Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Chayra sakit


__ADS_3

"Kamu belum menjelaskan secara terperinci hasil pemeriksaan kamu tadi." Ardian kembali menanyakan hasil periksa setelah Chayra menghabiskan baksonya.


"Huh, siapa suruh nggak hadir tadi."


"Tadi katanya sudah maklum. Aku nggak bisa hadir karena tidak tau bagaimana harus menghindar dari Papi dan Mami."


"Iya aku sudah tau itu."


Ardian menarik tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Jenis kelamin anak kita, Sayang."


Chayra langsung menarik tangannya. Mendelik melirik suaminya. "Ngebet banget mau tau jenis kelaminnya."


"Harus tau lebih awal agar kita mengadakan persiapan."


"Aku yang menolak untuk dikasih tau. Bu Dokter tadi hampir saja keceplosan mengatakan jenis kelaminnya."


"Kenapa emannya?"


"Aku nggak mau tau jenis kelaminnya kalau Kakak tidak ikut hadir di ruang periksa."


"Kamu kenapa kayak gitu, Sayang? Ini sudah masuk bulan kelima. Seharusnya...."


"Apa...?"


"Seharusnya..."


"Seharusnya Kak Ardian meluangkan lebih banyak waktu lagi untuk aku. Aku nggak mau sewaktu-waktu kalau terjadi sesuatu terus Kakak nggak ada ditempat. Nggak usah menjadi orang yang terlalu gila kerja sampai lupa kewajiban pada keluarga."


"Ya Allah, Chay...."


"Kenapa, nggak suka aku ngomong kayak gini?"


"B.. bukan begitu, Sayang." Ardian menatap sekeliling. Warung bakso itu cukup ramai. Namun, semua pengunjung sibuk dengan kesibukan masing-masing, sehingga tidak ada yang terlalu perduli dengan perdebatan suami istri itu. Posisi mereka juga yang berada di pinggir tembok membuat mereka tersembunyi. Sengaja mengambil tempat duduk di pinggir agar Chayra bisa membuka cadarnya dan tidak kewalahan saat makan.


"Aku janji, Insya Allah jadwal periksa selanjutnya aku akan terus di samping kamu. Kalau perlu kamu duduk di atas pangkuan aku selama menunggu. Terus, aku akan gendong kamu saat memasuki ruang periksa."


"Hoek ... lebuy ni orang. Udah ah, kita pulang aja Kak. Aku takut lapar lagi kalau terlalu lama di sini."


Ardian mengernyit mendengar ucapan Chayra. "Lapar lagi?"


"Udah, ayo.." Chayra menarik tangan Ardian untuk bangkit. "Oh iya, berhubung Kakak melakukan banyak kesalahan hari ini. Jadi, bakso tadi Kak Ardian yang bayar."


"Iya, iya.. tanpa diminta saja aku sadar diri kok. Kamu tunggu aku di depan. Mobil aku masih di parkiran sebelah timur." Ardian berjalan menuju kasir. Sedangkan Chayra keluar dari warung bakso sambil menahan senyum.


********


Ardian berusaha untuk menjadi suami yang lebih siaga. Selepas kepergian orang tuanya ke Amerika, dia lebih leluasa dalam bertindak. Tidak ada yang menginterogasinya kalau dia terlambat datang ke Kantor.


Rumah baru sudah dia beli. Ada rencana ingin pindah rumah juga. Tapi, melihat kondisi istrinya yang semakin kewalahan dan selalu butuh bantuan, dia jadi tidak enak hati untuk mengutarakan keinginannya itu pada mertuanya.


Memasuki bulan keenam, Ardian semakin antusias. Apalagi saat jadwal periksa istrinya. Sengaja meminta Dodit untuk menunda jadwalnya yang sekiranya akan bertabrakan dengan jadwal kontrol istrinya. Tidak mau membuat istrinya kecewa lagi kali ini. Dia juga ingin mengetahui keadaan anaknya, ingin mendengarkan secara langsung saran ataupun larangan Dokter untuk istrinya.


Malam itu, perut Chayra tiba-tiba sakit. Bukan hanya sekedar mulas atau melilit. Tetapi dia bolak balik ke kamar mandi untuk buang air. Hal itu tentu saja membuat Ardian langsung panik. Bukan hanya panik, tetapi wajahnya lebih pucat daripada wajah istrinya.

__ADS_1


"Jangan panik, Ardian. Istrimu tidak akan melahirkan. Perutnya cuma kram dan dia sepertinya terkena diare saja." Zidane menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah Ardian yang terlihat sangat berlebihan.


"Tapi Chay kesakitan, Kak."


"Tapi kamu berlebihan. Sakit melahirkan lebih sakit dari yang dia rasakan sekarang."


"Pokoknya kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit."


Chayra berulang kali menarik nafas dalam. Dia hanya bisa berdoa, semoga ini adalah kontraksi palsu seperti yang dia baca dari buku KIA yang diberikan Dokter Kandungan untuknya.


"Apa masih sakit, Nak?" Santi yang menekan-nekan pinggang putrinya bertanya setelah Chayra tidak meringis lagi.


"Alhamdulillah, terasa lebih baik sekarang, Bu. Masih terasa, tapi sedikit. Tapi, aku juga capek bolak-balik ke kamar mandi dari tadi."


"Kita ke Rumah Sakit saja ya.." Ardian mengusap dahi istrinya yang mengeluarkan keringat dingin.


"Nggak perlu sampai ke Rumah Sakit, Kak. Aku baik-baik saja, insya Allah. Belikan saja obat di Apotek."


