
Assalamualaikum, Zahra..
Apa kamu akan ke Majelis Ta'lim pagi nanti?
"Alhamdulillah.." ucap Ghibran lirih. Pesannya berhasil terkirim ke kontak Chayra.
Sudah tiga hari setelah pertemuannya dengan Chayra di Majelis Ta'lim. Gadis itu tidak pernah menampakkan diri lagi di depan Ghibran. Dia bahkan tidak pernah hadir sebelum subuh di Majelis Ta'lim. Jangankan untuk ikut kajian sebelum subuh, untuk shalat berjama'ah di Masjid saja dia enggan untuk hadir.
Chayra belum siap untuk sekedar melihat apalagi sampai bertemu dengan Ghibran. Dia sudah memantapkan hati akan menerima ajakan ta'aruf dari Ghibran. Akan tetapi, entah mengapa hatinya masih saja ragu.
Ada notifikasi pesan masuk di handphonenya. Dia meraih benda pipih itu dan mengusap layarnya.
"Pukul sebelas lewat. Kenapa kak Ghibran mengirim pesan selarut ini ?" Lirihnya pelan. Dia membalas pesan itu hanya dengan kata 'tidak', lalu dia meletakkan kembali handphonenya. Duduk termenung lagi dengan perasaan campur aduk.
Baru akan beranjak, Chayra di kejutkan dengan suara deringan panggilan masuk di handphonenya. Dia menautkan alis saat melihat nama Ghibran terpampang di layar ponselnya.
Chayra meraih kembali handphonenya lalu menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam, Zahra. Kenapa kamu tidak pernah hadir di Majelis Ta'lim? Apa kamu tidak tau, kalau aku sangat merindukanmu. Rindu itu akan terobati hanya dengan melihat senyumanmu." Ghibran langsung mencecer Chayra dengan kata-kata yang dia tahan selama tidak bertemu dengan gadis itu.
"Kenapa Kak Ghibran mengirim pesan dan menghubungiku selarut ini?"
Jawaban yang sama sekali tidak diharapkan Ghibran. Ia menunduk kecewa.
"Aku merindukanmu, Zahra." Hanya kata itu yang lolos dari bibirnya.
"Kakak harus istirahat. Besok kan, Kakak harus membimbing di kelas. Jangan buang waktu istirahat Kakak hanya untuk menghubungiku."
"Astagfirullahal'adzim, kenapa kamu bilang begitu, Zahra? Aku.. aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu. Apa kamu tidak merindukanku? Apa aku mengganggumu?"
Tidak ada jawaban dari Chayra. Mereka hanya diam saling menunggu.
Tidak bisa dipungkiri kalau Chayra juga sangat merindukan Ghibran. Perasaan berbunga-bunga ia rasakan setelah pria itu menyatakan cinta padanya. Namun, seperti kata Pak Ismail. Chayra adalah gadis yang teguh pendiriannya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak berhubungan dulu dengan Ghibran sampai dia memberikan jawaban untuk pria itu.
Tapi Ghibran malah menghubunginya karena tidak sabar untuk meminta penjelasan pada Chayra. Apa yang membuat gadis itu tidak pernah hadir pada kelas bimbingannya. Bahkan Saras dan Tania angkat bahu kalau Ghibran bertanya.
"Kenapa kamu diam, Zahra? Maaf, kalau aku mengganggu waktu istirahat kamu."
Sentak Ghibran.
"B.. bukan begitu, Kak. Aku akan menghubungi Kak Ghibran besok. Kakak istirahat sekarang. Kasihan tubuh Kakak, dia juga butuh istirahat."
"Kamu memperdulikan tubuhku, tapi kamu tidak memperdulikan perasaanku, Zahra."
"Bukan begitu, Kak. Aku kan sudah bilang, besok aku akan menghubungi Kakak."
"Kenapa kamu keras kepala sekali, Zahra."
"Salah Kak Ghibran sendiri yang menaruh hati pada gadis yang keras kepala seperti aku."
"Astagfirullahal'adzim, kamu menggemaskan sekali. Tapi kalau berhadapan kamu bahkan tidak berani mengangkat kepalamu. Kalau kamu di depanku, pasti aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubitmu."
