
Brak..!
Sucipto menggebrak meja kaca didepannya saat melihat kedatangan Ardian. Melempar koran di depannya ke wajah Ardian.
Ardian dan Chayra yang baru sampai terkejut mendapati perlakuan Sucipto. Berniat ingin menyalami orang tuanya, Ardian malah di sambut dengan lemparan koran ke wajahnya.
"Ada apa, Pi?" Tanya Ardian dengan tatapan penuh tanda tanya. Mendekati Papinya perlahan.
Plak..!
Giliran tangan Sucipto yang mendarat di pipi Ardian. "Berani-beraninya kamu bertanya! Dasar anak tidak tau di untung!" Tangan Sucipto kembali mendarat di pipi putranya.
"Astagfirullahal'adzim, Papi jangan ngomong seperti itu. Tidak boleh, Pi. Kak Ardian salah apa? Papi menghakiminya tanpa mau menjelaskan kesalahannya apa?"
"Kamu jangan ikut campur, Ayra. Masuklah ke dalam kamar. Papi tidak ada urusan dengan kamu."
Chayra dan Ardian semakin dibuat bingung. Mereka saling tatap tidak tau mau berkata apa.
"Kamu masuklah, Chay. Mungkin ini adalah masalah pribadi antara aku dan Papi."
Chayra masih belum beranjak. Matanya menatap suaminya dengan tatapan sendu.
"Masuklah..! aku akan bicara dengan Papi."
"Tapi..."
"Masuk, Chay. Aku tidak mau kamu melihat apa yang akan terjadi selanjutnya."
Chayra akhirnya mengangguk lemah. Berjalan mundur, dengan berat hati meninggalkan suaminya menghadapi Sucipto sendirian.
Chayra semakin dibuat terkejut saat melihat Renata turun bersama dua orang pelayan yang menyeret koper Ardian. Berlari kecil menaiki anak tangga. Menghampiri mertuanya yang masih di anak tangga teratas.
"Ini sebenarnya ada apa, Mami? Ini..." Chayra menatap dua koper yang di bawa pelayan di belakang Maminya.
"Mami tidak bisa menjelaskannya sama kamu. Nanti juga kami akan tau."
"Tapi... ini barang-barang Kak Ardian mau dibawa kemana, Mi?"
Renata hanya menghela nafas berat. Sulit berkata dengan lemah lembut saat emosinya sedang meluap-luap. Namun, tutur kata Chayra, pembawaan gadis itu yang selalu berkata lemah lembut membuatnya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi.
"Mami tidak bisa ngomong sekarang, Nak. Mami takut membentak kamu nanti. Kamu lebih baik mencari tau di akun media sosial suami kamu. Beritanya juga sudah menyebar kemana-mana."
__ADS_1
Chayra menautkan alisnya. "Akun media sosial?"
"Iya. Minggir lah, Mami mau turun. Kamu tunggu saja di dalam kamar kamu."
"Aku tidak bisa melakukan itu, Mi. Suamiku sedang di amuk sama Papi. Disalahkan karena kesalahan yang kami tidak ketahui. Aku akan ikut turun bersama Mami."
"Kamu jangan keras kepala, Ayra. Masuklah ke kamar kamu!" Renata meninggikan suaranya.
"Tidak, Mami." Untuk pertama kalinya Chayra membantah perintah mertuanya. "Astagfirullahal'adzim..." gumamnya lirih. Menunduk karena merasa bersalah. "Maafkan Ayra, Mi. Tapi, Ayra benar-benar tidak bisa meninggalkan Kak Ardian menghadapi semuanya sendiri." Berlari menuruni anak tangga.
Renata hanya bisa berdecak kesal. Melanjutkan langkahnya kembali.
"Ini apa, Ardian, ini apa?!" Sucipto menunjuk kasar judul berita yang menjadi trending topik di koran yang tadi dilemparnya ke wajah Ardian.
BEREDAR VIDEO PANAS ANAK SEMATA WAYANG PENGUSAHA TERKENAL DENGAN WANITA PENGHUNI KLUB MALAM
"Astagfirullahal'adzim," Ardian menelan ludahnya. Fotonya terpampang jelas di koran itu. Ardian langsung terduduk lemah. Berita yang berusaha dia sembunyikan itu akhirnya terendus media. Mengangkat kepalanya menatap Papinya yang sedang berdiri dengan penuh rasa penyesalan.
"M.. maafkan Ardian, Pi." Ucapnya lirih. Meraih tangan Sucipto dan menciumnya.
Sucipto mendengus, menghentakkan tangannya yang sedang dicium Ardian. "Papi sudah tidak membutuhkan kata maaf itu. Kamu sudah terlanjur menghancurkan nama baik Papi, Ardian. Nama baik yang sudah Papi bangun dan Papi jaga selama bertahun-tahun, kamu hancurkan dalam sekejap mata. Sia-sia sudah perjuanganku selama ini."
Tubuh Ardian sedikit terpental karena hentakan tangan Papinya. Namun, dia berusaha untuk duduk kembali. "K... kejadian itu sudah sangat lama, Pi."
