Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kekurangan vitamin


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Ardian selalu pulang malam. Chayra hanya bisa memaklumi, karena suaminya sudah menjelaskan sejak awal akan tugasnya yang semakin berat di Kantor.


Malam itu, sampai pukul sebelas malam belum ada tanda-tanda Ardian akan pulang. Chayra sudah mencoba menghubunginya, tetapi nomor handphone suaminya tidak aktif. Tadi selesai shalat Isya, Ardian sempat menghubunginya kalau ada rapat habis shalat. Tapi, apa iya rapat akan dilakukan sampai selarut ini.


Chayra mondar-mandir di ruang tamu. Berbagai pikiran buruk mulai berdatangan menghampiri pikirannya. "Kamu dimana sih, Mas?" Menautkan jari jemarinya untuk melampiaskan rasa khawatirnya. Selama ini Ardian memang tidak pernah pulang lewat dari jam sebelas malam. Itulah mengapa Chayra sangat khawatir.


Chayra menghubungi nomor mertuanya. Mudah-mudahan, Pak Sucipto belum tidur. Dan... "Alhamdulillah..." Chayra menarik nafas lega saat panggilannya tersambung.


"Assalamualaikum, Pi."


"Wa'alaikumsalam, Nak. Ada apa menghubungi Papi jam segini?" Suara serak bangun tidur.


"Astagfirullah, maaf Ayra mengganggu tidur Papi."


"Tidak apa-apa, katakan saja ada apa.'


"Mm.. Ayra mau minta nomor Pak Dodit, Pi. Mas Ardian belum pulang sampai sekarang, tapi nomor handphonenya tidak aktif."


"Oh, itu.. apa namanya suami kamu ada rapat dengan Investor asing. Jangan khawatir, investor itu orang Muslim, Nak. Percayalah kalau tidak akan terjadi apa-apa."


"Mm... maaf, Pi. Ayra terlalu khawatir."


"Itu bagus, Sayang. Itu berarti kamu mencintai suami kamu. Lusa kan suami kamu mengajukan cuti. Jadi mohon dimaklumi kalau dia kerja lembur terus sekarang."


Chayra menautkan alisnya. Suaminya tidak pernah menceritakan apapun perihal cuti. Ardian hanya pernah membahasnya beberapa hari yang lalu saat makan malam. Deru suara kendaraan di depan rumah membuat Chayra tersadar dari lamunannya. "Mm.. Pi, sepertinya itu Mas Ardian pulang, Ayra tutup dulu ya.. assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Chayra bangkit dari duduknya saat pintu terbuka. Ia menghampiri Ardian yang masih berdiri di depan pintu karena sedang menghubungi seseorang. Terlihat ada Dodit juga disana yang sedang bicara dengan suaminya. Dodit mengangguk sopan saat melihatnya. Sedangkan Ardian berdiri membelakangi pintu sehingga tidak menyadari keberadaan istrinya.


"Iya, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik. Besok kami berangkat ke kota A sesuai dengan kesepakatan.. Iya, Pak." Ardian mematikan sambungan telepon lalu menatap Dodit. "Kita berangkat jam sembilan pagi besok, Dit." Ardian menarik nafas dalam. Hari ini tenaganya benar-benar terkuras karena pekerjaan yang tidak ada ujungnya. Besok adalah penentu dari usahanya satu minggu ini.


"Wokay.." jawab Dodit. Ternyata dia masih segar bugar walaupun sudah jam sebelas lewat. Matanya mengisyaratkan pada Ardian untuk berbalik karena pria itu belum menyadari keberadaan istrinya.


Ardian berbalik dan terlonjak kaget. "Astagfirullah... Chay... sejak kapan kamu disini?"


"Mm... dari tadi banget, Mas. Aku langsung keluar saat melihat pintu terbuka. Tapi, orang yang membuka pintu malah terlalu fokus."


