Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Persiapan


__ADS_3

Ghibran menatap sekeliling ruang tamu. Melihat ruang tamu yang dihiasi bunga-bunga, pria itu tersenyum kecut. Tiba-tiba saja matanya memanas. Ia menundukkan kepalanya menelan rasa kecewa yang semakin menjadi-jadi.


"Astagfirullahal'adzim, kamu kenapa, Ghi?" Zidane yang datang tiba-tiba menepuk pundak Ghibran dengan keras.


"Allahuakbar.." Ghibran langsung mengusap-usap dadanya karena terkejut.


"Kamu kenapa? Menyesal datang kemari?"


"Ng..nggak seperti itu juga." Ghibran menundukkan kepalanya. "Aku hanya masih tidak percaya, kalau wanita yang aku cintai sebentar lagi akan dihalalkan pria lain."


Zidane terdiam beberapa saat. "Kenapa kamu masih saja memikirkan hal ini, Ghi? Kamu juga berhak bahagia. Jangan hanya karena Ayra menikah dengan orang lain, lalu kamu tidak bisa bahagia. Kamu akan menyesal seumur hidupmu kalau benar itu yang terjadi."


Ghibran hanya diam mendengar ucapan Zidane. Andaikan saja keluarga Chayra tau tujuannya datang kesini untuk memastikan pada Chayra. Mungkin mereka semua akan menggeleng-gelengkan kepala karena kegigihannya.


"Aku sudah berulang kali mengatakan kepada kamu. Jika kamu hanya mengharapkan kebahagiaan hanya dari satu orang wanita saja. Maka selama-lamanya kamu tidak akan bisa hidup bahagia. Contohnya seperti saat ini. Kamu tidak akan pernah bisa tertawa jika kamu berperinsip, kalau kebahagiaan kamu hanya ada pada seorang wanita yang bernama Chayra Azzahra.


Zidane menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kenapa aku berkata begitu? Karena wanita yang kamu harapkan akan memberikan kebahagiaan untukmu, sudah memilih bahagia bersama laki-laki lain."


"Dia tidak akan bahagia bersama pria itu." Jawab Ghibran dengan tegas.


"Siapa yang akan tau takdir Allah kedepannya, Ghi."


"Pria itu tidak mencintainya dan juga tidak menginginkannya."


"Tapi Ayra yang menginginkannya. Sudahlah jangan ajak aku berdebat lagi. Aku juga ingin bahagia seperti orang yang akad nikah besok."


"M.. maksud kamu?"


Zidane mendelik menatap Ghibran. Mencondongkan tubuhnya sampai berjarak beberapa senti dari wajah Ghibran. "Chayra Azzahra adikku, akan melangsungkan akad nikah besok sore. Kalau kamu ingin menjadi saksi dalam akad itu. Menginapkan disini dan do'akan mereka, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Tidaaaak...!" Ghibran mendorong wajah Zidane dengan keras. "Aku akan pulang sekarang.." Langsung bangkit dan bergegas keluar rumah.


"Hahahaha.." Zidane tertawa terbahak-bahak. "Hei, Ghibran Abdullah. Kamu mau kemana? Kamu belum pamit pada yang lain." Berlari kecil ke arah pintu.


"Titip salam untuk Ibu, Ummi dan Abi. Bilang kalau aku buru-buru dan tidak bisa menunggu mereka."


"Untuk Zahra juga?"


"Tidaaak! Aku tidak perduli lagi dengan dia sekarang. Aku pergi Zi. Assalamualaikum.." Zidane langsung masuk ke dalam mobil setelah menyelesaikan kalimatnya. Mobilnya langsung digas dengan kecepatan tinggi. Tidak ingat kalau dirinya berada dalam komplek perumahan.


********


Ardian terlihat resah dan gelisah. Hari ini adalah hari yang akan menjadi hari yang membuka tabir ketidak halalan dirinya, dengan wanita yang bernama Chayra Azzahra.


Mondar mandir di dalam kamar seperti orang yang tidak waras. Pertama kali dalam sejarah hidupnya bangun sebelum waktu subuh tiba. Biasanya waktu itu dia akan baru memejamkan mata, setelah semalaman bergadang dengan pekerjaan yang mengandung dosa.


Berulang kali ia melancarkan bacaan qobul yang harus dibacanya nanti. "Huh, kenapa gue harus menyebut nama gadis itu terus. Namanya norak lagi." Ucapnya, merenggut kesal. Ardian bangkit mendekati balkon kamarnya. Senyumnya mengembang saat mengingat, kalau tempat itu menjadi favorit Amira kalau datang ke rumahnya.

__ADS_1


Mulutnya terus-terusan komat-kamit membaca lafadz qobul walaupun tanpa suara. Pikirannya tentang Amira langsung buyar saat lupa kelanjutan hafalannya.


"Aaargghhh, sial.. kok gue bisa lupa lagi sih?!" Ardian mengacak-acak rambutnya kesal.


"Amira... apakah gue tidak boleh memikirkan tentang lho. Capek gue kalau kayak gini terus." Menghempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kesal. "Sampai kapan hidup gue akan apes kayak gini. Hidup penuh dengan tekanan. Sekarang belum jadi istri aja, Papi dan Mami nyuruh gue macam-macam. Disuruh belajar wudhu lah, belajar sholat lah, belajar ngaji lah. Terus waktu untuk gue bersenang-senang kapan...?" Ardian mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


"Ardian, kenapa kamu belum bersiap?!"


Ardian tersentak kaget dan langsung berdiri. "P.. Papi..?"


"Kenapa kamu ngedumel sendiri dari tadi? Ini sudah pukul tujuh. MUA sebentar lagi sampai. Tampang kamu kusut kayak gitu. Belum mandi kamu?"


