
Pagi itu, Ardian tidak keluar dari kamar Zidane. Dia sengaja melakukan itu atas permintaan Zidane.
"Kalau kamu keluar sekarang, kita tidak bisa melihat reaksi Ayra. Kita akan lihat, apa dia terlihat menyesal atau bagaimana nantinya."
Ardian terdiam antara mau mengiyakan atau menolak permintaan Zidane. Hanya matanya yang melirik beberapa kali pada Zidane.
"Kamu mau keluar memangnya. Tidak kuat tidak bertemu dengannya selama satu hari saja?"
"Aku nggak tau, Kak. Tapi, aku kasihan melihatnya semalam. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil seperti sekarang. Aku kok merasa berdosa banget kalau harus mengabaikannya."
"Kamu tidak sedang mengabaikannya, Ardian. Kamu hanya sedang memberinya pelajaran, agar kedepannya dia bisa lebih menghargai perasaan kamu."
"Tapi.... bagaimana kalau dia mual nanti. Siapa yang akan membantunya?"
"Ada Ibu di luar. Intinya sekarang, tahan perasaan kamu itu. Aku juga sudah memberi tahu Ibu perihal rencana ini."
"Kak Zidane yakin kalau semuanya akan baik-baik saja?"
"Astagfirullah, kamu terlalu posesif. Diam saja disini."
Ardian akhirnya mengangguk lemah. Kembali duduk di sisi ranjang. Menatap kepergian Zidane dengan mata berair. Tiba-tiba saja dia merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Kenapa disaat dirinya benar-benar ingin menjadi orang baik. Di saat itu pula cobaan datang silih berganti.
Ardian menarik nafas dalam. "Semoga ada berkah dibalik semua ini ya Allah." Menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Mendongak menatap langit-langit kamar itu.
Sementara itu...
Di meja makan, Chayra tampak gelisah. Matanya juga sembab karena kebanyakan menangis. Tangannya hanya mempermainkan sendok, mengacak-acak makanan di depannya.
"Makanan itu mau dimakan, Dek, bukan diacak-acak seperti itu."
Chayra melepaskan sendok yang dari tadi dimainkannya. "Aku nggak selera makan, Kak."
"Terus mau kamu apa sekarang?"
"Aku mau mencari Kak Ardian." Air mata kembali menganak sungai.
"Kamu mau mencarinya kemana, Nak?" Santi bangkit mendekati putrinya.
Bian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Bian mau berangkat ke sekolah dulu, Bu." Menyodorkan tangannya pada ibunya.
"Kamu sudah tidak perlu ke Sekolah lagi, kan? Kamu udah selesai ujian, Bian." Ucapan Zidane, membuat Bian berbalik dan menatap Zidane dengan kesal.
"Aku capek di rumah mendengar drama Kak Ayra. Kemarin marah sama suami, sekarang nyesel. Besok lagi nggak tau deh, drama apa lagi yang akan dia buat. Huh, aku lebih baik menghindar daripada mendapat dosa karena terus-terusan kesal." Menarik tangan ibunya. Berpindah ke Zidane dan melakukan hal yang sama. "Assalamualaikum..."
Zidane dan Santi hanya saling tatap. Tidak tau harus berbuat apa. Anak yang besar sedang bersedih, yang kecil malah kesal karena tingkah kakaknya.
__ADS_1
"Kamu susul saja adikmu, Nak." Perintah Santi pada Zidane.
"Tapi, Bu."
"Biar masalah Ayra nanti Ibu yang urus."
"Bagaimana aku bisa balik ke Pesantren kalau kondisi Ayra masih seperti ini, Bu."
Chayra masih memeluk pinggang ibunya dengan erat. Hanya suara tangisnya yang terdengar.
"Kamu ini, Ayra. Kakak harus bersikap bagaimana coba? Mau belain kamu, kamu salah. Nggak dibelain juga kamu kayak gini. Kamu kok bertingkah kayak anak kecil sekarang. Seharusnya kamu bisa lebih dewasa dong di saat kamu sudah punya suami." Zidane menggaruk-garuk kepalanya bingung. Dia bisa bicara lebih leluasa pada Chayra setelah kepergian Bian.
Ingin rasanya dia memanggil Ardian untuk keluar agar masalah ini kelar. Namun, sekali lagi dia harus bertahan agar Chayra mendapatkan pelajaran.
"Kamu kenapa tidak mencoba menghubungi Ardian sekarang."
Chayra melepas pelukannya. Mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. "Aku sudah mencobanya berulang kali, Kak. Tapi tetap saja operator yang menjawab.
"Terus mau kamu apa sekarang."
Chayra termenung. "Aku nggak tau mau berbuat apa, Kak. Aku kesal saat dia ada. Tapi, disaat dia tidak ada sekarang, hidupku terasa hampa."
"Terus apa namanya kalau kamu sudah merasa kehilangan?"
Chayra terdiam menunggu kelanjutan kalimat Zidane.
Chayra hanya mengerjap-ngerjap menatap Zidane.
"Laki-laki yang bagaimana lagi yang kamu inginkan, Ayra? Jika kamu menikah dengan Ghibran pun, belum tentu dia akan memperlakukan kamu seistimewa ini."
Chayra menelan ludahnya.
