
"Assalamualaikum.." kembali pria itu mengucap salam.
Mereka semua menoleh serentak ke arah pintu. Ardian langsung melongos kesal saat melihat siapa yang datang. Menarik tangan Chayra agar tangan mereka saling bertautan saat pria itu melihatnya nanti.
"Eh, Kak Ghibran. Mari silahkan duduk, Kak." Bian bangkit mempersilahkan Ghibran untuk duduk.
Santi hanya tersenyum menyambut kedatangan Ghibran. Sedangkan Chayra, gadis itu hanya menunduk terdiam. Tidak menyangka kalau Ghibran akan berkunjung ke rumah ibunya saat dirinya ada di tempat.
Ghibran mendekat seraya menyalami Santi. Mencium tangan wanita yang gagal menjadi mertuanya itu. "Ibu apa kabar?" ucapnya berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik, Nak."
Ghibran menoleh pada pasangan yang sedang duduk di sofa panjang. "Zahra, Ardian, kalian ada disini juga ternyata." Mulutnya berkata begitu, tetapi matanya menatap tangan Chayra dan Ardian yang saling bertautan.
"Ehehehe.. iya, Pak." Jawab Ardian berusaha bersikap ramah. Padahal dalam hatinya dia mengumpat kesal. Andaikan tidak menjaga sopan santun pada mertuanya. Ingin rasanya dia bangkit dan mengusir Ghibran agar tidak lagi mendatangi rumah mertuanya. "Silahkan duduk, Pak."
"Oh iya, terimakasih Ardian."
Chayra ingin tertawa melihat akting suaminya. Patut diacungi jempol. Walaupun sedang menahan kesal, sikapnya yang sok ramah dan sok sopan berhasil ia lakukan.
"Selama kalian menikah, tumben nih aku berjumpa kalian disini. Padahal setiap Minggu aku selalu sempatkan waktu untuk mampir ke Ibu."
Ardian langsung mengalihkan pandangannya. 'Niat banget mau pamer kalau lho itu menantu idaman. Preeet... kalah saing lho, Pak Dosen sama gue' gerutunya dalam hati.
"Mm.. kami juga selalu sempatkan diri untuk mampir kok, Pak. Tapi, alhamdulilah kami selalu datang di saat anda tidak datang. Itulah mengapa anda tidak tau. Minggu kemarin juga Chay dan aku nginap disini. Iya kan, Bu?" Ardian menatap mertuanya penuh harap. Mudah-mudahan wanita itu membelanya.
"Eh, iya, Nak Ghibran. Kemarin malahan Ardian yang mau nginap lama-lama di sini. Tapi, Ayra yang menolak. Katanya, Ibu mertua dan Papa mertuanya selalu menanyakan kapan dia mau pulang. Disayang mertua dia itu, Nak." Santi cengengesan diakhir ucapannya.
'Hahaha... mampus lho. Niat banget mau merendahkan gue.' Ardian cekikikan.
"Apaan sih?!" Chayra sedikit menghentakkan tangannya yang masih di genggam Ardian.
Ardian yang terkejut langsung mengeratkan genggamannya. "Kenapa..?"
"Kita masuk, yuk. Aku nggak nyaman disini." Chayra berbisik pada Ardian.
"Ntar dulu, Chay. Nggak sopan banget rasanya kalau meninggalkan Pak Dosen yang sedang berbincang dengan kita." Sedikit mengeraskan suaranya sambil melirik ke arah Ghibran.
__ADS_1
Chayra mendengus. "Kalau begitu Kak Ardian diam saja disini. Aku mau ke kamar duluan. Eneg lama-lama disini." Chayra sudah bersiap untuk bangkit. Namun, tangan Ardian berhasil menahannya.
"Diam dulu, Chay. Sebentar saja.. setelah ini kan, kita akan pulang ke rumah baru."
Ghibran menautkan alisnya mendengarkan percakapan dua manusia di depannya. 'Sengaja mau pamer atau hanya mau manas-manasin aku ni bocah. Dapat uang darimana coba untuk beli rumah.' Menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Kamu dapat uang darimana untuk membelikan rumah baru untuk Zahra? Perasaan saya, kamu masih ditanggung orang tua." Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar dari mulut Ghibran. Pria itu bahkan langsung menutup mulutnya karena terkejut dengan ucapannya sendiri. "Astagfirullahal'adzim, maaf kalau pertanyaan saya terlalu pribadi."
"Oh, tidak apa-apa, Pak. Saya malah senang mendengar pertanyaan Bapak." Ardian mencoba menjawab dengan santai. Sebenarnya sih, hatinya sudah mendidih mendengar pertanyaan itu. 'Ngapain ikut campur sih? Mau gue ditanggung orang tua atau tidak. Apa hubungannya dengan lho. Toh, Chay sudah menjadi milik gue. Lho sih, hanya bayangan masa lalu.'
Ghibran tersenyum kecut seraya menatap Santi yang duduk beberapa senti di sampingnya. Lalu matanya beralih menatap Bian yang terlihat acuh tak acuh. "Oh,"
"Gue memang ditanggung orang tua. Tapi, bukan berarti gue nggak bisa hidup mandiri."
"Kak, ngomongnya yang sopan dong. Kan lagi ngomong sama Pak Dosen." Bisik Chayra.
"Eh, iya, aku lupa, Sayang."
Chayra langsung mencubit paha Ardian. "Jangan..." mengeratkan giginya karena kesal dengan Ardian yang sangat sulit dibilangin. "Kita masuk, ngantuk akunya." Langsung bangkit dan menarik tangan Ardian.
