Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Memilikimu adalah anugerah terindah


__ADS_3

Ardian POV...


Hadeh, hatiku terasa meleleh ditatap seperti itu oleh istriku. Bibirku terasa ingin disatukan dengan bibirnya yang ranum. Tapi aku menahan hawa nafsuku sekuat tenaga. Ni bibir bagaimana sih, tau dirinya sedang diberi ceramah, malah minta jatah nafkah batin.


Ya Allah, hati yang panas tadi kini adem ayem terasa seperti disiram air es. Tausiah singkat istriku benar-benar ngena sampai dalam. Beruntung sekali diriku. Punya istri dengan paket lengkap seperti Chay. Sholehah, cantik, pintar dan plusnya lagi berasal dari keturunan yang jelas. Iya.. walaupun sampai sekarang aku tidak tau menahu silsilah dari keluarga ibu mertuaku. Chay hanya cerita kalau ibunya seorang Mualaf dan aku tidak boleh menanyakan apapun lagi. Istriku sepertinya sengaja menghindar kalau aku mulai membahas tentang keturunan ibu mertua.


Terimakasih ya Allah, atas anugerah ini. Memiliki istri seperti Chay adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku adalah salah satu pria paling beruntung di dunia ini. Aku yakin banyak sekali orang yang iri dengan pernikahanku dengannya. Kalau dilihat dari sisi kehidupanku sebelumnya, aku terlihat sangat tidak pantas mendampingi Chay. Dia adalah wanita yang berhasil membolak-balikkan hatiku yang buntu akan ajaran agama.


Lama melihatnya menatapku membuatku merasa tidak kuat lagi. Hatiku tidak bisa diajak kompromi. Aku memejamkan mata untuk menahan gejolak yang semakin menjadi-jadi. Nafsu ini harus bisa dikendalikan. Iya... walaupun itu adalah hal yang sangat sulit aku lakukan kalau berhubungan dengan istriku ini.


Puk.. puk..!


Aku membuka kembali mataku saat merasakan tepukan di pipiku. Aku melotot saat melihat Chay sedang menatapku dengan sinis.


"Kenapa memejamkan mata, Mas. Kamu kira posisi aku seperti ini, terus aku mau mencium kamu?"


"Eh, b.. bukan kayak gitu. Aku.. aku.. hanya menghindari tatapan kamu."


"Menatap pasangan itu dapat pahala, Mas. Kenapa harus menghindar segala. Bosan memangnya melihat aku terus?" Chah menatapku tajam seolah-olah aku berbuat kesalahan fatal. Padahal aku kan hanya menghindari tatapan indahnya saja.


"Kok su'udzon sama aku, Sayang. Aku cuma takut tidak bisa menahan diri." Aku membelai pipinya dengan lembut. Eh, dia malah menghempskan tanganku. "Jangan mulai sentuh-sentuh, Mas. Maksudnya apa?"


Aku menarik nafas dalam. "Kamu terlalu cantik kalau hanya untuk dipandang saja." Aku memperbaiki posisi dudukku, tapi tanganku menahan tangannya. "Kamu terlalu indah kalau tidak dinikmati. Itulah mengapa aku memejamkan mataku karena takut tidak bisa menahan diri."


Chay melengos mendengar ucapanku. Hahaha.. dia juga menarik tangannya dengan paksa. Membuatnya kesal seperti ini membuatku merasa terhibur. Seharusnya wajahnya bersemu merah mendengar ucapanku tadi. Tapi, aku akui dia memang berbeda dari wanita kebanyakan. Dipuji tidak akan membuatnya terbang di atas angin. Dia malahan kesal kalau dipuji. Katanya, pujian dari seseorang itu hanya akan menghanyutkan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan saat melihatnya lengah. Aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya.


"Mas, please deh. Anak kamu tidak paham yang beginian. Kamu juga lagi diperingatin malah ngacir. Kirain aku nggak kesel apa. Kamu itu pulang kerja seharusnya tampang bete di kantor jangan dibawa pulang. Kasihan aku dan Adzra yang tidak tau apa-apa harus ikut kena imbasnya."

__ADS_1


Aku meraih tangannya perlahan lalu menciumnya dengan lembut. "Maafkan aku, Sayang. Aku nggak ada niat seperti itu. Tapi, banyaknya pekerjaan membuatku terkadang tidak bisa mengontrol emosi."


"Makanya belajar, Mas. Udah tua juga masih aja seneng emosian. Udah ah, aku mau ke atas dengan Adzra. Capek ladenin kamu yang tidak pernah mau kalah." Tangan Chay yang aku genggam terlepas. Wanitaku itu berhasil melepaskan diri. Ia meraih tubuh kecil Adzra lalu membawanya naik meninggalkanku sendirian.


Author POV..


Ardian hanya menatap kepergian istri dan anaknya. Ia tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. Menarik nafas dalam untuk mengembalikan kesadarannya. Benar kata istrinya kalau dia tidak mau kalah. Ada perasaan tidak enak yang terbersit karena perbuatannya. Tapi, dia juga belum bisa mendapatkan cara untuk meredam emosi yang terkadang kelewat batas. Beberapa kali malahan meradang di Kantor karena Pekerjaan para Manager yang tidak mencapai target.


