
Alesha semakin risih melihat interaksi Ardian dan Amira yang semakin semaunya. Lama-lama dia ingin muntah melihat kelakuan temannya itu.
"Mira...!" teriaknya kesal.
"Eh," Amira langsung menarik kepala Ardian yang menempel di lehernya.
"Bisa nggak sopan dikit aja. Lho nggak ngehargain gue banget deh. Kalaupun lho tidak menghargai gue, setidaknya hargai jilbab yang menempel di kepala lho." Alesha akhirnya mengeluarkan uneg-uneg yang dari tadi dipendam. Menatap ke sembarang arah sambil mengeratkan giginya menahan kesal.
"Maksud lho apa, gue nggak ngehargain lho?"
"Jaga sikap lho. Gue mau cabut. Eneg gue lihat kelakuan lho." Alesha langsung bangkit tanpa menghiraukan tatapan Amira yang bingung dengan perubahan sikapnya.
"Kenapa sih dia?" Ardian menatap Amira bingung.
"Gue juga nggak tau, Kak. Padahal dia tadi yang mau nemenin gue kemari. Bingung deh gue." Amira mengangkat bahunya bingung.
"Iya.. gue rasa nggak ada yang salah padahal. Gue nyium lho juga nggak di depan dia. Masa iya, dia sakit hati gara-gara gue nempel di lho dari tadi?"
Amira hanya diam. Mencoba kembali berpikir dengan jernih. Tujuannya kemari untuk mencari kebenaran, apakah pria di sampingnya ini adalah dalang atau pelaku penculikan sahabatnya sendiri. Kalau dia terus-terusan seperti ini, bagaimana kalau pria ini pelakunya dan...
"Aaargghhh..." Kepala Amira terasa sakit memikirkan hal ini. Dia mengacak-acak jilbab yang dikenakannya. Dia tau kalau Alesha sengaja melakukan ini untuk mengakhiri dramanya dengan Ardian.
"Ada apa, mau pulang juga seperti Alesha?" Ardian menangkup wajah Amira.
Amira tersenyum getir seraya memalingkan wajahnya. "Iya, gue mau balik juga." Menurunkan tangan Ardian perlahan. Berbalik mencari tas jinjing yang tadi dibawanya ke rumah ini. "Tas gue mana lagi." Celingukan mencari tas itu. "Ck, pasti tasnya ketinggalan deh di kamar. Kenapa sih, pakai acara ketinggalan segala?"
"Lho nggak usah pulang sekarang, Sayang. Pulang nanti kalau gue sudah mengizinkan." Menahan tangan Amira yang sudah siap untuk pergi.
"Gue cuma mau mengambil tas gue di dalam kamarnya Kakak." Menarik tangannya dengan kasar dari Ardian. Meninggalkan Ardian yang masih melongo bingung.
Selepas kepergian Amira, Ardian mengumpat kesal. "Sial! kalau gue ikutin dia masuk kamar. Dia malah semakin curiga nanti. Tenang Ardian, tenang. Amira bilang cuma mau mengambil tasnya di dalam kamar lho. Huh.." Menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Amira mengacak-acak kamar Ardian. Mencoba mencari barang-barang asing yang tidak seharusnya berada di kamar. Mengunci kamar dari dalam agar tidak sampai ketahuan Ardian kalau sewaktu-waktu pria itu masuk ke kamarnya. "Mudah-mudahan gue dapat petunjuk. Dan mudah-mudahan bukan Kak Ardian pelakunya." Ucapnya perlahan. Tangannya tidak henti-hentinya mengangkat satu demi satu barang yang bercecer di atas tempat tidur. Mengibaskan selimut sekuat tenaga sampai barang-barang di atasnya melayang dan jatuh berserakan di lantai.
"Fiuh.." Amira bernafas lega saat tidak mendapatkan barang mencurigakan di bawah selimut.
Amira berpindah ke sofa, dimana terdapat pakaian menumpuk. Ia mengangkat satu persatu tumpukan pakaian di sofa itu. Dan...
Amira menelan ludahnya saat melihat tali yang tergulung di antara tumpukan baju. Kembali mengangkat pakaian yang lain. Ia semakin terkejut saat mendapati ****** ***** wanita berwarna pink muda.
"I..ini ****** ***** w.. wanita." Mata Amira berkaca-kaca melihat benda itu. Tertegun beberapa saat. "A.. apa benar kamu pelakunya, Kak? A.. apa kamu tega mengkhianati cinta kita?" Amira tidak bisa lagi menahan tanggul air matanya. Tangisnya pecah walaupun ia tidak berani berteriak.
__ADS_1
Kembali mengedarkan pandangannya. Siapa tau ada bukti lain yang akan membuatnya semakin yakin, kalau Ardian memang pelakunya. Tatapannya terhenti pada sebuah benda kecil berwarna hijau muda yang tergeletak didekat kaki tempat tidur.
Amira mengusap air matanya dan berjalan perlahan mendekati benda itu. Sebuah tasbih digital bertuliskan nama sahabatnya tergelatak begitu saja. Keberadaan benda itu sepertinya tidak disadari pemilik kamar ini.
"Kamu tega menghancurkan masa depan sahabatku sendiri hanya karena.... hu.. hu.. hu.." Air mata Amira semakin deras menatap benda itu. "Maafin gue, Ayra.."
Tok.. tok.. tok..
"Sayang, kenapa pintunya terkunci. Buka pintunya, gue mau masuk."
Amira langsung mengusap air matanya. Memasukkan benda-benda tadi ke dalam tasnya lalu berjalan mendekati pintu.
Brakk!
Amira membuka pintu dengan keras. Menatap Ardian dengan tatapan penuh kebencian. Dadanya naik turun menahan gejolak amarahnya yang terasa mendidih di ubun-ubun.