"Eheheh, maaf Pak Ghibran. Saya tinggal dulu. Chay mau ditemani istirahat. Ngantuk katanya." Berlari kecil mengejar istrinya yang sudah dulu belok menuju kamar.
"Tidak apa-apa, Bu. Ghibran yang salah dalam hal ini. Seharusnya Ghibran tidak sering berkunjung ke Ibu mengingat status Ghibran yang sekarang."
"Jangan berkata begitu, Nak. Menyambung silaturrahim itu baik."
Ghibran hanya tersenyum hambar. Matanya menatap ke arah tikungan tempat menghilangkannya bayangan Chayra tadi.
"Istirahat dulu, Nak. Atau kamu mungkin mau makan dulu. Belum makan siang, kan?"
"Nggak berselera, Bu. Udah banyak minum air putih juga tadi. Aku rencananya mau pulang besok. Makanya sekarang aku datang, mau pamit sama Ibu dan Bian."
"Lho, kamu mau pulang besok? Kebetulan Ibu juga besok mau ke Pesantren. Mau ke Makam Almarhum Mas Ari."
Ghibran tersenyum sumringah, memperbaiki posisi duduknya. "Kok bisa kebetulan sekali, Bu? Ibu mau pergi sama Bian saja atau dengan mereka juga." Menunjuk segan ke arah tikungan.
"Alhamdulillah, mereka berdua juga mau ikut. Kan kebetulan mereka lagi libur juga. Sekalian bulan madu sih, kata mertuanya kemarin saat Ibu mintakan izin."
__ADS_1
Raut wajah Ghibran langsung berubah mendengar ucapan Santi.
"I.. Ibu salah ngomong. Maaf, Nak.." Santi meraih air gelas di depannya, meneguknya sampai tersisa setengah.
"Mm.. tidak apa-apa, Bu. Toh, mereka kan sudah jadi suami istri. Aku mah siapa.. cuma calon yang nggak jadi." Mata Ghibran terlihat berair ketika mengatakan itu.
"Ibu sama Kak Ghibran bahas apaan sih. Bahas yang lain apa, yang bisa buat kita tertawa." Bian akhirnya angkat bicara, karena bosan mendengar ibunya dan Ghibran membicarakan masalah kakaknya.
"Kita ke taman belakang aja yuk, Kak. Sekalian Kakak berbagi ilmu pada Bian. Siapa tau, Bian berminat mengambil jurusan Ekonomi Syariah nantinya." Bian bangkit dan mendekati Ghibran.
"Kamu ajak Kak Ghibran ke belakang, Nak." Santi akhirnya ikut mendukung rencana putranya.
Ghibran menarik nafas dalam. "Ayo, Bi.. Kakak mau masak mie instan nanti. Mau petik sayuran di belakang untuk menambah gizi." Mengikuti langkah Bian yang sudah duluan keluar dari ruang tamu.
Baru saja melangkah ke arah taman, Bian menghentikan langkahnya. "Mm.. kita kembali aja, Kak." Mendorong pelan tubuh Ghibran.
"Lho, kenapa?" Ghibran kekeh ingin terus melanjutkan langkahnya.
"Nggak usah pokonya. Kita kembali saja. Atau kita masak mie sekarang. Tidak usah pakai sayur atau nanti Bian saja yang petik sendirian."
"Kamu kenapa sih?" Ghibran menepis tangan Bian. "Memangnya ada ular atau ada hantu di sana?"
"Ada penampakan yang akan menimbulkan sakit hati untuk Kak Ghibran." Bian merentangkan tangannya. Tidak menyerah walaupun Ghibran menepis tangannya tadi.
Ghibran berjinjit agar bisa melampaui tubuh Bian. Penampakan apa maksud ka...." Ucapan Ghibran langsung terhenti. Mulutnya seperti terkunci. Penampakan dua manusia beberapa meter di depannya benar-benar langsung menusuk mata hatinya.
"Tuh kan, Bian sudah bilang sama Kakak, kita kembali saja. Masih saja keras kepala." Bian membuang nafas kasar seraya menurunkan tangannya perlahan. "Dibilangin juga suruh balik, masih aja keras kepala."
Ghibran tersenyum kecut. Kakinya mundur beberapa langkah. "Ternyata, Zahra bahagia hidup dengan pria itu. Aku kira, selama ini dia hanya pura-pura bahagia di hadapanku. Ternyata.. dia.. memang benar-benar bahagia dengan pria itu."
"Kenapa Kak Ghibran berkata begitu? Kenapa Kak Ayra tidak bahagia. Kak Ardian itu orangnya baik kok. Cuman, dia sedikit lemah dalam urusan agama. Tapi dia itu tekun belajar Kak. Sekarang aja baca Al-Qur'an sudah fasih. Sudah layak dijadikan imam shalat."
Ghibran kembali tersenyum kecut. "Kamu senang melihat kakakmu menikah dengannya?"
"Mm.. aku sih, senang kalau kakakku senang. Dan aku akan marah kalau dia sampai membuat kakakku sedih. Karena bagaimanapun juga, kebahagiaan Kak Ayra yang aku utamakan. Tapi, alhamdulilah sejauh ini.. aku lihat Kak Ardian selalu membuatnya tertawa. Seperti yang Kak Ghibran lihat sekarang. Kak Ayra sedang tertawa bahagia dengan suaminya. Aku nggak tau apa yang membuat mereka tertawa. Tapi, aku ikut bahagia menyaksikan kebahagiaannya."
Ghibran menunduk memijit matanya yang terasa ingin mengeluarkan air mata. Beberapa kali terdengar hembusan nafas kasar darinya, sebelum dia mengangkat wajahnya kembali.
__ADS_1
********