Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Masalah baru


__ADS_3

Malam itu, Chayra akhirnya mau ikut pulang ke rumah Ardian. Semua orang memaksanya untuk ikut pulang termasuk ibunya. Bagaimanapun sayangnya Santi pada putrinya. Namun, dia sadar kalau putrinya itu sudah menjadi milik orang lain. Dia tidak ada hak untuk memberikan keputusan prihal putrinya.


"Ayolah, Nak. Kami bela-belain ikut menjemput kamu kemari."


"Izinkan saya tinggal beberapa hari lagi disini, Mi." Chayra menatap mertuanya dengan tatapan memohon.


"Katakan pada kami masalah yang sedang menimpamu, Nak. Jika itu menyangkut putra kami. Kami akan menasehatinya." Sucipto mencoba untuk bersikap bijaksana. Beberapa kali terdengar helaan nafas darinya.


Chayra melirik Ardian yang duduk di depannya. Pria itu tidak pernah mengangkat wajahnya sejak keluar dari kamar Chayra. Entah dia melakukan itu karena merasa bersalah atau sekedar untuk menutupi rasa kesalnya.


"Aku hanya ingin sendiri, Pi, Mi. Ayra butuh suasana baru. Ayra juga sangat merindukan Ibu dan Bian. Itulah mengapa Ayra menginap di rumah Ibu." Chayra mencoba memberikan alasan yang paling masuk akal.


"Mami tidak percaya dan tidak bisa menerima alasan kamu itu. Mami tau, kalian pasti sedang ada masalah, kan?"


"Tidak seperti itu.." Chayra kembali mengelak. Namun, dari nada bicaranya, baik ibu maupun kedua mertuanya sudah tau kalau gadis itu sedang berbohong.


"Kami ini orang tua kamu, Nak. Jangan sungkan untuk bercerita pada kami. Jika kamu tidak enak bercerita pada kami, kamu bisa bercerita pada ibu kamu." Ucap Renata.


Santi mendekati putrinya dan memeluknya dengan hangat. Biasanya cara itu sangat ampuh untuk membuat Chayra membuka mulut. "Ibu ada di sini, Sayang. Jangan memendam masalah sendiri selama Ibu masih ada untuk kamu. Sudah cukup penderitaan yang kamu hadapi selama ini."


Benar saja. Baru beberapa detik tenggelam dalam pelukan ibunya. Terdengar isak tangis dari gadis itu. Tangannya melingkar erat di pinggang ibunya.


"Ayra cuma lelah, Bu. Ayra butuh waktu untuk menerima semua takdir ini. Ayra capek dipermainkan terus, dibohongi terus dan dimanfaatkan."


"Ceritakan semuanya pada Ibu, Nak." Ucap Santi lembut. Menepuk-nepuk punggung putrinya. Sebagai ibu, ia ikut merasakan kegundahan yang sedang dialami putrinya.


Chayra perlahan-lahan mulai bercerita. Walaupun sebenarnya dia merasa sangat berat untuk melakukan itu. Bercerita keluh kesahnya sama saja dia menambahkan beban pikiran untuk ibunya. Namun, perasaannya terasa lebih plong setelah mengeluarkan beban pikirannya.


Ardian beberapa kali menarik nafas panjang saat mendengar cerita istrinya. Gadis itu bercerita semuanya tanpa ada yang terlewatkan dan tidak ada juga yang dilebihkan.


Setelah Chayra selesai bercerita, kini semua mata menatap tajam pada Ardian. Yang ditatap tidak berani mengangkat kepalanya. Ardian memang bejat. Tetapi jika kedua orang tuanya ikut andil pada masalah yang dia buat. Dia tidak akan berani menentang ucapan orang tuanya.


"Papi sudah mengatakan kepadamu beberapa kali, Ardian. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini. Istri yang berniat baik pada kamu malah kamu permainkan. Buka mata kamu, Nak. Bedakan mana wanita yang benar-benar menginginkan perubahan untukmu dan wanita yang hanya memanfaatkan kamu. Katakan, apa tujuan kamu membawa istri kamu ke klub? Kamu tau sendiri kalau tempat itu adalah tempat haram bagi istri kamu."


Ardian masih terdiam. Dia bingung harus menjawab dengan apa pertanyaan orang tuanya.


"Cepat katakan, Ardian. Jangan menunggu Papi bertindak tegas kepadamu." Nada suara Sucipto meninggi.


"Ardian merasa dia terlalu menekan Ardian untuk belajar. Itulah mengapa Ardian berniat untuk membuatnya jera."


Sucipto berusaha menahan amarahnya yang meluap-luap. Ingin rasanya dia menampar putranya yang tidak tau di untung itu.

__ADS_1


"Mulai sekarang kita harus mengadakan perjanjian."


Ardian mengangkat wajahnya. Menunggu kelanjutan kata-kata papinya.


Setelah Sucipto membuat daftar hal-hal yang tidak boleh dilanggar putranya. Chayra akhirnya bisa mereka bawa pulang.


_________


Chayra masih mendiami suaminya. Walaupun dia mau ikut pulang ke rumah mertuanya. hatinya benar-benar lelah walaupun hanya sekedar untuk menyapa Ardian saat pria itu bangun.


Ardian juga terlihat lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Sepanjang perjalanan ke Kampus tidak ada percakapan di antara mereka. Bagi Chayra, itu hal yang lebih baik. Daripada Ardian yang banyak bicara, sudah pasti akan menimbulkan perdebatan di antara mereka.


