
Ghibran memperhatikan Chayra yang sedang duduk termenung menatap pusara makam di depannya. Semakin ia perhatikan, rasa cinta dalam hatinya untuk wanita itu semakin besar.
Ada senyum haru yang timbul dari bibirnya saat melihat Chayra yang terlihat berusaha untuk terlihat tegar dan menahan air mata.
Usai membaca do'a penutup, Pak Ismail mengajak keponakannya itu untuk kembali ke rumah. Melihat tidak ada reaksi dari Chayra, Pak Ismali mendekat seraya mengusap kepala Chayra.
"Kita pulang, Nak. Lain kali kita datang lagi untuk menjenguk Bapak kamu."
Chayra mendongak menatap Pak Ismail yang sedang berdiri di samping kirinya. "Sebentar saja, Abah. Ayra mau ngomong sesuatu sama Bapak."
Pak Ismail tersenyum hambar. "Iya sudah, Nak, kalau begitu. Abah mau ke Makam Datok dulu. Ayo, Ghibran, biarkan Ayra disini sebentar."
"Tidak, Abah. Ghibran juga ingin menyampaikan sesuatu pada Bapak."
Pak Akmal menautkan alisnya. Namun, dia akhirnya mengangguk dan berjalan meninggalkan Chayra dan Ghibran. Berjalan menuju Makam yang menjadi Makam utama di area pemakaman itu.
Selepas kepergian Pak Ismail, Ghibran dan Chayra hanya diam menatap Makam di depannya. Keduanya terlihat enggan untuk mulai bicara.
Ghibran akhirnya menarik nafas panjang. "Assalamualaikum, Bapak." Ucapnya tiba-tiba.
Chayra langsung menatap pria di sampingnya dengan heran.
Ghibran tersenyum melihat tatapan Chayra. "Bapak, maafkan Ghibran karena tumben datang mengunjungi Bapak. Mudah-mudahan, Allah SWT menempatkan Bapak di tempat terindah di sisi-Nya." Ghibran kembali menarik nafas.
"Maafkan Ayra juga, Bapak. Ayra jarang sekali mengunjungi Bapak. Seharusnya, Ayra datang setiap hari mengunjungi Bapak." Air mata mulai mengalir di pipi Chayra. "Maafkan Ayra karena Ayra belum bisa menjadi anak terbaik Bapak."
Ghibran tersenyum hambar melihat Chayra. "Bapak, Ghibran mencintai Chayra Azzahra, putrinya Bapak. Ghibran mau minta restu dari Bapak. Ghibran akan menikahi putri Bapak. Ghibran berharap, dengan kehadiran Ghibran dalam kehidupan Zahra. Ghibran bisa menjadi laki-laki yang bisa melindunginya. Laki-laki yang bisa menghapus air mata kesedihannya. Laki-laki yang menjadi tempatnya bersandar baik dalam keadaan suka maupun duka."
Chayra tersenyum sekilas ke arah Ghibran. "Semoga Allah meridhoi rencana kami ini. Bapak istirahat yang tenang ya. Ayra pamit, Pak. Ayra juga mau pulang mengunjungi Ibu. Insya Allah, kalau Ayra sudah kembali lagi ke Pesantren ini, Ayra akan datang mengunjungi Bapak lagi."
Chayra bangkit setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia menoleh ke arah Makam utama yang dikunjungi Pak Ismail. Namun, di tersentak kaget saat mendapati Pak Ismail sudah berdiri di belakangnya. "Eh, Abah sudah di sini. Ayra baru saja ingin mendatangi Abah."
Pak Ismail tersenyum. "Kamu sudah selesai, Nak?"
"Iya, kita pulang, Abah?"
"Tunggu Ghibran dulu. Kamu yang ajak dia, masa kamu yang akan meninggalkannya sekarang?"
Chayra tersenyum meringis. "Nggak berniat kayak gitu juga, Abah.."
Ghibran mendongak menatap dua orang di depannya. "Abah sudah selesai?"
"Kami sedang menunggu Ghibran Abdullah selesai curhat pada calon mertuanya."
"Hah? Benarkah begitu. Maaf membuat kalian menunggu." Ghibran bangkit, mengusap-usap tengkuknya salah tingkah.
"Kalau kalian sudah halal nanti, kalian bisa datang kemari setiap pagi dengan bergandengan tangan."
"Aamiin.." Ghibran dan Chayra berucap serentak.
Mereka saling pandang karena terkejut dengan kekompakan yang terjadi tanpa direncanakan. Saling tersenyum setelah beberapa saat saling pandang.
__ADS_1
"Semoga Allah mempermudah jalan kita." Ucap Ghibran.
"Aamiin.." giliran Pak Ismail yang berucap.
Setelah keluar dari area pemakaman, Pak Ismail mengajak Ghibran dan Chayra duduk di sebuah taman kecil di dekat Makam itu.
"Kamu ada jadwal di Kampus, Ghi?"
"Ada, Abah. Tapi, jadwalnya nanti setelah habis shalat Zuhur."
"Kalau kamu, Ayra?" Pak Ismail beralih menatap Chayra.
"Sama kayak Kak Ghibran, Abah. Dosennya kan dia."
"Oh, gitu ceritanya. Kamu gerogi nggak, Ghi, ngajar calon istri kamu?"
"Awalnya sih gerogi. Tapi, sekarang aku sudah bisa membedakan, dimana aku harus menjaga sikap dan dimana aku harus menatap dia sebagai wanita yang aku cintai."
