
"Jangan terlalu dipaksakan kalau kamu tidak sehat." Ardian memeluk hangat tubuh istrinya yang sudah mulai kewalahan untuk beraktifitas karena perut yang sudah semakin membesar.
"Aku sehat kok, Mas. Cuman kewalahan aja karena adeknya sudah sering meronta-ronta minta keluar."
"Ini kan baru masuk bulan ke sembilan, Sayang. Butuh waktu satu bulan lagi, baru adek boleh keluar." Ardian mengusap-usap lembut perut istrinya. Sepersekian detik dia menatap dalam perut itu lalu tersenyum seraya menempelkan bibirnya. "Chay, tau nggak?"
"Mm.." hanya itu jawaban Chayra. Tangannya mengusap-usap kepala suaminya yang masih asyik memeluk perutnya.
Sampai menit ini, aku masih sering tidak percaya dengan takdir ini. Aku memiliki anak dari kamu, Chayra Azzahra.." Ardian mempererat pelukannya.
"Mas, jangan terlalu kuat meluknya. Perut aku sakit..."
"Eh, maaf, Sayang. Heheheh... aku terlalu bahagian tadi." Ardian akhirnya bangkit saat melihat istrinya meringis. "Kamu nggak apa-apa kan?"
"Mm.. nggak apa-apa kok, Mas." Chayra menarik nafas panjang. "Aku ke dapur dulu ya, Mas. Nanti kamu kesiangan ke Kantor kalau aku tidur mulu."
"Kamu istirahat aja. Nanti aku minta Bi Idah yang masak. Kamu jangan capek-capek, Sayang. Aku tidak mau kamu kelelahan."
"Hamil itu bukan berarti aku sakit, Mas. Cuman perut aku aja yang membesar karena ada Adek bayi yang tumbuh."
"Aku tau, Sayang. Tapi, aku nggak enak dilayani, karena kamu terlihat kewalahan untuk beraktifitas. Jangan manyun gitu, nanti aku gemas mau mencium bibir kamu."
"Apaan sih, Mas?" Chayra berusaha bangkit. Di usia kandungannya yang sekarang. Dia memang terlihat kewalahan karena ukuran perutnya yang sudah sangat besar.
Kemunculan Adzra di depan pintu kamar mengalihkan perhatian pasangan itu. "Eh, Adzra udah bangun, Sayang?" Chayra tersenyum sambil merentangkan tangannya.
"Udah, Mama. Adzla mau digendong Papa. Mama nggak boyeh gendong." Adzra beralih ke papanya yang masih rebahan di atas tempat tidur.
"Papa, peyut Mama becal ya.. Mama ndk bisya gendong cekalang kalena ada Adek."
"Anak papa memang pintar. Adzra juga sudah pintar ngomong sekarang. Karena Adzra udah gede, Adzra nggak boleh minta gendong sama mama. Kasihan mamanya capek nanti karena Adzranya berat."
"Mm.. mm.." Adzra mengangguk-ngangguk patuh."
"Adzra lapar nggak?"
"Mm.. mm.." jawab Adzra seraya mengangguk.
"Jangan jawab mm.. mm.. aja, Sayang. Adzra kebiasaan deh. Bilang ya atau tidak, Sayang." Chayra duduk di dekat Ardian. Adzra hanya melirik mamanya, menutup mulutnya seraya tersenyum. "Maaf, Mama. Tapi, Adzla syuka ngangguk-ngangguk."
Chayra menarik nafas panjang seraya menggeleng-geleng pelan. "Mama nggak larang Adzra untuk ngangguk-ngangguk, Sayang. Tapi, kalau Adzra di tanya, Adzra jawab juga. Jangan cuma mengangguk-angguk."
"Iya, Mama.." Adzra berpindah pohon. Memeluk leher mamanya lalu memenuhi pipinya dengan ciuman. Anak itu akan selalu seperti itu kalau merasa bersalah.
__ADS_1
"Adzra masih kecil, Chay. Tidak baik terlalu tegas padanya. Biarkan saja dulu dia menikmati dunianya sendiri."
"Siapa yang tegas, Mas. Aku kan cuma bilang untuk menjawab pertanyaan, bukan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja."
"Iya.. iya.. kamu benar, Sayang." Ardian segera mengalah agar tidak mendapatkan ceramah panjang dari istrinya. Kalau istrinya sudah menimpali ucapannya satu kali, dia harus segera mengalah agar tidak keluar ceramah panjang nantinya. Mengalihkan pembicaraan adalah jalan tengah yang harus di ambil. "Mm.. Adzra, kita sarapan yuk..!"
"Ayo, Papa. Adzla juga syudah lapal." Adzra kembali ke pelukan papanya. "Mama mau ikut syalapan? Mama udah masyak untuk kita syalapan?"
"Mm.. hari ini kita sarapan pakai masakan Bi Idah, nggak apa-apa kan?"
"Kenapa Mama tidak masyak, Papa?"
"Kalau Mama masak, nanti mamanya kecapekan. Terus mamanya akan bobo terus kayak kemarin."
"Telus, Adzla tidak punya teman main, ya Papa?"
"Anak pintar.." Ardian mengangkat tubuh anaknya dengan gemas. Bicara dengan Adzra membuat moodnya di pagi hari selalu menjadi baik. Walaupun kebanyakan kurang tidur karena terkadang banyaknya pekerjaan yang tidak bisa ditunda. "Sayang, aku dan Adzra keluar duluan ya."
