Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Nasib yang belum pasti


__ADS_3

Ardian tersenyum sampai masuk ke dalam mobil. Setelah memutuskan untuk pergi ke Kantor menggunakan mobil Dodit, Ardian duduk anteng di samping kursi kemudi.


Lama mereka duduk, tetapi Dodit belum juga menjalankan mobilnya.


"Kenapa mobilnya belum jalan juga, Dit?" Ardian melirik Dodit disela-sela kesibukannya menatap tab di tangannya. Terdengar helaan nafas berat dari Dodit. "Aku hanya masih tidak percaya melihat interaksi kamu dengan istri kamu tadi, Ar."


"Kenapa emangnya? Perasaan kamu sudah biasa melihatku berinteraksi dengannya."


Dodit menyebikkan bibirnya. "Kamu sering tidak tau tempat. Jangankan di rumah yang sudah jelas tempat kamu berkuasa. Di Kantor pun kamu seperti itu."


"Di Kantor juga aku berkuasa, Dit."


"Iya tapi setidaknya kamu menghargai keberadaan karyawan lain yang sedang bekerja."


"Aku kan punya ruangan sendiri, Dit. Salah sendiri masuk ke ruangan orang tanpa ketik pintu."


Dodit melengos. "Aku tidak pernah lupa untuk mengetuk pintu, Ar. Kamu aja yang tidak dengar karena sudah keasyikan dengan istri kamu."


"Kamu risih ya, melihat aku seperti itu?" Ardian kembali melirik Dodit.


"Tidak.." Dodit menjawab dengan pandangan lurus kedepan. "Untuk apa aku risih. Sebenarnya, aku hanya merasa sangat kecil ketika melihat pasangan yang begitu bahagia dan romantis seperti kamu ini. Aku.. aku mempunyai kisah percintaan yang buruk di masa lalu."


Ardian langsung menatap ke arah Dodit. Menutup tab di tangannya, memasukkan ke dalam tas kerjanya. "Kamu pernah menikah?" Tanyanya dengan ekspresi yang tidak bis ditebak.


Dodit mengangguk. "Tidak meleset sedikitpun. Kamu benar, Ar. Aku pernah menikah dan bahkan hampir mempunyai anak. Tetapi, wanita itu meninggalkanku disaat aku jatuh ke dalam jurang cintanya. Aku frustasi waktu itu. Tapi, dari kegagalan itu aku mulai belajar untuk memahami sesuatu yang harus aku pelajari. Aku belajar memahami karakter wanita. Aku tidak menyalahkan wanita itu sepenuhnya karena meninggalkanku. Mungkin karena aku yang miskin waktu itu, sehingga semua orang membenciku. Semua menyalahkan ku. Sampai-sampai semua kakak Perempuanku tidak mau mengakui aku lagi sebagai saudara mereka."


"AstagfiruAstagfirullahal'adzim..."


Dodit melirik Ardian. "Sudahlah, Ar, itu hanyalah masa lalu. Masa lalu itu tidak baik kalau terus dikenang. Masa lalu itu hanya pantas dijadikan pelajaran. Yang pantas diperjuangkan itu adalah masa depan. Bukan begitu Pak General Manager?"


"Nggak usah segitunya juga kali, Pak menyebutnya."


Dodit tersenyum getir. "Kita berangkat sekarang?"

__ADS_1


"Seharusnya dari tadi kamu menjalankan mobilnya." Ardian melirik jam tangannya. "Kita sudah lima belas menit nganggur di dalam mobil. Aku seharusnya sampai jam setengah delapan. Tapi ya... sesekali telat dah, nggak apa-apa. Aku adalah Bos yang baik hati, yang setia mendengar curhatan Asisten pribadi yang setia."


"Kebanyakan titik koma lu. Bismillah..." Dodit melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah. Terlihat Satpam menunduk hormat saat mobil itu keluar dari gerbang rumah.


*******


"Sayang...!" Ardian berteriak saat tidak terdengar suara istrinya menjawab salam dari telepon.


"Iya, ada apa, Mas. Adzra lagi pipis dulu ini. Dia tidak mau pipis di pampersnya."


"Loh kenapa bisa begitu?"


"Sebentar, Mas.. jangan ngomong dulu..!" Chayra sedikit berteriak karena dia meletakkan handphonenya di tempat yang agak jauh dari tempatnya duduk menunggu putranya selesai pipis.


"Kenapa sih pakai menghubungi istri segala. Padahal lu kan bisa beli makan siang di Kafe. Seneng banget deh ngerepotin istri. Manja banget lu jadi suami."


"Siapa suruh kamu menghabiskan bekal makan siang yang aku bawa tadi. Kirain Chay tidak capek apa menyiapkan itu semua."


"Aku kan sudah curhat sama kamu. Kamu termasuk orang beruntung karena mengetahui masa lalu aku. Hebatnya juga, perut aku langsung terasa lapar lagi setelah menceritakan rahasia terbesarku padamu."


"Bukannya kebanyakan kamu yang merepotkan aku? Berkas-berkas siapa yang selalu menyiapkan untuk kamu?"


Ardian tersadar kalau sedang menghubungi istrinya saat handphonenya berdering nyaring."Astagfirullah, Dit. Kamu ngajak aku debat sampai aku lupa kalau sedang teleponan dengan Chay."


