Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kompor hampir meledak


__ADS_3

"Pak, tiket pesawat sudah saya pesankan. Saya mengambilkan penerbangan yang sore hari, Pak. Waktu cuti Bapak lima hari terhitung dari besok pagi."


Ardian melongo mendengar ucapan Dodit yang tiba-tiba menyambung ucapan Chayra.


"Tuh kan, Mas. Pak Dodit memang Asisten gercep. Terimakasih, Pak Dodit. Semoga Allah segera menurunkan jodoh Pak Dodit. Dan mudah-mudahan Pak Dodit berjodoh dengan orang itu."


"Terimakasih do'anya, Bu Ayra." Dodit menunduk sopan.


"K.. kita berangkat sore besok." Ucap Ardian kemudian, baru memahami maksud ucapan Dodit.


"Kalian mau kemana?" Zidane tiba-tiba ikut nimbrung.


"Kamu kerja aja dulu, Kak. Nanti aku cerita kalau pekerjaan Kak Zidane udah kelar."


"Tapi kami tidak bisa konsentrasi karena kalian berisik." Ghibran yang menimpali.


Chayra menarik sudut bibirnya. Pancingan sudah mulai bereaksi. Ia menatap suaminya sambil memicingkan mata. "Sssttt.... jangan berisik, Mas. Ada yang terganggu dengan percakapan kita. Lebih baik kita membahas ini nanti diluar."


"Sebenarnya Kakak tidak terganggu, Ayra. Tapi Kakak hanya terkejut karena Kakek tidak menceritakan apapun tentang rencana kalian ini."


"Bagaimana Kakek akan tau, Kak. Kami merencanakan ini semalam saat kami sedang melepas rindu. Suamiku hanya mengontak Pak Dodit lewat pesan singkat untuk memesankan kami tiket."


Ghibran hanya melirik ke arah Ardian lalu kembali menunduk. Tetapi tangannya terkepal kuat sambil memejamkan mata.


Chayra pun menunduk seraya memejamkan matanya. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal ini. Tetapi, dia takut Ghibran terus-terusan mengusik ketenangan hidupnya. Dia tidak ingin terus-terusan terjebak masa lalunya bersama pria itu.


"Ghi, nanti kita bicarakan ini lagi. Aku perlu bicara dengan Ayra dan Ardian."


"Tapi kamu harus menyelesaikan ini sekarang, Zidane. Kita sudah tidak ada waktu lagi. Mereka hanya datang untuk mengganggu pekerjaan kita saja." Ghibran bicara dengan meninggikan suaranya. Hal itu membuat Zidane mengernyit heran.


"Ini Perusahaan aku, Ghi. Mau aku kerja kapanpun, tidak ada yang akan menegurku. Kamu juga kenapa bicara tidak sopan seperti itu. Kamu tau kalau ini masih jam kerja."


"M.. maaf, aku terbawa emosi."


"Aku akan kerjakan ini nanti. Kamu bawa lagi berkas ini setelah adikku pergi." Zidane bangkit seraya mendekati Chayra kembali.

__ADS_1


"Baik, saya akan kembali setelah mereka pergi." Ghibran berlalu begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu. Hal itu membuat Zidane geleng-geleng kepala. Zidane tau kalau Ghibran meninggikan suaranya tadi gara-gara mendengar percakapan Ardian dan istrinya. Entah mengapa, temannya itu masih saja sensitif kalau itu berhubungan dengan Chayra. Padahal mereka sudah memiliki jalan hidup masing-masing.


Brak..!


"Astagfirullah...!" Serentak empat orang di ruangan itu berucap saat pintu tertutup dengan kasar. Sedangkan Adzra, anak itu terlihat terkejut seraya langsung memeluk mamanya.


"Jelaskan kalian mau kemana besok." Ucap Zidane seraya duduk kembali di hadapan Chayra dan Ardian.


Chayra dan Ardian terdiam beberapa saat. Chayra malah tersenyum jahil pada suaminya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Chay?"


"Mm... ng.. nggak ada apa-apa. Aku cuma sedang memikirkan jawaban untuk Kak Zidane."


Zidane mendengus, "kamu kan tinggal menjawab dengan tempat yang akan kalian kunjungi. Mau bulan madu lagi kalian? Mau menambah momongan lagi?"


Ardian dan Chayra kembali saling pandang. Ingin tertawa, tapi takut aktingnya terbongkar sebelum kelar. Jika akting mereka gagal, otomatis film akan gagal diputar. "Mm... memangnya kami nggak boleh menambah momongan, Kak?" Chayra menahan senyum.


"Bukannya tidak boleh, Dek. Tetapi masalahnya anak kamu masih kecil kalau harus punya adik. Adzra belum saja dua tahun. Terus dia juga masih membutuhkan ASI dari kamu."


Brak...!


Pintu yang tadi ditutup dengan kasar, kini kembali dibuka dengan kasar juga oleh orang yang sama. Semua orang yang di dalam ruangan serentak melafadzkan istighfar kembali.


"Maaf mengganggu. Aku hanya mau menanyakan sedikit masalah pekerjaan yang tidak aku pahami. Kalau ditunda lagi, aku takut pekerjaanku tidak bisa kelar pada waktu yang seharusnya.


