
Hari ini adalah hari terakhir Ardian masuk kerja setelah mengajukan cuti sejak satu Minggu yang lalu. Dia harus standby di rumah untuk jaga-jaga kalau istrinya melahirkan sewaktu-waktu.
Sejak pagi, mejanya sudah dipenuhi oleh berkas yang menumpuk. Iya, Dodit menyerahkan setumpuk kertas pada Ardian begitu Ardian mendaratkan bokongnya di atas kursi kerjanya. Untungnya saja Chayra selalu menyediakan jasa servis untuk suaminya sebelum berangkat kerja, sehingga Ardian selalu tersenyum walaupun terkadang pusing mengurus berkas yang tidak kunjung habis. Pagi ini, dia harus mempersiapkan berkas untuk bahan rapat Pak Randi sore nanti.
"Ar, mau ngopi nggak? Kalau mau aku buatkan sekalian." Tawaran dari Dodit karena melihat Ardian yang terlihat fokus di depan komputer.
"Kopi buatan kamu enak nggak?" Jawab Ardian tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.
Dodit mendengus. "Ditawarin malah pakai acara bertanya lagi. Gue mau menyeduh kopi kemasan. Nggak percaya diri gue kalau meracik kopinya sendiri. Sering kemanisan kalau meracik sendiri."
"Lah, itu jawaban kamu aja kayak gitu. Kenapa harus marah kalau aku mempertanyakan kopi buatan kamu enak atau tidak."
"Udah, mau apa nggak? Kalau nggak mau gue mau buat untuk diri sendiri. Gue bawa satu sachet saja. Tapi kalau lho mau, gue bawa dua."
"Itu kopi mereknya apa? White or black..?"
Dodit kembali mendengus. "Sudah ah, kelamaan.. Nanti kalau kamu mau buat sendiri." Dodit berlalu sambil melengos kesal. "Ditawarin malah nggak ada terima kasih." Menggerutu sambil menutup pintu, awalnya ingin membanting, tetapi ia urungkan. Memegang pintu agar tidak bersuara keras.
Ardian yang melihat kejadian itu senyum tertahan. "Jangan coba macam-macam, Dit. Kita ini bukan Bos yang bisa bebas melakukan apapun. Ingat posisi masing-masing." Sengaja Ardian berkata dengan nada menyindir. Dodit menongolkan kepalanya di pintu sambil tersenyum meringis.
"Sebagai imbalan karena aku sudah memperingati kamu, buatkan aku kopi seperti yang kamu tawarkan tadi."
"Heh, tadi sok-sokan melakukan tawar-menawar. Eh, sekarang malah mau dibuatkan."
"Aku hanya menghargai tawaran kamu tadi."
Dodit tidak merespon ucapan Ardian, melanjutkan langkahnya ke pantry untuk membuat kopi seperti niatnya di awal tadi.
Ardian masih sibuk sampai waktu makan siang tiba. Demi mencapai target pekerjaan, dia tidak keluar untuk makan siang. Hanya memakan biskuit dan coklat beng-beng untuk mengganjal perutnya.
"Kamu nggak makan siang dulu, Ardian?"
Ardian mengangkat kepalanya dan melihat Pak Randi yang berdiri di depan meja kerjanya. "Eh, maaf, Pak. Nanggung kalau ditunda. Berkas untuk rapat sore ini sudah saya siapkan, Pak. Sebentar lagi saya antar ke ruangan Bapak." Ardian bangkit untuk mengambil berkas yang sudah dia siapkan sejak pagi tadi.
"Saya tidak menagih itu, Ardian. Aku hanya kasihan melihat kamu sejak pagi tidak pernah istirahat. Apa mata kamu tidak perih menatap layar komputer terus."
"Ng.. tidak, Pak. Saya sudah dua kali istirahat kok sejak pagi. Tadi pagi pas shalat Dhuha dan pas shalat Zuhur tadi. Beberapa kali menoleh ke lain arah agar mata saya tidak perih."
Pak Randi mendekat kalau menepuk pelan pundak Ardian. "Good luck. Semoga ke depannya kamu semakin baik. Aku sudah lihat hasil kerja keras kamu beberapa Minggu terakhir ini."
__ADS_1
"Terimakasih, Pak."
"Iya sudah, saya tinggal dulu. Jangan lupa istirahat."
"Terimakasih perhatiannya, Pak."
Pak Randi mengangguk sambil berlalu dari hadapan Ardian.
********
Bu Santi tergesa memasuki rumah putrinya. Chayra menghubunginya satu jam yang lalu kalau perutnya terasa mulas teratur selang sepuluh menit sekali. Bu Santi hanya menyuruh putrinya untuk sabar dan tenang sementara dia sampai.
"Ayra.." Bu Santi langsung mencari keberadaan sang putri begitu menginjakkan kaki di depan pintu.
"Nona Ayra ada di atas, Nyonya. Dia masih di kamarnya. Bibi memintanya menunggu Ibu di bawah, tapi dia menolak." Bi Idah langsung menjawab dengan panik.
"Apa Ardian belum pulang?"
"Nona melarang Bibi untuk mengabari Tuan, Nyonya."
"Astagfirullahal'adzim, dia harus pulang apapun keadaannya. Sekarang Bibi hubungi Ardian suruh dia langsung pulang karena istrinya akan segera melahirkan."
"Baik, Nyonya."
"Suami kamu kemana sih, Nak... Ya Allah sudah berapa kali dihubungi belum juga angkat telepon." Bu Santi mengusap wajahnya dengan kasar. Keadaannya benar-benar bingung saat ini.
