Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Bertemu lagi


__ADS_3

Chayra masih duduk di ruang tamu rumahnya. Duduk cemberut menunggu kedatangan tiga sahabatnya yang belum ada tanda-tanda akan datang. Tiga puluh menit yang lalu, Amira bilang dia sudah di jalan. Namun, sampai sekarang dia belum juga datang.


Alesha dan Tina bilang, akan segera datang kalau urusan mereka sudah selesai


Zidane mendekati adik sepupunya yang terlihat cemberut sendirian. "Adikku yang manis ini kenapa? Monyong saja tu bibir. Kalau dilihat-lihat, kok kayak mulut ikan ya.." Memperhatikan wajah Chayra sambil menahan senyum.


Chayra langsung mendelik. "Problem for you, Kak. I'm fine, ok. So, don't distrub me."


"O.. hohoho, sadis amat tu mulut, Dek." Zidane memperbaiki posisi duduknya. "Serius, Dek. Kamu kenapa cemberut gitu. Ada masalah?"


Chayra kembali melirik kakak sepupunya itu. "Nggak ada, Kak. Cuma kesel aja sama teman-teman, kenapa coba belum datang sampai jam segini. Katanya mau jemput, mau ajak jalan-jalan sebelum aku nikah. Eh, ini malah hilang kabar semua."


"Sabarlah, Dek. Mungkin saja mereka sedang dalam perjalanan kemari."


Panjang umur. Amira langsung nongol di depan pintu. "Assalamualaikum.." nafasnya sedikit ngos-ngosan.


Chayra bangkit begitu melihat Amira di depan pintu. "Kamu kemana aja? Capek tau nunggunya.


"Sorry, gue ada urusan sebentar dengan Kak Ardian tadi."


Chayra langsung diam begitu Amira menyebut nama Ardian. Mengalihkan pandangannya, alisnya menyatu karena kesal.


Amira menghela nafas berat. Berjalan mendekat pada Chayra. Menarik pundak sahabatnya itu agar mau menghadapnya. "Jangan berpikir macam-macam dulu, Ayra. Gue tidak berbuat yang macam-macam kok, dengan Kak Ardian. Gue hanya menjelaskan sesuatu yang membuatnya salah paham. Itu aja kok, nggak lebih."


Chayra hanya melirik Amira tanpa mau memberikan respon.


"Lho masih kesal dengan kejadian yang dulu itu ya?" Amira menunduk. "Kalau lho masih kesal, gue pun masih merasa bersalah. Karena dosa itu, sampai sekarang gue belum bisa hidup dengan tenang." Amira berjalan pelan mendekati jendela di ruangan itu.


Chayra mengangkat kepalanya perlahan. Namun, mulutnya masih terkunci rapat.


"Gue minta maaf, Ayra. Karena gue telah menodai kesucian mata lho."


Chayra berdecak. "Jangan bahas yang sudah lalu, Mira. Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Aku cuma terkejut tadi saat kamu menyebut namanya."


Amira langsung berbalik saat mendengar jawaban Chayra. Ia menarik sudut bibirnya walaupun terlihat dipaksakan.


Zidane berpura-pura tidak perduli dan menyibukkan dirinya dengan handphone. Walaupun matanya terlihat melirik ke arah dua gadis di depannya.


"Aku hanya heran sama kamu, Mira. Kenapa kamu masih saja menjalin hubungan dengan pria itu." Chayra masih enggan menatap Amira.


"Gue mencintainya, Ayra. Walaupun dia merenggut kesucian gue. Tapi, kalau memang dia tidak mencintai gue. Dia pasti sudah meninggalkan gue sekarang. Tapi, dia masih setia sama gue. Iya, walaupun dosa itu akan menjadi beban dan aib untuk kami sampai sekarang dan seterusnya."


Chayra memejamkan matanya. Tidak mungkin dia akan memaksakan kehendaknya pada Amira. Temannya sudah cinta mati pada pria itu. Kalau dia yang diminta untuk meninggalkan Ghibran pun, dia pasti akan menolak dengan alasan cinta.


"Iya sudah. Masalah pasangan, itu adalah urusan pribadi kita masing-masing. Kita jangan bahas hal ini lagi. Ayo, kita berangkat sekarang."

__ADS_1


Amira mengangguk. "Tapi kita harus ke Kampus dulu. Alesha dan Tina menunggu kita di sana."


Chayra menautkan alisnya. "Kalian tidak bolos kuliah kan, gara-gara ini?"


"Eh, eh, pakai acara nuduh bolos kuliah segala. Gue itu paling anti yang namanya bolos, Ayra." Amira menarik tangan Chayra. "Ayo, kita berangkat. Gue nggak mau dibilang nggak becus nanti sama si Alesha dan Tina."


"Hmm.." Chayra hanya bisa pasrah ditarik Amira.


Selepas kepergian dua gadis itu, Zidane menggeleng-geleng pelan. Heran dengan tingkah sepupunya itu. Baru saja mereka bersitegang gara-gara cowok. Eh, setelahnya malah seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Zidane menatap Amira dengan heran. Apa yang sudah dilakukan gadis itu dimasa lalu sehingga Chayra terlihat sangat kecewa begitu mendengar nama cowok yang tadi disebutkan.