"Kamu memojokkan suamimu yang selalu menemani kamu, Ayra. Kamu itu taat beragama. Kamu sudah tau kewajiban istri pada suami dan sebaliknya. Ardian sudah menjalankan dengan sangat baik perannya. Sekarang tinggal giliran kamu. Apa kamu tidak malu dengan suami kamu. Bukankah Ardian itu bejat pada awalnya. Bukankah dia mau berubah karena kamu? Apa kamu tidak menghargai sedikitpun pengorbanannya untuk kamu? Camkan kata-kata Kakak ini, Ayra."
Chayra menunduk. Air matanya kembali tumpah. "Maafkan aku, Kak."
"Pikirkan bagaimana Ardian memperlakukan kamu selama ini, Dek. Jangan terus-terusan terbelenggu dalam cinta haram mu pada Ghibran. Sudah satu tahun kalian menikah. Apakah selama itu, posisi Ghibran masih melekat di hatimu? Apa istimewanya Ghibran. Allah saja sudah menetapkan, kalau Ghibran bukan yang terbaik untuk kamu. Ardian suami kamu, dialah yang terbaik untuk kamu." Zidane meletakkan handphonenya di dekat telinga. "Kamu keluar sekarang. Aku sudah tidak bisa mengendalikan istri kamu."
Chayra terkejut mendengar ucapan Zidane. Sontak ia langsung bangkit dan mendekati Zidane. "Kak Zidane sedang ngomong dengan siapa?"
"Dia sedang meratapi kebodohannya. Keluarlah agar aku bisa menyusul Bian. Anak itu belum cukup umur untuk membawa kendaraan sendiri. Kena tilang polisi tau rasa nanti dia."
".........."
"Tanganku cuma dua, Ardian. Kamu ini kenapa sih. Tadi kamu yang maksa untuk ikut keluar. Sekarang kenapa harus malu."
__ADS_1
Chayra menarik tangan Zidane. "Kak Ardian dimana, Kak?!" Menggoyang-goyang lengan pria itu dengan keras.
Zidane menepis tangan Chayra. "Apaan sih? Jangan sentuh-sentuh apa."
"Kak Ardian dimana, Kak?"
"Ngapain cari-cari dia? Bukannya kamu masih terbelenggu dengan cinta haram kamu pada Ghibran? Kalau kamu masih mencintai Ghibran, jangan coba-coba tanyakan keberadaan Ardian. Sampai kapanpun, aku tidak rela kalau kamu bersikap tidak menghargai perjuangan suami kamu."
"A.. aku... aku salah, Kak. Maafkan aku.. aku mohon katakan dimana Kak Ardian.."
"Untuk apa kamu tau? Apa kamu akan mengatakan hal bodoh seperti kemarin lagi kalau aku mengatakan dimana dia?"
"Tidak.. aku tidak akan mengulangi kebodohan itu lagi."
Ardian memejamkan matanya mendengar semua ucapan istrinya. Zidane sengaja tidak mematikan sambungan telepon, agar Ardian bisa mendengar semuanya.
"Aku tidak akan memberi tahu kamu dimana dia sebelum kamu berjanji kalau kamu akan introspeksi diri."
"Insya Allah aku akan melakukan itu."
"Oh iya, Kakak lupa. Mulai sekarang berhenti berimajinasi akan mengarungi rumah tangga bersama Ghibran. Karena sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita yang lebih shalihah daripada kamu. Dia akan menikah dengan wanita yang insya Allah, tidak akan memikirkan nama laki-laki lain selain nama suaminya."
Chayra langsung menundukkan kepalanya. Antara terkejut, sedih dan bingung mendengar ucapan kakaknya.
"Satu lagi, Ayra. Berhenti menjadi gadis manja pada Kakak. Sudah ada pundak laki-laki bertanggung jawab yang akan menjadikan pundaknya sebagai tempat kamu bersandar. Laki-laki yang bisa mengusap air matamu dengan jarinya ketika kamu bersedih. Laki-laki yang sudah mengorbankan dirinya untukmu. Kakak akan memikirkan kehidupan pribadi Kakak mulai sekarang. Kakak juga butuh pendamping hidup."
"Maafkan Ayra merepotkan Kak Zidane selama ini." Masih menundukkan kepalanya.
Zidane membuang nafas kasar. "Suami kamu ada di dalam kamar Kakak. Kamu yang datangi dia, kalau memang kamu membutuhkannya."
Chayra langsung mengangkat wajahnya. Namun, dia tidak bergerak, masih berdiri di tempat karena bingung. Apa yang akan dia katakan saat bertemu Ardian nantinya.
"Kenapa diam? Dia mencarimu semalam ke kamar kamu saat kamu menelpon Kakak. Tapi, Kakak yang menyusulnya dan melarangnya untuk masuk."
"Kenapa Kak Zidane melakukan itu?"
"Kamu harus diberi pelajaran biar jera."
Chayra menggeleng-geleng pelan. Tidak percaya kalau Zidane tega melakukan itu padanya. Perlahan, kakinya melangkah meninggalkan ruang makan.
Santi tersenyum selepas kepergian putrinya. mendekati Zidane seraya menepuk-nepuk pundaknya. "Terimakasih sudah tegas pada Ayra, Nak. Kamu benar, dia harus diberi pelajaran biar jera."
Zidane mengangguk kecil seraya tersenyum. "Aku akan melakukan yang terbaik untuknya, Bu. Aku juga kasihan sama Ardian."
"Terimakasih, Nak."
__ADS_1
*********