
"Apa ini?" Ardian membolak-balik map yang diletakkan Zidane di depannya
"Kamu harus kerja, Ardian. Istrimu sedang hamil sekarang. Beberapa bulan lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Beban tanggungan rumah tangga kamu akan bertambah. Tidak cukup dengan gaji yang diberikan ibu dari Toko. Sebenarnya sih, insya Allah cukup. Tapi, kalian harus berhemat agar tidak kelimpungan."
"Aku ke kamar dulu. Kakak ngobrol saja dengan Kak Zidane." Chayra beranjak bangkit. Zidane sepertinya ingin bicara serius dengan suaminya. Itulah mengapa dia lebih baik meninggalkan pembicaraan itu.
Ardian hanya menganggukkan kepala kepada istrinya tanpa bicara sepatah katapun. Hanya tangannya yang membuka map dan membaca berkas di dalam map itu.
"PT ini dimana ini, Kak?"
"Saingan perusahaan Papi kamu."
Ardian langsung menatap Zidane dengan heran. "Maksudnya?"
"Kamu harus buktikan pada Papi kamu, kalau kamu tumbuh menjadi laki-laki yang berguna. Karena kebetulan dia sudah mengusir kamu. Jadi, waktunya kamu membuktikan siapa diri kamu."
"Kalau Papi marah, bagaimana?"
"Tinggal katakan, Papi kan yang tidak membutuhkan aku. Jadi, aku tidak bisa bekerja di perusahaan Papi. Itulah mengapa aku mencari orang lain yang mau menerima aku."
Ardian hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Masih tidak percaya dengan semua yang dikatakan Zidane.
"Kamu kenapa melongo kayak gitu?"
"Aku.. aku nggak percaya dengan semua yang dikatakan Kak Zidane tadi."
"Kamu meragukan kemampuanku?"
"B.. bukan seperti itu maksud aku. Aku hanya tidak percaya, kalau Kak Zidane membantu aku bangkit kembali."
"Kamu ini. Apa aku harus tertawa melihat kamu terpuruk? Kamu sudah menjadi bagian dari keluargaku sekarang. Iya.. walaupun jalan masuk kamu jalan yang sesat. Tapi, alhamdulilah sekarang kamu sudah kembali ke jalan yang lurus."
"Hmmm..." Ardian menyebikkan bibirnya. "Kenapa harus pakai jalan yang sesat segala. Bilang aja kalau jalan aku salah."
"Sudah, kamu buruan isi formulir itu. Biar aku bisa menyerahkannya langsung pada teman aku nanti malam."
Ardian masih menatap Zidane. "Kak Zidane terjun ke dunia bisnis juga?"
"Nggak. Aku cuma berenang di dunia bisnis."
"Huh, dasar.."
"Makanya jangan banyak cakap. Cepat kerjakan itu. Nanti kamu jadi asisten kepala bidang disana."
"Maksudnya?"
"Ya Allah, kamu ini, Ardian.."
"Heheh... iya ini aku kerjakan." Ardian mulai mengisi data dirinya di kertas yang sudah disiapkan Zidane.
"Aku mau langsung balik ke Pesantren. Aku sedang mengurus rencana ta'aruf Ghibran dengan salah seorang Santri di sana."
Ardian berhenti menulis. "Alhamdulillah..."
__ADS_1
Zidane melirik Ardian. "Capek aku melihatnya mengganggu kalian terus. Sebenarnya sih, aku juga kasihan sama dia. Udah capek-capek jagain jodoh orang dari dulu. Dia itu terlihat bodoh kalau sudah berurusan dengan wanita."
Ardian menghela nafas berat. "Aku juga kasihan. Tapi, aku bukan orang gila yang akan menyerahkan istriku pada mantan kekasihnya. Hanya karena mantannya itu masih menyayanginya."
"Kamu ngomong apa sih?!"
"Ini sudah menjadi takdir cinta kami. Aku hanya akan mengikut, kemana saja takdir ini membawaku."
