Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Benar-benar ingin belajar


__ADS_3

Ucapan pria di depannya membuat Chayra dan tiga temannya langsung menunduk.


"Saya yakin, ada di antara kalian yang mengenal saya."


Para mahasiswa saling pandang untuk mencari tau.


"Apa tidak ada yang mau ngaku?"


"Perkenalkan diri saja, Bro." Celetuk salah satu mahasiswa.


"Apakah begini adab kalian pada Dosen kalian?"


Mahasiswa tadi tersentak mendengar ucapan pria di depannya. "M.. maafkan saya, Pak. S.. saya kira anda mahasiswa baru seperti gadis bercadar itu." Mahasiswa itu bicara dengan tergagap. Matanya melirik ke arah Chayra.


Pria itu menarik nafas panjang. "Assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh.. perkenalkan nama saya Ghibran Abdullah, Dosen baru di Universitas ini. Saya memegang mata kuliah Ekonomi Syariah di fakultas kalian." Mengedarkan pandangannya, ke arah satu persatu mahasiswanya. Tentu saja, jantungnya akan terasa berpacu lebih cepat saat menatap Chayra Azzahra, wanita yang masih melekat namanya di dalam hatinya. Padahal Chayra menunduk. Wajahnya pun, tersembunyi di balik cadar yang dikenakannya.


'Ya Allah, kenapa semakin gadis itu menjadi milik orang lain. Dia semakin menarik di mata ini..' batin Ghibran. Segera mengalihkan pandangannya. Takut kalau dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Akhirnya, kelas hari itu hanya diisi dengan perkenalan.


"Saya akan menyampaikan materi hari ini via zoom ya. Nanti malam, jam delapan kalian harus sudah siap."


"Iya, Pak.."


"Saya akhiri, assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh.." Ghibran keluar dari kelas setelah mendengar jawaban salam dari para mahasiswanya.


Pria itu duduk di bangku panjang di samping kelas. Pura-pura sedang melakukan panggilan dengan menempelkan handphone di telinganya. Namun, dia sedang menunggu Chayra keluar dari kelas. Meneliti satu persatu mahasiswa yang keluar. Tepat ketika Tina keluar, dia langsung berdiri. Sudah bisa menebak pasti Chayra akan menyusul di belakang gadis itu.


"Zahra, tunggu.." ucapannya langsung menghentikan langkah Chayra.


Chayra hanya berhenti tanpa membalikkan wajahnya.


"Aku mau ngomong sama kamu sebentar saja. Dimana saja kamu mau."


Chayra hanya menarik nafas dalam tanpa menjawab ucapan pria itu.


Alesha yang menatap Ghibran hanya menggeleng-geleng pelan.


Ghibran terlihat kecewa. Namun, dia mengikuti langkah Chayra dan dua temannya yang berjalan menuju Kafetaria Kampus.


Chayra tersentak saat mendapati Ghibran ikut duduk di antara mereka.


"Jangan usir aku. Aku hanya mau bilang sesuatu sama kamu."


Chayra mendengus. "Seharusnya Kak Ghibran tidak usah repot-repot menghampiri. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, Kak."

__ADS_1


"Aku tau itu, Zahra. Aku hanya mau memastikan saja."


"Tidak ada yang perlu dipastikan."


Ghibran menghela nafas berat. "Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu? Apakah pria kurang ajar itu memperlakukan kamu dengan baik."


"Tentu saja dia bahagia. Gue juga memperlakukannya dengan sangat baik." Ardian yang datang entah darimana tiba-tiba duduk di samping Chayra dan merangkul pundak gadis itu. "Lho nggak usah repot-repot untuk pura-pura perduli pada istri gue."


"Terimakasih sudah menjaganya dengan baik. Saya hanya minta, jangan pernah menyakitinya. Karena kamu akan sangat menyesal jika melakukan hal itu. Saya pamit, assalamualaikum.." Ghibran bangkit dan meninggalkan tempat itu.


Chayra langsung menurunkan tangan Ardian setelah Ghibran berlalu. Namun sayang, tindakannya itu sempat dilihat Ghibran saat pria itu menoleh.


Ghibran tersenyum samar. "Ternyata kamu hanya melakukan drama untuk menutupi penderitaan yang kamu rasakan, Zahra..." melanjutkan langkahnya dan enggan menoleh lagi.


*******


Satu minggu berlalu sejak kejadian di Kampus.


Sore itu...


Saat Chayra sedang mandi. Dia baru teringat kalau sabun mandinya habis. Dia merenung sambil menatap botol sabun cair milik Ardian. Apakah dia akan memakai sabun mandi pria itu.


"Sekali-kali nggak apa-apa deh." Ucapnya pelan. Menuangkan sedikit sabun itu ke telapak tangannya.


Usai mandi dan berganti pakaian, Chayra mencari keberadaan Ardian. Mengedarkan pandangannya. Sebelum mandi tadi, dia melihat Ardian berjalan menuju Balkon. Mengintip dari pintu kaca. Bibirnya mengembangkan senyum saat melihat Ardian sedang membaca. Namun, melihat banyak kalimat bahasa Arab di buku itu, dia jadi penasaran dengan buku yang sedang dibaca pria itu.


"Eh," Ardian yang terkejut langsung menutup buku dan menindihnya dengan laptopnya.


"Maaf mengganggu.."


