Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Karena Tina atau Ghibran?


__ADS_3

Chayra tertawa di atas sepeda motor saat Ardian memboncengnya.


"Kamu kenapa bahagia sekali dibonceng seperti ini? Ini sebenarnya kurang aman untuk kamu. Kamu duduk dengan posisi seperti ini lagi." Ardian parkir dengan sempurna di parkiran Mahasiswa.


"Nggak perduli. Yang penting aku bahagia." Ucap Chayra sambil tangannya mencoba melepas pengait tali pengikat helm yang menutupi kepalanya. "Lho, ini kok nggak bisa kebuka, Kak."


"Kamu belum membukanya dengan benar. Sini, aku bantu." Ardian melepas tali pengikat dengan hati-hati. "Tuh, kan bisa.."


"Makasih, Kak."


Ardian mengangguk seraya meletakkan helm di kaca spion motor matic istrinya.


"Mm.. Chay.."


"Iya.."


"Aku harus pulang sekarang. Aku tidak bisa menunggu kamu sampai pulang." Ardian menatap istrinya dengan tatapan sendu.


"Tapi, nanti janji ya, harus jemput aku."


"Mm.. kalau Ibu tidak mengizinkan aku menjemput kamu?"


"Nggak akan. Ibu itu adalah orang yang paling baik dan paling pengertian."


"Iya.. insya Allah nanti aku usahakan. Mm.. tau nggak?"


"Apa?"


"Aku kira toko besar itu bukan milik Ibu. Kemarin saja aku diminta oleh seorang Bapak buruh bangunan untuk melamar kerja di toko itu."


"Lho, Kak Ardian sudah kemana sampai disuruh seperti itu?"


"Aku kan cari kerja dari kemarin."


"Owh," hanya itu jawaban Chayra.


"Kamu baik-baik di Kampus. Sekarang ada jadwal Pak Ghibran. Aku harap kamu bisa menjaga jarak dengan dia. Aku tidak mau ada drama bara-berenya nanti."


"Apaan sih? Mana ada kayak gitu. Insya Allah semua akan aman. Kakak jangan berpikir macam-macam. Kerja yang betul. Jangan membuat Ibu kecewa."


"Do'akan aku, Sayang."


"Do'aku selalu menyertaimu." Chayra meletakkan tangannya di pipi Ardian.


"Coba kayak gini dari kemarin. Perasaanku pasti berbunga-bunga terus. Ini, eh, malah marah-marah terus. Jangankan minta jatah, minta peluk aja tidak berani kalau kamu yang tidak peluk aku duluan."


Chayra menyebikkan bibirnya. Walaupun wajahnya tertutup cadar, Ardian yang sudah hapal ekspresi itu langsung menangkup pipinya.

__ADS_1


"Jangan berekspresi seperti ini di depan orang lain."


"Kenapa emangnya?"


"Aku nggak mau mereka gemas melihat ekspresi kamu dan ingin mencubit pipimu nantinya."


Chayra hanya mendengus seraya mengalihkan pandangannya. Ardian ingin tertawa dan langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Sudah, Sayang. Berlama-lama seperti ini membuatku semakin sulit untuk berpisah dengan kamu."


"Kkhhhmmm... masih belum puas sayang-sayangan, rindu-rinduan?" Alesha dan Tina yang entah datang darimana tiba-tiba sudah bersedekap di belakang Ardian.


"Masih belum puas." Jawab Ardian. Tangannya melingkar dengan erat di pinggang Chayra. Membuat gadis itu tidak bisa melepaskan diri.


"Ini juga tangan aku nggak bisa lepas. Seperti ada magnet di badan Chay yang menarik aku untuk selalu dekat dengannya."


"Lebuy... lho, Kak. Baru merasakan namannya jatuh cinta yang sesungguhnya lho?! Lho sih, dari dulu cuma berniat mempermainkan wanita." Alesha memutar bola matanya kesal.


"Terus saat lho bersama Amira dulu, apa rasanya berbeda?" Tina tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan sensitif.


Ekspresi Chayra terlihat berubah, begitu juga dengan Ardian. Tangan pria itu langsung terlepas dari pinggang istrinya. Jangan tanyakan lagi dengan Alesha. Gadis itu yang paling menunjukkan ekspresi tidak suka dengan pertanyaan Tina.


"Lho bisa nggak, Tin, nggak usah bahas Amira dalam situasi seperti ini. Lho nggak suka apa, melihat sahabat lho berbahagia. Kenapa sih, lho selalu saja menyebut-nyebut namanya. Lho tau kan, dia sudah rela merusak kebahagiaan sahabatnya dengan berbuat nekat sejauh itu." Alesha langsung berkata sinis pada Tina.


"Kok lho yang ngegas. Apa masalahnya coba, kalau gue bertanya. Toh, Amira kan, hanya menjadi bagian dari masa lalu Kak Ardian. Iya kan, Kak Ardian, Ayra?"


Chayra hanya tersenyum datar menanggapi ucapan Tina. Sedangkan Ardian, pria itu hanya diam. Namun, ekspresinya sulit di tebak.


"Aku sudah melupakannya, Tina. Malahan yang tersisa sekarang hanya rasa kecewaku untuknya."


"Loh, kecewa karena apa?"


