Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Suami siaga atau posesif


__ADS_3

Chayra menginap satu malam di Rumah Sakit. Setelah dinyatakan semuanya baik-baik saja oleh Dokter. Akhirnya Chayra diperbolehkan pulang.


"Ingat cantik ya, rajin periksa. Minimal periksakan satu bulan sekali. Kamu boleh memilih Dokter Kandungan yang kamu percaya." Pesan Dokter cantik yang berdiri di samping ranjang Chayra.


Chayra hanya mengangguk seraya membalas senyuman Bu Dokter.


Sementara itu, seorang Perawat sedang membuka jarum infus yang masih menancap di tangan kiri Chayra.


Ardian meringis melihat Chayra meringis saat perawat itu menarik jarum infus dari tangan istrinya. "Dek, pelanan caranya. Istrinya saya kesakitan itu."


Perawat wanita itu mendelik melirik Ardian. "Namanya juga lagi buka jarum. Sudah pasti sakit lah, Kak." Kembali melanjutkan aktivitasnya yang terhenti karena ucapan Ardian.


Dokter cantik yang masih berdiri di samping ranjang tersenyum. "Benar-benar suami siaga suaminya. Ini baru hamil, bagaimana kalau anaknya lahir nanti. Sudah pasti ibunya akan dimanjakan terus."


"Itu bukan suami siaga namanya, Bu Dok. Itu suami posesif, kebangetan." Timpal Perawat itu lagi. Menarik nafas lega setelah selesai membuka infus.


"Bagus kalau begitu, kan. Jadinya, tidak ada yang berani macam-macam sama istrinya." Timpal Bu Santi. "Mukanya saja sampai bonyok seperti itu karena belain istri." Sambungnya lagi.


Dokter dan Perawat itu tersenyum. "Dibelain mertua itu. Tapi, perasaan saya kemarin, kenyataannya berbeda dengan cerita Ibu." Perawat itu berucap sambil menahan senyum. "Saya kebetulan ada di lokasi kemarin. Ikut jadi penonton, Bu." Sedikit berbisik seraya mencondongkan badannya pada Santi.


"Eheheh.. ternyata ikut jadi penonton ya, Nak." Santi cengengesan salah tingkah. "Kalau Ibu cuma dengar ceritanya dia pas udah kejadian."


"Enak banget, Kak. Jadi rebutan dua pria sekaligus." Perawat itu menyentuh lengan Chayra.


"Mana ada seperti itu. Yang ada aku jadi pusing malahan. Kondisi badan kurang fit. Pas bangun, dikejutkan lagi dengan keadaan suami yang seperti ini."


"Iya sudah, lain waktu kita bercanda lagi. Masih ada dua pasien yang akan saya periksa. Kami pamit dulu, Bu. Mari..." Bu Dokter bersama perawat itu berlalu dari ruang rawat Chayra.


Chayra menahan senyum melihat ekspresi suami dan ibunya. "Niat banget mau bercanda, Bu. Ternyata orangnya sudah tau duluan ceritanya."


"Cuma basa-basi aja, Nak." Timpal Santi sambil mengemas barang-barang yang akan mereka bawa pulang.


Ardian mendorong istrinya menggunakan kursi roda. Pria itu menyembunyikan keadaannya dengan menggunakan masker dan kacamata hitam. Dilengkapi pula dengan topi hitam yang bertengger di kepalanya.


"Siapa yang akan tau kalau wajah yang tersembunyi dibalik masker itu bonyok." Ucap Chayra memecah kesunyian. Andaikan ada Tina dan Alesha, suasana pasti tidak akan sunyi. Pasti ada saja lelucon yang akan mereka ciptakan untuk mengusir sepi.


Ardian menghentikan langkahnya. Mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Chayra sambil tersenyum. "Ini semua karena ulah mantan kamu yang gagal move on itu. Coba saja dia bisa move on dan merelakan kamu untukku. Keadaanku tidak akan seburuk ini."