"Ada apa..?" Ardian sedikit mendongak menatap Chayra. Tapi... aroma yang tidak asing di hidungnya membuatnya menautkan alisnya.


"Apa gue salah cium atau apa. Kok lho bau sabun gue?"


Chayra tersenyum meringis. "M.. maaf, saya memakai sabun anda. Soalnya.. sabun mandi saya habis. Sudah terlanjur basah tadi. Sayang dong, kalau saya harus pakai baju lagi. Stok sabun saya juga sudah habis. Jadi harus beli dulu."


Ardian tertawa kecil. "Aroma tubuh lho jadi gentleman sekarang."


Chayra kembali tersenyum meringis. "Hehehehe.. anda nggak marah kan, karena saya pakai sabun itu?"


"Ngapain marah coba?" Ardian masuk ke dalam kamar. Sebenarnya dia ingin menghindari Chayra. Semakin sering berinteraksi dengan gadis itu, dadanya semakin sering berdebar-debar.


Ardian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menarik nafas dalam untuk menormalkan detak jantungnya.


"Mmm... apa saya boleh minta tolong?" Chayra duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


Ardian bangkit dan menatap wanita itu heran. Untuk pertama kalinya Chayra minta tolong padanya. Baru saja jantungnya terasa normal, kini jantungnya kembali berpacu dengan sangat cepat. "Minta tolong..?"


"Apa anda mau menemani saya pergi beli sabun mandi? Saya tidak enak kalau harus minta tolong pada Bibi. Ini sudah sangat sore. Untuk pergi sendiri juga, saya tidak yakin akan berani melakukannya."


Ardian menggaruk-garuk kepalanya. "Mobil sedang di bengkel dua-duanya. Sedangkan Papi belum pulang kerja. Mami juga belum pulang dari rumah temannya." Menatap Chayra. "Apa lho nggak apa-apa kalau kita pergi naik motor?" Ardian menawarkan pilihan terakhir.


Chayra terdiam. Baru membayangkan akan dibonceng dengan motor gede itu saja, bulu kuduknya sudah berdiri.


"Gimana? Kalau lho mau, gue akan temenin lho.Gue tau kondisi kok. Nggak akan ngebut di jalan."


Chayra melirik pria itu. Kalau tidak pergi sekarang, itu berarti di harus memakai sabun Ardian lagi. Sedangkan dia memiliki tipe kulit yang sensitif. Takut kulitnya tidak cocok dan mengalami iritasi.


"Mm.. iya sudah, tidak apa-apa. Tapi janji ya.. jangan ngebut. Soalnya saya tidak pernah di bonceng pakai motor begituan."


"Ok.. ayo kita berangkat kalau begitu. Jangan lupa pakai jaket, ini sudah sore. Ntar lho masuk angin."


"Iya.." Chayra berlalu untuk mengambil jaket miliknya.


"Sudah siap?" Ardian bertanya saat Chayra keluar dari ruang ganti.


Chayra mengangguk. Melihat Ardian yang hanya memakai kaos oblong dan celana selutut, gadis itu kembali ke ruang ganti.


"Pakai ini.." Menyodorkan jaket dan celana jeans pada Ardian.


"Nggak usah, gue sudah biasa pakai motor. Malam aja pakai pakaian kayak gini juga nggak apa-apa."


"Jangan hanya bisa menasehati orang, kalau diri sendiri tidak bisa mengamalkan."


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Meraih jaket dan celananya dari tangan Chayra. Jurus andalan Chayra yang tidak bisa dia patahkan yaitu kata-kata bijak dari gadis itu.


Chayra melepas cadarnya setelah Ardian keluar dari kamar. Menggantinya dengan masker yang disimpannya di dalam saku sejak tadi.


Di tengah perjalanan, motor Ardian ngerem mendadak saat sebuah motor menyalibnya dengan kasar. Namun, naas. Pengendara motor itu langsung menabrak mobil yang sedang melaju di depannya. Kecelakaan pun tidak bisa dihindari.


Dada Chayra menempel di punggung Ardian cukup lama. Sejak Ardian ngerem mendadak tadi, gadis itu langsung menunduk karena terkejut.


"Ssshhhiiiiittt......." Ardian mengumpat. Kejantanannya tiba-tiba berdiri saat benda kenyal itu bergesekan dengan punggungnya.


Malam itu, sekembalinya dari mengantar Chayra. Kepala Ardian terasa pusing dan berdenyut-denyut. Itulah yang biasa dia rasakan kalau tidak minum atau nge**** dalam jangka waktu beberapa hari.


Beberapa hari kebelakang ini, dia mulai akrab dengan Chayra. Gadis itu selalu bersikap baik padanya. Bahkan, Chayra selalu berhasil mengalihkan pikirannya dari hal-hal buruk.


Ardian juga mulai rajin belajar wudhu, shalat dan baca kitab suci Al-Qur'an. Dia benar-benar menikmati tahap belajarnya ini.


Beberapa buku tentang Islam juga dia beli tanpa sepengetahuan Chayra maupun kedua orang tuanya.

__ADS_1


Namun, malam ini benar-benar terasa berbeda. Ardian benar-benar menginginkan hal itu. Dia memutar otak agar bisa terlepas dari memikirkan itu. Tapi dia benar-benar tidak bisa. Sejak punggungnya bergesekan tadi, gairahnya tiba-tiba saja bangkit.


********


__ADS_2