
Deringan handphone Chayra membuat percakapan mereka terhenti. Chayra bangkit, sedikit menjauhi Ardian sebelum menjawab panggilan masuk dari Zidane.
"Assalamualaikum, Kak."
"Wa'alaikumsalam, Dek. Suami kamu dalam masalah. Apakah kamu sudah menonton beritanya?"
"Aku sudah tau, Kak."
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya pada Kak Zidane sekarang. Lebih baik Kakak jemput kami sekarang."
"Lho, kok minta dijemput? Memangnya kamu tidak bawa mobil?"
"Makanya nanti aku jelaskan. Aku share lokasi sekarang, assalamualaikum..." Chayra langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Zidane.
"Kak Zidane bilang apa, Chay?" Ardian harap-harap cemas menatap istrinya yang baru balik badan.
"Dia menanyakan berita itu." Menjawab tanpa menatap suaminya. Pandangannya masih fokus pada layar handphonenya.
Ardian langsung membuang nafas kasar. "Ya Allah, kenapa cobaan ini datang di saat hamba benar-benar ingin berubah." Ardian mengusap wajahnya kasar. Benar-benar merasa hancur dengan pemberitaan ini.
Chayra mendekati suaminya. Menepuk pundaknya pelan. "Sudah, Kakak jangan mengeluh. Kita serahkan semuanya pada Allah. Memang beginilah keadaannya. Di saat Kakak benar-benar ingin menjadi orang yang lebih baik, maka Allah akan menurunkan cobaan untuk menguji kesabaran Kakak. Sejauh mana Kakak bisa bersabar, sejauh mana Kakak bisa kuat menghadapi cobaan ini."
Ardian menggenggam tangan Chayra yang masih bertengger di atas bahunya. "Terimakasih sudah mau menemaniku, walaupun aku sedang berada di titik terendah hidupku." Mendongak menatap Chayra yang berdiri.
"Memang seharusnya pasangan seperti itu, kan? Kalau aku meninggalkan Kak Ardian sekarang gara-gara masalah ini. Itu berarti aku bukan pasangan yang baik. Kita harus sama-sama berjuang mengatasi masalah ini."
"Sekali lagi terimakasih.." Ardian berusaha tersenyum walaupun terlihat di paksakan.
Tin... tin..
Chayra langsung berbalik saat mendengar klakson berbunyi di belakangnya. "Cepat banget sampainya, Kak?" Mendekati mobil Zidane yang berhenti tepat di depan mereka.
"Kakak kebetulan sedang di Kafe sebelah. Ayo, kalian naik. Kakak membutuhkan penjelasan kalian." Menatap Ardian tajam. Yang ditatap hanya menunduk.
Chayra berbalik seraya mendekati suaminya, menarik tangan Ardian yang terlihat enggan untuk bangkit. Lebih tepatnya, Ardian malu pada Zidane karena merepotkan pria itu.
"Buruan naik, Ar. Nanti ada yang lihat kamu. Sudah tau wajah kamu sedang menjadi trending topik. Kalian mau diantar kemana?"
"Pulang, Kak." Jawab Chayra sambil membukakan pintu mobil untuk suaminya.
"Lho, rumah kalian kan dekat dari sini. Kenapa pakai diantar jemput segala?"
__ADS_1
"Mm.. maksud Ayra, bawa kami pulang ke rumah Ibu. Kami diusir oleh Papi."
"Bukan kami, Chay. Tapi aku yang di usir. Kamu mah, bebas mau tinggal sampai kapanpun, Papi tetap akan menerima kamu." Ardian meralat ucapan Chayra yang menurutnya salah.
"Lho, bagaimana bi....."
"Kak Zidane jangan bertanya sekarang. Nanti aku jelaskan di rumah." Chayra langsung memotong ucapan Zidane. Menaiki mobil seraya menutup pintunya dengan pelan.