"Tapi, Abah lihat matamu tidak bisa menatap Ayra sebagai wanita biasa atau Mahasiswa. Kamu selalu terlihat malu-malu saat menatap putriku." Pak Ismail menepuk-nepuk pundak Chayra.
"Iya.. namanya kita manusia, Abah. Cinta itu kan, tumbuh di hati kita. Sudah pasti selalu ada rasa getaran saat menatap wanita yang kita cintai."
"Jawabanmu terdengar sangat bijak, Nak. Sudah cocok jadi Bapak kayaknya ini." Pak Ismail berpindah menepuk pundak Ghibran.
"Kalian tidak mau membicarakan sesuatu dulu sebentar? Biar Abah yang menemani disini."
Chayra dan Ghibran saling pandang sekilas. Chayra langsung menunduk saat mata Ghibran seperti menusuk ke dalam matanya. "Kita langsung pulang saja, Abah. Ayra tidak mau diintrogasi sama Ummi nanti kalau terlambat pulang."
"Tidak akan, Nak. Kamu kan bersama Abah juga."
"Eh, iya. Kok aku hampir lupa ya.."
"Kalau begitu, kita balik sekarang." Pak Ismail langsung memimpin barisan.
Baru beberapa langkah, ia berhenti dan menyuruh Ghibran berjalan paling depan. Ia berjalan paling belakang dan Chayra di tengah.
* * *
Sore itu, sekembalinya dari Kampus, Chayra duduk termenung di pinggir kolam ikan. Waktu yang sudah menunjukkan pukul lima sore, tidak membuatnya berniat untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Saras dan Tania yang menemaninya sesekali saling tatap karena heran melihat temannya yang satu ini. Sedang melamun, tetapi beberapa kali tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.
Deringan handphonenya membuatnya sedikit terkejut dan menyudahi hayalan yang sedang memenuhi otaknya.
"Assalamualaikum, Bu." Chayra meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Mengisyaratkan pada Saras dan Tania agar tidak berisik. Padahal Saras dan Tania tidak pernah mengeluarkan suara sedikitpun.
Saras dan Tania saling mengangkat bahu. Semakin tidak mengerti dengan sikap Chayra yang terlihat kelewatan bahagia.
"............."
"Insya Allah, lusa, Bu. Ayra akan pulang sendiri karena Abah dan Ummi sangat sibuk di sini."
__ADS_1
"Memangnya kamu mau pulang ngapain sih, Nak? Kamu kan belum libur."
"Ada sesuatu yang sangat mendesak yang tidak bisa Ayra sampaikan lewat telepon, Bu."
Bu Santi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Putrinya ini kalau sudah berkeinginan sangat sulit untuk ditentang.
"Kamu yakin, Nak, mau pulang sendiri? Nggak mau menunggu sampai Abah dan Ummi kamu bisa mengantar kamu pulang?
"Tidak, Bu. Ayra kan sudah besar sekarang. Harus bisa menjaga diri. Tidak baik kan, kalau terus-terusan bergantung pada orang lain."
"Tapi, kamu harus hati-hati ya, Nak. Ibu hanya khawatir."
"Iya, Bu. Insya Allah, Ayra bisa menjaga diri."
"..........."
"Iya, Bu. Assalamualaikum.." Chayra memasukkan kembali handphonenya ke dalam tasnya. Menatap Saras dan Tania yang masih bingung melihat sikapnya.
"Kalian kenapa menatapku seperti itu?"
Tania melongos. "Kami hanya bingung melihat kamu, Ayra. Dari tadi hanya sibuk sendiri. Tidak memperdulikan keberadaan kami. Kami kok, merasa seperti patung yang sedang menghiasai kebahagiaan seorang Chayra Azzahra."
"Apa kami boleh tau, hal apa yang membuat seorang Chayra Azzahra terlihat sangat bahagia sore ini?" Saras menangkup pipi Chayra.
Chayra menautkan alisnya heran. "Perasaan aku biasa-biasa aja. Kalian melihatnya dari sudut pandang yang mana, sehingga bertanya seperti itu?"
"Dilihat dari sudut pandang manapun, orang sudah bisa menebak kalau kamu memang sedang bahagia, Ayra." Tania kembali melongos.
"Apa benar begitu?" Chayra tersenyum sambil meraba-raba pipinya.
"Yaelah, pipi kamu pakai acara merona merah segala." Tania menyebikkan bibirnya. "What happen with you, Ayra?"
"Me? Bi khair, Alhamdulillah.."
"Fuhh, kalian berdua ini kenapa sih? Kamu juga Tania, kenapa seperti mengintimidasi Ayra. Kayak orang iri aja melihat orang bahagia."
"Ya Allah, Saras. Mulut kamu kenapa pedes banget, sih? Aku kan, cuma ingin tau dan ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Ayra rasakan."
"Kamu yakin begitu, Nia?" Saras menatap dalam manik mata Tania. Seolah-olah tidak mau kalah, Tania melotot pada Saras.
"Kalian ini kenapa? Iya, aku sedang bahagia karena..." Chayra menghentikan ucapannya.
Saras dan Tania beralih menatap Chayra. "Karena apa, Ayra?" Tanya keduanya serentak.
"Katakan, Ayra. Jangan membuat kami mati penasaran." Tania menarik tangan Chayra agar menghadapnya.
"Karena..." Chayra menatap kedua temannya ragu.
"Apa..?"
"Kak Ghibran akan melamar aku."
__ADS_1
"What...???"
* * *