Dodit melambai pelan sambil cekikikan. Keluar dari ruangan Ardian seraya menutup pintu dengan sangat pelan.


"Iya, Sayang maaf. Si Dodit ngajak aku debat segala tadi. Sampai lupa kalau sedang bicara dengan kamu."


"Hmm... pantesan dipanggil-panggil nggak denger. Kamu mau bilang apa tadi, Mas?"


"Antarkan makan siang, Sayang. Bekal yang tadi pagi aku bawa habis dimakan Dodit."


"Ya Allah, Mas. Kenapa nggak telepon dari tadi. Ini sudah jam setengah dua belas. Mana cukup waktunya kalau harus masak dulu."

__ADS_1


"Kamu bisa datang jam satu nanti. Aku mulai rapat jam dua. Kalau kamu nggak sempat masak, bawakan menu sarapan tadi pagi juga nggak apa-apa."


"Sudah habis, Mas. Ya sudah aku ke dapur sekarang. Adzra juga belum bobo lagi ini." Chayra terdengar panik. Ardian jadi tidak tega. Membayangkan istrinya akan bolak-balik ke dapur sambil menenangkan putranya. Dia hafal betul acara ritual putranya sebelum tidur. Adzra akan sangat rewel kalau sudah mengantuk. "Mm.. kalau kamu kewalahan, nggak apa-apa nanti aku bisa makan di Kafe."


"Aku akan usahakan, Mas. Mudah-mudahan Adzra tidak rewel nanti."


"Terimakasih, Sayang. Aku tunggu kedatangan kamu. Aku kerja lagi ya.."


"Eh, jangan terlalu berharap dulu, Mas. Anak kamu belum tidur ini. Biasanya butuh waktu setengah jam untuk membuatnya bisa tidur dengan pulas."


"Aku tetap akan mengharapkan kedatangan kamu. Siapa sih yang tidak mengharapkan kedatangan istrinya sendiri. Atau kamu mau aku makan bersama Sekretaris Direksi yang diceritakan Dodit saat sarapan di rumah tadi pagi. Kamu kan denger sendiri kalau dia itu wanita pemberani."


Chayra tersenyum sinis mendengar ancaman suaminya. "Heh, lakukan saja kalau Mas Ardian menganggap hal itu benar. Lagian makan satu meja dengan yang bukan mahram tidak dilarang agama kok. Yang dilarang itu melakukan hal-hal yang melanggar aturan agama. Aku tutup, assalamu'alaikum.." Chayra menutup sambungan telepon secara sepihak. Hal itu cukup membuat Ardian terkejut. Kalau Nyonya besar marah, akan panjang ceritanya. Bisa-bisa dia tidak mendapat jatah bekal batin beberapa hari ke depan. Chayra memang tidak pernah menolak kalau suaminya meminta jatah, semarah apapun dia. Tapi, kembali lagi pada rasa tidak enak karena pernah berseteru lalu tiba-tiba minta untuk dilayani.


Ardian POV...


Aku menjauhkan handphone dari telingaku saat bunyi nada sambung terputus mengganggu indra pendengaranku. Aku cukup terkejut karena Chay jarang sekali memutus sambungan telepon secara sepihak. Apakah wanitaku ini benar-benar marah karena aku mengancam dengan wanita lain tadi.


Aku mencoba melakukan panggilan lagi. Tapi, sampai dua kali aku mencoba, Chay tidak menjawabnya. Aku bangkit berjalan mendekati jendela yang langsung mengarah ke jalan raya. Lama aku berdiri sambil menunggu jawaban darinya, tapi tetap saja nihil.


Ya Allah.. mudah-mudahan Chay sedang di dapur untuk memasak masakan yang enak untuk suaminya. Aku harus tetap husnudzon seperti yang selalu disampaikan istriku itu. Jangan sampai Setan memperdaya diriku saat aku sedang tidak tenang seperti ini.


Aku mendengar pintu diketuk, tetapi aku tidak menghiraukannya. Saat aku menatap ke arah pintu, terlihat Dodit masuk dengan Sekretaris Direksi. Hmm... aku akhirnya mendekati mereka dan ikut duduk di sofa. Sekilas aku memperhatikan Sekretaris Direksi yang duduk di hadapanku. Raut wajahnya memang terlihat sangat tidak friendly. Malahan terkesan sangar menurut aku. Kata Dodit dia ini sepupunya Pak Randi. Pantesan bisa langsung mendapatkan posisi tinggi. Wanita ini juga terlihat lebih tua dariku. Tapi... dia tetap cantik walaupun berwajah sangar. So, dia kan wanita. Kalau laki-laki, pastilah dia tampan. Wkwkwk...


"Bapak baca lagi berkas yang diserahkan Pak Dodit tadi pagi. Ada sedikit perubahan."


Aku hanya mengangguk seraya mengambil berkas yang kebetulan masih berada di meja yang sama. Aku pura-pura konsentrasi mendengarkan penjelasannya walaupun hati ini masih memikirkan nasibku nanti. Apakah Chay marah atau dia sedang sibuk memasakkan makanan untukku.


"Hanya tiga poin yang mengalami perubahan. Bapak tinggal membacanya dan memberikan masukan sekiranya ada isi yang tidak Pak Ardian setujui."


"Baik, Bu. Terimakasih..."


Ibu Sekretaris langsung pamit karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.

__ADS_1


**********


__ADS_2