
Chayra memutuskan untuk membantu suaminya menangani masalahnya dengan Amira. Temannya yang satu itu benar-benar nekat. Memang dari dulu, Amira selalu ingin dominan dari kedua temannya yang lain. Memaksakan kehendak dan tidak suka diatur. Mungkin karena dirinya adalah anak tunggal, itu yang membuatnya bersifat seperti itu.
Pagi itu, Chayra ada janji untuk bertemu dengan Tina dan Alesha. Walaupun ada rasa enggan untuk mengganggu Alesha yang masih pengantin baru, tetapi dia harus bergerak cepat agar masalah ini cepat selesai. Mereka bertemu di rumah Alesha karena tempat itu yang paling aman sebagai tempat mereka berdiskusi.
"Tumben datang kemari, Dek." Zidane yang baru turun dari kamar atas menyapa adik sepupunya untuk sekedar berbasa-basi.
"Ada masalah sedikit, Kak. Tapi aku harus menyelesaikannya bersama Alesha dan Tina."
"Masalah apa?" Zidane bertanya sambil memasang kaos kakinya.
Chayra menarik nafas dalam. "Masalah dengan Amira. Dia membuat ulah lagi."
Zidane mengehentikan aktivitasnya lalu beralih menatap Chayra. "Apa masalah yang diceritakan Kakek padaku kemarin?"
"Oh, ternyata Kakek sudah menceritakannya sama Kak Zidane." Chayra membuang nafas kasar. "Aku sangat terkejut dengan kejadian subuh itu, Kak. Apalagi masih ada keluarga besar di rumah. Abah bahkan terlihat kesal pada Kak Ardian. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu adalah bagian dari masa lalu."
"Apa Kakek benar-benar melakukan tes laboratorium untuk Ardian?"
Chayra menatap Kakaknya dengan tatapan sendu. "Katanya sih mau melakukan itu. Tapi, sampai sekarang Kakek belum memanggil Kak Ardian untuk menghadap. Aku jadi mengkhawatirkan Kak Ardian, Kak."
"Heh, muka kamu kayak yang sedih banget, Dek. Ngapain harus khawatir kalau memang dia baik-baik saja. Do'akan saja semoga semuanya berjalan lancar dan baik-baik saja." Zidane kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Aamiin.."
"Kakak mau ke Kantor?" Chayra melihat Alesha turun dengan membawa tas kerja Zidane.
"Iya, Dek. Tadi malam Kakek telepon. Aku sudah terlalu lama cuti katanya. Padahal baru aja lima hari belum juga satu minggu."
"Resiko menjadi orang penting." Jawab Chayra.
Zidane hanya tersenyum kecil. Meraih tas kerja yang sudah di letakkan Alesha di atas meja ruang keluarga. "Aku berangkat, Sayang. Jangan membiarkan Ayra terlalu lama duduk ya. Suruh dia bangun sesekali nanti sekiranya kalian berdiskusi lama. Nanti kakinya bengkak kalau dibiasakan terlalu lama duduk. Kehamilannya sudah memasuki trimester akhir. Kalau bisa diskusi sambil jalan-jalan di taman mungkin itu lebih baik untuk dia."
"Iya.." Alesha melengos mendengar tausiah panjang suaminya.
"Aku berangkat kalau begitu." Menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan istrinya. Meriah kepala istrinya lalu mencium dahinya setelah Alesha mencium tangannya terlebih dahulu. "Assalamualaikum..." Zidane berlalu keluar setelah mendengar jawaban salam dari istri dan Adiknya.
Alesha mendengus selepas kepergian Zidane. "Adiknya yang hamil cerewetnya minta ampun. Apalagi kalau aku yang hamil nanti. Nggak kebayang deh, posesifnya dia nanti."
__ADS_1
"Itu bagus lagi, Lesha. Itu namanya suami perhatian." Ucap Chayra sambil menahan senyum. "Kamu nantinya bakalan dijadikan tuan putri kayaknya."
