
Ghibran dan orang misterius yang ternyata adalah Rudi itu menatap kepergian Chayra.
"Aku ingin lihat reaksi suaminya. Perasaan suaminya Ayra itu orangnya jelek." Rudi masih tidak percaya dengan ucapan Chayra yang mengatakan dirinya bahagia.
"Ngapain? Kita pergi saja. Buang-buang waktu saja. Kamu akan menyesal kalau tetap berdiam diri disini."
"Nggak akan, Ghi. Mulut dia itu terdengar sangat pedas tadi. Gue harus buktikan kalau omongannya tadi itu nggak bener. Gue akan langsung menyemprotnya kalau saja gue melihat ada sesuatu yang ganjil nanti."
"Huh, terserah kamu. Aku akan tunggu kamu di Kafe sebelah gedung Kampus."
"Nggak boleh.." Rudi menahan tangan Ghibran yang sudah siap berlalu. "Lho juga harus menyaksikan semuanya."
"Aku nggak mau terluka lebih jauh lagi. Sudah cukup luka yang dia ciptakan." Ghibran menghentakkan tangannya sampai terlepas dari genggaman Rudi.
Rudi hanya melongo melihat tangan Ghibran yang terlepas. Namun, dia tidak ada niat untuk mengikuti langkah Ghibran. Benar-benar penasaran dengan pernikahan yang dijalani Chayra. Matanya kembali menatap ke arah Chayra yang berdiri di dekat pintu masuk.
Sepersekian detik ia menunggu sampai akhirnya Ardian keluar dari dalam Konter. Sedikit menyembunyikan tubuhnya di pohon besar agar tidak dilihat pasangan itu.
"Hei, kamu kenapa nangis, Sayang?" Ardian terkejut mendapati istrinya sedang sesenggukan di depan Konter. "Aku kelamaan ya..?" Mengusap air mata Chayra dengan ibu jarinya.
"Tidak.. kita pulang sekarang, Kak. Aku nggak enak badan."
Ardian termenung sejenak. "Aku tidak akan berani membonceng kamu kalau kamu tidak enak badan. Aku takut kamu kenapa-kenapa." Menangkup wajah istrinya khawatir. "Loh, niqab kamu mana, Chay?" Baru menyadari kalau Chayra tidak memakai cadarnya.
"Aku muntah dari tadi, Kak. Aku memasukkannya ke dalam tas. Nanti aku memakainya lagi."
Ardian menghela nafas berat. Menarik Chayra sampai jatuh ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Chay. Aku tidak menemani kamu tadi. Kita duduk saja dulu di bawah pohon rindang itu. Sepertinya kamu membutuhkan angin segar. Kamu membutuhkan lebih banyak oksigen."
"Aku sudah duduk di sana dari tadi. Tapi tetap saja perutku mual."
Ardian akhirnya hanya diam. Tidak tau harus berkata apa. Dia hanya semakin mempererat pelukannya. Untung saja posisi mereka di pinggir. Jadi tidak menghalangi jalan orang yang keluar masuk.
"Mm... mungkin kamu butuh tempat bersandar dari tadi."
"Hmm... dapat handphonenya?"
__ADS_1
"Iya... alhamdulilah dapat. Aku kira handphone yang tidak.pakai kamera yang harganya segitu. Ternyata aku dapat handphone yang besar." Ardian tertawa kecil menertawakan kebodohannya. Melangkah perlahan dengan posisi masih memeluk istrinya. Sampai tidak sadar kalau mereka sampai di bawah pohon rindang yang dimaksud Ardian.
"Kalau yang nggak pakai kamera gitu lima ratus ribu aja dapat, Kak." Melepaskan pelukan suaminya. Mendudukkan tubuhnya di atas bangku tempatnya ngobrol dengan Rudi tadi.
Ardian tersenyum. Ternyata mudah sekali mengalihkan perhatian istrinya itu. Kembali menarik tubuh Chayra agar gadis itu bisa bersandar di pundaknya.
Dari tempat itu, Rudi bisa lebih leluasa mendengar percakapan dua orang itu karena posisinya yabg berdekatan. Dia duduk di bangku sebelahnya dengan posisi membelakangi Ardian dan Chayra. Pura-pura sibuk dengan handphonenya. Padahal dia sudah memasang telinga lebar-lebar untuk menguping.
"Aku lapar, Kak."
"Tadi katanya kamu kenyang pas aku makan."
"Makanan itu tidak ada yang enak. Semuanya hambar, pahit."
Ardian kembali menghela nafas berat. Sudah jelas sekali kalau makanan itu enak-enak sekali. Tapi, mungkin semua itu tidak enak di lidah istrinya yang sedang hamil. "Terus kamu mau makan apa dong, kalau makanan enak saja kamu bilang tidak enak."