Sucipto bersedekap membelakangi Ardian. "Rugi sekali aku punya anak sebejat kamu." Ucapnya lagi. "Oh, apakah cara kamu berpamitan tadi pagi hanya sandiwara? Kamu sengaja terlihat berubah agar Papi luluh saat berita ini tersebar."
Ardian hanya menggeleng-geleng pelan. "Aku... aku benar-benar tulus ingin berubah, Pi."
"Jangan panggil aku Papi lagi. Enyah kau dari hadapanku. Papi tidak bisa menerima kamu lagi." Sucipto berbalik, melempar koper yang dibawa pelayan tadi ke hadapan Ardian. Beralih menatap Chayra yang sedang terisak di belakang suaminya.
"Kamu masuklah ke dalam kamar kamu, Nak. Maafkan Papi yang menerima keinginanmu dulu. Seharusnya, Papi berkaca dulu sebelum membiarkan kalian menikah."
Chayra tidak menjawab. Dia hanya menunduk sambil terus mengusap air matanya.
"Berita ini pasti membuatmu sangat terpukul dan kecewa sama Ardian. Jika dia pergi, mungkin berita ini akan cepat meredup. Papi akan membawamu tinggal di Amerika. Papi tidak kuat dengan berita seperti ini kalau terus-terusan tinggal di sini."
"S.. siapa yang akan Papi bawa ke Amerika?"
"Kamu pikir siapa? Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan kamu. Apa kamu secepat itu lupa ucapan Papi tadi. Papi sudah mengusir kamu, Ardian. Papi akan membawa istri kamu ke Amerika. Papi akan membuat kamu benar-benar menyesal telah menjadi pria biadab."
"Aku tidak mau, Pi. Aku akan tetap tinggal disini. Aku akan ikut terusir seperti yang Papi lakukan pada Kak Ardian. Kak Ardian adalah suamiku. Aku akan mengikuti langkahnya, kemanapun dia akan membawaku selepas kejadian ini."
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Nak? Ardian sudah keterlaluan dalam menyakiti kamu."
"Aku tidak disakiti, Papi. Kejadian itu terjadi sebelum aku menikah dengan Kak Ardian."
"Darimana kamu tau? Apakah kamu semudah itu percaya dengan ucapan Ardian barusan. Mau sampai nungging pun, kamu mengatakan kalau dia tidak berbohong, Papi tidak akan percaya, Ayra. Terserah kamu kalau kamu mau mengikuti suamimu. Papi tidak bisa melarang kamu." Sucipto kembali berbalik sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kami pamit kalau begitu, Pi. Assalamualaikum.. ayo, Kak. Aku bantu berdiri."
"Maafkan Ardian, Pi. Ardian benar-benar menyesal telah melakukan itu. Satpam menyeret tubuh Ardian keluar dari dalam rumah.
Saat sampai di depan pintu...
"Oh, iya... Kalian tidak bisa menempati rumah yang kemarin Papi belikan. Papi menyita semuanya."
"Terimakasih atas semuanya. Semoga kedepannya Papi semakin sukses karena tidak ada lagi anak durhaka yang akan menghabiskan uang Papi."
Sucipto hanya tersenyum sinis mendengar ucapan putranya. "Pergilah, sebelum aku menendang kamu dengan tidak hormat dari rumah ini." Menarik tangan istrinya yang terisak dari tadi. Renata benar-benar terpukul dengan berita ini. Namun, dia tidak setega Sucipto yang mengusir putranya seperti itu.
Ardian berbalik menatap rumah tempatnya tumbuh besar selama ini. Tersenyum nanar lalu melanjutkan langkahnya. Dia pergi tanpa berbekal apapun. Meninggalkan koper yang tadi di lempar ke arahnya.
"Kenapa Kakak tidak mau membawa koper Kakak?" Chayra bertanya setelah mereka cukup lama terdiam.
Ardian tersenyum lemah. "Aku tidak berhak atas apapun itu yang berasal dari Papi. Kamu sendiri sudah mendengar ucapannya tadi, Kalau aku bukan lagi putranya." Ucap Ardian sambil menendang-nendang kerikil kecil di sepanjang trotoar.
"Kita duduk dulu, Kak." Chayra menarik pelan tangan Ardian untuk duduk di bangku panjang yang tersusun rapi di sepanjang trotoar. Perutnya berbunyi tanda minta diisi.
"Mm.. aku mau menghubungi Kak Zidane dulu untuk menjemput kita."
"Jangan, Chay..."
"Lho, kenapa?"
"Aku tidak tau harus menjelaskan apa nanti. Aku sudah terlalu menyakiti kalian."
"Tidak, Kak. Insya Allah, Ibu memaklumi semua ini." Chayra tetap mengirim pesan pada kakaknya.
"Aku ingin menghindari siapapun itu yang mengenalku saat ini. Aku takut akan semakin terpuruk mendengar cemoohan mereka nantinya." Ardian menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya.
"Serahkan semuanya pada Allah, Kak. Aku hanya ingin tau, siapa yang telah menyebarkan video itu. Padahal kita sudah berusaha dengan maksimal agar video itu hilang dari jejak digital."
"Aku juga menyimpan pertanyaan yang sama dengan kamu." Mengangkat wajahnya seraya menatap Chayra.
__ADS_1
Deringan handphone Chayra membuat percakapan mereka terhenti.
***********