
Ardian dan Dodit tertawa serentak. Ternyata kedatangan Ghibran walaupun membuatnya kesal, tetapi juga bisa menghibur hatinya yang resah karena pekerjaan.
"Ar, aku lama-lama jadi penasaran, siapa sih sebenarnya orang tadi? Kok dia orangnya kayak orang yang nggak suka banget sama kamu." Dodit berkata sambil menatap Ardian.
"Hah..," Ardian membuang nafas kasar, tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dengan tangan dilipat di belakang kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit ruangan. "Kayaknya kamu tidak akan percaya kalau aku cerita, Dit."
"Hmm... belum juga cerita, udah bilang aku nggak percaya segala." Dodit ikut menyandarkan tubuhnya seperti yang dilakukan Ardian. "Aku hanya penasaran, apakah dia salah satu anggota keluarga Bu Ayra yang tidak setuju dengan pernikahan kalian, atau dia hanya orang luar yang tidak suka sama kamu." Dodit melirik Ardian lalu menatap langit-langit. Merek berdua berada dalam posisi yang sama.
Kembali terdengar helaan nafas berat dari Ardian. "Hmm.. dia itu mantan Chay, Dit."
Dodit yang kaget spontan langsung menegakkan posisi duduknya. "What...?!" matanya melotot sambil mengerjap-ngerjap. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ardian. "Masa sih, Ar?"
Ardian menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Kok aku baru tau, Ar. Ternyata ada orang yang tidak punya rasa malu, sampai bela-belain nyamperin suami mantannya ke tempat kerja, gara-gara tidak percaya dengan kemampuan suami mantannya. Hah.." Dodit melengos, masih dengan ekspresi tidak percaya.
"Kamu pasti lebih tidak percaya, kalau aku bilang dia adalah Dosenku dulu."
Dodit menatap Ardian dengan tatapan bingung. "Kok kisahnya jadi rumit sih, Ar?!"
Ardian tersenyum getir. "Ini semua karena aku yang merusak rencana indah mereka." Ardian melirik Dodit yang terlihat serius menyimak ceritanya. "Aku menghancurkan Chay, disaat mereka telah merencanakan sebuah rencana yang indah untuk masa depan mereka."
"Maksud kamu?"
Ardian menunduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku menculik Chay beberapa hari sebelum hari pertunangan mereka." Kembali mengangkat wajahnya seraya tersenyum getir ke arah Dodit.
Dodit menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku masih tidak mengerti, Ar."
"Kamu kan tau siapa aku dulu, Dit. Aku bejatnya sampai ke ulu hati. Hanya ada satu kelebihan ku dulu, aku tidak pernah tersandung kasus n**k****a. Aku selalu berhasil menahan diri untuk tidak terjerumus pada hal itu. Kalau masalah wanita, aku rajanya waktu itu." Ardian kembali menatap Dodit. "Aku menghancurkan kehormatan Chay waktu itu. Pak Ghibran memang siap menerima Chay, walaupun tau Chay sudah tidak perawan lagi. Tapi, hati wanita yang sudah menjadi istriku itu terlalu mulia, Dit. Dia bilang, wanita sisa hanya pantas untuk laki-laki sisa. Dia langsung memintaku untuk menikahinya waktu itu. Aku bahkan keberatan dengan keinginannya. Tapi, pengaruh keluarganya terlalu kuat. Aku bahkan dipaksa Papi untuk menyetujui permintaan Chay."
"Wah... ternyata bejatnya kamu kebangetan.. Pantas saja orang tadi terlihat sangat meremehkan kamu."
__ADS_1
Ardian tertawa getir. "Dia menyangka semua yang aku lakukan sekarang hanya sebuah sandiwara, Dit. Dia tidak percaya kalau aku benar-benar sudah taubat. Siapa sih, yang akan percaya dengan perubahanku yang sekarang."
"Aku.." Dodit menunjuk dirinya. "Walaupun aku tidak mengenalmu dari dulu, setidaknya aku percaya kalau kamu pernah bejat, dan sekarang kamu benar-benar berubah."
"Terimakasih, Dit.." Ardian kembali menunduk.
"Biarin aja, Ar. Untuk apa kamu mengambil hati. Kalau aku sih, kamu yang sekarang sangat luar biasa, Ar." Dodit menepuk-nepuk pundak Ardian. "Kamu adalah laki-laki yang sangat bertanggung jawab. Ketekunan kamu patut diacungi jempol."
"Terimakasih, Dit." Ardian mengangkat wajahnya lalu menarik sudut bibirnya.
"Sudah ah, Ar. Ngapain ajak aku bernostalgia.. Makanan ini ingin segera dimasukkan ke dalam perut yang sudah meronta karena lapar."
"Kamu makan saja, Dit. Aku belum berselera makan. Pekerjaanku terlalu penuh hari ini. Apalagi tadi harus ditambah dengan mengurus orang aneh itu."
Dodit tertawa kecil. "Tidak usah terlalu dipusingkan. Itu hanya masa lalu kan. Yang patut diperjuangkan itu masa depan. Masa lalu hanya patut dijadikan pelajaran untuk mengambil langkah yang lebih baik ke depannya."
