Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menyesal kemudian tak ada gunanya


__ADS_3

"Assalamualaikum, kamu kapan pulang, Mas?" Kata itu langsung terdengar di telinga Ardian begitu panggilan tersambung dengan istrinya.


"A.. aku..."


"Adzra tiba-tiba kejang tadi, Mas. Padahal pas aku di rumah Ibu dia baik-baik saja. Terus dia muntah-muntah terus. Aku khawatir banget tadi, Mas. Aku menghubungi semua orang. Aku.. aku takut melihat keadaannya."


Ardian menelan ludahnya mendengar cerita istrinya. Membayangkan betapa istrinya panik saat melihat putra mereka sakit tiba-tiba. Adzra memang sangat jarang sakit. Anak itu sangat sehat dan aktif.


"Nomor kamu juga tiba-tiba tidak aktif tadi. Saat kamu menolak panggilan dariku. Aku baru sadar, mungkin kamu masih sibuk dan tidak bisa diganggu, itulah mengapa aku langsung mengirimkan pesan. Berharap kamu membacanya setelah urusan kamu selesai."


Ardian menarik nafas dalam seraya memejamkan matanya. Rasa bersalah semakin menderu pikirannya. "Maafkan aku.." hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ingin mengatakan sesuatu, tetapi terlalu malu karena prasangka buruknya tadi.


"Maafkan aku mengganggu kamu yang sedang bekerja, Mas. Tapi aku benar-benar bingung tadi. Aku tidak tau harus menghubungi siapa lagi."


"S... sekarang bagiamana keadaan Adzra?"


"Dia sedang tidur, Mas. Tadi pas dipasangin jarum infus dia nangis, tapi tidak bisa meronta karena dia benar-benar kehabisan tenaga."


"K.. kamu sama siapa disana sekarang?"


"Ibu dan Bian, Mas. Kak Zidane mau kemari, tetapi masih dalam perjalanan."


"Aku akan cek penerbangan terdekat. Kalau ada besok pagi, aku akan langsung pulang."


"Selesaikan saja urusan kamu, Mas. Jangan bekerja setengah-setengah. Kamu sudah berapa hari berjuang, jangan sampai mundur setelah tinggal selangkah lagi."


"Urusanku sudah selesai sekarang. Kalau ada penerbangan malam ini, aku akan langsung pulang sekarang. Maafkan aku yang tidak menjawab panggilan kamu tadi."


"Tidak apa-apa, Mas."


Ardian terdiam beberapa saat. "B.. bagiamana keadaan kamu, Sayang."


"Aku baik, Mas."


"Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk menghubungi kamu setiap waktu."


"Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Suamiku tidak pernah mengabaikan istrinya jika tidak ada kesibukan yang berarti. Sebenarnya aku ingin menghubungi kamu dari kemarin, Mas. Tapi aku selalu menahan diri karena takut mengganggu pekerjaan kamu."


"Maafkan aku, Sayang." Ardian semakin merasa bersalah mendengar jawaban istrinya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Mas, nanti aku telepon lagi ya.. Dokter memanggilku."


"Iya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik."


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Ardian termenung setelah istrinya memutus sambungan telepon.


"Bagaimana, Ar?" Dodit menepuk pelan pundak Ardian.


"Istriku tidak marah, Dit. Kamu benar, aku yang bersifat kekanak-kanakan."


"Istri Sholehah tidak akan pernah melanggar aturan agama, Ar. Aku saja yang melihat istrimu hanya beberapa kali saja sudah yakin kalau dia itu wanita Sholehah. Apalagi kamu yang selalu bersamanya."


"Terimakasih dukungannya, Dit. Aku mau mengecek penerbangan terdekat. Aku harus kembali secepatnya. Anak dan istriku sedang membutuhkanku sekarang."


"Aku sudah mengeceknya tadi saat mendengar kamu bicara dengan istrimu. Penerbangan tercepat hanya besok siang. Paginya memang ada, tapi sudah penuh."


"Apa tidak ada orang yang membatalkan tiketnya."


Ardian membuang nafas dengan kasar. Rasa bersalah, lelah, ngantuk dan pikiran yang tidak tenang berkecamuk menyatu jadi satu. "Ya Allah...." ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?"


"Aku menyesal telah mengabaikan istriku, Dit. Untung saja ada kamu yang menasehati aku. Aku akan menjadi laki-laki terbodoh seandainya aku menuruti egoku tadi."


"Sudah, pasti ada hikmah dibalik semuanya. Jadikan kejadian tadi sebagai pelajaran ke depannya. Oh iya aku juga mau minta maaf." Dodit menggaruk-garuk ujung hidungnya. Bingung bagaimana menjelaskan pada Ardian perihal dirinya yang tidak sengaja melihat foto Chayra tadi.


"Maaf untuk apa, Dit."


"Mm... itu tadi apa namanya.. mm... aku... aku tidak sengaja melihat foto istri kamu tadi pas dia menelpon kamu."


Mata Ardian membulat. "Kapan...?!"


