Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Jadwal operasi


__ADS_3

"Mami mau kemana? Ini masih sangat pagi, Mi."


"Papi ini, pura-pura lupa atau memang belum tau?"


"Maksud Mami apa?"


"Ardian siang ini ada jadwal operasi, Pi. Mami sudah bilang sama Papi dari jauh-jauh hari."


"Operasi apa?" Sucipto bukannya pura-pura lupa. Tapi Renata memang tidak pernah memberi tau suaminya. Karena, kalau dia kasih tau suaminya. Sudah pasti Sucipto akan marah besar pada putranya itu.


"Ardian sakit apa, Mi? Mami tidak pernah bilang apa-apa sebelum ini."


"Nanti saja Papi menyusul ke Rumah Sakit. Kalau Mami jelaskan sekarang, pasti akan panjang ceritanya."


"Bingung deh Papi sama kelakuan Mami. Sudahlah, Papi ada rapat pagi ini. Nanti selesai rapat Papi nyusul." Sucipto melangkah keluar kamar. Namun, ia urungkan, kembali berbalik menatap istrinya. "Rumah Sakit mana?"


"Rumah Sakit Putri Ayuningtyas."


"Nanti Papi nyusul. Assalamualaikum.."


"Lho, Papi tidak sarapan?"


"Nanti di Kantor. Waktu sudah mepet."


Renata menarik nafas lega. Untung saja suaminya tidak bertanya panjang lebar. Sucipto memang sedikit cuek pada putranya. Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Namun, caranya menyayangi Ardian berbeda. Apalagi sekarang setelah putranya itu memiliki istri. Dia hampir jarang bersama Ardian. Dia merasa putranya sudah ada yang mengurus.


Sementara itu.....


Chayra mempersiapkan keperluan yang akan di bawanya ke Rumah Sakit. "Kita nginap berapa hari, Kak?" Bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari barang yang sedang dikemasnya.


"Tergantung kondisinya aku nanti. Mudah-mudahan prosesnya cepat."


"Aku masih bingung, sampai sejauh ini kenapa Papi tidak di kasih tau sih?"


"Nanti aja kalau operasinya sudah selesai. Papi itu orangnya sering mengubah rencana. Sayang dong, kita sudah mengadakan persiapan yang matang, lalu tiba-tiba Papi menyuruh kita untuk membatalkan."


"Kok bisa begitu? Berarti selama ini, kalau menyelesaikan masalah, Kakak tidak musyawarah dengan keluarga?" Chayra mendekati suaminya karena selesai berkemas.


Ardian menggeleng. "Selama ini Papi dan Mami tinggal di Amerika. Mereka pulang hanya beberapa kali dalam setahun. Gue udah bilang kan sama kamu. Aku ini anak orang kaya, tapi seperti anak yang terlantar. Anak yang haus perhatian dan kasih sayang. Itulah mengapa saat kamu hadir dalam hidupku dan memperlakukan dengan berbeda. Kamu tau apa yang aku rasakan?"


"Apa..?"


Ardian tersenyum seraya mengusap kepala Chayra. "Aku bahagia, Chay. Aku merasa menjadi orang yang diistimewakan."


Chayra menautkan alisnya sambil menahan senyum. "Lho, kok manggilnya gitu. Manggil aku apa tadi?"


"Chay.. itu nama panggilan baruku untukmu. Itu panggilan spesial. Tidak ada yang boleh memanggilmu dengan nama itu kecuali aku."


"Kenapa Chay? Kenapa nggak mengambil akhir namaku saja?"


"Zahra maksud kamu?"


Chayra mengangguk. Bibirnya masih menahan senyum. "Iya, kenapa tidak memanggil aku dengan Zahra saja?"


Ardian menyebikkan bibirnya. "Heh, enak saja. Itu kan nama panggilan khusus dari mantan kamu. Bisa-bisa kamu mengingat dia lagi, kalau aku memanggilmu dengan nama itu."

__ADS_1


Chayra tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Ardian. "Hahaha memangnya kenapa kalau itu panggilan mantan?"


Ardian mencubit gemas pipi istrinya. "Nggak ada yang lucu kenapa kamu tertawa?" Langsung memeluk Chayra erat.


Chayra membiarkan Ardian mendekap tubuhnya. Dia juga mulai menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya itu. Trauma yang selalu menghantuinya perlahan-lahan hilang dari bayang-bayangnya.


"Aku bahagia melihat tawamu yang tadi." Ucap Ardian, masih mendekap erat tubuh istrinya.


"Oh ya.. tadi katanya nggak ada yang lucu. Nggak ada yang perlu ditertawakan. Terus kenapa sekarang Kakak bilang bahagia melihat tawaku?" Chayra mendongak menatap suaminya.


Kesempatan itu tidak disia-siakan Ardian.


"Cup!"


"Aaa... Kakak kenapa cium aku?"


"Aku merasa bisa membuatmu tertawa. Itulah mengapa aku bahagia melihat kamu tertawa. Dan untuk ciuman tadi, aku merasa gemas melihat bibirmu yang ranum ini." Mengusap bibir Chayra dengan jari telunjuknya.


"Apaan sih?!" Chayra tersipu. Wajahnya mengeluarkan sedikit rona merah. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Ibu bilang mau ikut ke Rumah Sakit."