__ADS_1


Chayra ikut tersenyum. Entah mengapa dia mulai terbiasa dan tidak merasa terusik, walaupun nama Ghibran berulang kali disebut di depannya. "Terus Kak Ghibran terluka juga seperti Kakak?"


"Hhmmm..." Ardian kembali menegakkan badannya sambil menyebikkan bibirnya. "Jangankan bonyok, Chay. Bekas tanganku saja tidak akan kamu jumpai di wajah ataupun anggota tubuhnya yang lain. Aku sama sekali tidak menyentuhnya, alaupun hanya ujung kukunya."


"Hah, Kakak sendiri dong, yang terluka? Terus dianya baik-baik saja gitu?" Chayra mendongak menatap suaminya. Masih tidak percaya dengan ucapan Ardian.


"Mmm... dia bahkan langsung pergi setelah puas melampiaskan amarahnya padaku. Kamu tau, aku seperti tidak mengenalnya waktu itu. Dia memukulku dengan brutal. Seperti orang yang kerasukan dia itu." Ardian menghela nafas berat . "Aku hanya bersyukur, aku berhasil meluruskan pendapat orang yang menonton drama itu." Ardian duduk di samping kursi roda istrinya karena mereka sudah sampai di dekat portal keluar. Menunggu Santi yang sedang mengambil mobil mereka.


"Memangnya dia buat drama apa?" Chayra menunduk karena tali sepatunya lepas.


Ardian langsung mengerti. Menunduk di depan Chayra seraya tangannya cekatan memperbaiki tali sepatu istrinya. "Dia mengeluarkan kata-kata, seolah-olah aku yang bersalah. Dia menyalahkan aku atas kehamilan kamu. Aku kan bingung jadinya. Orang-orang bahkan sempat menatap sinis ke arahku. Tapi, saat aku mengeluarkan pembelaan, mereka berbalik arah. Giliran Pak Ghibran yang mereka tatap dengan sinis."


Chayra hanya terdiam mendengar cerita suaminya. Sampai akhirnya mobil Santi tiba di hadapan mereka. Ardian merangkul istrinya, membantunya menaiki mobil. Mengucapkan terimakasih seraya menyerahkan selembar uang pada seorang Cleaning Servis yang membantunya membawa barang-barang mereka keluar.


Ardian berusaha memejamkan matanya selama perjalanan. Semalaman dia tidak bisa tidur karena sibuk menjaga istrinya. Padahal yang dijaga sedang tidur pulas. Ardian hanya khawatir kalau Chayra bangun dan membutuhkan sesuatu dan tidak bisa meminta bantuannya.


Sampai rumah, Ardian kembali harus berhadapan dengan singa jantan yang kemarin mengamuk padanya. Hanya bisa menghela nafas berat menghadapi kenyataan ini. Mau menghindar, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Singa itu berada di rumah mertuanya.


"Eh, ada Nak Ghibran ternyata." Santi berusaha bersikap seperti biasanya pada Ghibran. Iya.. walaupun sebenarnya dia kecewa karena tindakan Ghibran yang seperti itu."


"I.. iya, Bu. Aku... aku datang karena mau minta maaf pada Zahra." Melirik ke arah Chayra yang hanya menatap lurus ke depan.


Ghibran bangkit. "Itu sudah kewajibanku, Zahra." Melangkah sedikit lebih mendekati Chayra.


"Pak Ghibran jangan mendekat!"


Ucapan Ardian langsung menghentikan langkah Ghibran. Ardian bahkan berani mendorong tubuh Ghibran yang sudah berjarak beberapa langkah dari istrinya.


"Saya tidak mau anda mendekati istri saya. Sudah cukup anda membuat keributan. Kemarin saya diam mendapati perlakuan buruk anda. Tapi, TIDAK untuk sekarang."