"Mm... tadi pas kamu pergi ambil air wudhu'. Aku kan duduk di ranjang. Terus handphone kamu ada di sana dan berdering berulang kali. Aku niatnya mau menjawab dan bilang kalau kamu sedang di kamar mandi. Tapi, pas melihat foto itu, aku langsung mundur dan menelungkupkan handphone kamu. Sekali lagi maaf. Lain kali aku tidak akan berani menyentuh handphone kamu lagi walaupun suaranya seperti petir yang menyambar."


Ardian hanya menatap Dodit dengan datar. Mau marah, tapi marah untuk apa? Toh, kejadiannya sudah terjadi dan waktu tidak bisa diulang. Akhirnya bibirnya hanya bisa tersenyum samar.

__ADS_1


Dodit POV...


Aku menarik nafas lega saat Ardian tidak marah padaku. Selama kenal dengannya aku masih belum bisa memahami keseluruhan sifatnya. Terkadang dia sangat bijak, tetapi terkadang berubah menjadi seperti anak kemarin sore. Tapi, untung saja dia selalu profesional dalam bekerja. Apapun masalah di keluarganya tidak pernah sampai dibawa ke ranah pekerjaan. Aku duduk di sampingnya setelah kami duduk di atas ranjang.


"Istirahat, Ar, biar besok kita semangat untuk kembali pulang."


"Duluan saja, Dit. Aku mau menghubungi istriku sekali lagi."


Huh, aku langsung mendengus mendengar jawabannya. Tadi pas istrinya butuh, panggilannya malah diabaikan terus.


"Kenapa mendengus?" Tanyanya sambil menepuk pipiku.


"Heh, aku hanya heran sama kamu. Barusan istri capek nelpon malah diabaikan. Sekarang malah tidak bisa tidur karena memikirkannya." Aku melengos sambil membuang pandangan. "Kalau aku jadi kamu, aku bakalan sangat malu padanya karena tadi sempat berpikir buruk."


"Aku kan tidak tau, Dit. Mulai sekarang aku akan selalu memikirkan sebab akibatnya sebelum bertindak. Aku jadi malu mengatakan yang sebenarnya padanya. Apa dia akan marah ya, kalau aku jujur tentang masalah tadi."


"Dia tidak akan marah. Istri kamu itu wanita baik. Kamu aja yang bodoh diperdaya oleh Setan." Aku merebahkan tubuhku lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku hanya mendengar dia menarik nafas panjang beberapa kali.


"Aku mau istirahat, Ar. Aku nggak mau ikutan galau seperti kamu." Aku berbalik arah membelakanginya. Sayup-sayup, aku mendengarnya melafadzkan istighfar beberapa kali. Mungkin dia benar-benar menyesal karena tingkahnya tadi. Heran juga aku sama ni orang. Istrinya Sholehah gitu, masa ada niat untuk selingkuh. Menurutku, pikirannya terlalu pendek seperti sumbu kompor hok jaman dulu. Untung saja aku baik hati. Andaikan sifat usilku sedang kambuh, aku jamin kompor yang bersumbu pendek di sampingku ini sudah meledak karena terus disiram bensin.


"Aku menyesal, Dit." Ucapnya lagi setelah lama hening. Aku membuka selimut yang menutupi wajahku. Eh, ternyata dia sudah rebahan di sampingku. Raut wajahnya terlihat layu. Kasihan juga aku. Setelah dari pagi menahan emosi karena investor yang banyak maunya, malamnya dia harus menghadapi masalah rumah tangga lagi.


"Menyesal kemudian tak ada gunanya, Ar. Kenapa kamu tidak menghubungi istri kamu lagi. Bukannya tadi kamu bilang mau menghubunginya?"


"Aku malu, Dit."


Aku kok malah ingin tertawa mendengarnya. Yang aku tau selama ini dia mempunyai sifat percaya diri yang tinggi. Kok mentalnya malah down sekarang. "Sama istri sendiri kok malu. Wanita akan tunduk pada suami, Ar."


"Tapi masalahnya yang membuat masalah aku, Dit. Terus tadi pas aku menghubunginya, aku tidak menjelaskan masalahnya tadi. Aku sok sibuk dan tidak bisa menjawab panggilan darinya. Aku merasa, Chay merasa bersalah tadi karena dia menganggap dirinya menggangguku yang sedang bekerja."


"Hahahaha... kalau dia tau suaminya ngambek gara-gara salah sangka, bagaimana ya reaksinya."


"Jangan ceritakan padanya, Dit. Aku yang akan menjelaskan padanya nanti. Tapi, aku akan menunggu waktu yang tepat."


"Itu urusan pribadi kamu. Ngapain juga aku kayak orang yang tidak ada kerjaan menceritakan itu semua." Dasar si Ardian ini. Kirain aku mulut ember apa yang suka berkoar-koar.


"Aku nggak bisa tidur, Dit. Aku kepikiran istriku terus."


Aku kembali membuka mataku. Mataku sudah tinggal setengah Watt. Tapi, Ardian masih terus mengajakku ngobrol. "Telepon dia lagi, tapi jangan disini soalnya aku mau tidur. Kamu ke Balkon saja biar puas sayang-sayangan." Aku membalik tubuhku. Tubuhku juga butuh istirahat setelah seharian bekerja. Kalau Ardian terus diladeni, bisa-bisa aku ikutan begadang bersamanya.

__ADS_1


********


__ADS_2