"Ibu tidak pernah menghubungiku."


"Tapi dia sudah menghubungiku."


"Lho, kapan? Kok aku yang anaknya jarang sekali mendapatkan telepon darinya."


"Kan, aku yang menantunya yang rajin mengabarinya tentang keadaan putrinya. Semua tentang kamu aku selalu ceritakan secara detail padanya. Jadi aku rasa tidak perlulah dia menghubungi kamu lagi."


"Iya, nanti aku akan teleponan barengan sama kamu." Ardian tersenyum melihat ekspresi Chayra. "Dek Chay, bibirnya tolong dikondisikan ya. Nanti kalau saya gemas dan ingin menciumnya lagi, jangan marah."


"Apaan sih, Kak. Orang lagi marah juga, ngapain di goda."


"Kamu lagi marah saja cantik, apalagi kalau tersenyum."


Chayra dibuat salah tingkah. "Siapa yang ajarin Kakak gombal sih?!"


Ardian tertawa kecil. "Kamu lupa, kalau aku mantan pawang wanita."


Percakapan mereka terhenti saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Renata yang berdiri di depan pintu syok sekaligus bahagia melihat putranya tengah mendekap tubuh istrinya.


"Astagfirullah, Mami. Kenapa tidak ketuk pintu dulu?" Ardian menahan tubuh Chayra karena gadis itu berontak ingin melepaskan diri.


"Ngapain ketuk pintu. Buang-buang energi saja." Jawab Renata santai. Tersenyum seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa. "Bahagia Mami melihat kalian seperti ini." Renata mengangkat handphonenya dan mengabadikan momen yang menurutnya langka itu.


"Kirim ke Papi dulu ah."


Ardian dan Chayra saling menatap heran. Saling mengangkat bahu karena bingung dengan ucapan Maminya.


"Mami kenapa kemari?"


Renata melirik putranya. "Kita kan mau berangkat ke Rumah Sakit. Mami sudah setengah jam nunggu kalian di ruang tamu. Eh, tau-taunya orang yang ditunggu sedang berduaan di dalam kamar. Tapi, nggak apalah. Rasa kesal Mami terbayar saat melihat kalian seperti ini. Mudah-mudahan tidak ada cobaan kedepannya."


"Aamiin.." Chayra dan Ardian berucap bersamaan.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat.."


Chayra mengangguk seraya bangkit. Sementara itu, Ardian menerima telepon dari mertuanya.


"Iya, Bu. Ini kami mau berangkat. Maaf merepotkan Ibu."


"Iya, wa'alaikumsalam.."


"Ibu bilang apa?"


"Ibu dan Bian sudah di Rumah Sakit."


"Lho, anak itu tidak sekolah?"


"Dia kan sedang libur semester, Chay."


"Aku lupa.."


"Kalian cepetan, Mami tunggu di mobil." Renata beranjak dan menutup pintu kamar dengan pelan.


"Iya, Mi.."


Ardian menarik tangan istrinya yang sedang bersiap. "Peluk sebentar," kembali mendekap tubuh istrinya.


"Ya Allah, Kak. Kasihan Mami lama nunggu kita nanti."


"Aku tidak akan bisa memelukmu beberapa hari ke depan." Ardian mengangkat dagu istrinya. "Aku juga ingin yang ini lagi." Mengusap bibir Chayra.


"Kan tadi udah."


"Itukan ciuman hasil curian. Aku melakukannya tanpa izin kamu. Yang sekarang, aku mau ciuman yang halal. Ciuman yang dapat izin dan dilakukan atas dasar suka sama suka."


Chayra membuang nafas kasar. Tidak mudah menolak keinginan Ardian. Pria itu selalu memiliki seribu cara dan alasan agar bisa mencapai apa yang dia inginkan.


"Jangan lama-lama tapi ya. Pakai ciuman kilat, biar Mami nggak marah karena kita keluarnya lama."


Ardian mengangguk. Perlahan, dia mendekatkan wajahnya pada Chayra dan melakukan keinginannya itu.


Pintu kamar kembali terbuka. Namun, kali ini terbuka dengan sangat pelan. Renata berdiri di depan pintu dengan mulut menganga.


Dua insan yang sedang menikmati ciuman itu tidak sadar kalau ada orang yang sedang berdiri di depan pintu. Mereka memejamkan mata mendalami ciuman yang semakin dalan itu. Tidak menyadari kalau Renata sudah mengambil beberapa foto mereka.


Chayra menarik diri sehingga ciuman itu berakhir. "Lho, kok pintunya terbuka, Kak?"


"Nggak tau. Apa ada yang mengintip tadi?"


"Nggak tau. Masa pembantu?"


"Nggak mungkin. Atau mungkin Mami."


"Kayaknya sih. Itu orang udah tua juga kok kepo dengan urusan anak muda." Ardian berkacak pinggang kesal. Kekepoan Maminya harus membuatnya lebih hati-hati mulai sekarang.


"Sssttt.. nggak baik berkata begitu." Chayra mengambil baju ganti suaminya, agar Ardian segera ganti pakaian.


Renata yang masih berdiri di balik pintu cekikikan mendengar percakapan dua orang itu. Dia segara turun, agar Chayra dan Ardian tidak curiga padanya.

__ADS_1


*********


__ADS_2