Malam itu, Ardian naik ke kamarnya setelah pukul sepuluh lewat. Selesai makan malam, dia langsung bertolak ke ruang kerjanya. Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan agar tidak dibawa pulang lagi besok. Masalah emosi saat ini tidak luput dari pekerjaannya yang belum kelar di kantor.


Chayra yang baru saja memejamkan mata harus mengumpulkan kembali kesadarannya saat mendengar pintu kamar terbuka. Ia mengangkat sedikit kepalanya menatap suaminya. "Pekerjaannya sudah selesai, Mas?" Tanyanya dengan suara serak.


"Alhamdulillah kelar, Sayang. Kamu istirahat saja duluan. Aku mau shalat Isya dulu."


"Mm..." jawab Chayra karena matanya benar-benar sulit untuk dibuka lebar. Dia memeluk kembali tubuh putranya yang belum sempat ia pindahkan karena terlalu ngantuk.


Ardian tersenyum melihat pemandangan itu. Sebelum masuk ke kamar mandi, ia mendekati istrinya, memberikan satu ciuman di pelipisnya lalu memperbaiki selimutnya.


********


"Jam berapa kamu pulang semalam, Dit?" Ardian membuka percakapan untuk memecah keheningan. Dodit dan Sekretaris Direksi menggantikannya menghadiri rapat dengan Investor lokal. Ardian menghadiri rapat di lain tempat sore harinya, sehingga meminta Dodit dan Sekretaris Direksi untuk mewakilkannya di malam harinya.


"Kami langsung pulang setelah acara makan malam berakhir. Sekretaris itu benar-benar berani, Ar. Aku sampai terperangah beberapa kali melihat tingkahnya."


"Maksudnya?"


"Habis rapat semalam, ada acara makan malam bersama. Nah, disana ada acara pesta kecil-kecilan. Kita kan menolak saat diajak minum minuman beralkohol. Saat salah seorang dari pihak investor memaksa, dia malah mengambil gelas itu lalu melemparnya ke lantai." Dodit mengangkat tangannya saat Ardian terlihat ingin menyela. "Jangan bicara dulu aku belum selesai ngomong. "Terus dia juga berani membentak Asisten yang berdiri di samping bosnya. Itu gara-gara Asisten itu tidak mencatat hasil rapat dengan baik. Aku jadi khawatir, Ar."

__ADS_1


"Khawatir kenapa?" Ardian menimpali dengan santai.


"Aku khawatir pihak investor itu membatalkan kontrak kerjasamanya dengan perusahaan kita."


"Sekretaris Direksi itu melakukan hal yang benar. Sebenarnya mereka tidak boleh memaksakan kehendak mereka di luar pekerjaan."


"Tapi..."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Jika mereka membatalkan kontrak kerjasama gara-gara masalah begituan, kita masih bisa melakukan kerjasama dengan perusahaan lain. Perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena satu Perusahaan." Ardian memasukkan suapan terakhir ke mulutnya. "Ngomong-ngomong ada apa gerangan kenapa kamu datang ke rumah sepagi ini? Apa ada yang perlu disampaikan?"


Dodit melirik ke arah Chayra sebelum menjawab pertanyaan Ardian. "Anu... mm... tadinya aku berharap bisa bertemu dengan teman Bu Ayra yang kamu ceritakan tempo hari. Tapi ternyata orangnya nggak ada."


"Oh, Tina juga nggak jadi datang semalam. Mas Ardian yang bilang ke dia kalau acara dibatalkan. Biasanya dia akan menginap satu malam kalau dia datang kemari." Chayra yang menimpali.


"Oh begitu ya, Bu. Iya sudah tidak apa-apa. Mungkin Allah memang belum mengkhendaki kami untuk bertemu."


Ardian mendengus. "Huh, kalau sama istriku kamu ngomongnya sopan banget. Giliran sama aku ngomong semaunya. Yang jadi atasan kamu kan aku, bukan dia."


"Hehehe..." Dodit hanya cengengesan mendengar protes Ardian.


Setelah selesai sarapan, Ardian menenteng tas bekal makan siangnya. Hal itu tidak luput dari perhatian Dodit.


"Kok kamu bawa bekal, Ar? Bukannya siang ini kita ada pertemuan di Kafe Xyz."


"Aku akan makan dulu di kantor baru keluar menemui mereka. Kamu tau sendiri kan, kalau aku lebih suka makan makanan rumah." Ardian berucap sambil berjalan mendekati istrinya. "Aku pamit, Sayang. Jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu." Ardian berbisik di telinga istrinya. Memiliki pendamping seperti kamu merupakan anugerah terindah dalam hidupku. Terimakasih Sayang." Ardian mendaratkan satu ciuman di pelipis istrinya.


"Hmm.. Hmm.. interaksi kayak gitu mohon tidak dilakuan di depan pria jomblo seperti aku ini, Pak. Aku adalah laki-laki normal yang juga ingin seperti kalian. Tapi, Allah berkehendak membiarkan aku menjomblo sampai sekarang." Dodit pura-pura menutup matanya.

__ADS_1


Chayra dan Ardian saling pandang lalu tertawa kecil.


*********


__ADS_2