
Sejak Chayra memijit kepala Ardian malam itu. Pria itu mulai terbiasa dan tidak kaku lagi pada Chayra. Setiap malam Ardian dengan santainya akan meminta Chayra memijit kepalanya bahkan sampai dia terlelap. Dia juga mengadakan niat terselubung dalam hatinya. Perlahan dia akan mengadakan pendekatan agar gadis itu tidak gemetar lagi saat dia bersentuhan kulit dengannya.
Ardian juga mulai terbiasa menghilangkan kekakuannya ngomong pada Chayra. Hanya saat menyebut nama gadis itu, dia merasa masih berat. Sudah terlalu banyak luka yang dia torehkan. Sehingga untuk menyebut nama Chayra, seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Malam itu, ada telepon masuk di handphone Chayra. Merasa tidak berhak untuk menjawabnya, Ardian mengabaikan panggilan itu. Namun, panggilan itu terus berulang sampai pria itu risih karena konsentrasi belajarnya jadi terganggu.
"Ada telepon masuk ni..!" Sedikit berteriak karena Chayra berada di dalam kamar mandi.
Tidak ada jawaban. Ardian bangkit dan mendekat ke kamar mandi. Ternyata air kran sedang menyala. Mungkin itu yang membuat Chayra tidak mendengar panggilannya.
Ardian menggaruk-garuk kepalanya. Handphone itu masih terus berbunyi. Akhirnya, Ardian menarik nafas dalam. "A.. Ayra.. ada telepon masuk di handphone kamu." Sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Suara air kran tidak terdengar lagi. Ardian memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali memanggil Chayra.
"Handphone kamu bunyi terus dari tadi. Aku pusing mendengarnya.
"Siapa yang nelpon?"
"Nggak tau. Kamu cepetan keluar saja."
"Angkat saja, siapa tau penting."
"Jangan marah tapi ya.."
"Ngapain marah..?"
Ardian tersenyum. Dadanya terasa berdebar. Merasa akhir-akhir ini dia lebih dekat dengan Chayra. Berjalan mendekati handphone Chayra yang masih terus berbunyi.
"Assalamualaikum, maaf pemilik handphone ini sedang mandi. Tapi saya sudah izin kok untuk menerima panggilan ini."
Orang di balik telepon terperanjat mendengar suara itu. Suara pria yang membuatnya hampir frustasi dan putus asa.
"Halo, apa ada orang disana?" Kembali Ardian bertanya karena si penelepon tidak menjawab salamnya. "Kok diem?"
Masih hening. Sang penelepon sepertinya tidak bisa berkata-kata.
"Saya akan tutup teleponnya kalau anda masih diam."
Masih tidak ada respon.
Kesabaran Ardian habis. "Kalau nggak mau ngomong nggak usah nelepon. Ganggu orang aja. Assalamualaikum.." mendengus lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Ardian meletakkan handphone Chayra. Namun, ia urungkan saat melihat pesan masuk.
Maaf, saya mau bicara dengan Chayra Azzahra bukan anda.
"Huh," Ardian kembali mendengus. "Nggak perduli gue. Cuma berniat menjawab telepon karena terlalu berisik dan mengganggu." Ardian mengembalikan handphone ke layar utama. Matanya tidak bisa berkedip saat melihat wallpaper yang menampakkan wajah seorang wanita cantik tersenyum lebar. Dadanya kembali berdebar tak menentu. Meletakkan kembali handphone itu karena pintu kamar mandi dibuka.
__ADS_1
"Sudah di jawab teleponnya?" Chayra masih berdiri di depan pintu.
"Eh, s.. sudah. Tapi orangnya tidak mau ngomong. Dia mengirim pesan kayaknya. Kamu bisa baca nanti."
"Terimakasih.." Chayra berlalu dan masuk ke ruang ganti. Tidak lupa dia mengunci pintu agar orang yang sedang belajar tobat di luar tidak mengganggunya.
*******
"Aku mau jalan-jalan, temenin ya..." Sore itu Ardian merengek pada Chayra agar gadis itu mau menemaninya keluar.
"Mau kemana, yang benar saja. Ini sudah sore dan setengah jam lagi mau Maghrib."
"Aku mau beli sesuatu. Tapi, aku butuh pendapat kamu agar tidak salah pilih."
Chayra menghela nafas berat. Merasa takut kalau Ardian menjebaknya seperti dulu. "Bilang dulu mau kemana. Aku nggak mau kena tipu seperti waktu itu."
"Itu tidak akan terjadi. Aku benaran mau beli sesuatu."
Chayra kembali berpikir. Melirik beberapa kali ke arah Ardian.
"Kamu nggak percaya ya, sama aku.." menatap Chayra dengan tatapan memohon. "Tumben lo aku ngajak kamu keluar."
"Mm.. iya deh. Tapi cepatan pulang ya.."
"Ok.. ayo kita bersiap kalau begitu." Ardian masuk duluan ke ruang ganti."
"Gue laki-laki. Cewek mah ribet dandannya." Ardian langsung menutup pintu. Berdiri di depan cermin sambil tersenyum. Entah mengapa dadanya semakin sering berdebar-debar ketika berdekatan dengan Chayra.
Membuka baju rumahan yang dipakainya dan menggantinya dengan baju yang lebih pantas. Mengambil parfum lalu menyemprotkan ke seluruh anggota badannya. Kembali tersenyum, memperbaiki tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.
