Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kehidupan baru


__ADS_3

Chayra terlihat bingung saat Renata dan Sucipto menyuruhnya untuk beristirahat usai mereka berbincang santai. Sucipto langsung meninggalkan istri dan menantunya di ruang keluarga dan masuk ke ruang kerjanya.


"Kenapa, Nak?" Renata mendekati menantunya.


"Mm.. barang-barang Ayra dimana ya, Bu.." Chayra menutup mulutnya karena salah menyebut mertuanya. "Maksud Ayra, Mami?"


Renata tersenyum hangat menyikapi sikap pmenantunya yang terlihat salah tingkah. "Oh, barang-barang kamu sudah ada di lantai atas. Tepatnya sudah di dalam kamar yang akan kamu tempati bersama suami kamu."


Deg!


Chayra tersentak, langsung menatap Renata mertuanya. Pandangan matanya langsung berubah. Mungkinkah tidak akan terjadi apa-apa jika dia masuk kembali ke kamar itu. Kamar itu menjadi saksi bisu, bagaimana bejatnya perbuatan Ardian padanya waktu itu.


"Ada apa, Nak?" Renata menepuk pundak Chayra.


"Eh," lamunan Chayra langsung buyar. Matanya terlihat memerah. Namun, cadar yang menutupi sebagian wajahnya membuatnya berhasil menyembunyikan ekspresinya itu.


"Kenapa?" kembali Renata bertanya.


"Mm.. apa.. apa tidak ada kamar lain untukku?"


"Maksud kamu?" Renata menatap Chayra dengan heran.


"M.. maksud Ayra dengan Kak Ardian juga. Kamar lain yang bisa Ayra tempati bersama dengan Kak Ardian. Yang penting jangan kamar yang itu."


"Tapi kenapa?"


"Aku.. aku tidak bisa di kamar itu." Chayra menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


Renata terdiam beberapa saat. "Tunggu Mami disini. Sebentar saja, kamu jangan kemana-mana." Bergegas naik ke lantai atas. Meninggalkan Chayra tanpa menunggu persetujuan gadis itu.


Tak berapa lama, Renata kembali dengan Ardian berjalan di belakangnya.


"Ardian ngantuk, Mi. Ngapain sih pakai bangunin segala."


"Bawa istri kamu ke dalam kamar. Kenapa kamu malah tidur sendirian. Apa kamu lupa, kalau sekarang kamu sudah punya istri?"


"Dia kan sudah tau letak kamar, Mi. Dia aja nggak cerewet. Kok Mami yang banyak maunya sih?!"


"Ardian..!"


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil mengucek-ngucek matanya. Kalau maminya sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, tandanya dia tidak mau dibantah.


"Ayra bukan Amira yang pernah masuk ke kamar kamu. Dia adalah wanita shalihah yang menjaga diri dan pandangannya. Bukan seperti mantan pacar kamu itu yang biasa keluar masuk kamar pacarnya."


"Mami...!"


"Diam..!"

__ADS_1


Ardian menarik nafas panjang. Berdebat dengan maminya hanya akan memperpanjang masalah.


"Mungkin istri kamu tidak mau tidur di kamar itu, karena kamu pernah melakukan itu bersama Amira di sana."


"Mami..!"


"T.. tidak seperti itu, Mi. B.. bukan itu alasannya. Ayra.. Ayra hanya ingin kamar yang lain." Chayra mencoba menyela perdebatan ibu dan anak itu. Menundukkan kepalanya agar Renata tidak melihat air matanya yang mulai keluar.


"Kan kamar yang di sebelah kamar gue kosong. Kalau lho keberatan tidur di kamar gue. Kenapa lho nggak pakai kamar itu. Gampang, kan? Ngapain harus pakai ngadu ke Mami segala sih?!" Ardian memalingkan wajahnya menahan kesal.


"Tidak bisa seperti itu. Mana ada suami istri tidur di kamar yang terpisah."


Sucipto keluar dari ruang kerjanya. Mungkin dia terganggu dengan suara berisik istri dan anaknya. "Ini ada apa?" tanyanya seraya berjalan mendekat setelah menutup pintu.


Ardian semakin kesal melihat kedatangan papinya. Sudah dia duga, pasti pria paruh baya itu akan membela Chayra. "Nih, menantu Papi nggak mau tidur sekamar dengan Ardian. Baru datang aja sudah berani berulah." Berkata tanpa menatap papinya. Matanya menatap ke sembarang arah.


Sucipto menautkan alisnya curiga. Dia tidak segampang itu percaya pada Ardian. Putranya itu terlalu pandai bersilat lidah. "Apa benar begitu, Ayra?"


Chayra semakin menundukkan kepalanya. Terdengar helaan nafas berat darinya. "Bukannya Ayra tidak mau sekamar dengan Kak Ardian, Pi. Tapi, Ayra tidak mau tidur di kamar itu."


"Apa kamu bisa menjelaskan alasannya?"


"Kalau nggak mau ya pakai kamar yang lain aja. Kamar kan masih banyak yang kosong. Kenapa masalah sepele malah di perpanjang?!" Ucap Ardian sambil menggerutu.


"Papi tidak minta pendapat kamu, Ardian. Papi sedang bertanya pada menantu Papi." Sucipto kembali menatap Chayra. "Jelaskan pada kami, Nak."


