Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kebenaran terungkap


__ADS_3

Hari ini Ardian sudah kembali masuk bekerja. Setelah hari Senin kemarin libur karena izin pindah rumah. Sebenarnya hari Minggu itu urusan pindah rumah sudah selesai. Tapi, karena Kakek membuat ulah, dia akhirnya harus pindah lagi dan itu lumayan menguras tenaganya.


Ardian berjanji pada Kakek kalau hari ini akan menemui wanita yang sudah dibawah penguasaan Kakek selama kurang lebih seminggu ini. Sepulang bekerja nanti dia akan menemui wanita itu. Dia sudah memberitahukan semuanya pada Chayra. Takut kalau istrinya bertanya dan dia tidak bisa menjawab dengan baik. Sudah cukup panjang drama yang dia ciptakan sehingga tidak mau menambah lagi masalah jika berbohong pada sang istri.


Malam itu, ia akhirnya kembali mengirimkan pesan untuk istrinya agar tidak menunggunya pulang. Takut kalau wanitanya itu terlalu lama menunggunya.


Aku pulang telat malam ini, Sayang. Aku mau menepati janji pada Kakek untuk segera menyelesaikan masalah dengan wanita itu.


Tak berapa lama menunggu ia langsung mendapatkan jawaban.


Iya, nggak apa-apa, Mas. Ada Ibu yang menemani aku tidur. Tidak usah mengkhawatirkan aku. Semoga urusannya cepat selesai.


Ardian membuang nafas kasar. Entah mengapa semakin kesini dia semakin was-was kalau meninggalkan istrinya dalam waktu yang lama. Mungkin karena perkiraan lahir tinggal menghitung hari, itu yang membuatnya selalu khawatir.


Ardian berjalan dengan pasti keluar dari gedung kantor. Apesnya, dia bertemu dengan Pak Randi dan Dodit saat akan memasuki lift. Dodit sering mengintrogasi dirinya tanpa alasan yang pasti. Sepertinya itu semua terjadi atas permintaan papinya.


"Tumben pulang cepat, biasanya selalu pulang paling awal?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari Dodit begitu mereka memasuki lift. Pak Randi hanya melirik.


Ardian hanya memberikan senyuman kecil untuk Dodit. Malas rasanya kalau harus menimpali ucapannya. Biasanya akan muncul pertanyaan baru jika dia menjawab.


"Hei, kenapa hanya diam? Aku bertanya loh, sama kamu."


"Mengerjakan pekerjaan yang kemarin aku tinggalkan karena tidak bisa masuk kemarin." Alasan yang paling logis menurut Ardian.


"Tidak ada pekerjaan berat yang aku tinggalkan untuk kamu. Aku sudah selesaikan semuanya kemarin."


Ardian kembali tersenyum. Malas rasanya kalau harus mengeluarkan jawaban lagi karena tau Dodit tidak akan berhenti bertanya sebelum mendengar jawaban yang memuaskan.


Pintu lift terbuka, Ardian berjalan ke depan agar bisa keluar dengan cepat, karena tidak mau mendengar pertanyaan lagi dari Dodit.


"Dia terlihat aneh hari ini. Dari pagi kebanyakan diam dan melamun. Kayak orang yang lagi banyak pikiran." Pak Randi berucap pada Dodit setelah melihat kepergian Ardian.


"Nggak tau juga, Pak. Dia itu kayak orang misterius. Terkadang sikapnya membuat orang bingung."


"Tidak usah dipikirin. Kamu mau ikut pulang denganku?"


"Tidak, Pak. Hari ini saya bawa mobil sendiri."


Ardian melajukan mobilnya setelah melihat mobil Pak Randi dan Dodit keluar dari parkiran. Ia langsung menuju alamat yang sudah di berikan Kakek untuknya.


Ardian berdiam diri di dalam mobil memperhatikan suasana sekitar. Rumah yang dimaksud kakeknya adalah rumah dua lantai dengan desain minimalis. Untuk menyekap orang saja, pakai rumah yang lumayan kayak gini. Pantesan saja Pak Akmal merenovasi rumahnya. Ternyata standar orang tua itu benar-benar tinggi.