"Huh, tuan putri dari Hongkong. Yang ada malahan aku merasa menjadi tahanan nantinya karena ini itu nggak boleh. Sekarang aja udah banyak larangan. Kamu jangan minum minuman bersoda. Kita tidak tau apa sudah terjadi pembuahan atau belum. Kamu juga jangan minum obat sembarangan. Dan bla... bla... bla... masih banyak lagi tausiah yang terus menerus diucapkan setiap aku ingin makan atau minum." Alesha berucap sambil menahan kesal mengingat larangan-larangan suaminya setiap hari. "Gue sangat bersyukur pas Kakek Akmal nelpon semalam. Hahahah..." Alesha tertawa saat membayangkan ekspresi suaminya yang dimarahi Kakek semalam.
"Kok kamu tertawa?"
"Mas Zidane dimarahi Kakek karena terlalu lama cuti. Pekerjaan numpuk kata Kakek. Terus diomelin juga sampai dia menggosok-gosok telinganya." Alesha kembali tertawa.
"Eh, usah merubah panggilan ternyata."
"Iya, gue memang langsung merubah panggilan pas kami sudah halal. Ngapain panggil Kakak terus. Nanti malah dikirain kakak gue lagi. Lho aja yang yang masih manggil suami dengan sebutan Kakak. Nggak romantis tau nggak."
"Nggak ngaruh untuk aku. Yang penting bisa menjaga aku dan bisa menafkahi aku. Tidak ada masalah kok. Kak Ardian juga nyaman kok di panggil Kakak. Nggak pernah ngeluh juga. Ibu aja yang suka protes."
"Kok kita malah membahas nama panggilan sih." Alesha baru sadar tujuan Chayra mendatangi rumahnya. "Lho datang kemari sendirian?"
"Iya... kalau aku ada teman, kamu akan melihatnya duduk disini."
"Bukan gitu maksud gue. Lho bawa kendaraan sendiri atau diantar, gitu..."
"Oh, aku diantar Kak Ardian. Sekalian ke Kantor tadi dia"
"Mana dikasih keluar kalau bawa mobil sendiri. Sikapnya juga hampir sembilan dua belas sama Kak Zidane."
"Sebelas dua belas kale kata orang."
"Nggak, kalau aku pakai sembilan dua belas. Karena posesifnya suami aku masih bisa ditoleransi. Kalau suami kamu mah, posesifnya pakai kebangetan."
"Haduh.. udahlah, lho tunggu sebentar disini. Gue mau manggil Tina. Tu orang kalau nggak dipanggil suka lupa."
"Iya..." Chayra mengangguk menatap kepergian Alesha. Chayra membuka handphonenya untum melihat video rekaman yang sempat ia copy ke smartphone miliknya semalam. Hanya beberapa menit menunggu, Alesha tampak masuk diikuti Tina dibelakangnya.
"Lho udah lama datang, Ayra?" Tanya Tina sambil menghempaskan tubuhnya di samping Chayra.
"Dari tadi jam delapan. Aku diantar Kak Ardian kemari."
Tina menarik nafas panjang. "Kok urusannya jadi ribet begini ya. Kemarin gue sempat kasihan sama si Amira pas acara nikahan Alesha. Dia itu terlihat sangat putus asa pas melihat lho bergandengan dengan Kak Ardian. Tapi, lama-lama kok bawaannya.jadi kesel gue sama dia. Dia ngomong ngawur ngelantur pas gue antar dia pulang. Pakai acara mau balas dendam segala katanya. Gue kira dia cuma main-main dengan ucapannya."
__ADS_1
Chayra hanya tersenyum lemah. Bingung mau menanggapi apa cerita Tina.
"Gue jadi bingung sama Amira yang sekarang. Dia itu terlihat berubah drastis. Dia itu terlihat kayak tokoh antagonis seperti di sinetron-sinetron itu. Malah pakai acara nggak perduli sama suami sendiri gitu katanya." Tina bercerita sambil mangap-mangap karena tidak percaya dengan perubahan temannya. Gue boleh lihat nggak video rekaman yang lho ceritakan semalam. Lho pasti menyimpannya kan?" Tina langsung ingat dengan cerita Chayra semalam tentang video rekaman kejahatan temannya.
"Tunggu, gue mau ambil laptop di kamar. Kalau nontonnya pakai handphone takutnya tidak jelas." Alesha bergegas menaiki anak tangga.