"Hah! Kenapa coba bilang gitu." Chayra salah tingkah.
__ADS_1
Ghibran tergelak. "Kalau begitu telfonnya aku tutup. Assalamualaikum, Sa.. Sayang.."
"Wa'alaikumsalam.." Chayra memeluk handphonenya setelah Ghibran memutuskan sambungannya. Dia sangat bahagia mendengar ucapan penutup dari Ghibran. Wajahnya bersemu merah. Dia tersenyum sambil membayangkan wajah tampan Ghibran.
"Sebenarnya aku juga sangat merindukanmu, Kak. Maafkan aku yang terlalu egois." Lirihnya pelan.
Sebuah notifikasi pesan masuk. Chayra segera melihat layar handphone yang masih ia genggam dari tadi.
Jangan hubungi aku besok. Biar aku yang datang menemuimu di rumah Abah.
Ghibran
Chayra membelalakkan mata membaca pesan itu. Dia langsung mengetik jawaban untuk Ghibran.
Jangan, Kak! Aku tidak mau Kakak datang kemari.
Seolah tidak menghiraukan balasan Chayra, Ghibran kembali mengirim pesan.
Niatku dan keputusanku sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat.
Wajah Chayra merona merah membaca pesan itu. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Berguling-guling dan melilit tubuhnya dengan selimut. "Aaaa.. Kak Ghibran..!" Berteriak tapi dengan suara pelan, kembali memeluk handphonenya." Kamu nyebelin, tapi ngangenin juga." Chayra senyum-senyum sendiri. "Kak Ghibran, Aku mencintaimu. Ternyata, seindah ini rasanya jatuh cinta."
Chayra memperbaiki posisi tidurnya. Melafadzkan do'a lalu memejamkan mata disertai dengan senyuman yang belum bisa pudar dari bibir tipisnya. Siapapun yang melihatnya pasti tau, betapa bahagianya Chayra Azzahra saat ini.
* * *
Chayra bangun dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan. Setelah menjalankan ritual paginya, dia berlari-lari kecil di sekitar kolam ikan di depan Asrama Santri. Suasana masih sepi, hanya beberapa Santri yang kurang mematuhi peraturan yang sudah berada di asrama. Karena sepagi ini, para Santri masih di Majelis Ta'lim.
Dua orang pria yang berjalan santai yang sepertinya akan menuju rumah pak Ismail menarik perhatian Chayra. Dia memicingkan mata agar bisa mengenali dua pria tersebut. Tidak membuahkan hasil. Karena suasana pagi yang masih gelap.
Chayra berbalik dan berlari kecil kembali ke rumah. Dia segera menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Perasaannya sudah was-was, karena menduga pria yang dilihatnya tadi adalah Ghibran dan yang satunya.. entahlah, mungkin Rudi atau teman Ghibran yang lain.
"Assalamualaikum, Abah.." Suara dua orang di depan pintu membuat Chayra langsung tersentak.
Deg!
Chayra mengenal suara itu. Bukan hanya satu tapi dua-duanya. Dia terduduk lemah. "Wa'alaikumsalam," menjawab salam sambil menangkupkan wajah di atas meja belajarnya.
Samar-samar, Chayra mendengarkan percakapan Pak Ismail dengan dua pria itu. Enggan mengangkat wajah. Nguping dengan tetap pada posisi awal.
"Ayra, keluar sebentar, Nak!"
Chayra terpaksa mengangkat wajahnya. Tidak mungkin dia mengabaikan panggilan dari Abahnya. Dia menyembulkan kepalanya di pintu." Iya, Abah, ada apa?" Pura-pura bertanya padahal sudah tau.
"Sini sebentar, Nak. Ada yang mau Abah tanyakan sama kamu."
Chayra menggerutu kesal. Ia berbalik untuk melihat pantulannya di depan cermin. "Kenapa juga kak Ghibran benar-benar datang. Kirain cuma bercanda." Menghela nafas berat. Keluar, lalu menutup pintu kamarnya. Dia berjalan pelan menuju ruang tamu. Pura-pura kaget agar dikira benar-benar tidak mengetahui kehadiran Ghibran dan Rudi.