"Iya, Mas. Nanti aku nyusul. Aku mau ke kamar mandi sebentar."
Ardian tersenyum lembut. Memberikan pelukan kecil untuk istrinya seraya mendaratkan satu ciuman di dahinya.
Adzra yang melihat hal itu tertawa senang. "Hahaha... Papa peyuk Mama. Adzla juga mau dipeyuk syama Papa."
"Mm.. mm. Ayo kita kelual, Papa. Mama mau pipis dulu di kamal mandi."
"Ok.."
Chayra tersenyum setelah anak dan suaminya keluar dari kamar. Lama menatap mereka sampai turun dari tangga. Ada hal yang selalu menggelitik hatinya jika melihat interaksi antara kedua orang berharga di kehidupannya ini.
Chayra masih sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Antara percaya dan tidak kalau dirinya sudah bahagia dengan Ardian. Laki-laki yang merusak masa depannya, kini bertanggung jawab penuh atasnya, atas dosa di masa lalu yang membuatnya hampir putus asa. Laki-laki yang bukan tipenya sama sekali berhasil membuatnya hidup bahagia saat ini. Dia bahkan menyerahkan dirinya seutuhnya pada Ardian Baskara. Niatnya yang dulu hanya ingin memperbaiki akhlak pria itu, kini berubah menjadi rasa cinta yang sempurna. Hari mereka tidak akan terasa sempurna tanpa ada rayuan manis Ardian untuk istrinya.
Chayra menarik nafas panjang setelah kembali ke alam sadarnya. Ia segera ke kamar mandi untuk buang air kecil. Jangan sampai Adzra nangis kalau dia terlalu lama di kamar.
Sampai bawah, Chayra melihat putranya sedang sarapan dengan papanya. Terbiasa sarapan berat membuat Adzra tidak bisa telat sarapan pagi. Jam tujuh, dia pasti sudah berisik minta sarapan pada kedua orang tuanya. Chayra kembali menarik nafas dalam. Dia masih memikirkan anak itu jika adiknya sudah keluar nanti. Hanya bisa berdo'a, mudah-mudahan Allah mempermudah segala urusannya.
"Chay, ada chat masuk dari Kak Zidane. Katanya, kita diundang Amira untuk menghadiri pesta tujuh bulanan anaknya."
"Kapan, Mas?" Chayra langsung duduk di hadapan suaminya.
Ardian mengangkat bahu. "Aku sih malas untuk datang."
"Astagfirullahal'adzim, tidak boleh kayak gitu dong, Mas. Bagaimanapun juga Amira sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk semuanya. Masa lalu itu jangan diingat terus."
__ADS_1
"Aku nggak ingat masa laluku dengannya, Sayang. Aku hanya kesel kalau mengingat jahatnya dia sama kamu."
"Lebih jahat siapa, kamu atau dia?"
"Eh, kok aku?"
Chayra mendengus, "makanya jangan mengingat masa lalu. Dibilangin juga.." Chayra mengambil sedikit nasi.
Ardian hanya terdiam melihat gelagat istrinya. Kalau mengingat siapa yang paling jahat pada istrinya, sudah pasti jawabannya adalah dirinya sendiri. "Mm.. kamu makannya kenapa sedikit sekali, Sayang. Anak kita butuh nutrisi yang banyak biar dia sehat."
"Baby-nya udah terlampau sehat, Mas. Disuruh diet malahan kemarin karena beratnya udah melebihi kapasitas."
"Benarkah?"
"Kamu kan tidak menemaniku periksa bulan kemarin. Kami semakin kesini semakin sibuk. Di rumah pas malam aja. Kalau siang, kalau Adzra rindu, harus ke kantor kamu biar bisa ketemu."
Ardian hanya bisa tersenyum meringis mendengar protes istrinya. Tidak ada yang bisa dia elakkan karena semuanya adalah kenyataan. "Ini demi kebaikan kita ke depannya, Sayang. Sekarang utang di Kakek usah lunas. Tinggal menabung untuk masa depan kita dan anak-anak. Insya Allah, aku akan selalu berusaha ada untuk kalian."
"Iya... harus itu, Mas. Jangan hanya ada untuk pekerjaan lalu anak istri tidak diperhatikan."
"Aku tidak pernah seperti itu, Sayang."
"Mm... sarapan dulu, nanti telat lagi ke Kantor. Aku nggak mau suamiku dicap sebagai GM yang suka telat. Kamu harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan kamu."
"Iya, Mamanya Adzra.."
Akhirnya percakapan itu berakhir setelah mereka menikmati sarapan.
********
Assalamu'alaikum para reader tercintah..
Ini ada sedikit bonus part untuk teman-teman. Dari kemarin Othornya sibuk terus sehingga tidak bisa up boncap nya.
Maaf kalau selama menulis karya ini, Othor banyak salah. Othor juga sedang belajar sama seperti teman-teman yang lain.
Dan untuk selanjutnya, saya sudah menerbitkan satu karya lagi. Disana itu ceritanya milik si Bian, Cowok yang alergi dengan pembicaraan mesum. Nih sampulnya, baru kemarin sih, di upload. Mudah-mudahan teman-teman banyak yang suka sama kisahnya nanti. Ini sampulnya ya..
Semoga karyaku menghibur teman-teman..
Salam hangat dariku 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1
Mar Dhyah