Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Keputusan yang menyakitkan


__ADS_3

Bu Renata langsung terdiam. Ucapan Chayra terdengar sangat meyakinkan sehingga dia tidak berani untuk mendebat ucapan gadis itu. Dia kurang tau kehidupan pribadi putranya karena dia kebanyakan tinggal di luar negeri.


"Hukuman apa yang kamu hendaki, Nak." Ucap Pak Akmal. Sedikit menekan pundak Chayra agar gadis itu duduk kembali. Berusaha menahan diri agar tidak marah. Bagiamana pun juga, yang terzalimi saat ini adalah Chayra. Sehingga dia tidak berani menekan cucunya untuk bersikap sopan.


"Apa kalian akan mengabulkan apapun yang aku inginkan sebagai hukumannya?" Chayra menatap tajam pada Pak Sucipto.


"Iya, Nak. Lakukan apapun yang kamu inginkan. Kami akan menerima apapun itu hukuman yang akan kamu berikan padanya." Timpal Pak Sucipto


"Bagiamana kalau aku menginginkan dia mati?" Chayra melirik Ardian.


Untuk pertama kalinya Ardian mengangkat wajahnya dan menatap Chayra dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Lho gila?" Ucapnya lirih hampir tak terdengar. "Gue juga punya cita-cita yang harus gue capai." Dengan suara yang lebih besar.


Anggota keluarga yang lain saling pandang. Ghibran dan Zidane yang berdiri dipojok terlihat berbisik-bisik.


"Perkiraanku benar kan, kalau Ayra pasti memberikan hukuman mati." Bisik Zidane.


"Zahra kan belum memutuskan. Dia cuma bilang, bagaimana kalau hukuman mati."


Zidane akhirnya hanya mengangguk menyetujui ucapan Ghibran.


Ghibran kembali fokus pada Chayra. Sebenarnya, dia diminta untuk pulang tadi pagi oleh Pak Akmal, sebelum Ardian dan orang tuanya sampai. Namun, dia memohon pada Pak Akmal agar diizinkan tinggal. Dia ingin mengikuti sidang Ardian dan mendengarkan keputusan Chayra. Berharap mendapatkan seberkas cahaya dan mendapatkan kembali hati gadis itu.


"Hukuman itu tidak sepadan dengan tindak kriminal yang dilakukan putra kami. Andaikan dia membunuh, baru hukumannya seperti itu." Ucap Bu Renata keberatan.


Chayra tersenyum kecut. Entah darimana datangnya rasa percaya dirinya saat ini. Dia benar-benar ingin menumpahkan rasa kesal yang selama ini dia pendam. Rasa hormat pada yang lebih tua, yang ditanamkan oleh ibunya sejak ia masih kecil lenyap begitu saja.


"Kalian sendiri yang bilang, kalau aku boleh memberikan hukuman apapun yang aku inginkan padanya. Dan sekarang kalau aku memberikan hukuman itu, kenapa kalian malah keberatan?"


"Tapi tidak harus dengan membunuhnya, Nak. Mohon berikan keringanan untuknya. Dia adalah putra kami satu-satunya. Siapa yang akan melanjutkan bisnis keluarga kami kalau kamu sampai memberikan hukuman itu untuknya. Seperti yang dia katakan tadi, kalau dia juga mempunyai cita-cita yang harus dia perjuangkan." Pak Sucipto bangkit lalu berlutut di hadapan Chayra.

__ADS_1


"Astagfirullahal'adzim, apa yang anda lakukan, Pak?" Chayra langsung menunduk dan duduk di samping Pak Sucipto. "Maafkan saya sudah berkata lancang pada Bapak. Bangun, Pak, bangunlah." Chayra memejamkan matanya karena merasa bersalah. Bersikap seberani ini saja benar-benar anugerah dalam hidupnya.


"Saya tidak akan bangun sebelum kamu memutuskan, Nak. Hati kami tidak bisa tenang sebelum mendengarkan semuanya."


Chayra kembali duduk di sofa. Membuat orang tua memohon sampai seperti ini bukan termasuk dalam rencana yang disusunnya. Memejamkan mata seraya mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata yang siap tumpah lagi.


"Saya akan mengatakannya sekarang. Maaf kalau aku telah membuat kalian menunggu." Menarik nafas panjang dan kembali duduk tegak.


Wajah Bu Renata terlihat menyek-menyek karena menahan kesal. Mau bicara salah, tapi sungguh hal ini membuat harga dirinya seperti diinjak-injak. Karena terbiasa dihormati, dia menjadi seperti ini saat ada orang yang mengusik keluarganya. Andaikan suaminya tidak memiliki hutang budi yang besar pada Pak Akmal. Dia pasti sudah pergi lagi ke Amerika daripada harus mengurus hal yang dia rasa tidak penting seperti ini. Bagi kebanyakan orang, kejadian yang menimpa Chayra ini bukan lah masalah besar. Namun, karena yang mengalaminya adalah Chayra Azzahra, wanita yang selalu menjaga diri dan pandangannya dari yang bukan mahramnya. Tentu hal ini menjadi masalah yang sangat besar.


Memberikan kebebasan pada putranya juga adalah kemauan Bu Renata. Walaupun Pak Sucipto berulang kali memintanya untuk memasukkan Ardian ke Pesantren. Tapi, Bu Renata selalu menolak karena merasa putranya tidak akan cocok dengan kehidupan Pesantren.


"Katakan, Ayra! jangan membuat kami menunggu lebih lama lagi." Ucapan Bu Santi memecah keheningan yang tercipta beberapa saat.