"Saya duluan.." Chayra menyodorkan tangan untuk salim pada suaminya.


Ardian mengerjapkan matanya. Bengong melihat gadis itu mengulurkan tangannya.


"Salim.."


"L.. lho nggak apa-apa disentuh sama gue."


"Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kita sudah adakan perjanjian untuk hal itu.."


Perlahan, Ardian menyambut uluran tangan wanita itu. 'Eh, ternyata dia pakai sarung tangan, batinnya. Perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya saat tangan Chayra menggenggam erat tangannya.


"Terimakasih sudah mengantar saya."


"Eh, iya.. gue juga kan mau kuliah."


Chayra meninggalkan Ardian yang termenung setelah dia pergi. "Apakah gue harus benar-benar berubah sekarang?" ucapnya pria itu lirih.


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kok gue merasa kesepian dan tidak ada hiburan saat wanita itu tidak cerewet lagi. Huh, apakah ini tandanya gue sudah mulai nyaman bersamanya. Apakah posisi Amira perlahan-lahan bisa digeser oleh dirinya?" Ardian bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Astaga.. lho berpikir apa sih, Ardian... Jangan mimpi deh lho, bisa mendapatkan wanita seperti dia." Menepuk jidatnya karena pikiran bodohnya. Keluar dari mobil dan menutup pintunya perlahan.


*******


Chayra perlahan-lahan ikhlas dengan perjalanan hidupnya. Dia yang memilih Ardian sebagai suaminya. Jadi, dia harus menerima bagaimanapun keadaan pria itu.


Semalam, gadis itu sesenggukan di atas sajadahnya. Penyesalan yang sangat dia rasakan karena meminta Ardian untuk menikahinya waktu itu.


Semua keluarganya bahkan menentang keputusannya itu. Apalagi ketiga sahabatnya. Amira yang menjadi kekasih Ardian pun sempat membencinya. Namun, kini semua sudah baik-baik saja setelah Chayra menjelaskan pada Amira tujuannya.

__ADS_1


Namun, rencana yang telah dia susun bahkan berbanding terbalik dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Semua anggota keluarga suaminya mendukung hubungan mereka. Mereka bahkan dengan tegas akan menentang perpisahan, jika hal itu terjadi pada Chayra dan Ardian. Mungkin karena ini adalah takdir cintanya. Chayra harus menerima dan mengikhlaskan perasaannya yang sudah hancur terlebih dahulu.


Chayra menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Menyudahi lamunan panjangnya. Memasuki kelasnya dengan wajah ditekuk. Masalah pernikahannya ini benar-benar menyita semua kebebasan yang dia miliki.


Lima belas menit lagi kelas akan dimulai. Gadis itu mengeluarkan laptop dari tas ranselnya. Melihat pantulan dirinya dari layar laptop yang belum ia nyalakan. Memperbaiki jilbab pashmina yang dikenakannya. Tersenyum lebar untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Assalamualaikum, pagi, Ayra.." Tina yang baru masuk kelas langsung mencium pipi Chayra. Itulah kebiasaan sahabat Chayra yang satu ini. Selalu mencium pipi saat bertemu dengan sahabatnya.


"Wa'alaikumsalam, pagi juga, Tina."


Tina tersenyum sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sepupunya. "Si Alesha mana, Ayra?"


Chayra mengangkat bahu. "Aku tidak melihatnya dari tadi." Jawab Chayra ikit mengedarkan pandangannya seperti yang dilakukan Tina.


Kelas sudah hampir penuh dan Alesha belum juga masuk kelas.


Tina duduk di samping Chayra seraya melongos kesal. Alesha memaksanya untuk cepetan masuk kelas saat mereka bicara di telepon tadi. Tina kira, sepupunya itu sudah menunggunya.


"Dia menyuruh gue cepetan tadi. Kirain dianya udah datang duluan. Eh, malah nggak nampak batang hidungnya sampai sekarang."


Alesha tiba-tiba datang dengan tergesa. Duduk di sebelah kiri Chayra dengan raut wajah khawatir.


"Tumben telat, Lesha. Apa ada masalah?"


Alesha menatap Chayra dengan senyum dipaksakan. "Ada masalah baru, Sayang. Lho harus bersiap dan harus kuat ya."


"Maksud kamu?" Chayra bingung dengan ucapan Alesha.


"Kamu akan tau sebentar lagi. Maafin gue tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya."


Chayra hanya menggeleng-geleng cepat. Semkin bingung dengan ucapan Alesha.


"Assalamualaikum, selamat pagi.."


Semua mahasiswa langsung menatap ke depan mendengar ucapan salam itu. Banyak dari mereka bahkan menganga tidak percaya melihat seorang pria tampan berkulit putih berdiri di depan mereka.


Hanya Chayra dan Tina yang berbeda eksperinya. Mereka berdua terkejut melihat kehadiran sosok pria tampan bermata sipit dan berkulit putih itu. Sedangkan Alesha, karena gadis itu sudah tau sebelumnya, dia hanya menunduk tidak tau mau bilang apa.


Chayra menelan ludahnya beberapa kali. Sempat beberapa detik berkontak mata dengan pria itu.


"Apa ada yang mengenal saya sebelumnya?"

__ADS_1


Ucapan pria di depannya membuat Chayra dan dua temannya langsung menunduk.


********


__ADS_2