"Assalamualaikum, Ustadz.." Sapanya sambil menangkupkan tangan di depan dada.
"Wa'alaikumsalam.."
"Sini, Nak." Pak Ismail menepuk sofa di sebelahnya.
"Duduk sama Ummi, Nak." Timpal Bu Ainun yang baru muncul dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan.
__ADS_1
"Maaf merepotkan Ummi sepagi ini." Ucap Ghibran basa basi.
"Nggak apa-apa, Nak. Kalau bukan atas permintaan Abah, kalian juga tidak mungkin bertamu sekarang." Bu Ainun melirik Pak Ismail. Yang dilirik tak perduli dan mengalihkan pandangannya.
"Ini ada apa ya, Ummi?" Chayra berbisik di telinga Bu Ainun.
"Sabar, Nak. Sebentar lagi kamu juga akan tau."
"Hhmmm.. Ayra, Abah yakin kamu sudah tau maksud kedatangan Nak Ghibran kemari."
Chayra menundukkan kepala. "Sepertinya, Ayra belum tau, Abah. Ayra tidak mau menerka-nerka."
Ghibran hanya diam tapi tatapannya lurus pada gadis yang menunduk di depannya.
"Nak Ghibran bilang dia sedang menunggu jawaban atas ajakan ta'arufnya."
Chayra hanya mengangguk.
"Apa kamu sudah siap menjawabnya sekarang?"
Chayra mengangkat kepalanya dan menatap sekilas ke arah Ghibran. Sedangkan Rudi hanya menjadi pendengar setia pembicaraan serius orang-orang di depannya. Rudi juga terlihat kagum pada Chayra. Karena, ini adalah kali pertamanya Rudi bertatap muka lama dengan gadis itu.
Bu Ainun mengelus kepala Chayra. "Mantapkan hati dan pikiran, Nak. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil sekarang menjadi penyesalan di masa depan. Karena anjuran agama, jarak antara ta'aruf, khitbah dan akad itu tidak terlalu jauh."
Chayra mengangguk mendengar nasehat Umminya. "Insya Allah, Ayra sudah siap, Ummi."
"Minum dulu biar tegangnya berkurang." Canda Pak Ismail karena melihat Ghibran yang tegang. "Santai aja, Nak Ghibran. Kok, mukanya kayak di tekuk gitu. Kalau sekarang Ayra menolak. Itu berarti, ada yang Allah sediakan yang lebih baik dari putri Abah ini untuk Nak Ghibran."
"Santai, Ghi.." Ucap Rudi sambil menepuk pundak Ghibran.
"Apaan sih, Rud. Aku baik-baik saja kok."
"Muka kamu itu tegangnya sudah level sepuluh."
"Jangan bercanda, ah!"
Rudi hanya tergelak dan kembali fokus menjadi pendengar setia.
"Apa kalian sudah saling menyerahkan cv ta'aruf?"
"Kami tidak memerlukan itu, Abah." Ghibran menjawab cepat.
"Kok gitu? Cv itu perlu lho, Nak. Agar kalian lebih saling mengenal."
"Nggak pake cv juga nggak apa-apa, Abah." Jawab Chayra dengan malu-malu.
Pak Ismail manggut-manggut. "Kalau begitu silahkan Ayra, berikan jawabanmu untuk Nak Ghibran sekarang."
Rudi mendekatkan mulutnya ke telinga Ghibran." Ghi, jaga jantungmu, jangan sampai meledak."
Ghibran hanya diam. Andaikan sedang tidak ada orang, pasti Ghibran sudah mengambil sandalnya untuk melempari Rudi.
Rudi cekikikan melihat ketidak berdayaan seorang Ghibran.
"Bismillahirrahmanirrahim, saya Chayra Azzahra menerima permintaan dari Kak Ghibran untuk melakukan ta'aruf. Semoga Allah meridhoi keputusan yang saya ambil ini." Suaranya agak bergetar tapi sangat jelas.
__ADS_1
Ghibran yang sudah mendengar jawaban Chayra dengan jelas langsung tersungkur bersujud. "Alhamdulillahirobbil'alamiin.." Ucapnya seraya bangkit kembali. "Terimakasih, Zahra.."
* * *