Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana Amira


__ADS_3

Amira menghentakkan kakinya selepas kepergian Tina. Tidak ada orang yang membelanya membuatnya kekesalannya memuncak sampai ke ubun-ubun.


"Aaarrggghhh... persetan dengan semua ucapan kalian." Amira mengacak-acak rambutnya. "Intinya gue nggak mau menyerah begitu saja. Gue harus mendapatkan cara yang membuat lho ngga bisa berkutik Kak Ardian. Bisa-bisanya lho mencampakkan gue setelah apa yang lho lakukan dulu." Amira masuk ke dalam rumah, membanting pintu rumahnya sekuat tenaga.


Amira memutar otaknya di dalam kamar. Bagaimanapun caranya, dia harus membuat Chayra dan Ardian berpisah. Dia harus nekat agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Dengan begitu, hatinya akan puas dan tidak lagi sakit ketika melihat pasangan itu.


"Gue harus mendapatkan bukti kalau Kak Ardian itu terinfeksi penyakit s***." Ide itu tiba-tiba terlontar dari mulut Amira. Senyum mengembang dari bibir tipisnya. "Dengan begitu dia nggak ada alasan untuk tidak menceraikan Ayra. Tapi, gue harus minta bantuan sama siapa ya..." Amira berjalan mondar mandir. Beberapa saat kemudian, Amira tersenyum bahagia setelah mendapatkan ide yang sepertinya pas dengan keinginannya.


Amira menghempaskan tubuhnya di atas kasur seraya tertawa bahagia. "Hahaha... kita tunggu tanggal mainnya. Gue nggak yakin lho akan kuat kalau mendengar berita ini, Ayra. Setebal apapun iman lho, lho pasti hancur ketika gue membawa bukti yang nyata untuk lho." Amira kembali tertawa kecil membayangkan kejadian yang akan menimpa sahabatnya itu.


Tangan Amira mulai sibuk mencari kontak nama seseorang yang dia jamin akan bisa membantunya menjalankan aksinya. "Mana sih namanya. Masa gue hapus sih kontaknya?" Masih sibuk menscroll layar handphonenya.


Amira beberapa kali membuang nafas dengan kasar saat yang dicarinya tak kunjung ketemu. "Kalau kayak gini mah, harus dicari ke tempat tongkrongannya." Melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


*******


Malam harinya, Amira benar-benar melancarkan aksinya. Disaat yang lain sedang sibuk dan ikut merasakan kebahagiaan Alesha temannya. Dia malah sibuk mencari cara untuk menghancurkan kebahagiaan sahabatnya yang lain.


Amira duduk di ruang tunggu tempat hiburan malam untuk menunggu rekannya. Segera mematikan sambungan telepon agar suaminya tidak bisa melacak keberadaannya. "Harus mempersiapkan segalanya agar Mas Husein tidak curiga." Ucapnya lirih.


Tepukan di pundaknya membuatnya tersentak kaget. "Eh, lho.. kirain siapa. Ngagetin gue aja deh lho." Amira mengusap-usap dadanya karena jantungnya berpacu lebih cepat.


"Ngapain cari-cari gue? Butuh bantuan lho?" Ucap orang yang ternyata adalah Audy, mantan teman kencan Ardian dulu.


"Jelas lah gue butuh lho. Gue nggak mungkin bela-belain datang kesini dan mencari lho kalau gue nggak butuh lho."


"Lho mau apa?"


Amira mengedarkan pandangannya sebelum mendekatkan mulutnya ke telinga Audy. Baru saja mendekatkan mukanya, perutnya mendadak mual mencium aroma tubuh wanita itu. "Lho ini minum berapa drum, Audy? Bau tubuh lho menyengat. Gue mau muntah nih, jadinya." Menutup hidungnya karena benar-benar tidak tahan dengan aroma itu.


"Gue baru minum satu gelas. Gue masih bisa bicara normal gini kok."


"Tapi mata lho udah merah.."


"Nggak usah urusin gue. Lho bilang aja mau lho apa. Mumpung gue masih bisa bicara normal. Atau mungkin lho mau ikut minum dulu?" Audy menyodorkan gelas minumannya pada Amira.


Amira mendengus. "Gue nggak minat sekarang. Gue tidak diperbolehkan menyentuh barang-barang seperti itu oleh suami gue."


"What..?! Lho udah nikah? Kenapa nggak undang gue coba?"

__ADS_1


"Gue nggak nikah disini, Audy. Gue nikahnya di luar negeri. Sudah ah, jangan bahas hal lain. Gue butuh lho sekarang untuk membantu gue." Dengan menahan nafas, Amira mendekatkan kembali wajahnya. Membisikkan rencananya di dekat telinga gadis itu.


Audy melototkan matanya tidak percaya. "Setan lho, gue nggak mau ah. Dapat karma nanti bagaimana?"


Amira kembali mendengus. "Mau uang nggak lho?"


"Iya... mau sih. Tapi..." Audy berpikir keras. Beberapa kali melirik Amira untuk meyakinkan hatinya dengan tawaran gadis itu. "Mm... berani bayar berapa lho?" Akhirnya kata itu yang keluar. Mau menolak, tapi sayang uangnya. Amira selalu menawarkan bayaran yang menggiurkan. Sudah dua kali Amira bekerja sama dengannya dan selalu memberikan bayaran yang membuatnya tidak perlu bekerja sampai sekarang. Bahkan uang itu masih tersisa banyak.


