Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Semua karena Ardian


__ADS_3

Ardian bergegas menyusuri koridor Rumah Sakit. Telepon dari Alesha benar-benar membuatnya hampir terjatuh karena terkejut. Istrinya dibawa sejak tadi pagi ke Rumah Sakit. Alesha mengabarinya setelah lewat waktu shalat Zuhur. Ardian kira, Chayra belum menghubunginya karena ada jam pelajaran tambahan. Namun, ternyata kenyataannya berbeda setelah Alesha menghubunginya.


Berjarak dua bilik Ardian akan sampai di bilik tempat istrinya beristirahat. Ghibran tiba-tiba berjalan mendekat. Menarik tangan Ardian kasar, menjauhi ruang IGD, menarik Ardian menuju luar.


Ardian yang seperti terseret berusaha memberontak. "Maaf, Pak. Saya mau bertemu dengan istri saya."


"Diam kamu! Jangan banyak membantah. Ikut aku dulu."


Santi terlihat kebingungan melihat Ghibran yang menyeret Ardian. Namun, dia harus segera mengetahui keadaan putrinya membuatnya mengabaikan dua pria itu.


Sampai area parkiran..


Bug..!!


Satu tinju Ghibran melayang di wajah Ardian. "Ini semua gara-gara kamu laki-laki brengsek!"


Bug..!


Kembali tinju Ghibran melayang di wajah Ardian.


"Berhenti, Pak! Salah saya apa?" Ardian berusaha menghentikan aksi brutal Ghibran.


Dada Ghibran naik turun karena kesal. Kembali mendekati Ardian, menarik kerah baju Ardian. Hampir-hampir tubuh Ardian terangkat karena kerasnya Ghibran menarik kerah bajunya. "Bisa-bisanya kamu menghamili Zahra. Kenapa kamu menghamilinya. Belum hilang rasa sakit karena kamu merebutnya dariku. Kini kamu telah membuat luka baru lagi." Menghempaskan tubuh Ardian dengan kasar.


"Apa mau kamu sebenarnya, Ardian...?! Sudah cukup aku bersabar menerima semua kelakuan kamu."


Ardian masih tertegun. Dari puluhan kata yang diucapkan Ghibran. Hanya kata hamil yang membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Bug...!


Satu tinju lagi melayang di pipi Ardian. Tinjuan terakhir ini membuat darah segar mengucur dari sudut bibirnya.


"Kenapa kamu membuatnya hamil?!" Ghibran berkata dengan emosi yang meluap-luap. Membuang wajahnya dari Ardian. Karena semakin dia menatap Ardian, rasa sakit hatinya semakin menjadi-jadi.


Pertikaian itu mengundang perhatian banyak pengunjung Rumah Sakit yang berada di area parkir. Bian yang sedari tadi hadir pun, tidak bisa menghentikan aksi brutal Ghibran.


Ardian menyusut darah di sudut bibirnya. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa sakit hati atas ucapan Ghibran. "Masalahnya apa kalau Chay hamil? Toh dia istri gue. Seandainya dia hamil karena lho, itu yang akan menjadi masalah. Gue menghamilinya karena gue berhak atas tubuhnya. Gue berhak atas hidup dan kehidupannya."


"Tutup mulut kamu!"


Bug..!


Satu tinju lagi mendarat di perut Ardian.


Ardian berusaha tetap berdiri. "U.. ucapan lho harus diluruskan, agar orang-orang yang sedang menyaksikan kita di tempat ini tidak ada yang salah paham." Kembali Ardian menyusut darah yang masih saja mengalir.

__ADS_1


Ghibran kembali membuang wajahnya. Dia baru sadar apa yang sudah dia lakukan.