********
Usai mendirikan shalat Isya berjamaah. Zidane meminta Ardian langsung ke ruang keluarga. Saat mereka sampai rumah tadi, waktu shalat Maghrib hampir tiba. Itulah mengapa mereka memutuskan untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Disambung menunggu waktu shalat Isya karena sayang kalau harus diputus. Mengingat jarak shalat Maghrib dan Isya hanya sebentar.
Ardian hanya bisa menunduk di ruang keluarga mertuanya. Berita itu benar-benar menghancurkan harga dirinya. Tidak terbayang betapa hancur hati Papinya, jika dia sendiri se-malu ini saat berita ini tersebar.
Andaikan berita ini tersebar di saat dia belum taubat. Mungkin dia akan bersikap masa bodoh. Tidak akan memikirkan kejadian ini sampai sejauh ini. Dia tidak akan perduli dengan nama baik keluarga, apalagi dengan nama baiknya sendiri. Namun, saat ini dia merasa memiliki tanggung jawab besar karena istrinya
"Jelaskan semuanya sekarang, Ar." Ucap Zidane dengan tegas. Kakek sudah menghubungiku tadi. Beliau bertanya dan akan menunggu konfirmasi dari kamu perihal kebenaran berita ini."
Ardian memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dia sedikit lega saat menatap wajah orang-orang yang duduk bersamanya terlihat tenang. Tidak ada yang menampakkan wajah tersulut emosi seperti yang ditunjukkan Papinya tadi siang.
"Aku... aku..."
"Kak Ardian sepertinya belum bisa menjelaskannya sekarang, Kak Zidane." Timpal Chayra.
"Kenapa kamu terlihat setenang ini, Nak? Apakah kamu sudah mengetahui berita ini sebelum berita ini tersebar?" Bu Santi bertanya karena Chayra terlihat biasa-biasa saja.
"Darimana kamu tau semua itu?"
"Aku pernah pergi ke Klub untuk mengambil barang bukti yang tersimpan di pelaku wanitanya. Aku pergi bersama Kak Ardian juga. Kak Ardian juga pernah menunjukkan video itu kepadaku sebelum dia hapus dari ponselnya."
Zidane dan Santi menautkan alisnya mendengar cerita Chayra.
Chayra melanjutkan ceritanya karena melihat Zidane dan Ibunya terdiam. "Aku masih ingat tanggal yang tertera di handphone Kak Ardian saat video itu diambil."
"Jadi, kamu merekamnya pakai handphone kamu sendiri, Ardian?" Zidane hampir tidak percaya mendengar cerita Chayra.
"B.. bukan aku, tapi Audy pelakunya." Jawab Ardian masih menunduk.
"Kak Ardian bantu aku jelaskan pada Kak Zidane dan Ibu." Chayra menyentuh tangan suaminya.
Ardian menatap istrinya. Tatapan matanya terlihat ragu untuk bicara. "Aku nggak tau mau ngomong apa." Ucapnya dengan suara lirih.
"Kakak tinggal jelaskan kapan terjadinya. Kakak tinggal menjawab, kalau pria yang ada di video itu memang benar Kak Ardian."
__ADS_1
Ardian beralih menatap Zidane dan Santi mertuanya. Kembali menunduk sambil menelan ludahnya. "Maafkan Ardian, Bu, Kak Zidane. Itu... itu memang benar aku. Tapi, kejadian itu terjadi sekitar empat belas bulan yang lalu. Sebelum aku menikah dengan Chay."
"Jangan bilang Chay. Bilang Ayra saja biar Kakek tidak bingung nanti." Timpal Zidane. Ternyata dia sedang merekam semua ucapan Ardian untuk diserahkan kepada kakeknya.
"Kejadian itu terjadi sebelum aku menikah dengan Chayra."
"Bagus.." Zidane bangkit dan meninggalkan ruang keluarga. "Aku mau mengirimnya pada Kakek dulu. Aku pusing ditanya terus dari tadi."