Ardian tersenyum seraya menarik tubuh istrinya. "Eh, ada Pak Dodit, Mas. Malu ah dilihat.." Chayra berusaha menarik tubuhnya, tetapi pelukan Ardian terlalu kuat.


"Biarin aja dia lihat. Biar dia cepat sadar, kalau menikah itu indah. Ada yang mengobati lelah saat kita pulang kerja."

__ADS_1


Dodit tersenyum meringis. "Aku juga udah kebelet pingin nikah. Apalagi melihat kalian yang kayak gini. Tapi... jodohku nyangkut entah dimana. Dicari-cari belum juga ketemu."


"Kamu carinya cuma di mimpi. Coba kalau dicari di dunia nyata, pasti sudah dapat orangnya. Dan satu lagi, kamu harus nekat kalau mau nikah. Uang udah banyak, nangkap satu wanita aja nggak berani. Cemen lho..."


"Eh, dasar lu... Aku cuma takut nggak cocok, Ardian. Wanita sih banyak, tapi yang cocok dengan karakter aku itu loh, yang sulit."


"Kamu nggak tau kisah kami sebelum seperti ini. Masuk dulu yuk, nanti aku ceritakan kisah cinta kami berdua sebelum seperti sekarang."


"Tapi ini sudah malam, Ar. Istri kamu juga kelihatan ngantuk banget tuh. Besok aja deh kita cerita-cerita saat di kota A. Atau besok saja saat kita berangkat ke kota A."


"Hmmm... mana ada waktu untuk cerita-cerita kalau sudah di zona kantor. Jangankan untuk cerita masalah beginian, untuk membahas menu makanan favorit saja sulit untuk dilakukan."


"Lain waktu deh, kalau begitu. Aku juga capek mau istirahat. Besok kan kita mau melakukan perjalanan lagi."


"Iya sudah, hati-hati di jalan. Aku mau istirahat duluan kalau begitu."


"Ok.. mm... assalamualaikum.." Dodit sedikit kaku saat mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam.. hati-hati, Dit. Jangan pakai jalan pintas karena ini sudah tengah malam."


Dodit mendelik melirik Ardian. "Jalan ke apartemenku mana ada jalan pintas."


"Kamu nggak capek, Mas. Masih ada tenaga emangnya untuk diservis."


"Ehehehe... tenagaku selalu full kalau untuk begituan."


"Raut wajah kamu capek gini. Mendingan aku pijit aja ya. Jangan dipaksakan kalau capek. Aku juga merasa kekurangan vitamin malam ini."


"Kamu nggak enak badan?" Ardian mencengkram pundak istrinya seraya memperhatikan wajahnya.


"Bukan, Mas.." Chayra menurunkan tangan suaminya perlahan. "Aku kekurangan vitamin karena memikirkan kamu yang nggak pulang sampai jam sebelas malam."


"Astagfirullah..." Ardian mengusap wajahnya sambil menahan senyum.


"Kenapa handphone kamu mati, Mas. Aku sampai menghubungi Papi tadi."


"Hah, ngapain hubungi Papi segala?"


"Pusing aku, Mas. Suami nggak ada kabar sampai jam segini. Kirain aku nggak kepikiran sampai nggak bisa tidur."


"Handphone aku lowbat, Sayang. Aku juga khawatir tadi. Tapi, karena rapatnya tinggal sebentar, aku mengurungkan niat untuk meminjam handphone Dodit. Rencananya aku mengirimkan pesan."

__ADS_1


"Aku hanya kepikiran karena kamu nggak kunjung pulang."


"Lain kali kalau aku belum pulang sampai jam sembilan, kamu nggak usah menunggu aku. Tidur saja biar kamu istirahat yang cukup."


Chayra membuka jas suaminya. "Memperhatikan dada bidang suaminya yang terbalut kemeja putih."


"Kamu kenapa menatapku seperti ini, Sayang?" Menangkup wajah istrinya dan menariknya agar menatap matanya.


"Hah," Chayra mengalihkan pandangannya. Menarik tangan suaminya dari pipinya. "Aku... hanya..."