Ardian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. "Apa lho sudah tidak waras? Lho menyalahkan gue, karena gue menghamili istri gue sendiri. Gue hanya mau tanya, masalahnya untuk lho apa? Lho itu hanya masa lalu istri gue. Jadi, istri gue hamil, gue harus mensyukuri itu." Ardian tersenyum sinis. "Terimakasih, Pak, atas tinjuannya. Semoga kedepannya, Pak Ghibran tidak menyalah gunakan kemampuan Bapak itu. Saya harus menemui istri saya sekarang. Assalamualaikum, Pak." Ardian berlalu dengan cepat, walaupun dengan sedikit tertatih. Perutnya terasa mual karena tinjuan Ghibran. Dia hanya mau menghindar. Tidak mau kalau Ghibran membuat drama baru lagi.


Kasak-kusuk mulai terdengar dari mulut beberapa pasang mata yang menyaksikan pertikaian itu.


"Kalian lihat apa? Bubaaaar..!" Ghibran mengusir orang-orang itu karena tatapan mereka mulai tidak nyaman menatap ke arahnya.


"Huh, dasar. Kirain dia marah karena pacarnya dihamili orang lain. Eh, tau-taunya dia marah karena mantan pacar dihamili suaminya. Benar-benar tidak masuk akal." Seorang wanita paruh baya yang menjadi salah satu penonton menggeleng-gelengkan kepalanya karena bingung dengan tindakan Ghibran.


Ghibran membuang nafas kasar. Bergegas memasuki mobilnya. Keluar area Rumah Sakit. Saat melewati portal keluar, ia menyerahkan uang lembaran seratus ribu untuk parkir. Langsung tancap gas tanpa menunggu susuknya.


Kasir parkiran itu menggeleng-geleng pelan. "Benar-benar orang aneh," ucapnya lirih. Kasir cantik itu ikut jadi penonton tadi. Masih tidak percaya kalau pria setampan Ghibran menyalahi suami orang gara-gara hal tidak masuk akal tadi. Mana mungkin dia marah gara-gara seorang suami yang menghamili istrinya sendiri.


********


Ardian ikut berbaring di Berangkar ruang IGD. Ada luka sedikit dalam di sudut bibirnya yang harus segera dibersihkan agar tidak mengalami infeksi.


Santi harus bolak-balik ke bilik yang ditempati Chayra dan Ardian untuk memantau kondisi suami istri itu.


"Bagaimana keadaan Kak Ardian, Bu?" Alesha bertanya karena kasihan melihat Santi terus-terusan bolak-balik.


"Ada robekan di ujung bibirnya. Tapi, dia masih enggan menjawab setiap pertanyaan Ibu. Dia mala bersikeras tidak mau dipasangkan infus. Pura-pura segar tu anak. Kayaknya nggak sabar mau bertemu istrinya." Ucap Santi sambil membetulkan posisi kepala Chayra yang miring.


"Tadi kenapa nggak dibawa tengok Ayra dulu, Bu, biar dia tidak kepikiran sekarang?"


"Apakah Pak Ghibran yang melukai Kak Ardian?"


"Sepertinya sih, Nak. Sebenarnya Ibu tidak mau su'udzon. Tapi, karena dia yang membawa Ardian pergi tadi. Dia juga tampak marah saat menyeret Ardian tadi."


"Apa dia marah karena kehamilan Ayra, Bu?"


Santi mengangkat bahu seraya menatap putrinya. "Entahlah, Nak. Tapi, itu terdengar sangat tidak masuk akal. Apa iya, dia akan memarahi Ardian karena menghamili istrinya sendiri?"


"Kok, kedengarannya lucu ya, Bu, kalau memang benar itu yang terjadi."


Santi tersenyum bingung. "Entahlah, Ibu juga bingung."


"Mm... Tina nggak ikut kemari, Nak?" Santi bertanya setelah mereka cukup lama terdiam.


Alesha yang sibuk dengan handphonenya mengangkat wajahnya. "Eh, ikut tadi, Bu. Tapi dia pulang duluan tadi. Mau mengambil baju ganti dulu untuk kami nanti. Soalnya besok mau berangkat ke Kampus lewat Rumah Sakit saja. Kasihan kan, kalau Ayra tidak ada teman ngobrol nanti."


