
Lanjutan Ardian POV..
Aku terkejut mendengar ucapan Bian. "Jangan lakukan itu, Dek. Aku tidak mau masalah sepele ini jadi panjang nanti."
"Tapi kalau dibiarkan terus bisa-bisa Kak Ghibran ngelunjak nanti."
"Insya Allah tidak akan, Dek. Aku malahan ingin bicara sama Kak Zidane saja. Jika dengan Kak Zidane masalah ini tidak akan melebar kemana-mana. Lagian untuk apa kita mendengarkan omongan orang yang tidak tau dengan seluk beluk kehidupan yang kita jalani." Aku mencoba memberikan pencerahan kepada Bian agar anak ini tidak melakukan apa yang dikatakannya tadi.
"Tapi aku nggak suka melihat Kak Ayra menangis seperti tadi, Bang. Aku juga sakit melihat Kak Ayra disakiti."
"Biarkan saja, Dek. Anjing menggong-gong kafilah berlalu. Omongan orang itu jangan terlalu diambil hati."
Bian menarik nafas panjang. "Mudah-mudahan aku bisa menahan diri untuk tidak melaporkan kejadian ini pada Kakek, Bang. Do'akan saja semoga aku bisa." Bian bangkit setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia berlalu meninggalkanku bersama Adzra.
Aku tersenyum menatap putraku yang naik ke atas pangkuanku ketika pamannya pergi. Adzra tiba-tiba mencium pipiku lalu memeluk leherku. Ya Allah.. kenapa aku merasa sedih mendapati putraku melakukan hal ini padaku. Apakah dia juga merasakan keresahan yang sedang dirasakan oleh orang tuanya ini...
Author POV...
Ardian balik memeluk putranya. Dia merasa haru karena sepertinya anak itu seolah-olah menguatkannya untuk menghadapi masalah ini.
"Adzra sudah maem, Sayang?"
"Dah.. pa.. pa.."
Ardian mencium gemas pipi putranya. Adzra masih belajar ngomong dan suaranya masih terputus-putus. Terkadang orang tuanya mengerti apa yang diucapkannya, terkadang juga anak itu nangis karena orang tuanya tidak paham yang diinginkannya.
"Kita ke Mama, ya.. Adzra mau mimik?" Adzra mengangguk membuat Ardian tersenyum.
Saat membuka pintu kamar, Ardian mendapati istrinya sedang duduk di atas tempat tidur. "Udah bangun..?" tanyanya seraya berjalan mendekat. "Sepertinya Adzra lapar, Chay. Dia mau mimik katanya.."
"Dia memang tidak pernah mimik dari tadi sore, Mas. Dia hanya memelukku beberapa kali saat dia melihatku menangis tadi."
"Sudah, Chay. Masalah sepele itu jangan terlalu diambil hati. Biarkan dia menilai kehidupan kita semaunya. Terserah mau bilang kita tidak bahagia atau apa. Yang menjalani hidup dengan aku itu, kamu. Apa yang kamu rasakan selama menjadi istriku, kamu bisa menyimpulkannya sendiri."
Chayra tersenyum lemah seraya menatap manik mata suaminya. Dia tau betapa suaminya itu sedang berjuang untuk menyempurnakan kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Mas..."
"Mm..."
"Antar aku ke Kantor Kak Zidane besok."
Ardian sedikit terkejut mendengar permintaan istrinya. Tapi, tatapan mata istrinya terlihat sangat yakin kalau permintaannya tidak salah. "Mau apa, Sayang?"
"Aku akan membuktikan kalau yang dikatakan Kak Ghibran tadi siang itu salah besar."
__ADS_1
"Tapi..."
"Aku mohon sama kamu, luangkan waktumu untuk mengantar aku besok."
"Baiklah, aku akan ke Kantor besok. Tapi, aku akan menghubungi saat aku ada waktu luang."
"Usahakan pagi, Mas. Jam berapapun yang penting pagi."
"Ok, Sayang. Tapi kamu harus janji sama aku."
"Janji untuk apa, Mas."
"Kamu harus berjanji, kalau kamu tidak akan menangis lagi gara-gara orang menghinaku."
Chayra terdiam beberapa saat sambil menatap mata suaminya. "I.. insya Allah, Mas. Aku takut tidak bisa menepati janji jika aku mengucap janji."
"Kamu yang paling tahu seperti apa suamimu ini. Jika kamu menilainya buruk, kamu bisa membenarkan kata-kata orang yang mengatakan aku buruk. Sebaliknya, jika kamu menilai aku baik, kamu bisa menyalahkan kata-kata orang yang menilai aku buruk." Ardian mengatakan itu sambil menempelkan tangan istrinya di dadanya.
Chayra tersenyum haru mendengar ucapan bijak suaminya. Benar kata Ardian, dia yang paling tahu suaminya. Untuk apa dia harus bersedih hati mendengar penilaian buruk seseorang tentang suaminya.
"Jangan di pikirkan lagi ya.." Ardian mengusap lembut kepala istrinya. "Ada yang mau aku selesaikan sebentar. Aku tinggal ke ruang kerja, nggak apa-apa kan?"
"Iya, Mas. Semangat.. fighting..." Chayra mengepalkan tangannya untuk menyemangati Ardian.
Ardian hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan melihat tingkah istrinya.
