
"Kenapa tampang lho kayak yang terkejut gitu?" Kate memperhatikan raut wajah pasangan suami istri itu. Tapi karena Chayra memakai cadar dia tidak bisa terlalu leluasa melihat wajah wanita itu.
"Eh, tidak apa-apa, Kate. Mm.. boleh gue menanyakan sesuatu sama lho?"
"Bertanya aja, kayak orang nggak biasa ngomong sama gue aja."
Ardian melirik Chayra yang tampak diam. "Mm.. aku boleh bicara sama Kate sebentar, Sayang."
"Terserah Kak Ardian. Aku tunggu di dalam biar bisa duduk."
"Iya, sebentar saja ya." Beralih menatap mertuanya yang tampak kalem mendengar percakapan mereka. Sebenarnya Santi juga terkejut mendengar ucapan pria yang memang terlihat akrab dengan menantunya itu. Tapi, dia bisa menguasai diri. "Ardian izin sebentar, Bu. Mau menanyakan sesuatu sama Kate."
"Iya, tapi jangan kelewatan waktu nanti ya.. Istri kamu butuh ditemani kamu ke ruang periksa."
"Insya Allah, Bu. Nanti Ibu telpon aku kalau mau masuk atau sebelum masuk. Iya, Sayang ya.."
Chayra mengangguk seraya berlalu. Menggandeng tangan ibunya seperti biasa kalau mereka jalan berdua.
"Gila, Bro. Istri lho terlihat makin cantik aja. Seriusan nih, lho berhasil merebut hatinya?" Kate berdecak kagum melihat Chayra dari kejauhan.
Plak..!
Satu pukulan melayang di kepala Kate. Ternyata Ardian kalau bertemu dengan teman lama masih saja berbuat semaunya. "Jangan katakan istri gue cantik. Hanya gue yang boleh mengatakan dia cantik. Secara, hanya gue kan yang bisa melihat wajahnya."
Kate langsung menyebikkan bibirnya. "Istri lho itu walaupun pakai cadar aura kecantikannya tetap terlihat, Ar. Gue bisa melihat itu dari mata batin gue. Udah terlihat kalemnya, lemah lembutnya, apalagi religiusnya jangan tanyakan lagi."
Plak..!
Satu pukulan kembali mendarat. "Udah dibilangin jangan bilang istri gue cantik."
"Seneng banget deh lho nyiksa gue. Istri lho itu memang terlihat berbeda. Semua orang juga akan berkata begitu kalau melihatnya. Maksud gue terlihat berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya. Lho mau menanyakan apa tadi?" Kate segera mengalihkan pembicaraan agar tidak disiksa lagi oleh Ardian.
"Tentang Audy." Ardian menatap Kate dengan penuh harap. "Gue ingin lho menceritakan kehidupan yang dia jalani setelah gue nggak lagi ke tempat kalian."
Kate melengos mendengar permintaan Ardian. "Ngapain cari tau tentang dia. Udah dapat yang kayak bidadari ngapain kepoin manusia ababil kayak gitu."
"Gue mau tau tentang itu bukan karena penasaran sama tu orang. Tapi, gue mau tau karena dia berulah baru-baru ini."
Kate tertegun beberapa saat. "M.. maksud lho berulah?"
"Gue akan cerita kalau lho cerita ke gue tentang kehidupan yang dia jalani akhir-akhir ini."
__ADS_1
Kate mendengus. "Perhitungan banget deh lho sekarang." Melirik Ardian dengan sinis. "Dia itu sepeti biasa datang ke tempat biasa setiap malam. Melakukan hal seperti yang dulu-dulu dia lakukan dengan lho."
"Oh gitu.." Ardian manggut-manggut.
"Sekarang lho yang cerita."
Ardian menatap Kate. "Dia bilang gue terinfeksi penyakit s***. Sampai bela-belain datang ke rumah mertua gue di waktu shalat subuh. Malu-maluin aja. Apalagi ada keluarga besar istri gue disana. Kakak sepupunya istri gue kan nikah kemarin. Pagi itu, kami sedang kumpul habis shalat Subuh. Gedor-gedor pintu tidak ada sopan santun. Mending kalau itu di rumah gue sendiri. Ini gue numpang di rumah mertua. Tiba-tiba datang saat keluarga sedang bertukar pikiran membahas masalah agama. Masalahnya gue terkejut karena dia datang dengan membawa berita yang membuat gue langsung syok."
"Kenapa lho nggak bacok aja tu cewek biar mati sekalian." Ucap Kate kesal. "Buat ulah terus dia sekarang. Tiap malam gonta-ganti pasangan. Eh, tiba-tiba nyalahin si Andre karena dia hamil."
"Kalau Kakek nggak ambil alih pembicaraan, gue nggak tau apa yang akan terjadi. Audy benar-benar nggak punya malu. Dia malahan bilang kalau dia nggak pernah berhubungan dengan siapapun setelah gue hengkang dari tempat itu."
"Terus lho percaya begitu saja?"
"Sebenarnya gue bingung kemarin. Gue malahan sampai tidak bisa berkata-kata saat mendengar mulutnya nyerocos ngomong ini ngomong itu mojokin gue. Tapi, alhamdulilah Kakek benar-benar jadi pahlawan pagi itu. Gue hanya bingung, apa sih maunya dia sampai bela-belain melakukan hal nggak penting seperti itu."
