Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana demi kebaikan


__ADS_3

"M.. maafkan Ardian, Kek. Hal itulah yang menjadi beban pikiran Ardian sampai sekarang." Jawab Ardian tanpa mengangkat kepalanya.


"Bagus kalau kamu menyesal. Itu berarti kamu masih memiliki kesadaran sehingga ada niat untuk menebus kesalahan itu. Sudahlah, Kakek mau pergi sekarang." Pak Akmal bangkit, diikuti dengan Bian. "Kamu mau ikut pulang?" Melirik Bian yang berdiri di depannya.


"Iya, Kek. Besok Bian mau sekolah."


"Kakek diantar sopir dan dua orang pengawal. Apa kamu tidak keberatan?"


Bian mendengus. "Kakek selalu saja berlebihan. Kakek kan bisa datang kemari sendiri tanpa adanya pengawalan seperti ini."


"Kakek hanya berjaga-jaga, Sayang." Pak Akmal mengacak-acak rambut cucunya.


"Iya sudah nggak apa-apa. Padahal Kakek selalu baik-baik saja walaupun datang kemari sendirian." Bian menjawab sambil berlalu keluar.


Selepas kepergian Pak Akmal, tinggallah Alesha dan Zidane yang masih duduk menjadi tamu. Padahal waktu berkunjung sudah habis, tetapi mereka berdua masih berdiam diri di dalam ruang rawat Chayra.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ardian? Kakek tiba-tiba menghubungi aku sehabis Ashar, mengatakan kalau Ayra masuk Rumah Sakit lagi." Zidane akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya. Dari tadi dia sudah penasaran. Tapi untuk melontarkan pertanyaan saat sang Kakek masih ada di tempat tidak mungkin dia lakukan. Pak Akmal tidak suka menjelaskan sesuatu. Intinya ada masalah dan Zidane harus datang ketika Kakek memintanya untuk datang.


"Ada yang mengirim pesan tak bermoral lagi, Kak. Aku sudah menduga kalau pasti Amira pelakunya." Ardian mengusap wajahnya kasar.


"Ibu sudah bilang jangan su'udzon, Nak. Belum tentu dia pelakunya." Bu Santi kembali memperingatkan Ardian agar tidak berprasangka buruk pada orang yang belum tentu pelaku dari masalah ini.


"Tapi kan Ibu dengar ucapan Kakek tadi. Pelakunya hanya satu orang, tetapi berulah berulang-ulang."


"Mungkin saja yang dimaksud Kakek kamu itu adalah wanita yang datang diwaktu subuh itu."


"Iya, tapi dia dibawah kendali Amira."


"Terserah kalian. Akan lebih baik jika kamu segera mencari tau sendiri. Kakek kalian sudah bilang kan, tempat wanita itu sekarang."


Ardian mengangguk. "Ardian akan menemuinya besok."


"Iya sudah, kalau begitu kamu jaga istri kamu. Ibu mau istirahat sebentar." Bu Santi langsung mengambil posisi enak tiduran santai di sofa.


"Iya, Bu." Ardian berpindah tempat ke samping istrinya. Rasa bersalah masih memenuhi pikirannya sehingga dia hanya mencuri-curi pandang ke arah istrinya.


"Kamu mau nginap atau ikut pulang?" Zidane bertanya pada istrinya.


"Aku nginap aja, Mas. Kasihan Ibu terlihat capek gitu. Kak Ardian juga pasti capek, kan."


Ardian tersenyum lemah sambil menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja, Lesha. Aku akan tetap terjaga untuk menjaga Chay."


"Tidak apa-apa, kalau Kak Ardian capek, Kakak tidur aja dulu. Aku yang akan jaga Ayra sekarang."


"Kalau begitu aku pulang ya.." Zidane memeluk tubuh istrinya sekilas lalu mencium keningnya. "Kamu jaga diri baik-baik," beralih menatap Chayra dan berjalan mendekati adiknya itu. "Kakak pulang dulu, Dek. Ada Alesha yang akan menemani kamu. Besok pulang kerja Kakak akan datang lagi."