"Kamu meraba-raba dadaku tadi kenapa hmm? Mau menggodaku?"


"Tidak, Mas." Chayra kembali menatap suaminya. Kali ini tatapan matanya terlihat berbeda, terlihat sedikit tajam. "Badan kamu lebih kurus. Tulangnya sampai terasa kalau di raba seperti tadi."


Ardian menelan ludahnya. "Kok nggak ada romantis-romantisnya sih?! Aku kira tadi kamu akan bilang gini.. hmm.. hmm..." Ardian menegakkan posisi berdirinya. "Kamu terlihat menggoda, Sayang.."


"Hah, hahahaha... niat banget pingin di goda, Mas? Aku sudah bilang, malam ini tukang servisnya sedang kekurangan vitamin. Vitamin yang dijanjikan sebagai upah tak kunjung diberikan." Chayra menepuk pelan dada suaminya seraya berlalu ke dalam ruang ganti.


Ardian hanya melongo seraya menelan ludahnya. "Maksudnya apa, Sayang? Kamu beneran tidak akan memberikan aku servis malam ini?"


Chayra keluar setelah menaruh pakaian kotor suaminya. Tersenyum sinis saat melihat suaminya sudah bertelanjang dada. "Bersihkan badan kamu dulu sana. Kamu bau keringat, Mas." Berjalan mendekat dan berbisik di telinga suaminya. "Ada bau parfum wanita di jas kamu." Memberikan tatapan tajam pada suaminya.


Ardian langsung melotot. Dia tidak pernah ada niat main serong selama ini. "Bau parfum wanita bagaimana maksud kamu?" Ardian bergegas ke dalam ruang ganti. Mengambil jas yang tadi diletakkan istrinya dan menciumnya. "Yang kamu maksud parfum wanita yang mana, Sayang?"


"Coba di cium bagian dadanya. Aku menghirup aroma aneh tadi. Bau parfum tapi bukan parfum kamu." Masih menatap Ardian dengan tatapan tajam.


Ardian mengibas-ngibas jasnya. "Tidak ada bau parfum wanita, Chay. Mungkin kamu salah cium. Apa efek karena kamu kekurangan vitamin, makanya kamu sampai salah cium?"


"Jangan bercanda, Mas. Aku lagi nggak mood untuk bercanda. Jawab aja yang jujur. Coba dicium lagi jasnya. Jangan sampai ada orang lain yang memberi tahukan aku nantinya."


"Astagfirullah, aku beneran nggak pernah ngapa-ngapain, Sayang."


"Kalau ada kejanggalan nantinya. Kamu harus siap-siap libur panjang. Atau bahkan kamu tidak akan melihat aku dan Adzra lagi menyambut kamu pulang kerja."


Ardian kembali melototkan matanya. Ucapan istrinya terdengar serius dan tampang istrinya sudah tampak pada level sakit hati. Ia melafadzkan istighfar seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia harus bisa menguasai keadaan agar tidak terpancing. Keadaan tubuh yang lelah membuat emosinya cepat naik. "Istighfar, Sayang. Aku memang mantan orang buruk, tetapi aku tidak pernah ada niat untuk kembali seperti itu lagi." Ardian berjalan pelan mendekati ranjang lalu mendudukkan tubuhnya di sana. "Kamu yang tunjukkan bagian yang kamu sebut ada aroma parfum wanitanya." Mengacungkan jasnya pada Chayra.


Tatapan Chayra masih tajam, tetapi dia mendekat lalu mengambil jas itu. Mencari-cari letak aroma ganjil yang dia cium tadi. "Ini..." menyerahkan kembali jas itu pada pemiliknya.


Ardian mencium bagian yang ditunjuk istrinya. Lama dia terdiam mencoba memikirkan bau parfum yang menempel di jasnya. Setelah tersadar, matanya membulat sempurna. "Ini bukan aroma parfum wanita, Chay.. ini kan...


**********

__ADS_1


__ADS_2