"Tunggu-tunggu.." Kate tiba-tiba mengisyaratkan Ardian untuk berhenti bicara.
"Kenapa..?"
"Kapan kejadian itu?"
""Kenapa menanyakan itu?"
"Mm.. dua hari yang lalu. Pagi Selasa diwaktu subuh.
Kate terlihat berpikir keras. Mencoba mengingat kejadian di malam sebelum Audy mendatangi Ardian. "Mm... apa lho nggak curiga kalau dia bersekongkol dengan seseorang?"
Ardian langsung menatap Kate. "Maksud lho?"
"Kalau gue nggak salah ingat, malam itu gue lihat dia ngobrol dengan mantan lho."
"Mantan yang mana makan lho?"
"Si Amira.. malam itu gue lihat dia datang ke tempat biasa. Gue sih nggak mikir kayak gini sebelumnya, karena gue nggak tau kalau ternyata lho yang mereka bahas."
"Tapi belum tentu juga kan?"
Kate kembali termenung. Mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu. "Gue sih hanya sekilas mendengar percakapan mereka. Karena kebetulan gue kedatangan tamu dari jauh"
"Terus.."
__ADS_1
"Gue akan ingat-ingat dulu. Takutnya gue salah menceritakan kejadian malam itu." Kate akhirnya menceritakan detail kejadian malam itu. Saat pertengahan cerita, handphone Ardian berdering.
"Tunggu dulu, Kate, istri gue nelpon." Ardian langsung bangkit dan menjauhi Kate untuk menjawab panggilan itu.
Kate memperhatikan Ardian dari tempatnya duduk. Benar-benar terlihat kentara perubahan temannya itu. Apalagi pada istrinya, dia benar-benar bersikap lemah lembut dan santun.
"Iya, iya aku segera masuk sekarang. ...... iya, Sayang ...... aku sudah mengorbankan pekerjaan aku hari ini demi bisa menemani kamu. .... Tidak, aku akan mengurusnya lagi nanti. .... Aku ingin tau perkembangan anak aku. .... Iya, assalamualaikum..." Ardian mematikan sambungan telepon lalu mendekat kembali pada Kate.
"Istri lho mau masuk?" Kate langsung bertanya karena mendengar percakapan Ardian.
"Belum sih, baru antrian tujuh belas. Tapi, dia mewanti-wanti aku agar tidak lupa. Aku sering lupa waktu kalau sudah ngobrol."
Kate tersenyum lemah. "Lho terlihat sangat menghargai istri lho, Ar. Gue kagum dengan lho yang sekarang."
"Iya... harus itu. Dia sudah berkorban banyak demi gue. Sampai turun tangan ajarin gue cara wudhu, shalat, baca Al-Qur'an. Seharusnya kan, kita yang laki mengajarkan hal itu pada pasangan kita. Tapi, ini gue malah sebaliknya. Mikir lah gue kalau mau macam-macam sama dia."
"Betul-betul itu, Bro." Kate menepuk-nepuk pundak Ardian. "Gue juga sepertinya mau insyaf. Capek hidup kayak gini terus. Pingin lah berubah kayak lho. Siapa tau ada bidadari surga yang nyangkut seperti jodoh lho."
"Perasaan dari dulu lho bilang mau tobat. Tapi sampai sekarang masih gini-gini terus hidup lho. Manis nggak, asin nggak, tapi pahit."
"Yah... kan gue mau tunggu hidayah."
"Hidayah itu nggak ditunggu, tapi dijemput. Lho mau dapat hidayah, tapi lho ada niat nggak untuk mendapatkannya. Kalau lho ada niat setidaknya perbaiki diri mulai sekarang. Kalau tidak bisa langsung perlahan-lahan caranya." Ardian bangkit lagi. "Udah, gue mau cabut dulu. Pembahasan kita tentang Audy belum selesai. Gue harus menemui istri gue dulu. Kasihan dia udah berapa kali periksa, aku jarang bisa menemaninya.
"Memangnya lho punya kesibukan sekarang. Udah ada pekerjaan lho. Perasaan dulu minta bantuan gue untuk mencarikan pekerjaan."
"Iya, gue udah kerja di perusahaan Papi gue."
"Uuuiiihhh... keren.. kayaknya langsung jadi Direktur lho di sana."
"Nggak, mana ada kayak gitu. Gue hanya dipercaya sebagai sekretaris pribadi GM disana. Tapi, lumayanlah udah dapat posisi itu. Gue juga punya sekretaris lagi. Tapi, seperti bukan sekretaris kalau menurut gue. Dia lebih tepatnya penjaga gue dan selalu membimbing gue kalau ada masalah dalam pekerjaan."
"Hebat lho diam-diam.."
"Udah ah, gue mau cabut. Nyambung lagi kita ngobrolnya. Nanti gue kontak lho kalau sudah ada waktu yang luang untuk membahas masalah tadi."
"Wokay..." Kate mengacungkan jari jempolnya.
"Assalamualaikum..."
"Yah, pakai acara ucap salam segala ni orang. Udah tau temannya kayak preman."
__ADS_1
"Lho tinggal jawab saja. Kalau tidak dijawab lho yang dapat dosa." Ardian melengos seraya berlalu. Sudah ada sedikit titik terang dari Kate membuatnya harus lebih cepat bertindak.
********