
"S.. saya terima nikahnya Chayra Azzahra bin Arianto Putra Akmal dengan mas kawin tersebut tunai." Dada Ardian terasa bergemuruh saat berhasil melafadzkan qobul dengan satu kali tarikan nafas. Tiba-tiba saja dia merinding setelah mengucapkan akad yang sakral itu.
SAH..!!
Riuh teriak para saksi membuat Ardian bisa bernafas lega.
Chayra yang duduk di sampingnya tidak sedikitpun mengangkat wajahnya.
"Mm.. mempelai wanitanya coba diangkat wajahnya. Toh sudah halal sekarang. Mau saling tatap lama juga tidak akan mendapat dosa, malah sebaliknya." Ucapan Pak penghulu berhasil membuat Chayra mengangkat kepalanya perlahan.
"Bersalaman dulu dengan pasangan halalnya." Sambungnya lagi.
Ardian tersenyum sinis sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Chayra.
Chayra memberanikan diri menatap pria yang sudah menjadi suaminya itu. Memberikan sebuah senyuman lembut seraya meraih tangan Ardian dan menciumnya.
Ardian seperti tersengat listrik mendapati perlakuan Chayra kepadanya. Dia pikir gadis itu akan menepis tangannya dan mengacuhkannya. Namun, dia malah salah tingkah, segera menarik tangannya dari genggaman gadis itu.
Chayra kembali memberikan satu senyuman tulus. Walaupun matanya terlihat sembab, gadis itu berhasil menyembunyikan perasaannya. Dia terlihat bahagia dengan pernikahannya ini dengan senyuman palsunya. Melepaskan tangan Ardian perlahan.
Ardian langsung mengalihkan pandangannya. Sengatan itu masih terasa saat gadis itu kembali tersenyum tadi. Menelan ludahnya karena bingung dengan sikap Chayra.
Setelah acara selesai..
Bu Santi memeluk putrinya sangat erat. Menangis tersedu-sedu sambil terus membelai kepala Chayra. "Cobaan pernikahan sudah menantimu, Nak."
"Do'akan aku, Bu. Semoga Allah senantiasa memberikan aku kesabaran untuk menjalani pernikahan ini. Ayra tau ini berat. Ini juga bukanlah pilihan yang terbaik. Tapi, Ayra yakin akan ada hikmah dari pilihan Ayra ini. Terimakasih, Ibu sudah mendukung Ayra atas pilihan Ayra ini." Chayra melepaskan pelukannya. Mengusap air mata ibunya yang masih terus mengalir.
Ardian hanya menunduk di sofa mendengarkan keluh kesah ibu dan anak yang sedang beradu tangis di depannya itu.
Bu Renata mendekati putranya dan membisikkan sesuatu.
"Mami saja.." ucap Ardian pelan.
"Kamu, Ardian." Sedikit melotot dengan mengeluarkan nada ancaman.
__ADS_1
Ardian mendengus. "Selalu saja mengancam.." seraya bangkit, menghampiri Chayra dan menyentuh pundaknya dengan lembut. "Kita pulang ya.."
Refleks, Chayra menepis tangan itu seraya berbalik. "Apa yang anda...?" Tidak melanjutkan kalimatnya saat mengingat statusnya sekarang.
"M.. maaf.. s.. saya tidak sengaja."
Ardian tersenyum ketus. "Mami dan Papi sudah mau pulang. Mereka menyuruh gue mengajak lho juga. Karena bagaimanapun juga, sekarang lho adalah istri gue."
Bu Santi meraih pundak Chayra agar menghadapnya. "Tanggung jawab Ibu pada kamu sudah berpindah pada suamimu, Nak. Pulanglah bersama mereka sekarang."
"I.. iya, Bu. Ayra mau ambil koper dulu."
"Koper lho udah di dalam mobil." Timpal Ardian tanpa menatap Chayra. Mendekati Bu Santi seraya menyodorkan tangannya. "Ardian pamit, Bu."
Bu Santi tersenyum lembut. "Iya, Nak. Ibu titip Ayra. Ajari dia kalau dia salah. Selesaikan masalah dengan musyawarah. Sekarang kalian sudah berumah tangga. Itu berarti pergaulan kalian juga sudah terbatas. Ibu harap, kamu bisa menjadi imam yang baik untuk putri Ibu satu-satunya. Yakinlah, kalau semua ini terjadi karena Allah yang menghendaki. Allah yang menjodohkan kalian lewat musibah yang pernah terjadi. Semoga kedepannya bisa lebih baik.
Ardian tersenyum. Sebenarnya dia mau bilang insya Allah. Tapi, entah kenapa dia lupa dengan ucapan itu. Hanya menggaruk-garuk kepalanya seraya melirik Bu Santi.
"Hati-hati di jalan ya, Nak." Bu Santi membiarkan Ardian mencium tangannya lama.
"Assalamualaikum, Bu."
