
Ghibran masih tertegun melihat kepergian Chayra. Ingin rasanya ia mengejar gadis itu dan memeluknya erat. Namun, ia tidak bisa melakukan itu. Matanya hanya bisa menatap kepergian gadis itu. Air matanya kembali jatuh saat ia memejamkan matanya perlahan.
Sakit?
Jangan tanyakan lagi sesakit apa perasaannya saat ini. Mendapatkan penolakan dari gadis itu merupakan hal terburuk dalam sejarah kisah cintanya. Untuk yang kesekian kalinya gadis itu membuatnya menangis dan menangis lagi. Apakah dia akan menyerah sampai disini saja?
Ghibran menarik nafas panjang seraya beristighfar beberapa kali. Mungkin ini adalah teguran dari Allah untuknya. Dia terlalu berharap kepada manusia dan hampir melupakan kalau Allah yang mengatur segalanya. Allah yang membolak-balikkan hati hambanya.
Zidane menepuk pundak Ghibran pelan. "Sudah, Ghi. Kamu istirahat dulu gih. Tubuh kamu dan hati kamu butuh istirahat. Jangan terlalu dipaksakan untuk berbuat dan berpikir diluar batas. Kalau Allah menghendaki kalian bersama. Ayra tidak akan bisa menolak kamu lagi."
"Aku hanya bingung, Zi. Salah aku apa sampai dia tiba-tiba berubah drastis seperti ini. Apakah selama ini dia hanya mempermainkan perasaanku saja. Apakah cintaku hanya bertepuk sebelah tangan padanya."
Zidane menatap Ghibran dengan tatapan bingung. Secepat itu Ghibran menghakimi perasaan adiknya tanpa memikirkan sebab akibat terlebih dahulu. "Tidak seperti itu, Ghi. Nanti kita bahas lagi. Kamu harus istirahat sekarang. Kamu bisa-bisa sakit kalau terus-terusan seperti ini. Semalaman kamu tidak istirahat kan, karena nyetir?"
Ghibran hanya mengangguk. Matanya masih menatap bekas bayangan Chayra.
"Ayo.." Zidane menarik tangan Ghibran yang masih berdiri mematung.
"Aku mau keluar sebentar." Ghibran menarik tangannya yang masih digenggam Zidane.
"Kamu mau kemana? Kamu jangan macam-macam deh, Ghi. Kamu jangan nyetir dalam keadaan mengantuk seperti ini. Bahaya buat kamu dan pengendara lain."
"Aku butuh waktu untuk sendiri. Aku nggak bisa berdiam diri disini dengan keadaanku yang seperti ini."
"Terus kamu mau kemana sekarang?"
"Aku mau pulang."
"Astagfirullahal'adzim, kamu kalau ngomong jangan ngelantur, Ghi. Kamu tidak tidur dari semalam. Sekarang kamu mau perjalanan jauh. Mau bunuh diri kamu?"
"Iya, aku bosan muak dengan keadaan yang seperti ini. Aku juga ingin bahagia dengan caraku sendiri. Jawab Ghibran seraya berlalu. Masuk ke dalam rumah hanya untuk mengambil tas dan kunci mobilnya.
Zidane mengikuti Ghibran dan menganga melihat hal itu. "Kamu beneran mau pulang, Ghi?"
Ghibran berbalik dan menatap Zidane yang berdiri di belakangnya. "Iya, kenapa emangnya. Allah sudah mentakdirkan aku untuk seperti ini. Disakiti oleh wanita yang aku anggap sangat istimewa. Dan wanita yang aku anggap akan memberikan warna di setiap hariku. Tapi, ternyata itu semua hanya mimpi untukku, Zi. Mudah-mudahan Allah memudahkan aku menghadapi semua ini. Aku pamit, assalamualaikum.."
Zidane langsung menahan tangan Ghibran. "Tidak, Ghi. Kamu tidak boleh pergi sekarang." Menarik tangan pria itu agar mengikutinya masuk ke dalam kamar. "Kamu harus istirahat dulu."
Mendudukkan Ghibran di sisi ranjang. "Semua kita pernah patah hati. Rasanya sakit, Ghi. Sakit sekali." Zidane menepuk-nepuk dadanya pelan.
"Ini pertama kalinya kamu mengalami yang namanya patah hati, karena dari dulu kamu selalu menolak untuk mengenal wanita. Aku sudah beberapa kali mengalaminya, tetapi aku selalu berusaha untuk bersikap wajar.
Zidane menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Justru dengan hal itu, kita seharusnya mengambil pelajaran. Allah sedang menunjukkan pada kita kalau wanita itu bukanlah yang terbaik untuk kita. Dengan hal itu bukan berarti kita harus menguras tenaga kita dan membahayakan diri kita sendiri. Kita hadapi masalah itu agar mendapatkan jalan keluar. Kalau kamu putus asa seperti ini, bagaimana kamu kedepannya nanti. Kamu punya tanggung jawab yang besar saat ini. Beberapa Mahasiswa kamu akan menghadapi sidang skripsi sebentar lagi. Lalu bagaimana dengan mereka nanti, kalau Dosen pembimbing mereka mengalami kecelakaan di jalan raya karena frustasi."
__ADS_1
Ghibran menghela nafas berat. "Aku tidak ada niat untuk mencelakai diriku sendiri. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan disini melihat Zahra. Semakin aku melihatnya, semakin sulit untukku bisa melupakannya. Dadaku terasa sesak saat mendengarkan kalimat-kalimat pedas yang ia lontarkan untukku. Rasanya sakit sekali, Zi.."
Zidane menepuk-nepuk pundak Ghibran. "Kamu tidak usah keluar kamar, agar kamu tidak melihat wajahnya. belum Dhuha, kan?"
