Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ungkapan hati Chayra


__ADS_3

Chayra terdiam menundukkan kepalanya. Hatinya perih saat memori otaknya memutar kembali kenangan buruk itu lagi.


"Dia tidak mempermasalahkan hal itu, Dek. Dia menerima kamu bagaimanapun keadaan kamu. Yang dia mau hanya kamu, bukan orang lain."


Chayra memejamkan matanya karena matanya mulai panas ingin segera menumpahkan air mata. "Aku tidak pantas untuknya. Dia terlalu sempurna untuk perempuan hina seperti aku, Kak."


"Kamu terlalu memikirkan hal itu, Dek. Ghibran dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka sudah menerima kamu dengan segala kekurangan yang ada pada kamu. Jangan mengkhianati perasaan kamu sendiri. Kamu menyiksa perasaan kamu karena kamu terlalu egois."


Chayra terdiam sejenak. "Iya, Chayra Azzahra memang egois, Kak. Aku tidak memikirkan perasaan orang lain dan hanya mementingkan diriku sendiri."


"Ghibran itu teman terbaik yang pernah Kakak miliki, Dek. Seandainya kamu tidak ingin bersamanya. Kenapa kamu tidak menolaknya dari dulu. Kenapa kamu malah semakin menumbuhkan rasa cinta itu dalam hatinya. Kamu memberikan harapan palsu, sehingga itu sangat menyakitinya saat ini."


"Aku tidak pernah seperti itu, Kak. Aku mencintainya dan juga menginginkannya." Chayra langsung terdiam karena menyadari ucapannya. Matanya menatap manik mata Zidane yang masih menunggu kelanjutan kalimatnya.


Air mata mulai menganak sungai. "Tapi.. tapi.. aku tidak bisa melakukan itu. Dia.. dia terlalu sempurna. Iya, Ghibran Abdullah terlalu sempurna dan pantas mendapatkan wanita yang sempurna."


"Tidak ada wanita yang lebih sempurna dimatanya selain kamu, Ayra."


"Tidak...! aku hanya wanita yang ternoda." Chayra menggeleng-geleng pelan. Perasaannya terasa sedikit linglung. Ia segera duduk seraya beristighfar sambil memejamkan matanya.


"Sudah, Dek. Kakak tidak akan memaksa kamu lagi. Bangunlah! jangan pikirkan itu lagi. Semua terserah padamu." Zidane ikut duduk di depan Chayra.


"Aku.. aku tidak pantas untuknya. Aku tidak pantas untuknya."


"Iya, makanya terserah kamu. Kalau kamu menolaknya, Kakak tidak akan memaksa kamu lagi. Jangan berpikir macam-macam. Jangan sampai hal ini membuat kenangan buruk itu datang lagi. Istighfar lebih banyak lagi, Dek. Maafkan Kakak telah memaksamu."


Chayra hanya menunduk sambil memejamkan matanya. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca istighfar.


Zidane mengedarkan pandangannya untuk mencari bantuan. Bu Santi pergi ke pasar bersama Umminya. Sedangkan Pak Ismail pergi bersama Pak Akmal, untuk menyelesaikan kasus pemerkosaan yang belum juga kelar sampai saat ini. Bian dan Mayra pergi ke Sekolah. Hanya Amrina yang sedang menonton kartun di ruang keluarga.


"Ayra, kamu baik-baik saja, kan?" Zidane mencoba menggapai wajah Chayra. Namun, gadis itu menepis tangan Zidane dengan kasar.


Zidane mulai panik. Apakah iya, dia akan memanggil Ghibran untuk membantunya menangani Chayra. "Jangan bilang kalau kamu kambuh lagi, Dek. Bisa mati aku kalau kayak gitu."


"Insya Allah, aku baik-baik saja." Jawab Chayra dengan suara lirih. Berusaha mengatur nafasnya yang mulai tersengal.


"Kita masuk sekarang, ya. Kakak bantu bangun atau kamu bisa bangun sendiri?"


"Bantu aku, Kak. Kepalaku pusing."

__ADS_1


Zidane dengan takut-takut memegang lengan Chayra dan membantunya untuk bangun. Mengantar gadis itu sampai istirahat di kamarnya. "Kamu jangan berpikir yang macam-macam ya. Maafkan Kakak sudah membuatmu sakit lagi."


"Tidak apa-apa, Kak. Insya Allah, aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat saja."


"Kalau begitu kamu istirahat. Kakak tinggal dulu, mau melihat keadaan Ghi..." Zidane tidak melanjutkan kalimatnya.


"Iya. Kak Zidane pergi saja. Mudah-mudahan dia baik-baik saja."


Zidane tersenyum kaku seraya berjalan mundur meninggalkan Chayra. "Assalamualaikum, Dek."


"Wa'alaikumsalam.." Chayra langsung memijit pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut keras selepas kepergian Zidane.


Zidane membuka pintu kamar perlahan. Ia menyebikkan bibirnya saat melihat Ghibran tertidur meringkuk di atas sajadahnya. "Katanya tidak ngantuk, baru aja ditinggal beberapa menit sudah main tidur aja." Berjalan mendekat dan duduk di samping sahabatnya itu.


"Ghi, Ghibran.. kenapa kamu tidur di lantai?"