"Memangnya Ayra harus dirawat inap ya, Nak?"


"Kata Dokternya tadi sih begitu, Bu. Tapi, semua keputusan diserahkan pada... eh," Alesha menghentikan ucapannya. Menatap Santi dengan tatapan bingung. "M.. maaf, Bu. Tadi Pak Ghibran anu, Bu.."

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih, Lesha. Ngomong yang jelas dong. Maaf.. anu.. ini..."


Alesha tersenyum meringis. "Hehehehe... anu tadi, Bu. Pak Ghibran mengaku anu gitu.. Hehe.."


"Mengaku apa?" Santi semakin bingung dengan ucapan Alesha.


"Dia bilang, mm.. anu.. dia itu... suaminya A.. Ayra, Bu." Alesha berkata dengan takut-takut. "Mm.. soalnya Dokternya menanyakan suaminya setelah selesai memeriksa Ayra tadi."


Santi menautkan alisnya. "Kenapa dia tidak menunggu kami datang dulu sebelum mengambil keputusan. Seharusnya dia tidak berbuat seperti ini. Karena bagaimanapun juga, Ardian yang paling berhak memberikan keputusan."


"Kami panik tadi pagi, Bu. Soalnya, Ayra sudah lemes dari Kampus. Yang gendong dia dari Kampus juga Pak Ghibran, Bu."


"Kalian membawa Ayra dari pagi. Kenapa kalian menghubungi Ibu sehabis Zuhur."


"Heheheh, anu, Bu. Mm... Pak Ghibran yang melarang kami."


"Kalian kan bisa mengirim pesan saja tanpa harus lewat suara."


"Handphone kami dibawa Pak Ghibran, Bu."


Santi akhirnya hanya bisa menghela nafas berat. Sebenarnya dia memikirkan reaksi Ardian nantinya, saat melihat tanda tangan Ghibran yang terbubuh di atas kertas persetujuan. "Iya.. mau bagaimana lagi ini sudah terlanjur."


Kedatangan Bian membuat mereka teralihkan perhatiannya. "Mm.. Bu, Kak Ardian mau minum. Bian nggak punya uang untuk membelikannya air."


"Astagfirullahal'adzim, maafkan Ibu, Nak. Ibu keasyikan ngobrol dengan Kak Lesha." Santi merogoh uang di saku tasnya.


"Mmm... biar Lesha aja, Bu yang membelikannya air. Sekalian mau menemui Kak Ardian. Ada yang mau aku bicarakan dengan dia." Alesha langsung bangkit. Mengusap pipi Chayra yang masih terlelap seraya tersenyum lembut. "Nanti aku kembali, Ayra. Kamu harus cepat pulih biar Adek bayinya juga sehat."


Alesha menyalami Santi sebelum keluar dari bilik. "Mm.. Bian ikut Kak Lesha, yuk. Kita makan di luar sebentar."


"Tapi kasihan Kak Ardian. Dia kehausan, Kak."


"Kasih air milik Kak Ayra dulu. Nanti kita belikan air yang banyak."


Bian nurut saja. Meraih botol yang isinya hanya diminum sedikit oleh Chayra. "Nggak ada sedotannya, Kak. Kak Ardian belum bisa bangun. Pusing katanya.."


"Itu kan ada satu bungkus." Alesha menunjuk sedotan yang masih belum dibuka kemasannya.


"Mubazir kalau dibuka." Bian menggaruk-garuk kepalanya.


"Astagfirullah, Dek. Kamu ini kenapa perhitungan banget sih?! Kak Lesha beli itu untuk dipakai."


Bian cengengesan sambil membuka kemasan sedotan. Kembali ke bilik Ardian untuk memberinya minum.


Alesha mengikuti langkah Bian dari belakang. Ingin menanyakan sesuatu pada Ardian. Namun, dia harus menanyakan sesuatu dulu pada Bian.

__ADS_1


********


__ADS_2