Ghibran mengangguk lemah.
"Shalat dulu sana. Nanti aku bawakan sarapan ke kamar."
"Tidak usah, Zi. Nanti aku cari makan di luar. Tidak enak aku. Sudah datang membawa diri saja. Lagi membuat susah putri orang."
"Ck, jangan berpikir yang tidak-tidak. Sudah, ambil air wudhu sana." Zidane mendorong pelan tubuh Ghibran agar segera masuk ke kamar mandi.
Setelah Ghibran masuk ke kamar mandi, Zidane keluar dari kamar. Ia sampai nekat mengunci pintu kamar dari luar. Untuk berjaga-jaga kalau Ghibran sampai berniat kabur nanti.
Zidane menghampiri kamar Chayra dan mengetuk pintu kamar itu perlahan. "Dek, kamu sedang apa? Keluar sebentar Kakak mau ngomong sama kamu."
Hening!
Tidak ada suara sedikitpun dari dalam kamar. Zidane sampai menempelkan telinganya di pintu untuk mencari tau.
Zidane menarik diri. Merogoh handphone di saku baju Koko yang dikenakannya. Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. "Aneh, apakah dia sedang shalat?" ucapnya lirih. "Tapi biasanya dia tidak pernah telat." Mengutak-atik handphone di tangannya untuk mengirim pesan singkat pada Chayra.
Dek, keluar sebentar. Kakak menunggu kamu di depan kamar.
Kakak sendiri atau ada teman?
Zidane menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mengetik pesan balasan untuk Chayra.
Kakak sendirian, Dek. Kenapa sih, takut banget kalau Kakak dengan dia?
Tidak ada jawaban. Zidane tersenyum sendiri membayangkan wajah manyun Chayra saat membaca pesannya.
Hanya beberapa menit Zidane menunggu. Pintu kamar terbuka perlahan. Chayra menongolkan kepalanya dan melihat situasi di sekitar Kakaknya.
"Kamu lihat apa? Kakak beneran sendirian. Kamu keluar sini. Kakak mau ngomong sama kamu."
Chayra menyebikkan bibirnya seraya berjalan pelan menuju Zidane. "Beneran sendirian kan, Kak?"
"Iya, Dek.. Masya Allah masa sih, Kakak bohongin kamu." Zidane menepuk-nepuk pelan kepala Chayra. "Kakak mau ngomong serius sama kamu. Kamu maunya dimana, di sini atau di kebun belakang rumah? Maunya kamu dimana, yang penting kamu nyaman."
Chayra terdiam beberapa saat. "Di belakang aja, Kak. Kalau disini takutnya dia datang nanti."
Zidane tersenyum kecil. "Kakak sudah menguncinya di dalam kamar. Dia tidak akan bisa kemana-mana."
__ADS_1
Chayra menautkan alisnya. "Lho, kok dikunci. Kalau Kak Ghibran mau keluar nanti, bagaimana?"
"Kenapa mengkhawatirkannya, katanya sudah tidak perduli dan tidak cinta lagi sama dia. Biarkan saja dia seperti itu. Mau bunuh diri saja dia seharusnya kamu tidak perduli."
Chayra terbelalak mendengar ucapan kakaknya. "B.. bunuh diri?"
"Iya. Ghibran mau bunuh diri karena kamu tidak pernah perduli padanya. Ngapain mau tau tentang dia? Kamu kan sudah tidak mencintainya lagi. Seharusnya kamu tidak usah menanyakan apapun itu jika berhubungan dengan dia."
Chayra menunduk terdiam karena merasa diberikan jawaban telak oleh Zidane.
"Ayo, katanya mau ngobrol di belakang. Kenapa malah diam disini?"
Chayra mengangkat kepalanya seraya memberikan anggukan kecil seraya berjalan mendahului Zidane.
Lama mereka terdiam dengan posisi masing-masing. Chayra yang duduk di ayunan dan Zidane yang memegang kendali ayunan yang diduduki Chayra.
"Kak Zidane mau ngomong apa?" Tanya Chayra karena Zidane belum juga mulai bicara.
Zidane menatap Chayra. Memberikan senyuman hangat untuk adiknya itu sebelum menjawab pertanyaannya. "Kakak mau membicarakan sesuatu yang serius sama kamu. Tapi, Kakak bingung mau mulai darimana."
"Kakak ngomong saja. Aku akan mempersiapkan hatiku untuk mendengarkan yang akan Kak Zidane sampaikan."
Zidane menarik nafas dalam sambil mengayunkan Chayra dengan pelan. "Kakak mau bertanya tentang perasaan kamu pada Ghibran."
deg!
Chayra langsung terdiam seribu bahasa. Dia tidak mengira kalau hal ini yang akan dibahas kakaknya itu.
"Kakak ingin tau perasaan kamu yang sebenarnya pada dia."
"Kenapa Kakak membahas hal itu? Aku akan menolak tadi jika aku tau kalau hal ini yang akan Kak Zidane bahas."
"Semu masalah harus diselesaikan, Dek. Kamu hanya bilang sudah tidak mencintai Ghibran lagi. Tapi kamu tidak menjelaskan kenapa dan ada apa. Jangan menyakiti perasaannya terlalu jauh, Dek. Kamu juga jangan bilang tidak mencintainya lagi kalau kamu masih ada rasa padanya."
"Aku.. aku.."
"Jangan bohongi perasaan kamu, Dek. Kakak tau kalau kamu masih mencintainya."
"Aku tidak pantas untuknya, Kak. Dia terlalu baik untuk wanita korban pemerkosaan seperti aku."
"Dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Dia menerima kamu apa adanya."
Chayra terdiam menundukkan kepalanya. Hatinya terasa perih saat memori otaknya memutar kenangan buruk itu lagi.
__ADS_1
*******