"Bisa nggak, masuk dengan baik-baik tanpa harus membanting pintu seperti tadi. Kita sedang di Kantor, Ghi. Kita berada di posisi teratas pemimpin. Apa kamu tidak malu, dilihat membanting pintu sama bawahan kamu?" Zidane bangkit seraya mendekati Ghibran kembali. "Aku heran sama kamu, Ghi. Kenapa sih, dari kemarin kamu sering emosi nggak jelas. Padahal dulu kamu adalah orang yang paling pandai mengendalikan diri. Jangan sampai kamu seperti ini gara-gara masalah sepele."


Hening, tidak ada suara apapun setelah Zidane menyelesaikan kalimatnya. Ghibran masih berdiri di depan meja kerja Zidane, menunggu pria itu membaca berkas yang dibawanya.


Zidane POV...


Aku masih tidak percaya dengan sikap Ghibran. Tadi pagi semua berjalan seperti biasa. Dia sendiri yang memintaku untuk memperkerjakan dirinya di Perusahaan ini. Entah apa yang membuatnya mengundurkan diri menjadi Dosen. Tapi, sebagai teman yang baik, aku pun menerimanya dengan menjadikannya Asisten pribadiku.


Beberapa hari yang lalu, dia cerita kalau dia habis bersitegang dengan istrinya. Mereka sering sekali bertengkar tanpa sebab yang pasti. Sepertinya, itu semua terjadi karena istrinya tidak puas dengan sikap Ghibran yang sepertinya kurang perduli padanya.

__ADS_1


Aku melirik temanku ini. Sepertinya ada hal yang membuatnya tidak tenang. Terlihat beberapa kali memejamkan matanya. Rasanya ingin langsung menanyakan dia kenapa. Tetapi.. aku tidak mungkin melakukan itu disaat masih ada tamu terhormat ku. Iya, aku menganggap Chayra adalah tamu terhormat ku. Adikku itu jarang sekali mengunjungiku. Malahan aku yang datang bersama Alesha seminggu sekali ke rumahnya. Memastikan kalau dia baik-baik saja dan tidak terjadi masalah apapun. Sampai sekarang, aku tetap menganggap dia gadis kecil yang harus aku lindungi. Ditinggal pergi oleh ayahnya bukanlah hal yang mudah kami terima. Aku merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatannya.


Aku tau dia sudah punya suami yang sudah melindunginya. Tapi hal itu tidak membuatku lepas tanggung jawab. Apalagi kalau mengingat suaminya bukanlah pria baik-baik sebelum ini. Iya... walaupun sekarang dia sudah berubah total, tapi aku akan tetap melindungi adikku ini.


Suara Dodit yang bicara pada Ardian membuyarkan konsentrasi kerjaku.


"Pak, Sekretaris Direksi menanyakan posisi Bapak. Dia ingin menanyakan masalah jadwal rapat dengan investor yang berasal dari kota A."


"Kalau masalah jadwal kan kamu yang urus, Dit. Kenapa mesti bicara sama aku segala."


"Bu Rani juga ingin membahas sesuatu dengan Bapak. Urgent katanya, Pak."


"Bilang kalau saya akan membahas itu nanti setelah kembali. Katakan kalau saya sedang menemani istri saya sebentar. Lima belas menit lagi saya kembali."


Hmm.. Ardian sepertinya tidak suka diganggu. Menurutku sih, alasannya keluar karena menemani istri tidak efisien. Seharusnya dia mengutamakan pekerjaan di jam kerja. Iya... walaupun Perusahaan itu tidak akan berani melepaskannya. Hasil kerjanya patut diacungi jempol. Kemampuan berbahasa asingnya juga liat biasa. Aku bahkan mengaku kalah darinya. Apalagi Ghibran, dia hanya pandai berbahasa Arab. Kalau kita ngobrol pakai bahasa Inggris dia memang paham. Tapi, dia tidak bisa menggunakan bahasa dunia itu untuk berkomunikasi.


"Chay, aku mau bicara dengan Bu Rani sebentar." Ardian bicara pada istrinya dengan mata fokus pada handphone. Sepertinya pekerjaan itu benar-benar urgent seperti yang dikatakan Dodit tadi.


"Iya, Mas." Ardian malah mencium dahi istrinya sebelum keluar. "Dit, kamu ikut juga. Kita bicara di depan ruangan ini saja. Kak, di depan ruangan ini aman kan, untuk menerima telepon?"


Aku mengacungkan jempol ku pada Ardian.


Aku kembali melirik ke arah Ghibran. Sepertinya dia terkejut mendengar ucapan Ardian tadi. Apa dia tidak tau kalau Ardian adalah seorang General Manager? Soalnya dari kemarin dia terus meremehkan adik ipar ku itu. Hmm... mudah-mudahan dia cepat sadar saja. Ghibran yang sekarang memang terlihat kekanak-kanakan. Jauh sekali dari kedewasaan, padahal seharusnya dia bisa bersikap lebih dewasa setelah memiliki pasangan. Ini, kok dia malah sebaliknya.


"Kamu bisa istirahat di kamar Kakak sementara suami kamu kembali, Dek." Aku meminta Ayra untuk istirahat karena dia menguap.


"Nanti saja di rumah, Kak. Aku mau segera pulang karena Alesha katanya mau ke rumah."


"Iya, ini dia sedang mengurus surat perizinan dariku."


"Harus dikasih izin, Kak. Awas saja kalau Kak Zidane pelit, aku lapor ke Kakek."


Aku tertawa kecil mendengar ucapan Ayra.


***********

__ADS_1


__ADS_2