"Iya.. ini aku mau mandi, Pi." Melewati papinya dengan santai.


"Tunggu..!" Sucipto menghentikan langkah putranya


Ardian berbalik dengan malas. "Apa lagi, Pi?"


"Berhenti memikirkan dan menyebut-nyebut nama Amira lagi. Kamu akan memiliki kehidupan baru. Amira adalah masa lalu kamu dan Ayra yang akan menjadi masa depan kamu."


Ardian hanya terdiam mendengar ucapan papinya. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas ke kamar mandi meninggalkan Sucipto yang masih berdiri di tempat.


---------


"Tindik di telinga saya dibuka saja, Mbak." Perintah Ardian datar pada seorang wanita yang sedang meriasnya.


"Dibuka saja, Mbak. Calon istri saya Ustadzah. Aku tidak mau dia kecewa saat aku tidak menuruti keinginannya untuk melepas benda ini." Ardian menyentuh benda berwarna hitam yang masih melekat di telinganya.


Ardian memejamkan matanya seraya menghela nafas berat. Rasa kesalnya pada Chayra semakin menjadi-jadi, saat wanita itu dengan entengnya mengajukan beberapa persyaratan padanya beberapa hari yang lalu.


Flashback on...


Sehari sebelum hari pertunangan.


"Apa ini?" Ardian meraih map yang disodorkan Chayra ke hadapannya.


"Itu adalah syarat-syarat yang saya ajukan sebelum anda resmi menjadi suami saya."


Ardian menautkan alisnya. Sorot matanya tajam menatap Chayra, seolah-olah minta penjelasan dengan maksud persyaratan itu.


"Gue nggak ngerti." Ardian menyodorkan kembali map itu pada Chayra. Mengalihkan pandangannya menahan rasa kesal. Andaikan mereka sedang berdua, sudah pasti ia akan melempar map itu dengan kasar ke wajah Chayra.


Ardian selalu berusaha bersikap sopan pada Chayra jika di hadapan kedua orang tuanya. Jika tidak, banyak hal yang akan dipertaruhkannya.


"Anda akan tau jika anda sudah membacanya." Jawab Chayra dengan tenang. Mendorong kembali map itu ke hadapan Ardian.


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Terpaksa membaca persyaratan yang diajukan gadis itu.

__ADS_1


"Lho, kok persyaratannya isinya merugikan semua."


Chayra tersenyum. "Tidak ada yang merugikan anda jika anda memahami isi persyaratan itu."


Renata yang duduk bersebrangan dengan putranya, beralih duduk ke samping Ardian. "Coba Mami yang baca Sayang. Kita bisa komplain kan, Ayra, jika ada yang memberatkan untuk kami?"


Chayra mengangguk sambil tersenyum lembut.


Ardian mendelik melihat senyum Chayra. Menatap ke sembarang arah karena kesal. Ingin rasanya dia keluar dari rumah itu dan mencari angin segar.


Renata meraih map dari tangan putranya. Membaca satu persatu persyaratan yang diajukan Chayra. "Mm.. Mami rasa, persyaratan ini tidak ada yang merugikan kamu, Sayang. Ini malahan bagus semua. Itu berarti kedepannya, kamu akan menjadi orang yang lebih baik."


Ardian kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Berharap mendapatkan pembelaan dari maminya. Tapi yang dia dapatkan justru kebalikannya.


Flashback off...


Pukul sembilan pagi. Rombongan keluarga Ardian berangkat ke kediaman Chayra. Acara akad nikah dilaksanakan di rumah gadis itu atas permintaannya.


Chayra di rumahnya pun sudah melakukan persiapan. Air mata tidak berhenti mengalir dari mata sayunya.


"Dek, jangan nangis terus dong... makeupnya luntur nanti. Mbak Dini, Penata rias yang merias Chayra terus-terusan ngoceh karena air mata yang terus mengalir.


"Kalau Adek terus-terusan menangis, Mbak takut nanti dibilang tidak becus sama Bos."


"Maaf, Mbak merepotkan ya akunya..."


"Seharusnya Adek tersenyum terus karena ini adalah hari bahagia Adek."


Chayra tersenyum samar. Dia langsung terdiam, menarik nafas dalam. Berusaha berpikir jernih agar air matanya tidak keluar lagi.


"Nah, gitu dong Dek. Kalau senyum kan terlihat semakin cantik." Ucap Dini sambil melanjutkan pekerjaannya.


Sekitar setengah jam berlalu..


Akhirnya Chayra bisa berdiri dan menatap pantulan seluruh anggota tubuhnya di cermin. Senyuman samar kembali terlihat dari bibirnya. Tiba-tiba saja dia berpikir, andaikan Ghibran yang akan menjadi suaminya saat ini. Tentu kebahagiaan itu akan menjadi miliknya. Dan dia akan menjadi wanita yang paling bahagia hari ini.


Chayra kembali menarik nafas dalam saat matanya terasa memanas dan ingin mewek lagi.


"Dek, kamu kenapa terlihat sedih lagi? Jangan bilang kalau kamu mau nangis lagi.." Dini yang sedang membereskan alat-alat makeupnya langsung menampakkan kekhawatirannya saat menatap Chayra.


Chayra kembali tersenyum samar. "Insya Allah, aku tidak akan nangis, Mbak." Bibirnya bergetar dan hidungnya kembang kempis saat menjawab.


"Tahan Sayang ya.. Mbak mohon."


Chayra mengangguk pasrah. Berusaha memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang bisa membuatnya bahagia.


********

__ADS_1


__ADS_2