Chayra menatap ibunya seraya menarik nafas dalam. "Bismillahirrahmanirrahim..." kembali terdiam dan menarik nafas lagi. "A.. Ardian B.. Baskara, aku ingin kamu menikahi aku."


Bagai disambar petir di siang bolong. Ghibran langsung terduduk lemas. Amira yang sedari tadi hanya menunduk menyimak perdebatan, kini langsung berdiri karena terkejut. Jangan tanyakan lagi dengan reaksi Ardian. Dia tidak bisa berkata-kata saking syoknya. Semua orang memberikan reaksi yang berbeda-beda mendengar ucapan Chayra itu.


"Kamu jangan bercanda, Ayra." Bu Santi langsung berjalan mendekat. "Katakan kalau Ibu salah dengar, Nak." Mengguncang tubuh Chayra dengan keras.


Chayra menggeleng-geleng pelan sambil memejamkan matanya. "Ibu tidak salah dengar. Aku mau, Ardian menikah denganku. Hanya itu hukuman yang aku rasa pantas untuknya. A.. aku tidak mau hasil perbuatanya menjadi tanggung jawab orang lain. Dia yang telah menodai ku, dia yang telah merenggut kehormatanku, dia pula yang harus tanggung jawab karena itu."


"Lho benar-benar tidak waras. Gue nggak selera sama sekali dengan wanita seperti lho." Ardian berdiri dan menatap Chayra.


"Terserah.. mau anda berselera atau tidak. Intinya, aku mau anda menikahiku. Kenapa anda melakukan itu kalau anda tidak berselera padaku? Bukankah waktu itu..." Chayra tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menunduk dan mengusap air matanya. "Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah.." mengusap-usap dadanya karena terasa sesak.


Mata Pak Sucipto terlihat berbinar. "Kalau itu yang kamu inginkan, kami akan langsung mempersiapkan acaranya, Nak. Mi..."


"Papi!" Ardian langsung memotong ucapan papinya. "Papi jangan sembarang memutuskan. Aku belum bilang iya atau tidak."

__ADS_1


"Mau tidak mau, kamu harus mau, Ardian. Jangan membuat Papi susah lagi. Sudah cukup kamu membuat malu keluarga kita. Sudah cukup kamu bertingkah kekanak-kanakan.


"Tapi..."


"Tidak ada kata tapi. Kamu tinggal mempersiapkan diri saja." Pak Sucipto beralih menatap Pak Akmal. "Kalau begitu kamu pamit dulu, Pak. Nanti kami kabari kalau persiapan sudah kami lakukan. Ayo.." Pak Sucipto meraih tangan putra dan istrinya. "Kita selesaikan masalah ini di rumah."


Ardian akhirnya pasrah diseret pulang oleh papinya.


Bu Renata tersenyum pada yang lain. "Kami pamit dulu, assalamualaikum.."


Hening beberapa saat tercipta setelah kepergian Ardian dan keluarganya. Chayra bergegas ke kamar untuk menenangkan diri. Dia tau kalau semua orang di ruangan itu membutuhkan penjelasannya.


Baru saja akan menutup pintu. Pintu itu ditahan dan di dorong dengan kasar. "Maksud lho apa membuat keputusan ini, Ayra?" Amira langsung mendorong tubuh Chayra sampai terpental di atas ranjang.


"Lho tau kan, Kak Ardian itu pacar gue. Dia adalah cinta mati gue. Gue rela menyerahkan diri gue padanya karena cinta. Lalu kenapa lho tiba-tiba membuat keputusan konyol seperti ini?!"


"Lho ini sahabat atau apa sih?! Lho mau hancurin hidup gue hanya demi kesenangan lho pribadi. Lho ini sahabat macam apa, Ayra?"


"Gue tidak pernah berprasangka buruk selama ini sama lho. Gue selalu membela lho di hadapan Kak Ardian. Gue sampai marah-marahan dengan dia demi lho. Tapi sekarang kenapa lho malah seperti ini, Ayra? Dimana akal sehat lho?"


"Lho sendiri yang bilang, kalau lho membenci Kak Ardian. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang lho malah memintanya untuk menikahi lho? Mau jadi teman makan teman lho? Gue nggak nyangka sifat lho seburuk ini, Ayra. Lho memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan apa yang lho inginkan. Lho egois banget sih. Kalau lho memang cinta sama Kak Ardian, kenapa lho tidak bilang aja. Gue akan mundur dengan baik-baik. Gue tidak akan semarah ini sama lho." Amira terus nyerocos tanpa memberikan kesempatan pada Chayra untuk menjelaskan. Amarah yang memuncak membuat kepalanya seperti terbakar.


Chayra hanya terdiam menatap temannya yang sedang meluapkan emosinya itu. Dari tatapan matanya, bisa dipastikan kalau dirinya pun, sangat tidak menginginkan hal ini. Namun, ada alasan kuat kenapa dia sampai nekat mengambil langkah ini.


"Gue kecewa sama lho, Ayra. Gue nyesel banget sudah ngenalin lho pada pria yang gue cintai. Gue benci sama lho." Amira langsung keluar dari kamar. Melewati ruang tamu tanpa pamitan pada orang-orang yang masih duduk disana. Ia hanya mengusap air matanya berulang kali.


"Aaargghhh..! kenapa urusannya jadi ribet seperti ini sih.." Amira membanting kepalanya di kaca mobil. Ia benar-benar frustasi mendengar keputusan sahabatnya itu.


********

__ADS_1


__ADS_2