Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ardian yang keras kepala


__ADS_3

Sementara itu...


Amira terduduk lesu di lantai usai berkirim pesan dengan Tina. Air matanya mengalir deras. Hampir delapan bulan dia meninggalkan tanah kelahirannya hanya demi menghindari sakit hati yang akan dia peroleh.


Dia tidak menyalakan Chayra atau siapapun itu atas kejadian ini. Dia hanya perlu menjadi lebih kuat lagi untuk kemungkinan terbesar kedepannya.


Dia memang akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Pria sukses dengan segudang prestasi. Jika dibandingkan dengan pria itu, jelas sekali kalau Ardian berada sangat jauh dibawah pria itu.


Namun, cinta adalah cinta. Tidak ada yang bisa mengubah perasaan seseorang kecuali yang Maha Menghendaki. Tidak memandang rupa, tidak memandang prestasi. Begitulah yang dirasakan Amira saat ini. Dia tidak bisa melupakan Ardian sebejat apapun pria itu. Seburuk apapun kelakuannya di masa lalu, Ardian masih nomor satu di hatinya. Dia sangat bahagia mendengar Ardian sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, tiba-tiba saja rasa bahagia itu hilang dalam sekejap setelah pria itu menghubunginya beberapa hari yang lalu. Apalagi setelah Ardian mengatakan kalau dirinya jatuh cinta pada Chayra Azzahra.


Siapa yang tidak akan jatuh cinta dengan gadis itu. Gadis yang selalu tersenyum lembut dan bertutur kata sopan. Selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang ras ataupun suku.


"Kuatkan hamba ya Allah.. Apa yang akan aku lakukan sekarang. Hiks.. hiks.. hiks.." Duduk bersandar di kaki ranjangnya. Tiga hari lagi dia akan bertunangan dengan pria itu. Sejauh ini, belum ada perasaan yang tumbuh diantara mereka. Pria Arab bernama Hasyim itu terlalu sempurna untuk bekas wanita m****** seperti dirinya. Berbagai alasan dia utarak kepada Papi dan Maminya untuk menolak pria itu. Namun, kedua orang tuanya tidak menggubris. Mereka tetap mengatakan kalau Amira sangat cocok dengan Hasyim.


Amira hanya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Sampai saat ini pun, belum ada satu pun anggota keluarganya yang tau kalau dirinya sudah tidak perawan lagi.


Beberapa bukan yang lalu, Papinya dengan bangga memperkenalkannya pada abi dan umminya Hasyim sebagai wanita shalihah. Jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Hal itulah yang menjadi beban pikirannya sampai sekarang.


Amira mengusap air matanya seraya bangkit. Dia hampir lupa kalau hari ini ada pertemuan dengan keluarga Hasyim. Maminya selalu menuntutnya untuk berpenampilan sempurna di depan keluarga calon suaminya itu. Walaupun sebenarnya Amira ingin sekali menolak keinginan maminya itu.


Amira menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Matanya terlihat sedikit sembab. Bagaimana matanya tidak sembab. Sejak Ardian menghubunginya hari itu, Amira jadi sering menangis tanpa sebab.


Amira membuka laci meja riasnya. Mengaplikasikan makeup tebal di bawah matanya untuk menyamarkan sisa tangisnya.


Ketukan di pintu kamarnya membuat Amira menghentikan aktivitasnya. "Siapa..?" sedikit mengeraskan suaranya. Karena jarak pintu dengan tempatnya duduk lumayan jauh.


"Tamu besar sudah datang, Nona."


Amira menarik nafas panjang. Siap tidak siap, mau tidak mau, dia harus tetap keluar. "Bilang sama Papi dan Mami saya, kalau saya akan turun sepuluh menit lagi."


"Baik, Nona."


Amira merenung. Menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjelaskan keadaannya pada calon suaminya sebelum akad nikah berlangsung. "Bismillahirrahmanirrahim...." ucapnya lirih seraya beranjak keluar dari kamar.


***********


Malam itu, sekitar pukul dua dini hari.


Chayra sesenggukan di atas sajadahnya. Sebenarnya dia sangat sangat lelah dengan keadaan ini. Pura-pura bahagia dan memberikan perhatian yang lebih pada orang yang tidak ia harapkan sama sekali.