"Wa'alaikumsalam.." Bu Santi melepas kepergian putrinya. Menarik nafas dalam sambil terus memperhatikan mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumahnya.
Tidak ada yang berniat membuka percakapan selama di dalam mobil. Chayra terus menatap keluar jendela. Sedangkan Ardian pura-pura sibuk dengan handphonenya. Padahal tidak ada yang bisa dia lihat di handphone itu karena itu adalah handphone baru. Handphone lamanya sudah dicabut papinya.
Sucipto sengaja mengganti handphone putranya. Lengkap dengan mengganti SIM card. Hanya kontak anggota keluarga yang tersimpan di handphone itu.
Ardian menggerutu kesal. Nomor handphone Amira tidak dia hapal. Bagiamana dia akan menghubungi wanita itu sekarang.
"Kenapa menggerutu? Nggak suka aku ada disini?" Tanya Chayra tanpa mengalihkan pandangannya.
"Eh, ng..nggak seperti itu. Gue nggak perduli mau lho ada disini atau nggak." Jawab Ardian. Sifat arogannya ternyata sudah kembali pada empunya.
"Saya cuma tanya anda. Kalau anda tidak suka saya ada disini. Saya akan keluar dari mobil ini."
__ADS_1
"Eh, jangan bertingkah konyol deh. Lho mau lihat gue dibacok sama Papi?" Untuk pertama kalinya dia menatap perempuan itu selama di dalam mobil.
Chayra kembali memberikan senyuman lembut. Tentu saja Ardian kembali merasa seperti tersengat listrik karena hal itu.
"Seperti kata anda tadi. Saya tidak perduli." Chayra melototkan matanya. Menatap Ardian dengan tajam. "Pak, berhentikan mobilnya!" Ucap Chayra tanpa mengendorkan tatapan tajamnya.
"Eh, eh, jangan, Pak. Kita harus sampai rumah sebelum Papi dan Mami sampai. Bapak ingat kan, pesan Mami tadi."
"Iya, Tuan. Tapi, sebaiknya Tuan dan Nona berhenti berdebat."
Baik Chayra dan Ardian terkejut mendengar ucapan Sopir tersebut. Perlahan mereka menoleh serentak ke arah sopir dengan tatapan heran. Ardian tidak mengenal baik sopir itu karena sopir baru.
Sopir itu menggeleng-geleng pelan. "Pengantin baru itu biasanya tidak seperti Tuan dan Nona. Mereka biasanya akan bergenggaman tangan dan saling menatap lembut. Saling memberikan senyuman hangat pada pasangannya."
"Maaf kalau saya lancang. Tapi, saya rasa kalian berdua adalah pasangan unik yang jarang sekali di dunia ini. Biasanya, yang seperti ini adalah pasangan yang saling merindukan kalau berjauhan."
Perut Chayra langsung terasa mual mendengar ucapan Sopir yang terdengar sok tau itu.
Lain dengan Ardian. Pria itu malah melongo dan terlihat seperti orang bodoh. "Anda sudah menikah apa belum?" Tanyanya tiba-tiba.
"Saya maksud Tuan?" Sopir itu malah balik bertanya.
"Iya, siapa lagi. Kita kan cuma bertiga di sini." Ardian memutar bola matanya. "Tunggu, tunggu.. nama lho siapa dulu. Lho sopir baru kan? Biasanya Papi selalu memakai sopir lamanya."
Lho gue Ardian kambuh lagi. Pria itu sangat sulit diajak bicara dengan bahasa yang lebih baik. Pergaulannya membuatnya terbiasa ngomong dengan bahasa yang santai.
"Maaf sebelumnya, Tuan. Sebenarnya saya bukan sopir baru. Saya bekerja sebagai Asisten pribadinya Pak Sucipto. Nama saya Jaka Rakata. Saya biasa dipanggil Jaka. Berhubung Pak Sucipto meminta saya untuk menjadi sopir pengantinnya hari ini. Jadi, saya tidak bisa menolak karena yang meminta adalah atasan saya." Jaka membuka kaca mata hitam yang dari tadi menutupi matanya.
Ardian langsung terdiam. Matanya menelisik memperhatikan Jaka dari belakang. Pantas saja pria itu tidak memakai seragam sopir seperti sopir papinya yang lain. Ternyata pria itu adalah asisten papinya.
Ardian mengusap-usap tengkuknya. Meras heran dengan pria di depannya. Terlihat masih sangat muda dan lumayan tampan. Dia malah mengaku sudah bekerja di perusahaan. Jaka malah terlihat lebih muda darinya. Namun, pria itu sudah mampu bekerja. Tidak seperti dirinya yang masih menyodorkan tangan pada papi dan maminya kalau dia butuh sesuatu.
Tidak ada lagi percakapan setelah Jaka memperkenalkan diri tadi. Mereka semua bungkam sampai akhirnya mobil berhenti di taman depan rumah besar milik keluarga Ardian.
********
__ADS_1