"Thanks, Dit." Giliran Ardian yang menepuk pundak Dodit. "Aku mau shalat dulu. Kamu makan saja duluan. Sisakan satu porsi, nanti aku makan habis shalat. Atau kalau kamu belum kenyang kamu boleh memakan semuanya."
Ardian berlalu seraya menahan senyum. "Siapa tau aja lambung kamu sudah melebar."
"Nggak lah.." Dodit mengambil kotak bekal dan mengambil satu porsi. Ia segera melahap makanan itu. Walaupun perutnya belum kenyang, tetapi dia tidak mau termakan omongannya sendiri. Jangan sampai Ardian mengatainya kebo, kalau menghabiskan dua porsi itu.
Ardian termenung usai mendirikan shalat. Entah mengapa mengingat masa lalu.selalu saja membuat perasaanya menjadi tak karuan. Rasa bersalah pasti datang menghantuinya.
Tatapan tajam Ghibran saat menatapnya selalu saja membuatnya seperti merasa sedang dihakimi. Iya, dia sadar kalau semuanya karena dia. Tapi, apa yang harus dilakukannya untuk menebus kesalahan itu. Semua sudah terlanjur dan tidak akan bisa diperbaiki.
Ardian POV...
Aku masih duduk di atas sajadah walaupun sudah lama sekali aku menyelesaikan shalat Zuhur. Aku menenggelamkan kepalaku di antara dua kakiku. Ya Allah.. dada ini terasa sesak mengingat semua itu. Bukan hanya sekali dua kali aku seperti ini. Setiap ada orang yang menyinggung masa laluku, aku pasti seperti ini.
Aku mengusap air mata yang meleleh dengan sendirinya. Aku menangis ternyata. Hmm.. aku tidak bisa mencegah air mataku untuk keluar. Aku juga tidak malu karena aku memang benar-benar menyesal.
__ADS_1
Tapi..
Seperti kata Dodit tadi, masa lalu itu harus dijadikan pelajaran, agar kita tidak salah melangkah kedepannya. Mudah-mudahan aku bisa lebih dewasa ke depannya. Biarlah orang menyebutku mantan orang bejat. Intinya sekarang, aku harus bisa fokus untuk bisa membahagiakan keluarga kecilku.
Tok.. tok.. tok..
Aku mengangkat wajahku saat terdengar ketukan di pintu. Dengan berat hati, aku akhirnya bangkit dan membuka pintu dengan malas. Sebenarnya aku masih ingin sendiri, aku masih belum puas melampiaskan perasaan sesak ini.
Aku menatap Dodit dengan malas saat melihatnya berdiri di depan pintu dengan kesiap-siagaan. "Ada apa, Dit."
"Investor dari Tiongkok sudah di Loby, Ar. Aku menunggu kamu keluar dari tadi, tapi tidak ada tanda-tanda kamu akan keluar. Maaf kalau aku mengganggu waktu pribadimu."
"Tidak apa-apa, Dit. Aku akan bersiap sekarang. Kamu persiapkan saja kontrak kerja sama yang sudah kita sepakati sebelumnya."
"Siap, Bos. Jangan gloomy lagi. Kamu habis nangis ya, hidung kamu merah kayak gitu."
"Eh," tanganku menyentuh tangan Dodit yang sedang memegang hidungku.
"Kamu berkulit putih, Ar. Saat kamu menangis, semua akan terlihat sangat kentara. Kamu cuci muka saja dulu. Pasti merahnya hilang kalau kamu cuci muka. Sudah dibilang juga jangan terlalu diambil hati." Dodit berlalu setelah selesai bicara. Baru beberapa langkah, ia berbalik lagi. "Pak, jangan lupa bahagia.."
Aku terpaksa tersenyum mendengar candaannya. Aku bersyukur, Papi meninggalkan orang sebaik Dodit yang mendampingiku di Perusahaan ini. Mencari orang yang tulus saat ini agak sulit. Iya... walaupun Papi tidak meninggalkan aku harta yang berlimpah, tapi aset seperti Dodit lebih berharga daripada harta benda.
Aku melepas sarungku dan memakai kembali celana kerjaku. Aku mendekati wastafel untuk membersihkan wajahku. Hmm... pantas saja Dodit bertanya tadi, ternyata hidungku benar-benar seperti jambu air. Aku menarik nafas panjang beberapa kali. Waktunya untuk kerja.. lupakan semua tentang masa lalu yang menyiksa.
Aku keluar dari Musholla dan kembali ke ruanganku. Aku dapati ada Bu Rani dan Dodit di sana. Sepertinya mereka sedang berdiskusi. Entahlah.. rasanya aku ingin pulang saja saat ini. Aku sepertinya kurang fokus kalau harus bertemu Investor itu sekarang.
"Pak, mereka ingin bertemu dan makan siang di kafe Xx.." Dodit langsung menginstruksikan begitu melihatku.
"Apa bisa diwakilkan, Dit? Kepalaku terasa pusing. Sepertinya aku tidak bisa konsentrasi kalau harus membahas pekerjaan sekarang."
Dodit dan Bu Rani saling pandang bingung.
__ADS_1
*********