"Gue bingung sama Amira yang sekarang. Kok sifat mau menang sendirinya terlihat semakin dominan. Kalau menurut gue, kalau sudah sama-sama menikah, seharusnya saling mendukung. Dia kok malah masih menyimpan sakit hati sama lho."
"A.. aku juga nggak tau. Aku juga salah dalam hal ini karena tidak menepati janji untuk mengembalikan Kak Ardian untuknya."
"Eh, kok lho ngomong gitu? Seharusnya lho bersyukur karena laki lho berubah menjadi orang yang berguna sekarang. Nggak kebayang deh kalau Kak Ardian menikah dengan si Amira. Kayaknya bejadnya akan semakin menjadi-jadi. Dia susah menikah aja masih doyan ke tempat hiburan malam."
Alesha yang baru datang meletakkan laptopnya. Lengkap membawa charger dan kabel data. "Gue lupa isi daya. Kita pakai sambil mengisi daya saja ya.."
Tina melengos. Lho mana ingat kalau laptop lho lowbat. Masih asyik mantenan lho. Jam delapan aja udah mengurung diri di dalam kamar.
Alesha tidak memperdulikan ocehan Tina. Dia sibuk mencolokkan charger ke colokan listrik agar cepat bisa menonton bukti nyata. Setelah merasa semua siap, Alesha mengambil handphone Chayra. "Kalian berdua duduk di samping gue biar kita bisa berdiskusi dengan lebih khusyuk."
Lama mereka diam setelah video rekaman selesai di putar. Alesha dan Tina terlihat syok mendengar semua ucapan Amira dalam rekaman itu.
"Astagfirullahal'adzim, Amira... apa yang terjadi sama lho." Alesha dan Tina saling pandang sambil menggeleng-geleng pelan.
"Kapan lho mendapat rekaman ini?" Tina menatap Chayra. Merasa kasihan melihat temannya yang sedang hamil besar lalu tiba-tiba mendapat informasi kalau suaminya memiliki penyakit s*** menular.
"Tadi malam, aku dapat dari temannya Kak Ardian yang biasa di tempat hiburan malam. Namanya... " Chayra lupa lagi nama Kate. "Aku kok bisa lupa sih. Padahal orangnya namanya unik kayak nama sepatu."
"Nggak penting nama orangnya, mau nama sepatu kek, mau nama kompor kek yang penting dia punya informasi yang berarti. Amira benar-benar gila. Gue harus melaporkan tindakannya pada Papinya."
"Jangan.." Chayra menggeleng-geleng pelan. "Jangan lakukan itu, Tina. Aku mau menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkan orang tua. Mertua aku juga sempat berkata begitu kemarin. Tapi, Kak Ardian bersikeras bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Kami hanya membutuhkan kalian. Kak Ardian ingin bertemu dengan Amira untuk membicarakan masalah ini dengan baik-baik. Kalau masih bisa dibicarakan dengan baik. Tapi, seandainya Amira menolak, Kak Ardian dan temannya itu sudah menyusun rencana. Tapi, aku ingin semuanya selesai dengan baik dan kita bisa berkumpul bersahabat seperti dulu lagi." Chayra mengusap air mata yang keluar entah sejak kapan.
"Kami akan membantu lho, Ayra. Kita nggak mungkin membiarkan lho berjuang sendiri menghadai Amira yang egois. Apalagi kondisi lho yang sedang hamil tua seperti ini. Gue hanya masih bingung, Ayra. Nggak habis pikir gue kalau Amira setega ini sama lho. Kalau bisa, gue ingin memanggilnya kemari sekarang. Biar sekalian kita bisa selesaikan masalah ini disini." Tina memeluk Chayra dengan erat.
"Iiihhh.. t..terimakasih, Tina, Lesha. Semoga kedepannya kita bisa berempat lagi seperti dulu."
Tina melepas pelukannya seraya tersenyum. Diperhatikannya wajah Chayra terlihat pucat. "Lho kenapa pucat gitu?"
"Eh, mmm... perut gue kram.."
__ADS_1
"What...?! Lho mau melahirkan?" Tina langsung panik. Padahal perut Chayra terasa kram karena dia memeluknya terlalu erat.
************