Ardian melangkah pelan tapi pasti. Masalah ini harus diselesaikan agar tidak ada lagi bara-berenya ke depan.


Pintu utama dijaga oleh Satpam berseragam lengkap. Begitu melihat Ardian, Satpam itu langsung menunduk hormat. "Wanita itu ada di lantai dua kamar nomor tiga, Tuan. Ada seorang wanita di depan pintu yang menjaga kamar itu."

__ADS_1


Ardian mengangguk sambil tersenyum diplomatis. "Terimakasih, Pak." Ardian menarik nafas dalam seraya melafadzkan basmalah sebelum melanjutkan langkahnya ke dalam rumah.


Ardian mengedarkan pandangannya setelah sampai di lantai dua. Terlihat di setiap pintu kamar menggunakan nomor. Ardian melangkah dan melihat nomor yang tertera di setiap pintu kamar. Lantai dua ini mirip dengan kos-kosan karena dipenuhi dengan kamar. Tetapi karena nomor kamar di acak dan tidak berurutan membuat Ardian harus memperhatikan setiap pintu.


"Di sini, Tuan." Ardian langsung berbalik saat melihat wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya.


"Eh, terimakasih, Bi." Ardian membuka jas yang membalut tubuhnya. Melipat lengan kemejanya untuk bersiap menghadai wanita yang kemungkinan adalah Audy.


"Bibi pamit kalau begitu, Tuan."


"Jangan, Bi! Bibi temani aku ke dalam."


"T.. tapi, Tuan..."


"Saya tidak berani sendirian. Wanita di dalam bukanlah wanita biasa."


Wanita paruh baya itu terlihat berpikir sebelum mengiyakan permintaan Ardian.


"Bibi masuk duluan.."


"S.. saya, Tuan."


"Iya, siapa lagi yang aku maksud." Ardian mendorong pelan tubuh wanita paruh baya itu agar berjalan di depannya.


Ardian tertegun mendengar suara itu. Beberapa saat masih berdiri di depan pintu tanpa melanjutkan langkah lagi.


"Silahkan masuk, Tuan."


"Kamu membawa seseorang kemari?" Terdengar lagi suara wanita itu.


Ardian akhirnya melangkah masuk. Dia masih tidak percaya dengan wanita yang berdiri di dekat ranjang.


"K.. Kak Ardian, kau datang untuk menyelamatkan aku dari tempat ini?" Sang wanita berjalan mendekati Ardian. Tangannya sudah terlentang seiring dengan langkahnya, bersiap untuk memeluk Ardian.


Dengan sigap, Ardian menangkis tangan itu sampai terhempas dengan kasar. "Berhenti, Amira! Aku datang kemari bukan untuk menyelamatkan kamu. Aku datang untuk menyelesaikan masalah yang sudah kamu buat untuk keluarga kecilku."


"M.. maksud Kak Ardian apa? Masalah apa yang sudah aku buat?"


"Jangan pura-pura bodoh, Amira. Kamu tau siapa Kakek Akmal. Apa kamu berniat main-main dengan dia. Jika dengan aku, aku tidak akan bisa melakukan ini semua pada kamu."


Amira tersenyum mendengar ucapan Ardian. "Aku tau Kak Ardian tidak akan tega melakukan ini padaku, aku tau Kak Ardian masih menyimpan perasaan untukku, itulah mengapa Kak Ardian tidak bisa menyekapku seperti yang dilakukan Kakek tua itu."


"Jaga ucapan kamu, Amira. Sebesar biji sawi pun, tidak ada tersisa rasaku untukmu. Yang ada aku hanya membencimu saat ini. Perbuatanmu yang terus-menerus meneror kehidupanku dan istriku membuat perasaan cinta yang dulu ada menguap begitu saja. Dan sekarang yang ada aku hanya membencimu."


"Terus kenapa Kak Ardian tidak bisa menyekapku seperti yang dilakukan Kakek tua itu. Kenapa, Kak, kenapa?!" Amira meninggikan suaranya karena kesal.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melakukan itu karena aku tidak punya uang untuk membayar orang, Amira. Itu alasan aku, bukan karena aku masih mencintaimu."