"Astagfirullahal'adzim, apa yang aku pikirkan. Aku tidak berhak menghakimi masa lalu seseorang." Ucapnya lirih. Buru-buru menepis pikiran buruknya itu. Ia beranjak masuk ke dalam kamarnya.


Sementara itu, Chayra dan Amira baru sampai setengah perjalanan. Amira tiba-tiba menghentikan kendaraannya.


"Ada apa, Mira?" Chayra langsung bertanya heran.


"Huh, lho yang nyetir. Gue capek bolak balik dari tadi." Amira langsung membuka sabuk oengaman dan keluar dari mobil.


"Hei, yang benar saja, Mira. Aku sudah lama sekali tidak nyetir."


"Nggak perduli. Yang penting lho yang nyetir." Menarik tangan Chayra agar mau tukar posisi.


"Aku nggak berani, Mira. Aku serius ini. Aku kan di Pesantren tidak pernah pakai kendaraan saat ke Kampus."


"Astagfirullahal'adzim, untuk apa aku bohong coba? Kampusku kan berdekatan dengan rumah Ummi. Jadi, kalau ke Kampus aku jalan kaki."


Amira mendengus kesal. Memperbaiki jilbab pasmina yang dikenakannya. "Kalau tau kayak gini, gue suruh aja Tina yang jemput lho."


Giliran Chayra yang melengos. "Namanya juga penjemput. Iya.. harus siap menjadi sopir untuk yang dijemput."


"Iya, iya, Tuan Putri. Oh, salah, calon Nona Besar.. siapa tuh nama calon suami lho. Gue kok, lupa ya.. Mm..." Sambil memasang kembali sabuk pengaman yang tadi dibukanya


"Ghibran Abdullah.." jawab Chayra sengit.


"Ceilleh, keren juga ya, nama calon suami lho. Ghibran Abdullah.. itu berarti sebentar lagi lho akan menjadi Nona Besar Abdullah." Kembali menghidupkan mobil.


Chayra hanya melengos menanggapinya.


Perjalanan terus berlanjut tanpa ada yang membuka percakapan lagi. Hanya tangan Chayra yang terlihat sibuk mengetik pesan balasan untuk Ghibran. Beberapa kali Amira hanya melirik tanpa mau bertanya.


Beberapa menit kemudian..


Amira bersiap turun dari mobil. Namun, ketika melirik Chayra yang terlihat masih sibuk dengan handphone, ia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Huh, sampai kapan lho akan menulis pesan terus, Ayra? Hati-hati tangan lho keriting nanti kalau kebanyakan menulis."


Chayra mengangkat wajahnya. Matanya menatap sekeliling. "Eh, kita sudah sampai ya, Mira. Maaf, aku keasyikan bertukar kabar dengan Kak Ghibran."


"Huh, sekalinya lho jatuh cinta, bener-bener deh nggak ada tandingannya." Amira menyandarkan kepalanya santai.


"Sudah ah, ayo kita turun." Chayra turun duluan.


Amira langsung melakukan panggilan pada Tina.


"Assalamualaikum, lho lama banget sih. Ada apa?"


"Wa'alaikumsalam, eh kampret lho. Gue capek tau bolak balik. Gue udah di Kampus nih sama Ayra. Posisi lho dimana?"


"Gue di Kantin sama..."


"Ok, kami ke sana sekarang."


"Eh tunggu du..."


Tut.. Tut.. Tut..


Amira langsung mematikan sambungan telepon tanpa mau menunggu kelanjutan kalimat Tina.


"Ayo, Ayra, mereka menunggu kita di Kantin."


Chayra hanya mengangguk seraya turun.


Amira tertegun saat menatap seorang pria yang sedang duduk bersama Alesha dan Tina. Walaupun dia berada di belakang pria itu. Matanya tidak bisa dibohongi kalau pria itu memang..


"Datang juga akhirnya kalian." Alesha bangkit sambil mengelap mulutnya karena baru selesai makan.


Ucapan Alesha membuat pria itu menoleh. Dan..


"K.. k.. kenapa Kak Ardian bisa ada disini?" Amira tergagap karena tidak siap dengan situasi ini.


Ardian langsing bangkit dan berjalan mendekat. "Lho, kok kamu yang terkejut, Sayang?"


"A.. aku..."


"Jadi ini alasan lho tidak bisa menemani gue sidang skripsi. Tadi pagi lho bilang, Nyokap lho sakit dan ingin ditemani lho. Iya, gue maklumi alasan lho itu. Tapi, malah begini kejadian sebenarnya. Lho berbohong pada gue demi teman setan lho ini."


"Astagfirullahal'adzim..." Empat gadis itu langsung beristighfar karena terkejut.


"Jaga omongan kamu, Kak!"

__ADS_1


"Salahku apa sih sama kamu?!" Chayra memberanikan diri menatap Ardian.


"Lho jangan macam-macam. Urusan kita belum selesai." Ardian menunjuk mata Chayra seraya berlalu.


__ADS_2