
"Akhirnya sadar juga lho. Capek tau nunggu lho bangun. Tidur mendengkur kayak kucing." Kata-kata itu langsung menyambut Chayra ketika dia mengerjapkan matanya.
Chayra langsung membuka lebar matanya. Berusaha untuk bangkit, tetapi tidak bisa ia lakukan. Tangannya tidak bisa ia gerakkan karena terikat.
Ia menelan ludahnya. Kejadian semalam langsung memutar di memori otaknya. Kepalanya terasa berat dan dunia terasa berputar di pengelihatannya. "Astagfirullahal'adzim, apa yang terjadi." Memijit matanya karena kepalanya benar-benar pusing.
"Hey, are you oke, Nona? Masa lho selemah ini, sih? Tidak sesuai banget deh, kalau dibandingkan dengan ucapan lho sebelumnya."
Chayra kembali membuka matanya, kembali memejamkan mata karena tidak kuat. Rasa sakit bercampur kesal mendengar suara pria itu membuncah di dadanya.
Lelaki di depannya tersenyum sinis. "Apa kamu baik-baik saja, manusia sok suci?"
"A.. apa yang anda inginkan dariku?" Chayra mengeratkan giginya menahan kesal.
Pria itu kembali tersenyum sinis. "Ardian Baskara berulang kali memberikan peringatan, agar lho tidak ikut campur pada urusan gue dan Amira." Berjalan mengelilingi ranjang tempat ia membaringkan Chayra. "Gue udah peringatkan berkali-kali, tapi lho nggak pernah mendengarkan itu, Setan!" Berteriak di depan Chayra.
"Aku manusia, bukan Setan. Anda yang seperti manusia setan. Selalu berbuat semau anda tanpa memikirkan perasaan orang lain." Chayra berteriak.
Ardian tertawa terbahak-bahak. "Oke, oke, gue memang manusia setan." Berjalan mendekati Chayra. Mendekatkan wajahnya ke gadis itu sampai berjarak hanya beberapa senti. "Itulah sebabnya, sekarang lho akan tau bagaimana manisnya pembalasan gue."
Dada Chayra naik turun karena hembusan nafas Ardian menyapu wajahnya. "Jauhkan wajah anda.."
"Heh, kalau gue nggak mau, lho mau apa?" Semakin mendekatkan wajahnya.
"Aku bilang, jauhkan wajah anda!"
Bukannya menjauh, Ardian malah mendaratkan satu ciuman di bibir Chayra. "Itu pembalasan yang pertama. Hmm, bibir anda manis juga, Nona."
"Astagfirullahal'adzim, Ya Allah, apa yang anda lakukan." Chayra membuka matanya. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak menyangka kalau Ardian berani menciumnya saat kondisinya selemah ini.
Ardian kembali tertawa melihat raut wajah Chayra. "Ini baru permulaan, Nona. Perbuatan lho yang mengusik ketenangan hubungan gue dengan Amira sangat membuat seorang Ardian terusik kebebasannya." Menangkup wajah Chayra dengan tangan kirinya. Menekankan jari-jarinya di pipi gadis itu.
Chayra berusaha untuk memalingkan wajahnya. Air mata mulai mengalir deras. Ia benar-benar tidak berdaya. Entah apa yang sudah dilakukan pria itu sebelumnya pada dirinya. Dia hanya bersyukur, pakainya masih utuh.
"Kenapa? Lho menyesal berurusan dengan gue?" Ardian memaksa Chayra agar kembali menatapnya. Semakin menekankan jari jemarinya di pipi gadis itu.
"Lepaskan aku, aku mau keluar dari sini."
"Heh, lho akan bebas jika lho bisa membebaskan diri lho sendiri. Kalau lho berharap gue yang akan membebaskan lho. Simpan semua itu dalam mimpi. Gue akan melakukan pembalasan dan melakukan apapun yang gue mau sama lho." Ardian menghempaskan wajah Chayra dengan kasar. Meninggalkan Chayra dan mengunci pintu dari luar.
"Astagfirullahal'adzim.." air mata kembali menetes. "Ya Allah, hanya kepada engkau hamba berserah diri. Tiada daya dan upaya hamba melainkan dengan pertolongan engkau, Ya Allah." Chayra memejamkan matanya. Menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang seperti ini.
Sementara itu di rumah Chayra..
Bu Santi beradu tangis dengan Bu Ainun. Chayra yang pamit semalam untuk menjemput Amira, hilang kabar dan tidak diketahui keberadaannya.
