
Chayra mengusap air matanya usai melaksanakan shalat Subuh. Ia hanya merenung selepas kepergian ibunya sampai waktu Subuh tiba. Kenapa kejadian itu benar-benar berbekas dan seperti merobek-robek perasaannya. Hatinya akan sakit jika mengingat bagaimana Ardian berbuat semaunya pada dirinya. Isak tangisnya kembali terdengar.
Chayra bangkit sambil mengusap kembali air matanya yang tumpah. Ia harus berani keluar kamar. Mengangguk mantap pada dirinya sendiri. Sudah banyak kisah tentang korban pemerkosaan yang dibacanya. Ada yang bangkit, ada pula yang sampai bunuh diri karena tidak kuat menjadi bahan celaan.
Ia membuka mukenahnya lalu berjalan menuju pintu. Ia terlihat ragu saat akan memutar kenop pintu. Menggenggam tangannya erat seraya berbalik lagi. Ia merasa belum siap untuk menyambut suara-suara yang akan masuk ke indra pendengarannya.
Chayra berjalan pelan mendekati cermin, melihat pantulan dirinya dengan rasa iba. Iya, Chayra kasihan pada dirinya sendiri. Tersenyum hambar melihat bayangan wajahnya. Melepas peniti kecil di bawah dagu yang mengait jilbabnya. Melepas perlahan jilbab segi empat yang menutup kepalanya. Chayra memejamkan matanya saat melihat noda bekas perbuatan Ardian yang belum hilang sampai saat ini. Padahal kejadian itu sudah lewat satu minggu. Namun, noda itu masih melekat di leher jenjang gadis itu.
Chayra menghapus air matanya dan tersenyum, kembali menatap bayangannya di cermin. "Bismillah, kuatkan hamba ya Allah." Ucapnya lirih seraya memasang kembali jilbabnya.
Chayra berdiri di belakang rumahnya. Tempat ternyaman untuknya baik sebelum maupun sesudah musibah itu menimpanya. Sangat senang menatapnya kebun kecilnya yang dipenuhi dengan berbagai jenis sayuran itu. Menghirup dalam-dalam udara sejuk yang terasa sangat nyaman saat masuk ke indra penciumannya.
Bu Santi memperhatikan putrinya dari pintu belakang rumahnya. Walaupun Chayra hanya berdiri di kebun belakang rumahnya. Bu Santi sangat bersyukur atas hal itu. Setidaknya putrinya ada perubahan dan tidak terus menerus menjadi penghuni kamar yang tidak memiliki aktivitas. Ia masuk kembali setelah melihat senyuman putrinya.
Chayra berjalan lebih mendekat, berdiri menatap tanaman sayurannya yang tumbuh semakin subur. Senyuman kecil terlihat dari bibirnya yang tipis. Namun, senyuman itu tiba-tiba pudar dan tatapannya terhenti pada satu pohon sayur yang daunnya habis dimakan ulat. Berjalan mendekat dan sedikit menunduk sambil memperhatikan tanaman itu.
Chayra kembali berdiri. Tiba-tiba saja ia memikirkan dirinya yang sudah ternoda dan ia kaitkan dengan pohon sayur yang dimakan ulat itu. Perlahan kembali menunduk dan memperhatikan lagi pohon sayur itu. Ada tunas baru yang muncul di pohon sayur itu.
Sayur saja yang hanya sebuah tanaman, memiliki tunas baru. Apakah aku yang seorang manusia yang diberi akal oleh Sang Pencipta tidak bisa memiliki harapan baru dalam hidup, batinnya. Chayra bangkit dan memejamkan matanya. Air mata jatuh setetes dari matanya yang sayu.
"Aku sudah ternoda. Kesucian sebagai seorang wanita tidak lagi m njadi milikku. Chayra yang sekarang tidak sempurna dan tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu." Air mata kembali jatuh. Chayra membuka matanya, menatap kembali tanaman tadi.
"Akan tetapi, aku harus bangkit untuk melanjutkan hidup. Seperti kamu yang memiliki tunas baru untuk kehidupan barumu." Menyentuh tanaman itu sambil tersenyum.
Pria yang berdiri beberapa meter dibelakangnya tersenyum sambil berjalan mendekat ke arahnya. "Hal itu yang sangat aku harapkan darimu. Menerima takdir yang sudah digariskan Allah dan melanjutkan rencana-rencana yang sempat tertunda karena musibah ini. Kamu harus bangkit, jangan terus-terusan meratapi nasib. Masih banyak orang yang menyayangimu dan menginginkan kamu untuk kembali menjadi Chayra Azzahra yang dulu.
__ADS_1
Chayra langsung berbalik karena terkejut mendengar suara itu. Dia hanya bisa menelan ludahnya melihat laki-laki yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. "Kak Ghibran..." Ucapnya lirih, hampir tak percaya dengan yang dilihatnya.
"Iya, ini aku. Aku datang untuk kamu. Aku menunggu kamu, agar kita bisa melanjutkan rencana kita yang sempat tertunda." Ghibran berjalan lebih mendekat pada Chayra.
Chayra mundur beberapa langkah sambil menggeleng-geleng pelan. Terlihat jelas kalau dirinya belum siap bertemu dengan pria itu. "P.. pergi, Kak! Jangan dekati aku. Aku hanyalah wanita kotor." Bergegas meninggalkan Ghibran. Masuk ke dalam rumahnya melalui pintu belakang.