Namun, sekuat apapun dia mencoba untuk menghindar dari suaminya. Sekuat itu pula Ardian berusaha untuk selalu ada untuknya dan berusaha untuk dekat dengan istrinya.


Chayra menengadahkan tangannya di tengah sunyinya malam. Berdo'a dengan sangat khusyuk untuk kebaikannya ke depan. Usai berdo'a, ia menghapus air mata yang terus saja mengalir. Perasaannya terasa lebih tenang setelah mencurahkan kegundahannya kepada yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Chayra beranjak ke depan meja belajarnya. Tidak ada niat untuk tidur lagi walaupun waktu menunjukkan masih tengah malam. Mengambil terjemahan kitab Yaqut dan membuka bab nikah.


Tidak berapa lama, Chayra dikejutkan oleh Ardian yang tiba-tiba duduk sambil memijit kepalanya. Chayra hanya melirik tanpa ada niat untuk menyapanya.


Ardian terdengar mengumpat lalu beristighfar beberapa kali. Sudah beberapa minggu dia bertahan dengan keadaannya. Tapi, pusingnya kali ini benar-benar membuatnya kesal.


"Kak Ardian kenapa?" Chayra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang sedang dibacanya. Hanya untuk berbasa-basi agar pria itu tidak merasa diabaikan.


"Kepalaku pusing lagi. Tapi... pusing kali ini terasa sangat berat dan menyakitkan."


"Apa Kak Ardian mau ke Dokter?"


"Tidak perlu, aku minum obat saja."


"Tidak baik menyimpan penyakit. Besok kan, Kakak mau konsultasi untuk menghapus benda di punggung Kakak itu. Sekalian saja konsultasikan kenapa Kakak sering pusing tak menentu."


"Aku takut."


"Takut kenapa?"


"Aku lebih baik tidak tau penyakit yang aku derita. Aku tidak mau merepotkan orang."


"Jangan berkata begitu. Sekarang Kak Ardian sudah punya istri yang akan menemani Kakak."


"Terus mau Kakak apa sekarang?" Chayra menutup buku terjemahan yang masih dia pegang. Menarik nafas dalam sambil mendekati Ardian. "Jangan samakan keadaan yang sekarang dengan keadaan waktu dulu. Dimana Kakak tidak ada teman untuk bercerita dan berkeluh kesah. Sekarang Kakak punya aku, istri yang akan menemani Kakak." Chayra terkejut mendengar ucapannya sendiri.


Ardian meraih tangan wanita itu. "Aku.. aku butuh kamu. Jangan pernah berniat untuk meninggalkan aku. Aku akan terus berusaha menjadi laki-laki yang paling baik di mata kamu."


"Jangan memaksan diri kalau itu menyakitkan. Aku sudah bilang beberapa kali pada Kakak. Jangan pernah berniat berubah karena aku. Berubah lah karena Kakak memang perlu berubah. Jalan kehidupan yang Kakak tempuh sebelumnya salah di mata Agama dan... semuanya memang salah. Tidak ada yang bermanfaat, kan?"


Ardian mendongak menatap Chayra. Cara Chayra bertutur kata selalu saja membuatnya merasa lebih baik.


"Ajarkan aku shalat seperti yang kamu lakukan tadi. Aku juga ingin berdo'a di sepertiga malam seperti yang kamu lakukan tadi. Aku ingin mengadukan keadaanku ini pada Tuhan."


Chayra tersenyum, "Istirahat saja dulu. Lakukan itu kalau Kakak sehat nanti."


"Aku mau sekarang. Ini bukan penyakit. Tapi, ini adalah nafsu bejat yang memanggilku untuk menujunya lagi."


Chayra terdiam beberapa saat, "Kakak ambil air wudhu kalau begitu. Meninggalkan Ardian, kembali duduk di depan meja belajarnya.


Ardian mencoba bangkit. Walaupun kepalanya terasa sangat berat, ia berusaha untuk bangkut. Namun, baru saja akan berdiri. Ia terjatuh di lantai karena tidak bisa menahan berat tubuhnya.


"Astagfirullah, hati-hati Kak." Chayra bangkit dan bergegas membantu Ardian berdiri. "Aku sudah bilang, Kakak istirahat dulu."

