cuma perlu ngomong sama kamu. Aku ingin semuanya pasti. Aku tidak ingin terus-terusan dihantui rasa bersalah."


Chayra membuang nafasnya dengan kasar seraya membuang pandangannya. Bicara dengan Ardian dalam kondisi seperti ini rasanya ingin menguras emosi jiwa. Jawaban Ardian malah semakin membuatnya bingung.


*******

__ADS_1


__ADS_2