Senyum Ardian memudar ketika matanya menangkap benda bulat hitam yang masih melekat di telinganya. Chayra tidak pernah mempermasalahkan keberadaan benda itu sekarang.
"Tapi..." Ardian mencopot benda itu dari telinganya. Entah kenapa dia ingin tampil sempurna untuk wanita itu sekarang. "Laki-laki bertindik tidak pantas berdampingan dengan wanita bercadar." Ucapnya pada diri sendiri.
Ardian tertawa kecil. "Lho kenapa sih, Ardian? Apa lho sudah jatuh cinta pada istri lho? Apa rasa benci yang lho simpan selama ini sudah dihapus oleh perasaan berdebar-debar ini?"
Ketukan di pintu membuat Ardian menghentikan curhatannya pada bayangannya.
"Ganti bajunya lama sekali. Ini sebentar lagi adzan. Kita shalat di rumah aja kalau begitu."
"Iya tunggu sebentar. Ini aku sebentar lagi keluar."
Chayra mendengus. "Bilangnya wanita yang lama dandan. Eh, malah dianya yang menghabiskan banyak waktu." Berjalan menjauh, mengambil mukenah lalu memakainya.
"Lo, kok udah pakai mukenah. Beneran mau shalat dulu?"
"Iya, sudah renungan di Masjid. Nanggung kalau adzan nanti di jalan." Chayra memperhatikan Ardian yang terlihat berbeda. Kayak ada yang hilang dari penampilan pria itu. Namun, untuk bertanya dia enggan untuk melakukannya. Lebih baik mencari tau nanti.
__ADS_1
"Iya sudah, gue tunggu di luar."
"Memangnya anda tidak mau shalat?' Chayra menatap tajam Ardian.
"S.. shalat kok. Tapi gue mau shalat di luar. Di Musholla maksud gue."
"Oh, baiklah. Saya tidak lama kok." Chayra kembali duduk setelah mendengar adzan berkumandang.
Ardian menggaruk-garuk kepalanya seraya berlalu keluar. "Harus shalat dulu deh gue kalau begitu. Bakal nanya terus nanti kalau nggak shalat." Ardian termenung. "Eh, tadi dia bilang anda saya lagi. Apa karena gue pakai lho gue lagi saat ngomong sama dia." Menggeleng-geleng pelan sambil tersenyum. "Benar-benar deh ni cewek. Semakin kesini kok malah membuat gue semakin penasaran dengannya."
"Shalat dulu deh kalau gitu. Jangan sampai dia nggak jadi mau diajak kalau gue nggak shalat. Ardian bergegas menuju Musholla.
Renata dan Sucipto yang sudah duduk di Musholla terkejut melihat putranya.
"Ada apa, Nak, tumben kemari?"
"Mau shalat lah, Mi. Memangnya cuma kalian berdua yang bisa shalat. Gue juga udah tobat kali.." Ardian langsung membaca basmalah dan takbir shalat.
Renata dan Sucipto hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan putranya. Namun, tersirat rasa bahagia karena putranya itu setidaknya ada perubahan.
Ardian belum menghapal semua bacaan shalat. Hanya surat Al Fatihah yang dia hafal di luar kepala. Itupun butuh waktu satu Minggu untuk menghafalnya.
"Kalian mau kemana sebenarnya?" Sucipto bersikeras menahan langkah putranya.
"Papi kok jadi kepo gini sih?! Mau kemana aja terserah Ardian dong. Ardian kan pergi dengan pasangan bukan sendiri."
"Iya.. tapi Papi tidak mau kejadian yang kemarin terulang lagi. Mau ditaruh dimana muka Papi kalau kamu buat masalah lagi. Kemarin hampir saja Pak Akmal mengamuk gara-gara kamu membawa cucunya kelayapan ke Klub."
Ardian hanya bisa cengengesan. Hal itu memang benar adanya. Tapi sekarang beda lagi ceritanya. Dia ingin membawa keluar Chayra karena benar-benar ingin mengajak gadis itu jalan-jalan. Bukan lagi berniat untuk menjebak gadis itu."
"Kamu harus ingat, Nak. Wanita yang di sampingmu sekarang, bukan lagi wanita murahan. Dia adalah wanita terhormat yang senantiasa menjaga kehormatannya. Hanya pria bodoh sepertimu yang tidak bisa membedakan yang mana ketan hitam dan yang mana kotoran tikus."
"Papi.. apaan sih.." Ardian menarik tangan Chayra. "Ayo, kita berangkat."
Chayra hanya mengangguk. Sebenarnya dia risih digenggam tangannya oleh Ardian. Namun, dia tidak mau mertuanya kecewa saat melihatnya menarik tangannya.
"Lepas ah, nggak nyaman kayak gini." Chayra akhirnya menarik tangannya setelah sampai di depan mobil.
"Akting.. biar Papi dan Mami tidak berfikir negatif lagi sama gu.. aku." Ardian meralat ucapannya.
"Huh, nggak perlu akting segala. Tunjukkan saja apa yang sebenarnya. Akting, akting ujungnya pasti ketahuan." Chayra memanyunkan bibirnya sambil menatap ke sembarang arah. Andaikan tidak tertutup cadar, Ardian pasti gemas melihat tingkah wanita itu.
Ardian menatap Chayra yang terlihat menghindari bertatapan dengannya. Beberapa kali menarik nafas dalam untuk menahan debaran di hatinya.
******""
__ADS_1