"Maksud kamu apa? Kenapa kamu ngomong gitu, Ardian. Terdengar sangat tidak sopan." Zidane akhirnya angkat bicara karena bingung dengan perubahan sikap Ardian. Biasanya pria itu akan berusaha bersikap sopan pada Ghibran, walaupun dalam hatinya hanya Allah yang tau.


Ardian membuka topinya. Setelah itu kacamata hitam yang menutupi matanya.


Zidane langsung tersentak melihat mata Ardian. "Astagfirullah, mata kamu kenapa, Ar?!"


Ardian tidak menjawab. Dia malah membuka masker yang menutupi mulutnya.

__ADS_1


"Allahuakbar! Kamu kenapa ini, Ar?! Apa yang terjadi. Kenapa kamu tidak menceritakan apa-apa sama aku." Zidane mengusap pelan wajah adik iparnya yang terlihat sangat memperihatinkan.


"Kenapa kamu diam, Ardian? Jawab pertanyaan Kakak."


Ardian tersenyum sinis seraya menatap ke arah Ghibran. "Ini semua hasil dari perbuatannya, Kak."


Zidane semakin kebingungan. "Maksud kamu, Ghibran yang membuat kamu sampai seperti ini?!" Zidane menggeleng-geleng pelan. "Nggak masuk akal, Ar. Dia itu tidak pernah berbuat gegabah. Apalagi sampai melukai orang. Aku sudah mengenalnya sejak kami masih di Sekolah Dasar. Aku satu angkatan dan kami juga bersahabat."


Ghibran yang mendapatkan pembelaan dari Zidane hanya menundukkan kepalanya.


"Aku yang baru kemarin mengenal dia saja tidak percaya andaikan bukan aku yang menjadi korbannya."


"Tapi... ini masalah kalian apa, sampai harus seperti ini? Apa ini gara-gara Ayra lagi?" Zidane mengusap wajahnya kasar.


"Kak Zidane bisa tanyakan sahabat Kakak itu. Aku mau mengantar istriku istirahat dulu. Nanti dia malah mengganggunya lagi. Istriku sedang HAMIL ANAKKU. Jadi, dia butuh istirahat yang cukup." Ardian berlalu sambil melingkarkan tangannya di pinggang Chayra. Membawa Chayra menuju kamar. Meninggalkan Zidane dengan semua rasa penasarannya. Melirik sekilas ke arah Ghibran yang ternyata sedang menatap kepergian mereka.


Chayra menepis tangan Ardian setelah mereka sampai di dalam kamar. "Jahat banget sih, berkata begitu. Tau lagi panas, lagi menyalakan kompor. Lihat nggak tadi ekspresinya Kak Ghibran. Kayak yang kesel banget mendengar ucapan Kakak."


"Nggak perduli gue. Dia bisa menghancurkan muka aku kayak gini. Aku tidak akan membalasnya dengan hal yang sama. Tapi, aku akan membalasnya dengan menyakiti perasaannya."


"Sakit hati itu lebih perih dari luka yang berdarah, Kak."


"Nah, itu makanya. Aku tidak akan membuat wajah tampannya itu bonyok, seperti yang dia lakukan padaku. Tapi, hatinya yang akan bonyok secara perlahan-lahan."


"Dasar, jelek banget niatnya." Chayra mencubit pipi Ardian.


"Aww... sakit, Chay. Pipi aku masih bengkak. Kenapa kamu cubit."


"Hahhah... astagfirullah, aku lupa, Kak. Maaf, maaf. Sini, aku usap-usap biar nggak sakit lagi."


Ardian memonyongkan bibirnya. Tetapi dia mendekatkan wajahnya pada Chayra.


"Kok, Kakak terlihat jelek banget ya..."


"Makanya.. punya mantan pacar itu jangan posesif. Tau nih, suami lu digebukin sampai bonyok."


"Huh, bukan salah aku dong. Salahin tuh, perasaan kalian para laki-laki." Chayra mendelik seraya berbalik, duduk membelakangi suaminya.

__ADS_1


*********


__ADS_2