"Iya, aku hanya berharap kedepannya kamu semakin berusaha untuk memperbaiki diri. Dunia akhirat itu harus seimbang. Kalau kamu sudah bekerja nanti. Jangan sampai kamu lebih condong kepada duniawi. Ingat bersyukur kepada yang memberi rezeki."
"Insya Allah, Kak." Ardian melanjutkan menulis.
Ardian menyerahkan kembali map itu kepada Zidane setelah yakin sudah melengkapi berkas lamarannya.
"Alhamdulillah, sudah kelar. Tinggal mencetak foto, lalu menyerahkannya nanti malam."
"Foto aku banyak Kak, di kamar."
"Ambilkan kalau begitu."
"Ukuran berapa?"
"Bawa saja yang ada. Nanti tinggal dicocokkan dengan permintaan di berkas."
Ardian langsung bergegas mengambil foto yang diminta Zidane.
"Kamu jangan mengecewakan kami nanti. Aku sudah melebih-lebihkan cerita tentang kamu pada temanku. Jangan sampai yang aku ceritakan tidak sesuai dengan yang mereka dapatkan nanti."
"Kenapa nggak menceritakan apa adanya saja, biar mereka tidak terlalu berharap lebih padaku."
"Bukannya begitu, Kak. Tapi, aku takut mereka kecewa setelah mengetahui masa laluku."
"Masa lalu kamu, itu urusan pribadi kamu. Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada temanku itu. Dia hanya berharap, Ardian yang sekarang benar seperti yang aku ceritakan. Iya sudah, aku pamit sekarang. Titip salam untuk Ayra. Aku mau pamit ke Ibu dulu. Kamu nggak ikut ke Toko?"
"Nanti aku nyusul belakangan. Aku mau istirahat sebentar untuk menghilangkan bekas gigitan semut ini."
"Terserah kamu. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Ardian beranjak meninggalkan ruang tamu.
"Ngomongin apa sama Kak Zidane. Hampir satu jam aku menunggu." Chayra langsung bertanya begitu mendengar pintu kamar terbuka. Hampir satu jam dia menunggu Ardian. Baru sekarang pria itu kembali ke kamar.
"Masalah kerjaan. Mudah-mudahan saja aku bisa diterima," naik ke ranjang sambil memeluk tubuh Chayra
"Kak Ardian mandi dulu apa, biar aku nggak pusing nanti," mendorong tubuh suaminya.
Ardian mencium ketiaknya kiri kanan. "Perasaan aku nggak bau kok, Chay. Aku sudah mandi tadi pagi sebelum berangkat. Malahan sekarang tubuhku bau minyak kayu putih yang tadi kamu balurkan."
"Tapi tetep saja masih bau keringat. Kakak keliling komplek berjalan kaki, terus keringetan. Lagi pergi petik jeruk ke rumah kakeknya Manda. Kakak panjat pohon itu pasti keringetan juga."
Ardian menghela nafas berat. Turun lagi dari ranjang. "Kamu kenapa banyak nuntut sekarang. Perasaan dulu kamu kalem amat."
"Nggak tau. Aku hanya eneg kalau mencium aroma keringat Kakak."
__ADS_1
"Sepertinya kamu mau balas dendam karena aku jahat dulu."
"Sepertinya bukan aku yang mau balas dendam. Tapi anak kamu, Kak. Dia tau kalau ayahnya jahat dulu."
Ardian berlalu, menyampirkan handuk di bahunya seraya masuk ke kamar mandi..
Chayra kembali mendongak menatap langit-langit kamarnya selepas kepergian Ardian. "Ya Allah, sampai kapan aku terus-terusan memikirkan laki-laki yang tidak halal untuk kupikirkan." Menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Suamiku sudah sangat baik. Apakah aku akan terus-terusan memikirkan orang lain disaat suamiku sudah berusaha menjadi yang terbaik." Berusaha memejamkan matanya.
Hanya beberapa menit Ardian mandi. Ia kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Merengkuh tubuh Chayra dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.
"Geser sedikit, Kak. Aku nggak bisa nafas."