"Kamu tidak boleh sembarangan minum obat, Chay. Kamu sedang hamil sekarang. Kamu juga jangan bilang baik-baik saja terus. Kamu meringis kesakitan kayak gitu dari tadi. Kamu juga lemes itu karena terlalu banyak cairan yang keluar. Ayo, aku nggak mau ambil resiko nantinya. Kita ke Rumah Sakit sekarang." Membopong tubuh istrinya tanpa menunggu persetujuan dari mertuanya.


Santi dan Zidane hanya bisa saling pandang seraya membuang nafas kasar.


"Dasar, mentang-mentang udah banyak duit sekarang. Coba kemarin pas masih kismin, mana berani dia bawa lari ke Rumah Sakit seperti itu kalau kita bilang nanti dulu." Ucap Zidane menggerutu.


"Sudahlah, Nak. Sekarang kita ikut ke Rumah Sakit. Dia sedang panik seperti itu. Bahaya kalau bawa mobil sendiri."


"Iya, Bu. Zidane mau ambil jaket dulu. Nggak mau kedinginan nanti di Rumah Sakit."


"Cepetan, Nak."


Ardian masih menggendong Chayra saat Zidane sampai di depan mobil.


"Kenapa lama banget, Kak. Tanganku udah kram ini karena kelamaan menggendong Chay." Ardian langsung menyemprot Zidane yang baru datang dengan langkah santai.


"Aku minta diturunin dari tadi. Tapi kan Kak Ardian yang nggak mau." Ucap Chayra membela diri. Dia menelan ludahnya saat perutnya terasa melilit lagi. Berusaha bersikap tenang agar suaminya tidak semakin panik.


"Lah, kan kamu tidak bilang mau ditemani. Kamu main keluar bawa Ayra tadi. Pernah bilang minta tolong nggak?" Jawab Zidane santai sambil membuka pintu mobil.


"Huh, tau juga orang lagi panik." Ardian menurunkan tubuh istrinya perlahan di kursi penumpang lalu dia pindah ke depan.


"Loh, mau kemana kamu?"


"Mau nyetir lah, Kak Zidane santai kayak gitu. Kapan kita sampai Rumah Sakit nanti?!"


"Istighfar, Dek. Allah itu tidak suka dengan sifat terburu-buru. Tenang seraya terus istighfar pada Allah." Jawab Zidane lagi. "Tunggu Ibu sebentar, dia sedang bersiap. Kamu jaga saja istri kamu. Dia tidak boleh dielus-elus aku karena aku tidak halal untuknya." Zidane menarik tangan Ardian agar sedikit geser biar dia bisa masuk. Tangannya merogoh handphone di saku bajunya setelah duduk dibalik kemudi.


"Assalamualaikum.."


"......"


"Ayra mau dibawa ke Rumah Sakit. Perutnya tiba-tiba mules tadi."


"........"

__ADS_1


"Tidak. Hari perkiraan lahirnya masih sangat jauh. Tapi, suaminya yang lebay. Iya... tapi untuk mengantisipasi kalau terjadi apa-apa."


"......."


"Iya sudah. Aku tunggu kamu di Rumah Sakit."


"......"


"Rumah Sakit Ibu dan Anak W*******"


"Iya, wa'alaikumsalam.."


"Teleponan sama siapa sih? Kenapa disuruh nyusul ke Rumah Sakit segala."


"Kamu jangan banyak tanya. Urus saja istri kamu."


Zidane langsung meluncur setelah Santi memasuki mobil.


Chayra beberapa kali terlihat meringis sepanjang perjalanan. Perutnya benar-benar mulas.


Sepanjang perjalan juga, Zidane dan Santi berusaha menahan senyum mendengar instruksi Ardian untuk istrinya. Chayra juga ingin tertawa kalau saja perutnya tidak sedang sakit.


"Aku nggak mau melahirkan, Kak. Kenapa disuruh tarik nafas dalam lalu buang dengan perlahan seperti itu?" Chayra akhirnya tidak tahan melihat kelakuan suaminya.


"Siaga sih siaga, tapi kalau berlebihan kayak gini akunya yang nggak nyaman, Kak." Chayra menekan bagian atas perutnya yang terasa semakin melilit.


"Aku hanya khawatir, Sayang. Kamu terlihat menahan sakit dari tadi."


"Sudah jangan berdebat, sebentar lagi kita sampai." Zidane akhirnya mencoba menengahi.


Setelah Dokter Umum memeriksa keadaan Chayra...


"Sepertinya ada makanan yang salah masuk ke perut istri anda, Pak." Ucap Dokter muda itu.


"Maksud Dokter."


"Maksud saya, ada makanan yang seharusnya tidak di konsumsi Ibu hamil, tetapi istri anda mengkonsumsinya. Mungkin dia tidak tau atau apa. Tetapi itulah hal yang menyebabkan perutnya jadi mulas. Dia juga diare, kan?"


"I.. iya, Dok."


"Saya sarankan istri anda sebaiknya dirawat inap. Takutnya, diare itu menyebabkan komplikasi nanti. Karena keadaannya yang lagi hamil. Saya khawatir keadaannya ini berpengaruh pada kondisi janinnya."


"Tapi bayi dalam kandungannya baik-baik saja kan, Dok."


"Kalau bayinya baik-baik saja."


Ardian menarik nafas lega. "Saya akan ikut saran Dokter. Lakukan yang terbaik untuknya, Dok."


"Baik, hanya itu yang perlu saya sampaikan. Mudah-mudahan kondisinya cepat pulih. Kedepannya tolong perhatikan makanan yang dikonsumsi istri anda, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali."


"Terimakasih sarannya, Dok."


Dokter itu mengangguk. Memberikan senyuman ramah untuk Ardian seraya bangkit. Meninggalkan Ardian yang ikut bangkit setelah Dokter itu berlalu.

__ADS_1


**********


__ADS_2