Ghibran hanya diam ditempat, bingung mau berbuat apa. Saat dia datang tadi, Bu Santi melarangnya untuk menemui Chayra dulu karena kondisi psikis gadis itu yang belum stabil. Namun, ia bersikeras dan terlalu yakin kalau Chayra akan menerima kehadirannya. Ia hanya bisa menatap jejak Chayra yang sudah hilang di balik pintu.
Ia tersenyum lemah pada dirinya sendiri. "Kamu terlalu percaya diri, Ghibran. Lihatlah! Zahra bahkan langsung pergi meninggalkan kamu saat kamu belum selesai ngomong." Ghibran tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang terlalu mengharapkan Chayra yang akan bisa tersenyum kembali saat melihat dirinya.
"Maafkan sikap adikku yang seperti itu, Ghi. Sungguh, dia benar-benar terpuruk karena kejadian itu. Beri dia waktu lagi untuk memikirkan rencana kalian."
Ghibran berbalik dan mendapati Zidane di belakangnya. "Eh, kapan kamu datang?" Buru-buru mengusap air mata yang keluar tanpa diminta. Dia tidak mau Zidane melihatnya menangis. Namun, sekuat apapun dia menyembunyikannya, matanya yang sedikit memerah sudah menjadi bukti kuat bagaimana dia juga merasakan sakit melihat keadaan calon istrinya.
"Maafkan Ayra ya." Zidane menepuk pundak Ghibran untuk menguatkan.
Zidane menggeleng. "Ayra tidak mau kami melapor polisi. Dia bilang, akan semakin banyak orang yang mengetahui aibnya kalau kasus ini dipolisikan."
"Tapi.." Ghibran memejamkan matanya. "Hah, ya Allah, aku harus bagaimana?" Ghibran mengacak-acak rambutnya karena kesal. "Zahra terlihat sangat hancur."
Zidane mengangguk menyetujui ucapan Ghibran. "Ini adalah hari pertamanya dia mau keluar kamar setelah beberapa hari. Beberapa hari setelah kejadian itu, dia sangat nyaman di tempat ini. Tapi, entah apa yang didengarnya dari orang-orang yang melintas. Dia tidak mau lagi keluar kamar dan selalu menghina dirinya sendiri."
"Sampai kapan dia akan seperti ini terus, Zidane?"
Zidane tersenyum hambar. "Hanya Allah yang tau sampai kapan Ayra akan seperti ini. Tapi alhamdulilah, setiap hari selalu ada perkembangannya."
__ADS_1
"Aku ingin segera menikahinya agar pundak ku halal sebagai tempatnya bersandar."
"Keputusan hanya ada pada Ayra. Kami semua tidak berani memutuskan apapun karena dia benar-benar sensitif saat ini. Melihatnya seperti ini saja sudah menjadi anugerah yang luar biasa untuk kami." Zidane tersenyum kecut. "Andaikan kamu melihat saat dia ditemukan. Mungkin.. kamu akan mengamuk dan membunuh pelakunya."
"Kalian sudah tau pelakunya, lalu kenapa kalian tidak segera menyelesaikan masalah ini. Kasihan Zahra.."
"Kakek sudah bicara baik-baik dengan keluarga laki-laki itu. Kebetulan orang tua pria itu adalah kolagenya Kakek."
"Lalu apakah Kakek akan membebaskan pria brengsek itu hanya karena orang tuanya adalah kolagenya?"
"Tidak seperti itu juga, Ghi. Orang tuanya sudah siap menerima konsekuensi apapun yang akan diberikan Kakek untuk putranya. Tapi seperti yang aku sudah katakan dari awal. Ayra yang menolak kalau kami lapor polisi. Dia tidak mau aibnya semakin tersebar."
Ghibran terdiam beberapa saat mendengar penjelasan Zidane. "Aku.. aku ingin bicara dengan Zahra."
Zidane kembali tersenyum hambar. Senyuman yang terus menerus diberikannya pada Ghibran. "Dia ada di kamar saat ini kalau kamu ingin menemuinya. Jika kamu tidak menemukannya sedang menangis, maka kamu akan menemukannya sedang shalat."
"Masya Allah," Ghibran benar-benar kagum mendengar cerita Zidane.
"Itu hal yang patut kami syukuri. Walaupun dia terpuruk, tetapi setidaknya dia tidak lari dari Tuhan. Dia selalu mengadu pada Allah. Tidak mempublikasikan keadaanya di Medsos, tetapi dia mengadukan keterpurukannya pada Allah."
"Izinkan aku menemuinya, Zidane."
"Jangan minta izin sama aku. Kamu minta izin sama Ibu sana."
"Aku.. aku malu bicara sama Ibu. Dia terlalu lemah lembut dan terlihat sangat penyantun."
__ADS_1
Zidane menepuk pundak Ghibran. "Kamu tidak boleh malu. Dia itu calon mertua kamu. Kamu berani mencintai anaknya, kenapa kamu harus malu hanya untuk minta izin padanya."
Ghibran menarik nafas dalam. "Bismillah," menatap Zidane dengan tatapan penuh keyakinan.