Ardian melepaskan pelukannya. "Aku memelukmu dengan sangat pelan, Chay. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman," bicara dengan nada kecewa.
Chayra terdiam. "T.. tadi Kakak merengkuh tubuhku terlalu keras. Perutku seperti terjepit."
"Nggak usah diperpanjang. Nggak apa-apa kok."
"M.. maafkan aku, Kak."
"Apa kamu merasa risih karena sikapku yang berlebihan?"
"Tidak.."
"Aku lihat, wanita lain sangat antusias ketika mengetahui kalau dirinya hamil. Tapi, yang aku lihat, kamu terlihat biasa-biasa aja. Malahan, aku mendapati kamu sering menangis saat tahajjud. Apa kamu menyesal telah mengandung anakku?" Ternyata selam ini Ardian sering memperhatikan Chayra saat tahajjud.
"Kenapa Kakak bertanya seperti itu. Aku sama sekali tidak menyesali hal itu. Aku hanya sedang menata hatiku saja. Aku bahkan sengaja terus berdekatan dengan Kakak, agar aku bisa lebih terbiasa lagi."
"Aku merasa semakin kesini kamu semakin memojokkan aku. Aku tau, aku hanya numpang di rumah kamu. Aku tidak ada niat untuk membuatmu menderita." Ardian bangkit. Duduk di sisi ranjang dengan posisi membelakangi istrinya.
Chayra ikut bangkit. Duduk dengan posisi bersimpuh seraya menatap punggung suaminya. "Seharusnya kita lebih mempersiapkan diri sebelum merencanakan akan adanya anak dalam pernikahan ini, Kak. Aku hanya merasa, aku terlalu cepat hamil. Kita belum adakan persiapan. Aku bahkan masih menata hati sampai saat ini. Apakah perasaan ini masih milik orang lain, atau sepenuhnya sudah menjadi milik Kak Ardian."
Ardian menelan ludahnya mendengar ucapan Chayra. "Terus mau kamu apa sekarang? Apakah kamu menyalahkan aku atas kehamilan kamu?"
"Aku nggak tau siapa yang harus aku salahkan. Mungkin ini juga salah aku yang terlalu lalai dalam menjaga diri. Aku hanya masih bingung dengan semua ini. Seharusnya aku mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari akan terjadinya kehamilan jika aku menikah. Sekalipun itu dengan laki-laki yang tidak aku harapkan."
Ardian tersenyum getir mendengar ucapan Chayra. "Jadi selama ini kamu hanya bersandiwara? Pura-pura mencintaiku, pura-pura bahagia di depan orang yang kamu cintai hanya untuk menyakitinya?"
"Tidak...! Aku tidak sedang berpura-pura. Aku memang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Kak Ardian. Tapi, untuk kehamilan ini, aku benar-benar belum mempersiapkan mental ku untuk menghadapinya. Andaikan saja dibolehkan, mungkin lebih baik kalau aku m******** kandungan ini."
"Terserah kamu. Kamu lebih tau hukum agama daripada aku. Seharusnya kamu bersyukur karena Allah memberikan kepercayaan itu kepadamu."
"Aku... aku... hanya belum siap. Ini semua salah Kak Ardian yang menghamiliku. Seharusnya Kakak mempertimbangkan semuanya sebelum ini."
Ardian tidak menyangka kalau itu yang akan dikatakan Chayra. Melirik istrinya dengan rasa kecewa yang naik sampai ke ubun-ubun.
"Jangan salahkan aku kalau kamu hamil. Salahkan anak itu, kenapa mau hadir dalam kehidupan tidak bahagia orang tuanya." Ardian memejamkan matanya menahan rasa kecewa. Meninggalkan kamar dengan perasaan yang entah, apa namanya.
Hanya karena pelukan kecil dari Ardian dan membuat Chayra tidak nyaman. Akhirnya terungkap semua perasaan yang menekan gadis itu selama ini.
Siapa yang akan mereka salahkan dalam hal ini?
Ini semua salah siapa?
__ADS_1
********