"Ibu tenang, Mas Ardian pasti masih sibuk makanya tidak bisa dihubungi." Chayra akhirnya bisa menimpali ucapan ibunya setelah menarik nafas dalam dan kontraksi hilang.
"Ibu akan menghubungi Alesha dulu kalau. begitu. Kita harus ada teman nanti biar bisa bagi tugas." Sepanjang sisa perjalanan akhirnya di habiskan Bu Santi untuk menghubungi anggota keluarganya. Termasuk juga di dalamnya menghubungi besannya.
Sementara itu...
Ardian masih saja sibuk di kantornya. Dia sadar handphonenya berbunyi berulang kali. Tetapi hanya untuk bangkit dan melihat siapa yang menghubunginya sangat berat. Sengaja meletakkan handphonenya di lemari kecil tempatnya menyimpan sajadah agar benda gepeng itu tidak menggangu konsentrasi kerjanya.
Tapi, hal itu malah membuatnya tidak sadar kalau sang istri sedang membutuhkannya saat ini.
Bu Santi kembali menghubunginya setelah Chayra dibawa ke ruang bersalin. Saat sampai di depan IGD tadi, Dokter langsung memerintahkan untuk di bawa ke ruangan Obgyn karena ada Pasien gawat di IGD.
"Ardian, hp kamu perasaan bunyi terus dari- tadi. Kenapa nggak dilihat sebentar siap tau ada hal penting." Dodit menongolkan kepalanya di dinding pembatas antara meja kerjanya dan meja Ardian.
__ADS_1
"Nanggung, Dit. Sebentar lagi kelar." Jawab Ardian. Tangannya sibuk mengetik sesuatu.
"Tapi berisik tau nggak. Seharusnya kalau kamu tidak mau diganggu, kamu matikan saja atau pakai mode silent."
"Mm... sebentar lagi.. anggap saja nada dering itu lagu pengantar tidur."
"Shiiiitttt... kerjaan aku masih banyak, Ardian." Dodit bangkit untuk mematikan handphone Ardian yang masih saja berbunyi.
Ardian merenggangkan ototnya saat dirasa kalau pekerjaannya sudah kelar. "Alhamdulillah... akhirnya aku bisa pulang istirahat dengan tenang sekarang."
"Ar, lihat deh.. yang menghubungi kamu dari tadi itu Ibu mertua kamu. Dia tidak mungkin menghubungi kamu sesering ini kalau tidak ada hal yang penting."
Ardian tertegun, sepersekian detik dia mencoba mencerna maksud ucapan Dodit.
"Ibu mertua?"
"Iya, kamu coba lihat deh. Kayaknya ada hal penting." Dodit meletakkan handphone Ardian di depannya. "Ada pesan juga kayaknya. Tapi, handphone kamu terkunci." Dodit langsung masuk kembali dan duduk kembali di depan meja kerjanya.
Ardian langsung meraih handphonenya. "Astagfirullahal'adzim..." ucapnya menjerit. "Ya Allah, Chay..." Ardian segera bangkit dan membereskan meja kerjanya. Dodit yang baru masuk kembali menongolkan kepalanya. "Ada apa, Ar?"
"Istri.. istri aku dibawa ke Rumah Sakit." Wajah Ardian tampak tegang.
"Tuh kan, apa aku bilang tadi. Pasti ada hal penting. Kamu terlalu fokus bekerja." Dodit akhirnya kembali ke meja kerja Ardian. "Sudah pulang sana. Nanti biar aku yang bereskan meja kerja kamu."
"Terimakasih, Dit. Semoga rizki kamu semakin lancar dengan kebaikan yang kamu perbuat." Ardian bergegas meninggalkan ruangannya tanpa menunggu jawaban Dodit. Batu sampai di depan pintu, ia berbalik lagi. "Tas kerja aku ketinggalan, dompet sama jam tangan juga."
Dodit menarik tangan Ardian. "Tenang, Ar. Kamu akan menyetir mobil sekarang. Akan bahaya kalau kamu menyetir dalam keadaan panik seperti ini." Dodit membawa Ardian duduk di sofa depan ruangannya. "Sekarang tarik nafas dulu, istighfar.. yakin kalau istri kamu baik-baik saja. Kan dia sudah dibawa ke Rumah Sakit. Dia pasti sudah mendapatkan penanganan medis. Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi kalau kamu masih panik."
"Kalian kenapa duduk di sini?" Pak Randi yang baru keluar dari ruangannya terkejut melihat dua Asistennya duduk di sofa dengan posisi seperti saling menguatkan.
"Eh, anu, Pak. Ini... istrinya Ardian mau melahirkan. Tapi, dia panik sekali tadi. Aku khawatir aja kalau dia bawa kendaraan dengan keadaan panik, bisa bahaya nanti."
Oak Randi melototkan matanya terkejut. "Buruan pulang kalau begitu. Biar istri kamu cepat dibawa ke Rumah Sakit."
"Sudah dibawa sama Ibu mertua, Pak."
"Kalau begitu kamu menyusul sekarang. Atau kalau kamu khawatir bawa mobil sendiri, biar Dodit yang antar sebentar. Nggak apa-apa kan, Dit?"
"Eh, iya, Pak baik.. ayo.." Dodit langsung menarik tangan Ardian yang terlihat pasrah ditarik.
__ADS_1
Beberapa kali Ardian mengumpat saat bertemu dengan lampu merah. Dodit hanya bisa menggeleng-geleng pelan melihat tingkah Ardian. "Sabar, Ardian...." Untung saja Dodit mengikuti saran Pak Randi untuk mengantar Ardian. Entah apa yang akan terjadi kalau pria itu membawa mobilnya sendiri.
********