Ghibran mengerjapkan matanya. Mendapati Zidane duduk di sampingnya, ia tersenyum. "Eh, aku ketiduran tadi."


"Tidur di kasur gih. Tubuh kamu sakit nanti kalau meringkuk kayak gini."


"Iya.. tapi kayaknya aku sudah segar. Aku sudah bisa pulang sekarang."


Ghibran menautkan alisnya mendengar ucapan Zidane. "Tubuh aku ngambek maksud kamu apa, Zi?"


"Hah..?"


"Itu tadi kamu bilang tubuh aku ngambek."


"Oh, itu cuma perumpamaan. Maksud aku kalau tubuh kamu sakit, itu berarti dia ngambek. Dia terlalu dipaksakan untuk mengerjakan hal-hal diluar batas kemampuannya."


Ghibran akhirnya hanya diam. Bingung mau merespon dengan apa ucapan Zidane.


*******


Pagi itu, suasana mencekam terjadi di ruang tamu rumah Chayra.


Pagi ini adalah pagi yang sangat berat bagi gadis itu. Dimana dia harus memutuskan perkara yang membuatnya menjadi wanita lemah seperti saat ini.


Beberapa anggota keluarga sudah berkumpul. Hadir juga dalam pertemuan itu ketiga sahabatnya Amira, Alesha dan Tina.

__ADS_1


Chayra didudukkan berhadapan dengan Ardian. Walaupun dadanya terasa dag-dig-dug saat melihat pria itu. Namun, kali ini dia harus kuat dan tidak mau terlihat lemah di hadapan pria itu lagi.


"Kami rasa, kamu sudah cukup sehat hari ini." Pak Akmal membelai lembut kepala cucunya. Dia tidak mau berpindah sedikitpun dari samping Chayra. Bahkan dia sampai tega menyuruh Bu Santi berpindah tempat agar dia yang mendampingi Chayra.


"Insya Allah, Kek. Ayra merasa sangat sehat pagi ini." Bibir Chayra bergetar dan air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia menarik nafas dalam dan mencoba bersikap tenang kembali.


Ardian yang duduk di hadapannya hanya menunduk. Andaikan dia tidak mengadakan perjanjian dengan kedua orang tuanya untuk bersikap sopan. Ingin rasanya dia duduk santai dengan menaikkan sebelah kakinya.


Chayra menelan ludahnya beberapa kali. Hati ini dia diminta untuk menuntut keadilan pada Ardian atas musibah yang menimpanya.


"Bicaralah, Nak," ucap Pak Akmal. "Semua yang ada di sini sudah bersedia mendengarkan apapun yang akan kamu ucapkan. Dan kamipun akan menerima dan menyetujui apapun keputusan yang akan kamu ambil."


Chayra menatap kakeknya sekilas lalu kembali menghadap depan. Matanya menatap tajam Ardian dengan tatapan penuh kebencian. Entah kenapa, setiap dia melihat lelaki itu, rasa jijik pada dirinya sendiri akan timbul.


"Sudah waktunya kamu memberikan keputusan, Nak. Ini sudah tiga bulan berlalu dan kami masih setia menunggu keputusan yang akan kamu berikan pada putra kami." Ucap Bu Renata.


"Kira-kira hukuman apa yang pantas untuknya?"


Semua orang di ruangan itu saling pandang.


"Kami sedang menunggu keputusan dari kamu, Nak. Apapun hukuman yang akan kamu berikan padanya, kami akan menerima. Putra kami telah lancang melecehkan gadis mulia seperti kamu." Timpal Pak Sucipto dengan segan. "Tidak memasukkannya ke dalam penjara saja, itu sangat membuat kami bahagia," sambungnya.


"Bagiamana kalau sekarang aku menginginkan hal itu?"


Pak Sucipto menatap istrinya bingung. Untuk apa gadis itu memasukkan Ardian ke dalam penjara sekarang. Setelah dia capek-capek menjaga berita ini agar tidak tercium media. "Kami mohon jangan lakukan itu, Nak. Silahkan berikan hukuman lain. Hukuman terberat pun yang akan kamu berikan kami akan terima. Asalkan kasus ini jangan sampai jatuh ke tangan polisi."


"Kenapa..?"


"Nama baik kami yang akan hancur kalau kamu melakukan hal itu."


"Apakah nama baik kalian lebih berharga daripada kehormatanku yang telah dihancurkan oleh dia?!" Chayra menunjuk Ardian. Air matanya tidak bisa ditahan lagi.


"Seumur hidupku, aku tidak pernah berjumpa pria selancang dan seangkuh dia. Apakah dia masih pantas di sebut manusia? Setelah dia menghancurkan banyak wanita, apa dia masih pantas di sebut manusia?! Dia ini manusia apa iblis?!" Bibir Chayra kembali bergetar.


"Dia hanya melakukan itu pada kamu, Ayra!" Timpal Bu Renata bangkit. Dia paling tidak suka ada orang yang merendahkan status keluarganya.


Chayra tersenyum ketus. "Apa yang Ibu tau tentang putra Ibu? Silahkan Ibu tanya sendiri padanya, sudah berapa wanita yang dia tiduri selama ini." Langsung memalingkan wajahnya. Beristighfar beberapa kali mencoba menguasai diri. Jangan sampai situasi ini membuatnya mampu diperdaya setan.


********

__ADS_1


__ADS_2