Handphone gadis itu ditemukan tergeletak di bawah pohon besar dengan handphone Amira juga. Anggota keluarga berpikir, kalau dua gadis itu diculik.
Setelah lelah menangis, Bu Santi baru teringan pada kedua teman Chayra yang lain. Ia bangkit seraya mengusap air matanya.
"Mau kemana, Dek?" Bu Ainun menahan tangan Bu Santi.
"Mau menanyakan Ayra pada Alesha atau Tina."
"Astagfirullahal'adzim, kenapa kita memikirkan hal itu dari semalam." Bu Ainun mengusap wajahnya kasar. Melepaskan tangannya dari tangan Bu Santi. Membiarkan Bu Santi mengambil handphonenya di atas meja.
Setelah beberapa detik..
"Assalamualaikum, Alesha."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Bu, ada apa. Tumben menghubungi Alesha jam segini?"
"Mm.. Alesha dimana?"
"Di Kampus, Bu. Ada apa, Ibu butuh bantuan?"
"Mm.."
"Bilang aja, Bu. Alesha akan langsung ke sana bersama Amira dan Tina kalau sudah habis jam kuliah."
Deg..!
"A... Amira ada disana juga?" Suara Bu Santi sedikit bergetar.
"Iya, Bu. Kami bertiga kan satu Kampus. Sebenarnya ada apa, Bu? Kok, suara Ibu terdengar khawatir gitu, sih?"
"Lalu, yang minta di jemput Ayra semalam siapa?"
"Maksud Ibu?" Alesha semakin tidak mengerti maksud Bu Santi.
"Amira semalam meminta Ayra untuk menjemputnya."
"Hah?" Alesha semakin tidak mengerti. Meletakkan handphonenya saat melihat seorang Dosen berjalan menuju kelasnya. Menunduk, kembali meletakkan handphonenya di dekat telinga. "Mm.., Bu, maaf, ada Dosen Alesha dulu. Nanti Alesha langsung kesana kalau sudah selesai."
"I.. iya, Nak. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Bu Santi meletakkan handphonenya dengan kecewa.
"Bagaimana, Dek?" Bu Ainun menyentuh lengan Bu Santi.
"Apa kita akan lapor polisi aja?" Usul Pak Ismail.
"Aku mau menunggu teman Ayra dulu, Kak." Bu Santi langsung terduduk lemah. Mengusap-usap wajahnya seperti orang yang putus asa.
Usai mendirikan shalat Zuhur, Pak Ismail mengajak Bu Santi dan istrinya berkumpul di ruang tamu. Semua kontak yang ia temukan di handphone Chayra ia hubungi. Namun, tak satupun dari mereka bisa memberikan informasi berarti.
Kemunculan tiga gadis di depan pintu membuat mereka berdiri serentak. Penampakan wajah Amira di antara tiga gadis itu membuat Bu Santi langsung menjerit dan berlari mendekati gadis itu.
"Ayra mana, Nak? Dia pergi bersama kamu semalam." Menggoyang-goyangkan tubuh Amira keras.
"Maksud Ibu apa?" Jawab Amira bingung.
"Kamu kan yang meminta Ayra menjemput kamu semalam?"
"Hah? Amira minta dijemput? Amira nggak kemana-mana semalam, Bu. Amira sibuk menyelesaikan tugas kuliah."
Pak Ismail berjalan mendekati Amira. "Ini handphone kamu kan, Nak?"
Amira tertegun melihat handphonenya. "I.. iya, Abah. Itu memang handphone Mira. Darimana Abah menemukannya. Kemarin handphone itu menghilang dan Mira tidak tau kemana hilangnya?"
"Apa benar begitu?" Pak Ismail menatap Amira dengan tatapan menyelidik.
"Memang begitu kejadian yang sebenarnya, Abah." Tina ikut menimpali. "Kita juga sempat
mencarinya bersama Ayra kemarin."
"Tunggu, tunggu!" Alesha menyela. "Ini sebenarnya ada apa? Ayra mana, kenapa tidak ada di sini?"
__ADS_1
"Ayra hilang sejak semalam. Kami tidak tau keberadaannya sampai sekarang!" Teriak Bu Santi. Tangisnya kembali pecah. "Huaaa... putriku ada dimana Ya Allah.." Menyusut ingus yang keluar menyertai air mata. "Engkau telah mengambil suami hamba. Jangan kau ambil putri hamba lagi. Huaa..."
"Kamu ngomong apa sih, Dek. Jangan berburuk sangka. Insya Allah, Ayra baik-baik saja." Bu Ainun mengusap-usap punggung adik iparnya.