Amira menempeleng kepala Audy dengan kesal. "Memangnya gue pernah apa memberi lho bayaran seadanya? Gue bahkan selalu memberikan lho melebihi dari perjanjian."


"Itu makanya gue mikir untuk bantu lho lagi. Lho nggak pernah ngecewain gue. Kenapa sih masih seneng ganggu tu cowok? Udah tobat beneran dia kayaknya. Gue nggak pernah melihatnya kembali lagi ke tempat ini. Terakhir dia datang membawa istrinya yang kayak ninja itu. Entah karena si Ardian yang beruntung atau karena wanita itu yang salah jodoh. Ngapain coba mau menikah sama pria kayak Ardian."


"Menurut lho mereka itu cocok nggak?"


"Mm... sepertinya kalau dilihat keadaan Ardian yang sekarang sih, mereka cocok menurut gue. Tau nggak, mantab lho itu sampai rela menghapus semua t*** di tubuhnya demi ninja itu. Hebat nggak wanita itu?" Audy tidak sadar sampai bertepuk tangan dan berdecak kagum di depan Amira.


"Gila lho. Ngapain coba belain dia di depan gue. Bikin eneg aja." Mengalihkan pandangannya kesal.


"Hah, lho cemburu sama wanita itu? Hahaha... siapa suruh lho nggak tobat dan berubah menjadi ninja. Siapa tau kalau lho kayak gitu, si Ardian melirik lho lagi."


"Bisa diam nggak sih. Nggak usah bahas itu, gue nggak suka."


"Ok.. oke.. kita kembali pada pembahasan awal. Lho berani bayar gue berapa makanya?" Audy kembali merenung. "Mm.. resikonya besar banget kayaknya rencana lho yang ini. Bisa masuk penjara gue nanti. Ini soalnya menyangkut nama baik seseorang. Apalagi.. " Audy tidak melanjutkan kata-katanya.


"Gue harus pikir-pikir dulu deh, Mir. Soalnya kita tidak berurusan dengan Sucipto sekarang. Tapi... Kakeknya perempuan itu.... dia... menyeramkan.."


"Bisa takut lho emangnya?"


"Iya... gimana ya... mau bilang nggak takut, tapu gue takut. Pas rencana terakhir lho kemarin aja, gue sampai di polisikan. Beruntung lho nyewain pengacara dan menebus gue. Kalau nggak, kayaknya gue masih terjebak dalam dinginnya penjara sampai sekarang."


"Gue bisa melakukan hal yang sama untuk lho besok jika lho dipolisikan lagi." Amira menggenggam tangan Audy untuk lebih meyakinkan.


"Apa yang harus gue lakukan?"


Amira kembali berbisik di telinga Audy.


"Gila, dapat darimana coba hasil tes begituan?"


"Masalah itu biar gue yang atur. Yang penting sekarang lho sudah bersedia."

__ADS_1


"Apa lho yakin rencana ini akan berhasil?"


"Harus berhasil. Gue udah bayar lho mahal-mahal, masa gagal sih?!"


"Gue kok ragu ya.."


"Ck...!"


"Hehe .. memangnya kenapa sih, lho nekat berbuat seperti ini? Lho nggak suka melihat si Ardian bersama wanita itu?"


"Itu salah satunya. Gue nggak mau mereka bahagia di atas penderitaan gue."


"Lho nggak terlihat menderita sama sekali. Lho terlihat sangat bahagia dengan harta yang berlimpah. Kayaknya suami lho orang mapan juga ya...?"


"Ya jelas orang mapan lah. Kalau suami gue orang miskin, mana ada duit gue untuk membayar lho."


"Ternyata lho jahat juga ya. Yang kerja suami lho, yang kasih duit suami lho juga. Eh, lho malah pakai untuk balas dendam pada teman dan mantan."


Deg...!


Amira terkejut mendengar ucapan Audy. Tiba-tiba saja dia merasa terpojok saat Audy mengatakan hal itu. "Nggak usah ikut campur. Intinya lho dapat duit dan gue puas dengan hasil kinerja lho. Jangan tanyakan gue dapat duit darimana lagi, oke!"


"Oke, Mbak Bro... Deal kita kerja sama." Audy mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Amira sebagai tanda jadi kerja sama mereka.


Amira tersenyum sinis menyambut uluran tangan itu. "Oke, besok gue hubungi lho lagi. Oh iya, gue lupa.." Amira menarik tangannya dari genggaman Audy.


"Apa lagi?"


"Jangan pernah hubungi gue duluan kalau gue tidak menghubungi lho. Gue pulang bersama suami gue soalnya. Bisa panjang ceritanya nanti kalau dia sampai tau."


"Mana suami lho, kenapa tidak memperkenalkannya pada gue?" Audy celingukan.


"Nggak ada disini. Maksud gue, gue kembali ke negara asal bersama dia. Udah gue pamit."


"Mmm.... terimakasih tawaran kerjanya."


"Good luck.."


"Mmm...."

__ADS_1


Amira melangkah pergi dengan tersenyum puas.


********


__ADS_2