Chayra berpikir. Membayangkan makanan apa yang kira-kira akan enak di mulutnya. "Mmm... kayaknya buah jeruk yang masih muda enak di lidah aku." Chayra mempermainkan kancing kemeja suaminya.
"Hah...!" Ardian tersentak mendengar permintaan aneh istrinya. Sontak ia langsung melepas pelukannya. Merengkuh pundak Chayra sambil menatapnya dengan heran. "Yang benar saja, Chay. Buah jeruk yang kayak gitu sudah pasti kecut. Aseeem..." Ardian bergidik ngeri membayangkan buah jeruk muda menyentuh lidahnya.
"Biasanya orang ngidam itu pengen makan rujak atau mangga muda. Kok kamu aneh-aneh saja, ingin makan jeruk muda."
"Tapi aku bisa dapat dimana buah yang seperti itu, Sayang? Yang matang aja langka sekarang, apalagi yang muda."
Chayra langsung cemberut. Membayangkan buah tadi membuat air liurnya hampir jatuh. "Usaha dong, Kak. Inikan anak Kakak yang aku kandung."
"Iya aku tau itu. Aku akan usahakan nanti. Maafkan aku, Sayang. Nanti aku akan Carikan buah itu sampai dapat. Walaupun aku harus mencuri sekalian di kebun tetangga." Akhirnya mengalah karena tidak mau berdebat lagi. Menurut cerita dari teman-temannya, wanita hamil itu sangat sensitif perasaannya. Salah ngomong sedikit saja bisa membuatnya menangis.
"Sembarangan aja." Chayra memukul dada Ardian. "Aku nggak mau anak aku makan barang haram."
"Kan itu anak aku. Kalau aku sih, mau makan apa saja yang penting dia tidak ileran kalau lahir nanti."
"Nggak boleh pokoknya. Aku tetap nggak mau. Bagaimanapun caranya, Kakak harus mendapatkan buah jeruk muda dengan cara yang halal."
"Sensitif amat. Aku bercanda, Sayang." Ardian mencubit gemas pipi istrinya.
__ADS_1
"Tau ah,"
"Bagaimana keadaan kamu sekarang. Masih seperti tadi atau lebih baik?"
"Alhamdulillah, udah mendingan."
"Apa kita sudah bisa pulang?"
"Mm... tapi ini sudah adzan Ashar. Apa kita tidak shalat dulu?"
"Boleh, ayo. Aku sering merasa tidak enakan kalau telat shalat sekarang."
"Alhamdulillah kalau begitu. Itu berarti Kakak ada perkembangan. Sudah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Alhamdulillah.." mereka melangkah meninggalkan tempat itu. Kembali ke area Kampus untuk mendirikan shalat.
Rudi tercengang mendengar semua percakapan pasangan suami istri itu. Masih tidak percaya kalau Chayra memang terdengar bahagia dengan pernikahannya. Hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Melangkah perlahan meninggalkan tempat itu seperti yang dilakukan Chayra dan Ardian.
********
Ardian berkeliling komplek untuk mencari buah jeruk. Sudah berapa Supermarket dia datangi untuk mencari buah jeruk. Walaupun bukan jeruk muda, yang penting buah jeruk. Namun, buah itu stoknya kosong.
Ardian istirahat sejenak di bangku yang berderet di sepanjang trotoar jalan. Sudah dua hari istrinya menginginkan buah itu. Namun dirinya belum juga ada tanda-tanda akan mendapatkan buah itu.
Melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Seharusnya dia sudah berangkat ke Toko untuk membantu pekerjaan mertuanya. Namun, dia masih ragu untuk melangkah pulang, karena belum mendapatkan buah itu.
"Loh, Nak Ardian sedang apa disini? Nggak ke Toko bantu mertuanya?"
Ardian mendongak menatap siapa yang menyapanya. "Eh, Bu Sulis. Anu, Bu.. aku sedang mencari sesuatu."
Bu Sulis menautkan alisnya. "Apa ada barang kamu yang hilang?"
"Ng... nggak, Bu. Bukan begitu maksud aku. Anu... apa namanya.. mm.. Chay, eh Ayra mau makan buah jeruk. Tapi, aku sudah keliling komplek mencari buah jeruk, tidak satupun aku jumpai pohon jeruk ada yang berbuah."
"Sekarang belum musimnya, Nak. Mm... tunggu.. tunggu. Kamu bilang si Ayra pingin makan jeruk. Memangnya dia hamil?"
__ADS_1
"Eheheh, alhamdulilah, Bu." Ardian tersenyum meringis. Salah tingkah mendengar pertanyaan Bu Sulis.
********