"A.. Ayra.. h.. hilang, B.. Bu?" Mata Alesha berkaca-kaca. Sedangkan Amira dan Tina tertegun. Bingung mau merespon dengan kalimat apa.
Amira mendekati Pak Ismail dan.. "B.. boleh Mira pinjam handphone itu sebentar, Abah?" Amira menunjuk handphonenya yang masih digenggam Pak Ismail.
Tanpa berpikir panjang, Pak Ismail langsung menyerahkan handphone itu pada Amira. Dengan sigap, gadis itu langsung mengecek handphone itu. Benda itu memang benar miliknya. Namun, ia menautkan alisnya saat membuka pesan yang masih tersimpan.
"A.. aku tidak pernah mengirim pesan seperti ini pada Ayra, Bu, Abah, Ummi. Mira berani bersumpah, Bu. Demi Allah, Amira benar-benar kehilangan handphone ini kemarin." Amira tersungkur di depan kaki Bu Santi. Air matanya mengalir deras.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" Tina mengambil handphone Amira yang terjatuh di lantai.
"Bangun, Nak. Ibu percaya sama kamu." Bu Santi memaksa Amira untuk bangkit.
"Ada yang sengaja menjebak Ayra." Ucap Tina setelah membuka pesan di handphone Amira.
Amira mengusap air matanya. Bangkit dan menatap yang lain. "A.. apa mungkin Kak Ardian yang melakukan ini?"
Alesha dan Tina saling pandang.
"Tapi, kalau Kak Ardian pelakunya.." Alesha kembali mengingat saat mereka menghabiskan banyak waktu bersama Ardian di Kampus tadi. "Kayaknya bukan dia deh. Kak Ardian kan bersama kita terus dari tadi. Tidak ada tingkahnya yang mencurigakan juga."
"Tapi, cuma dia yang tau password handphone ini." Amira mengambil handphonenya dari tangan Tina. "Dan, cuma dia yang dendam sama Ayra. Dia juga mengancam Ayra dari kemarin. A.. apa mungkin dia yang sengaja m ngambil handphone ini kemarin dari tas untuk melakukan ini?"
"Tidak boleh berandai-andai, Nak. Jangan sampai kita su'udzon pada orang, padahal kita belum tau kebenarannya." Pak Ismali menghela nafas berat. "Hhmm.. tapi, siapa Ardian?" Pak Ismail mencoba mengingat. "Kok, kedengarannya tidak asing?"
"Dia pacarnya Amira."
Amira mengangguk tanda menyetujui ucapan Tina.
Pak Ismail merenung sejenak. "Astagfirullahal'adzim.." Pak Ismail memejamkan matanya setelah mengingat pria itu. "Ummi ingat, laki-laki yang pernah menelpon dan mengancam Ayra waktu itu. Yang Abi berikan rekaman suaranya pada Ayra."
Bu Ainun mengangguk mantap. "Iya, Abah, Ummi ingat."
Pak Ismail terdiam beberapa saat. Berpikir keras untuk mencari tau kebenaran. Apa iya, laki-laki itu pelakunya. Tapi, dia tidak mau su'udzon. Harus ada bukti yang akurat agar bisa memastikan.
"Aku tidak mau Ayra kenapa-napa, Kak." Ucap Bu Santi dengan tatapan memohon.
"Semuanya akan baik-baik saja." Pak Ismail beralih menatap Amira. "Nak, apa kamu mau membantu kami?"
"Saya siap membantu, apapun yang dibutuhkan Abah."
"Kamu tau kan rumah pria ini dimana?"
Amira mengangguk.
"Apa kamu mau ke rumahnya?"
Amira kembali mengangguk. Namun, kali ini dia meminta persetujuan pada kedua temannya yang lain. Setelah melihat anggukan kepala Alesha dan Tina, Amira tersenyum. "Saya akan pergi ke rumahnya sekarang."
"Tapi, kamu tidak keberatan kan, kalau kami menyelidiki kekasihmu itu?"
"Insya Allah tidak, Abah. Amira mengerti kok. Tapi, Mira tidak berani ke rumah itu sendiri, Abah. Amira ada kenangan buruk di rumah itu."
"Alesha dan Tina akan ikut serta. Kalian susun rencana, alasan kenapa kalian ke rumah itu. Mudah-mudahan bukan dia pelaku yang sebenarnya."
Setelah kesepakatan di dapatkan, mereka langsung bergerak cepat. Takut kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Chayra. Temannya itu sebentar lagi akan dilamar. Dan Amira tidak mau, kalau Chayra akan mendapatkan masalah hanya karena dirinya.
__ADS_1
* * *