"Kamu tidak mungkin tidak punya alasan. Katakan sekarang atau kami tidak akan membiarkan kamu memakai kamar yang lain."


Chayra terlihat gusar. Dia tidak semudah itu untuk mengatakan hal itu sekarang. Menelan ludahnya beberapa kali, karena mulutnya benar-benar terasa berat untuk bicara.


"Sudah, Pi, jangan terlalu dipaksakan. Nanti Mami yang akan meminta Ayra untuk menjelaskannya secara perlahan. Mungkin saja sekarang dia belum siap, kalau harus tidur sekamar dengan Ardian."


Sucipto memijit pelipisnya. "Mami saja yang atur. Papi pusing lama-lama dengan masalah yang semakin menumpuk. Papi akan telepon Jaka sekarang untuk membantu membereskan kamar kosong di sebelah kamar Ardian." Merogoh handphone di sakunya. Menghubungi Jaka agar masalah ini cepat selesai. Panggilan langsung terhubung pada deringan pertama.


"Kamu dimana?"


"Saya masih di depan, Tuan."


"Saya mau minta tolong. Panggilkan para pelayan ke rumah sekarang."


"Baik, Pak."


Sucipto memutus sambungan telepon. "Mami yang atur sekarang. Papi mau istirahat dulu. Jangan ada keributan seperti tadi." Berlaku setelah memberi perintah pada Renata.


Renata menatap Chayra selepas kepergian suaminya. "Kamu mau kamarnya yang bagaimana, Nak. Nanti Mami tinggal minta pelayan mengatur sesuai dengan keinginan kamu."


"Ayra tidak mau dikhususkan, Mi. Bagaimanapun juga, Ayra punya suami sekarang. Ayra tidak bisa mementingkan keinginan Ayra sendiri. Karena mungkin saja, yang Ayra inginkan malah tidak sesuai dengan keinginan Kak Ardian."

__ADS_1


"Jangan pikirkan dia. Dia itu orangnya netral kok."


"Ardian juga punya selera, Mi." Ardian menimpali ucapan maminya dengan ketus.


Chayra tersenyum. Walaupun senyumannya tidak terlihat karena tertutup cadar. Namun, matanya terlihat menyipit menandakan kalau dia sedang tersenyum. "Ayra hanya mau minta satu hal."


"Apa, Sayang?" Renata menjawab cepat.


"Jangan menata kamar itu seperti kamar Kak Ardian yang sekarang."


"Tentu saja boleh, Sayang."


Kedatangan tiga orang pelayan menghentikan percakapan mereka. Renata langsung memberi perintah kepada tiga pelayan itu.


Sekitar satu jam menunggu, kamar sudah siap ditempati. Chayra mengucapakan terimakasih pada tiga pelayan yang telah meluangkan waktu mereka untuk membantunya.


Renata mendekati menantunya setelah tiga pelayan itu keluar.


"Kenapa harus berterima kasih, Nak? Itu sudah menjadi kewajiban mereka. Mereka kerja karena digaji."


"Tidak apa-apa, Mi. Hanya mengucapkan terimakasih tidak akan membuat kita rugi. Malahan, dengan mengucapakan itu, orang akan merasa dihargai."


"Kamu memang luar biasa. Mami sepertinya akan kesulitan mencontoh sifat kamu." Renata mengelus-elus kepala Chayra. "Iya sudah, kalau begitu Mami tinggal ya. Kalian istirahatlah sekarang. Mami juga capek mau istirahat."


"Ayra belum shalat Isya. Mami juga belum kan?"


"Eh, i.. iya.. Mami juga belum." Renata salah tingkah. Biasanya dia sering mengabaikan shalat. Ditanya sudah shalat apa belum tentu saja membuatnya malu karena minimnya iman yang dimilikinya.


"Mm.. kamu shalat saja di kamar. Nanti Mami shalat di kamar saja."


"Apa tidak ada Musholla disini, Mi?"


"M.. Musholla..? A... ada, Nak, di belakang. Memangnya harus ya, shalat di Musholla?"


"Nggak juga sih, Mi. Tapi, Ayra lebih nyaman kau shalatnya disana. Tidak ada gangguan dan bisa lebih khusyuk."


"Apa kamu mau ditemani Mami?"


"Eh, nggak usah, nggak usah. Mami kan capek. Mami istirahat saja. Ayra akan shalat di kamar."


Renata bernafas lega. Sebenarnya dia sangat malas walaupun hanya sekedar untuk turun lagi ke bawah.


"Kalau begitu Mami tinggal ya.. Selamat menikmati malam pertama kalian. Jangan bertengkar terus. Nikmati surga dunia yang mendatangkan pahala." Renata menutup pintu perlahan setelah menyelesaikan kalimatnya.


Chayra hanya melongo mendengar ucapan mertuanya itu. "Surga dunia yang mendatangkan pahala..?" Mengulang ucapan mertuanya tadi.


"Bodoh! masa kalimat itu saja tidak paham." Ardian merebahkan tubuhnya di ranjang setelah capek menunggu di sofa. Melewati Chayra tanpa menghiraukan gadis itu, yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.

__ADS_1


********


__ADS_2