"Jangan pura-pura tidak tau. Aku yakin kamu sudah tau maksud aku. Jadi, jangan terus-terusan membelanya kalau kamu tidak mau aku menyebutkan apa kesalahannya. Jangan kira kami bodoh juga. Kamu lupa siapa Kakeknya Ayra. Berita yang tersebar kemarin membuat aku harus numpang di rumah istriku. Apakah dia akan melakukan hal yang sama, jika aku masih berhubungan dengannya. Ego orang tuanya hampir sama dengan ego orang tuaku."


Tina tidak bisa berkata-kata. Mengira kalau diamnya Ardian selama ini karena pria itu tidak tau semua perbuatan sahabatnya. Ternyata, Ardian yang sekarang sudah benar-benar berubah. Ardian yang sekarang tidak lagi Ardian yang suka menyimpan dendam.


Ardian mendengus setelah mendapati Tina tidak lagi bisa bicara.


"Mm.. Chay, aku pulang dulu ya. Ingat pesan aku tadi. Kamu harus jaga jarak dengan Pak Ghibran."


Chayra tersenyum seraya menatap suaminya. Ekspresinya kembali seperti saat mereka sedang berdua tadi. "Iya, iya.. takut banget sih, kalau aku baper lagi sama Kak Ghibran."


"Bagiamana nggak takut, Sayang. Aku bisa kehilangan kamu dong, kalau kamu sampai baper lagi sama dia. Tau kan, yang kayak kamu ini limited edition banget." Ardian berucap sambil melirik ke arah Tina. Berharap gadis itu sadar, kalau dia benar-benar tidak ada rasa lagi untuk Amira. Hati dan perasaannya saat ini sepenuhnya untuk Chayra.


"Apaan sih?!" Chayra terlihat salah tingkah.


Ardian menarik nafas dalam. "Kalau begitu aku berangkat kerja dulu." Mendaratkan satu ciuman di dahi istrinya. "Assalamualaikum.. aku pamit."


"Wa'alaikumsalam.." Chayra tersenyum melepas kepergian suaminya. Motor maticnya meleset cepat meninggalkan area Kampus.

__ADS_1


********


Chayra beberapa kali berhasil menghindari tatapan Ghibran. Pria itu terlihat benar-benar masih mengharapkannya.


Namun, tiba-tiba saja Ghibran berdiri di samping tempat duduknya. Chayra hanya bisa menelan ludahnya saat aroma parfum pria itu menusuk ke indra penciumannya.


Perut Chayra seperti di aduk. Padahal hidung dan mulutnya tertutup cadar. Namun, entah kenapa aroma parfum itu seperti melekat dan semakin membuatnya mual.


Wajah Chayra tiba-tiba berubah pucat. Alesha yang melihat ekspresi wajah sahabatnya sedikit menggeser tempat duduknya. Chayra berusaha menahan muntah yang sudah siap tumpah.


"Hei, lho kenapa, Ayra?" Alesha berbisik karena takut Ghibran mendengar suaranya.


Chayra hanya mengisyaratkan dengan tangannya karena mulutnya sudah penuh dengan muntah. Sebelah tangannya lagi dia pakai untuk menutup mulutnya.


"Kita izin keluar sekarang." Alesha langsung bangkit dan membantu Chayra berdiri. "Mm... Pak, maaf, kami izin sebentar. Ayra mual dan muntah."


Ghibran tertegun mendengar ucapan Alesha. Dari tadi Chayra hanya menunduk sejak dia berdiri di samping tempat duduknya. Ghibran kira, gadis itu hanya sengaja menghindarinya.


"Permisi, Pak." Ucap Alesha lagi, membuat Ghibran tersadar dari lamunannya.


Tina ikut bangkit, mengikuti langkah Alesha dengan cepat.


Ghibran terdiam sejenak lalu kembali ke mejanya. Meletakkan bukunya dan ikut keluar mengikuti tiga gadis itu.


Suasana kelas jadi riuh begitu Dosen mereka keluar dari kelas. Apalagi melihat raut wajah Ghibran yang terlihat sangat khawatir begitu mendengar kalau Chayra mual dan muntah.


"Bagaimana?" Ghibran bertanya saat melihat Tina keluar dari area toilet wanita.


Bukannya menjawab pertanyaan Ghibran, Tina malah terkejut dengan keberadaan Ghibran di tempat itu.


"Lho, kok Pak Ghibran ada di sini?


"B... bagaimana keadaan Zahra?" Ghibran sedikit tergagap karena pertanyaan Tina.


"Dia muntah terus. Sepertinya asam lambungnya naik. Mungkin dia lupa sarapan tadi pas berangkat Kuliah. Dia kan ada riwayat penyakit maag."


"Aku tau kalau dia penderita maag. Tapi, kok bisa sampai lupa sarapan?"


"Kok Pak Ghibran tanya aku? Mana aku tau lah." Jawab Tina sewot.


"Tina cepetan minta bantuan." Suara Alesha dari dalam kamar mandi membuat Tina ingat kalau dia keluar untuk mencari bantuan.


"Mm... maaf, Pak. Aku harus cari bantuan dulu. Ayra tidak bisa berdiri karena lemes. Wajahnya benar-benar pucat karena kebanyakan muntah."


"Biar aku yang bantu." Ghibran bergegas masuk ke dalam area toilet wanita. Tidak perduli dengan statusnya. Tidak perduli mau memasuki wilayah terlarang untuk laki-laki. Yang lebih utama, dia harus menyelamatkan wanita pemilik hatinya.


"Eh, Pak. Tapi..." Tina akhirnya ikut masuk karena tidak bisa menghentikan langkah Ghibran.

__ADS_1


*********


__ADS_2