"Chay..." Ardian menyentuh pelan lengan Chayra.
"Iya..."
"Aku takut..."
"Takut kenapa..?"
"Aku takut Kakek mengusirku." Ardian menunduk lalu kembali menatap istrinya. "Yang lebih aku takutkan lagi, kalau Kakek menyuruhku berpisah dengan kamu."
"Astagfirullah, Kak Ardian jangan berfikir negatif seperti itu dong. Insya Allah, Kakek itu orangnya bijaksana. Dia selalu mempertimbangkan sesuatu dengan matang sebelum memutuskan perkara."
"Kamu ngomong apa sih, Nak?" Santi ikut menjawab. "Mau Kakek kamu menyuruh atau tidak. Kalau masalah itu, keputusan tetap di tangan kamu. Talak itu jatuh kalau kamu yang mengucapakan, Nak. Bukan kalau Kakek yang mengucapkan."
Chayra menahan senyum mendengar ucapan Ibunya. "Tuh, denger, Bang. Talak itu jatuh jika Abang yang mengucapkannya, bukan orang lain."
"Aku tau itu. Tapi...." Ardian beralih menatap mertuanya.
"Tapi apa, Nak?"
"Bagaimana kalau Kakek memaksa?"
"Hus, jangan ngomong seperti itu. Kakek itu baik hati kok. Walaupun kamu pernah di tendang dan ditampar waktu itu." Santi mengingat ketika Pak Akmal ngamuk waktu itu. Dengan garang mertuanya itu memukul Ardian sampai babak belur. "Tapi itu terjadi karena kamu yang membuat kesalahan, kan?"
"Iya, Bu." Tiba-tiba tubuh Ardian melorot dari sofa. Dengan merangkak, dia mendekati mertuanya. Memeluk kaki Santi sambil menangis. "Maafkan segala kesalahan Ardian selama ini, Bu. Maafkan Ardian yang telah menyakiti Ibu sekeluarga. Ardian benar-benar menyesal, Bu. Ardian juga sangat menyesali keterlambatan Ardian mengenal putri Ibu. Ardian rela melakukan apa saja asalkan Ibu mau memaafkan kesalahan Ardian. Ardian a kan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki semua kesalahan ini."
"Astagfirullahal'adzim, tidak perlu sampai seperti ini, Nak. Ibu sudah ikhlas dengan semuanya. Ibu sudah menerima kamu sebagai menantu Ibu, bagaimanapun keadaan kamu. Ibu ikhlas menerima masa lalu kamu. Yang sekarang Ibu butuhkan," Santi mengangkat wajah Ardian, menangkup pipinya seraya mengusap air mata yang masih mengalir di pipi menantunya itu. "Buktikan kalau kamu benar-benar sudah berubah. Buktikan kalau yang beredar di berita itu hanya bagian dari masa lalu kamu. Ibu akan menunggu berita baiknya, Nak."
Ardian menggenggam tangan Santi yang masih menangkup pipinya. "Ardian butuh dukungan, Bu. Maafkan Ardian merepotkan Ibu sampai sejauh ini. Seharusnya, Ardian tau diri dengan tidak mengadukan semua ini pada kalian. Tapi, orang tua kandungku sendiri sudah mengusirku dengan tidak hormat. Aku tidak tau mau mengadukan kemana lagi kalau bukan pada kalian."
"Iya, Nak, Ibu akan mendengar setiap keluh kesah kamu. Jangan sungkan sama Ibu. Anggap ibu seperti Ibu kandung kamu sendiri."
"Terimakasih atas kerelaan Ibu menerima anak durhaka ini."
"Jangan berkata begitu, Nak. Kamu anak baik, seandainya saja kamu di didik sedini mungkin."
__ADS_1
"Drama apa yang sedang kalian lakukan?" Suara seseorang dari pintu depan membuat mereka semua terhenyak. Ardian sontak langsung berdiri sambil mengusap air matanya.
*********