"Bohong kamu, Kak.."


"Untuk apa aku berbohong. Tidak ada keuntungannya untukku jika aku berbohong. Aku datang kesini hanya ingin memperingatkan kamu untuk tidak lagi mengganggu hubunganku dengan Chay."


Amira mengernyit mendengar nama panggilan Ardian untuk teman lamanya itu. "Chay..?" Amira tersenyum sinis. "Ternyata sudah memakai panggilan spesial untuk wanita sialan itu."


"Kamu yang wanita sialan. Aku bahkan muak dengan semua tingkahmu selama ini. Terimalah akibatnya jika kamu bertingkah lagi ke depan."


"Dengan apa kamu bisa mengancamku? Kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak punya uang untuk membayar orang."


"Bukan aku yang akan membalas perbuatanmu jika kamu belum juga jera. Kamu tau sendiri siapa istriku. Dia tidak pernah dendam pada siapapun. Tetapi, terlalu banyak orang yang menyayangi dirinya, yang akan mengecam kamu dan bahkan bisa jadi ada yang membunuhmu jika kamu main-main dengannya.


Amira hanya melengos. Matanya menatap ke sembarang arah karena tidak tau kepada siapa akan melampiaskan rasa kesalnya.


"Katakan, apa tujuan kamu mengirim foto tak bermoral itu pada Chay?"


"Aku... aku tidak pernah melakukan itu.."


"Bagaimana mungkin kamu tidak melakukan itu? Bagaimana Kakek bisa menyekap kamu disini jika bukan kamu pelakunya."


"Aku... aku tidak melakukan itu..."


"Berkata jujur itu lebih baik. Aku tidak akan menghukum kamu jika kamu mengaku. Aku akan menghargai kejujuran kamu sebagai wanita bersuami."


Ardian menarik nafas panjang. "Aku hanya tidak mau melukai siapapun, Amira. Aku menghargai kamu sebagai masa laluku, itulah mengapa aku tidak berbuat banyak walaupun kamu sudah keterlaluan. Istriku sebentar lagi akan melahirkan, aku rasa kamu sudah tau itu. Dia itu memiliki mental yang kuat, tidak mudah terpengaruh dengan berbagai macam kebodohan yang sudah kamu lakukan. Berhentilah mulai dari sekarang, Amira. Hidup kamu tidak akan pernah tenang jika kamu terus-terusan terjebak cinta yang tak tentu arah ini. Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak mencintai kamu sama sekali. Jadi, sekiranya aku ada apa-apa dengan Chay, aku tetap tidak akan pernah kembali lagi kepadamu. Jadi, sekali lagi berhentilah. Kasihan orang-orang yang menyayangimu, orang-orang yang membutuhkanmu. Kamu telah membuang banyak waktu berharga hanya untuk hal tidak penting ini."


"Aku..." Amira menunduk seraya mendudukkan tubuhnya perlahan di pinggir ranjang.


"Suamimu sudah menunggumu di bawah. Kembalilah bersamanya. Dia tulus mencintaimu. Laki-laki seperti aku tidak bisa membahagiakan kamu. Cintailah orang yang mencintaimu dan kejarlah masa depan yang baik bersamanya. Assalamualaikum..." Ardian keluar dari dalam kamar itu.


"Tunggu, Kak. Kak Ardian... aku belum selesai bicara.."


Wanita paruh baya yang tadi menemani Ardian segera menutup pintu kamar itu. "Tuan Besar akan datang besok untuk bicara dengan anda."


"Aku tidak mau bertemu siapapun...!!!"


Hening...


Ardian sudah berlalu dari rumah itu. Ia menepuk pelan pundak Husein yang berdiri di depan rumah dengan posisi membelakangi rumah.


"Amira ada di dalam. Maaf merepotkan anda. Saya pamit, assalamualaikum..." Ardian bergegas meninggalkan Husein tanpa menunggu jawaban pria itu.


*********

__ADS_1


__ADS_2