Pukul sebelas malam, Ardian kembali ke dalam kamar. Semua lampu sudah dimatikan. Hanya lampu tidur di samping tempat tidur yang menyala sebagai sumber cahaya di kamar itu. Adzra juga sudah dipindahkan oleh istrinya.
Saat akan merebahkan tubuhnya, Ardian teringat kalau dirinya belum mendirikan shalat Isya. "Astagfirullahal'adzim.." ia mengusap wajahnya dengan kasar seraya bangkit kembali. Ia mengecup dahi istrinya sekilas sebelum berlalu.
___________
Ardian merebahkan tubuhnya kembali usai mendirikan shalat. Saat mengangkat selimut yang menutupi tubuh istrinya, ia tersenyum seraya mengusap wajahnya kembali. Sepertinya istrinya sengaja memakai lingerie malam ini. Apakah puasa dari nafkah batin selama hampir satu minggu ini membuat perasannya tak karuan? Apakah malam ini dia akan berbuka puasa?
Ardian merebahkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Chayra. Ia menggigit pelan daun telinga istrinya seraya berbisik lembut. "Chay.. aku lapar.."
Chayra menggeliat lalu kembali meringkuk dalam pelukan suaminya.
"Sayang... apa aku sudah boleh berbuka sekarang? Sudah berapa hari loh, aku puasa." Ardian mencium pipi Chayra lalu kembali memeluk tubuhnya.
Chayra mengerjap-ngerjap. "Mas... kamu sudah pulang?"
Ardian tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Kesadarannya dipulihkan dulu, Sayang. Aku kan memang sudah pulang dari tadi banget. Aku kan sempat ngobrol sama kamu tadi sebelum tidur."
"Mm... benarkah, Mas?" Suara Chayra serak karena masih setengah sadar.
__ADS_1
"Aku boleh buka puasa kan?"
"Hmm..." Chayra mulai mengumpulkan kesadarannya kembali.
"Kok hmm..." tangan mulai tidak bisa dikondisikan.
"Aku kan belum menjawab, Mas.." Chayra menggeliat karena geli dengan ulah suaminya.
"Tadi kamu bilang hmm.. aku mengartikan kata hmm itu dengan kata iya." Tangan semakin lincah kesana kemari.
"Mas..."
"Iya, Sayang.."
"Sudah, ah.. kamu tidak bisa dibilang nanti dulu."
Akhirnya kegundahan malam itu terbayar dengan penyatuan badan yang saling merindukan.
"Chay.. boleh aku nambah berbukanya.." Ardian kembali membuka percakapan setelah acara berbuka ronde pertama selesai. Padahal dia sudah terkapar di samping istrinya, tetapi entah dia hanya ingin berbasa-basi atau tenaganya masih ada yang tersisa untuk melanjutkan ke ronda selanjutnya.
"Aku lapar, Mas. Tadi kan nggak sempat makan malam dulu. Gara-gara masih kepikiran omongan unfaedah orang tadi siang, aku jadi nggak selera makan."
Ardian memiringkan tubuhnya menghadap Chayra. "Jujur, aku juga lapar, Chay. Saat pulang tadi, aku melarang Dodit untuk berhenti mencari makan. Aku bilang ke dia, kalau kamu pasti sudah menyiapkan makan malam yang spesial untukku. Tapi, sampai rumah malah kayak tadi. Aku juga sangat lapar tadi, tapi melihat kamu menangis, rasa lapar berganti menjadi rasa bingung."
"Maaf membuat kamu khawatir. Insya Allah, lain kali aku akan berusaha untuk memfilter ucapan orang yang masuk di telingaku."
"Kita istirahat sekarang. Besok pagi saja kita makan. Tidak baik juga makan jam segini."
"Iya, Mas.." Chayra memeluk tubuh suaminya dengan kepala menempel di dada Ardian. Hal biasa yang dia lakukan setelah selesai berhubungan suami istri.
Pagi itu...
Ardian bangun pukul empat pagi. Istrinya sudah tidak ada disampingnya. Itu berarti Chayra sudah bangun. Saat bangkit, ia melihat istrinya berada di pojok kamar. Duduk di atas sajadah dengan kitab suci Al-Qur'an di tangannya. Hal itu membuat Ardian menarik sudut bibirnya. Ia beringsut turun dan segera ke kamar mandi karena setengah jam lagi akan masuk waktu subuh.
Usai mendirikan shalat subuh..
"Laparnya masih bisa ditahan kan, Mas?"
"Masih kuat. Sampai jam delapan pun aku masih kuat. Kalau kamu malas masak, nanti kita sarapan di luar saja. Kamu juga pasti capek dari kemarin urus Adzra sendirian."
"Nggak kok, Mas. Aku nggak merasa capek sama sekali. Cuman, tidak ada yang bisa aku masak. Ternyata kulkas kosong. Aku baru ingat kalau Bian protedms tadi malam karena tidak ada yang bisa dimasak."
"Kamu bersiap saja. Kamu ikut aku ke Kantor hari ini. Nanti kita ke Kantor Kak Zidane lewat sana saja, biar aku tidak perlu menjemput kamu nanti."
"Iya, Mas. Aku mau mempersiapkan keperluan Adzra sementara dia bangun. Nanti kalau dia bangun tinggal dimandikan saja." Chayra berlalu dari hadapan suaminya.
__ADS_1
*********