"Ada apa..." Ardian memegang pundak Amira. Menahan gadis itu agar tidak pergi dari kamar itu.
"Jangan sentuh gue!" Menghempaskan tangan Ardian dari pundaknya.
Ardian terdiam. Matanya masih menatap gadis yang sedang tersulut amarah di depannya. Tatapan matanya mulai terlihat gusar. Sudah bisa ditebak, kalau Amira pasti sudah mendapatkan sesuatu yang membuatnya marah seperti ini.
"Maksud lho apa, Sayang."
"Jangan pura-pura bodoh, Kak. Lho kan, yang menculik Ayra dan...." Amira tidak bisa lagi menahan isak tangisnya. "Tega kamu, Kak." Menggeleng-geleng pelan dengan air mata yang semakin deras. Ia terduduk lemah, tersungkur di depan pria yang masih pura-pura bingung di depannya.
Ardian berusaha menguasai diri. Ikut duduk, mencengkram bahu Amira. "Jangan mengatakan sesuatu yang tidak lho ketahui kebenarannya. Lho sendiri yang bilang tadi, kalau sahabat lho itu sedang sakit. Kenapa sekarang lho malah menudub gue menculiknya. Lho dapat cerita darimana kalau gue yang menculik teman lho itu? Apa lho berani mempertanggung jawabkan ucapan lho itu? Gue tidak suka dituduh."
Amira mengusap air matanya seraya bangkit. Mengambil tali dan ****** ***** yang tadi ditemukannya pada tumpukan pakaian di atas sofa. Sedangkan tasbih digital itu ia sembunyikan di dalam saku celananya. Sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu pria itu membantah, Amira akan menunjukkan tasbih digital itu. Tasbih itu akan menjadi bukti kuat yang akan membuat Ardian tidak bisa mengelak lagi.
"Ini apa, Kak?!" Ardian mengacungkan tali di tangan kanannya dan ****** ***** di tangan kirinya.
Ardian tertegun melihat benda itu.
"Kenapa Kak Ardian diam? Jawab pertanyaan Mira, Kak. Ini apa?!" Amira menarik nafas dalam-dalam. "Apa ini alasan Kak Ardian tidak mengizinkan Mira membereskan kamar ini dari tadi?"
Ardian menarik nafas berat. Berjalan lebih mendekat pada Amira."Bagaimana kalau benda itu bukan milik dia?" Ardian menunjuk ****** ***** berwarna pink yang sedang diacungkan Amira. "Bagaimana kalau benda ini adalah milik lho yang ketinggalan waktu itu? Bicara di dekat telinga Amira seraya tersenyum sinis.
"Benda ini bukan milik gue, Kak. Benda ini milik wanita lain."
"Tapi benda ini bukan milik teman lho yang sok suci itu, kan?"
__ADS_1
Amira tersenyum getir seraya mengusap air matanya. "Sayangnya, benda ini memang milik Chayra Azzahra, sahabat kekasihmu sendiri, Ardian Baskara." Menekankan pada kalimat terakhirnya.
Ardian tersentak mendengar jawaban Amira. Berbalik membelakangi Amira setelah beberapa lama terdiam. "Seberapa dekat kamu dengan gadis itu, sampai pakaian terdalamnya, pun kamu kenal kalau itu miliknya."
"Kami sudah seperti saudara kandung. Itulah mengapa dia sangat melindungi gue dari pria bejat seperti kamu, Kak!"
Ardian langsung berbalik dan...
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Amira.
"Jaga omongan lho, Mira. Gue tidak suka main gila dengan wanita sembarangan. Gue hanya melakukan itu dengan lho."
"Bohong kamu, Kak. Lalu kenapa kamu menodai sahabatku sendiri."
"Aku hanya tidak suka karena dia terlalu ikut campur dalam hubungan kita."
"Oh, apakah hanya itu satu-satunya cara balas dendam?"
"Gue hanya ingin membuatnya jera dan tidak berani lagi mencari gara-gara dengan gue."
"Tubuhnya pasti sangat indah, kan? Dia lebih berisi dan lebih dari segala-galanya daripada gue. Iya kan, Ardian Baskara?" Amira kembali tersenyum getir. Memalingkan wajahnya dari Ardian.
"Lho bilang apa sih, Sayang. Gue tidak melakukan itu dengan cinta. Gue hanya melampiaskan kekesalan gue padanya. Lho sendiri tau kan, kalau gue hanya mencintai lho."
"Tapi Kakak menyentuhnya, Kakak meninggalkan noda di sekujur tubuhnya. Kakak merenggut kehormatannya. Kakak menghancurkan masa depannya. Kalau Kakak mencintai Mira, kenapa Kak Ardian melakukan hal itu kepada dia. Kenapa, Kak, kenapa..?! Kenapa Kak Ardian menghancurkan sahabat Mira. B.. bukan hanya sahabat Mira. Tapi.. tapi Kak Ardian juga menghancurkan perasaan Mira. Tangis Amira kembali pecah.
"Gue.. gue..."
"Berhenti membuat alasan, Kak!"
Ardian mengacak-acak rambutnya kesal. "Lalu gue harus bagaimana sekarang, Mira? Gue udah terlanjur melakukan itu."
"Sekarang Kak Ardian temui keluarganya dan minta maaf."
"Heh, ogah gue. Mau ditaruh dimana muka gue kalau sampai minta maaf pada perempuan seperti itu." Ardian bergidik ngeri.
"Terserah Kak Ardian kalau begitu. Kak Ardian jangan pernah menghubungi Mira lagi. Gue benci sama lho." Menunjuk mata Ardian seraya berlalu dari hadapannya.
**********
__ADS_1