__ADS_1


"Bantu aku mengambil air wudhu." Ucap Ardian, tidak menghiraukan larangan Chayra.


Chayra menghela nafas berat. "Kakak benar-benar keras kepala. Aku sudah bilang, nanti saja kalau Kakak tidak pusing lagi."


"Sssttt... jangan cerewet. Bantu saja aku." Ardian berusaha bangkit. Dengan langkah tertatih dan dibantu oleh Chayra, ia berhasil sampai ke kamar mandi.


Chayra dengan sabar membimbing Ardian sampai pria itu selesai mendirikan shalat tahajjud.


"Aku tinggal dulu, Kak. Berdo'a lah, curhat sama Allah. Keluarkan apapun yang ingin Kakak katakan."


Ardian mengangguk, "terimakasih sudah sabar membimbingku."


Chayra hanya tersenyum seraya berlalu. Kembali duduk di depan meja belajarnya. Memperhatikan Ardian dari belakang. Ada rasa haru menyeruak dalam hatinya melihat pria itu. Pria yang berusaha memantaskan diri untuk bersanding dengannya.


'Apa lagi yang aku harapkan, Ya Allah. Pria ini sudah benar-benar berubah. Apakah aku tidak bisa menerima dirinya. Sombong sekali hamba ini, Ya Allah. Pria yang rela berubah dan melepas kehidupannya yang kelam. Hanya demi wanita yang tidak seberapa imannya seperti aku ini.'


Chayra mengusap air matanya. "Ya Allah, ampuni hamba." Ucapnya lirih.


Ardian bangkit setelah selesai berdo'a. Matanya sedikit memerah. Ternyata, dia benar-benar hanyut dalam do'a. Ia masuk ke dalam ruang ganti. Keluar dengan memakai jaket lengkap. Mengambil kunci motor dari tempat penyimpanannya. Hal itu tentu saja menarik perhatian Chayra.


"Kak Ardian mau kemana?"


"Aku mau keluar sebentar. Ada urusan yang tidak bisa ditunda." Ardian berniat akan pergi menegaskan pada seorang wanita yang menjadi langganannya selama ini. Wanita itu terus saja mengganggunya dengan mengirimkan video-video yang merusak moral. Ada lagi satu video Ardian bersamanya. Itulah yang membuat Ardian khawatir.


"Katakan padaku, urusan apa itu yang harus diselesaikan di waktu tengah malam seperti ini." Bibir Chayra sedikit bergetar. Baru saja suaminya itu minta dibimbing untuk shalat. Kenapa sekarang malah mau pergi ke tempat terlarang itu.


Ardian membalik tubuhnya, berdiri membelakangi Chayra. "Ini urusanku. Aku berjanji, ini adalah terakhir kalinya aku akan keluar malam. Aku hanya akan menemuinya setelah itu aku akan langsung pulang."


Mata Chayra kembali memanas mendengar ucapan Ardian. "Lalu kenapa Kakak memintaku untuk mengajarkan Kakak tahajjud kalau Kakak masih ada niat untuk kembali ke tempat terlarang itu?!" Chayra meninggikan suaranya karena kesal.


"Aku hanya akan mengatakan pada orang itu, kalau aku tidak akan pernah menemuinya lagi. Aku berjanji tidak akan melakukan apapun dengannya."


"Kita tidak tau apa yang akan terjadi jika laki-laki dan perempuan sudah bersama, Kak."


"Aku sudah bilang, kalau aku hanya akan melakukan perpisahan dengannya."


Chayra menelan ludahnya. "Aku tidak suka dengan keras kepalanya Kakak ini."


"Aku berjanji tidak akan melakukan apapun padanya. Aku hanya tidak mau kalau dia masih mengharapkan aku."


"Jangan keluar untuk menemui wanita itu!" Chayra kembali meninggikan suaranya. "Allah sudah menyediakan yang halal untukmu. Kenapa kamu masih saja jelalatan untuk mencari yang haram?!" Chayra membuka cadarnya. Melepas jilbabnya dengan kasar dan hampir saja membuka kancing bajunya. Dia duduk tersungkur di lantai sambil meremas bajunya. Air matanya langsung tumpah.


Ardian menelan ludahnya melihat hal itu. "A.. apa.. apa yang kamu lakukan..?"

__ADS_1


********


__ADS_2