__ADS_1


"Iya, Kak. Terimakasih.."


Zidane mengangguk. "Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Hening..


Tidak ada percakapan lagi selepas kepergian Zidane. Ardian duduk di sisi kanan Chayra, sedangkan Alesha di sisi kiri. Hanya tarikan nafas panjang dari Ardian yang terdengar beberapa kali. Matanya hanya menatap lemah ke perut istrinya yang sudah sangat besar. Lama menatap, dia akan kembali menunduk seraya membuang nafas kasar.


"Kak Ardian jangan terlalu sering menarik nafas panjang. Oksigen di ruangan ini terlalu cepat habis kalau nafas Kakak panjang-panjang kayak gitu."


Ardian langsung mengangkat wajahnya. "Kamu ada-ada saja, Lesha. Mana ada seperti itu. Oksigen Allah tidak akan pernah kehabisan stok."


"Tapi Kak Ardian boros oksigen. Coba cara nafasnya biasa-biasa aja, nggak usah panjang-panjang."


"Iya terserah kamu mau bilang apa. Aku hanya sedang mencoba menetralkan pikiranku saja."


"Kenapa Kakak tidak pergi sekarang saja, biar masalah cepat selesai."


"Aku tidak mungkin meninggalkan Chay dalam keadaannya yang belum stabil seperti ini."


"Kenapa kalian tidak ganti nomor handphone saja, terus sekalian pindah rumah. Gue aja yang baru kemarin nikah udah pindah rumah."


"Udah nggak pusing lagi emannya kalau duduk bersandar seperti ini?"


Chayra menggeleng pelan disertai dengan senyuman lembut. Hal itu mampu membuat Ardian mengelus-elus dadanya. Senyuman istrinya yang seperti itu selalu saja membuat dadanya berdebar tak menentu.


"Ya elah ni orang baru disenyumin kayak gitu aja udah melelah." Alesha melengos melihat tingkah Ardian.


"Siapa sih yang tidak akan jatuh cinta melihat wanita secantik dia?" Ardian menunjuk istrinya dengan ekor matanya.


"Makanya kalau sudah jatuh cinta, jangan suka menyakiti. Lho memang tidak menyakitinya secara langsung. Tapi masa lalu selalu menghantui kehidupan orang yang lho cintai sekarang. Benar yang dikatakan Kakek barusan. Sepertinya lho harus bertindak tegas mulai sekarang. Gue nggak suka melihat hubungan kalian terus diganggu seperti ini."


"Sebenarnya aku juga udah ada rencana untuk pindah rumah. Rumahnya sih udah jadi, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat aja untuk mengajak Chay pindah. Untuk sekarang sepertinya belum bisa mengingat keadaannya yang seperti ini. Aku malah lebih khawatir lagi kalau meninggalkannya di rumah baru sendirian saat aku pergi bekerja."


"Cari pembantu rumah tangga yang baik dan kalau bisa yang sudah matang biar nggak genit."


"Apaan sih kamu pakai bawa kata-kata genit segala." Ardian malah salah fokus mendengar ucapan Alesha.


"Kan sekarang banyak kasusnya yang kayak gitu. Tuan rumah digoda asisten rumah tangga genit. Ih, amit-amit deh. Gue akan langsung memecat tuh asisten terus gue akan suruh suami gue cari yang udah tua, yang udah nggak ada nafsu melihat orang tampan sepertu suami gue. Huh," Alesha seperti orang yang kesal dengan ucapannya sendiri.


Ardian terlihat ingin bicara, tetapi masih ragu. Dia menengok ke belakang melihat Bu Santi. Ternyata mertuanya itu sudah tidur pulas.


"Kenapa memperhatikan Ibu?" Chayra menyentuh tangan suaminya.

__ADS_1


"Eh, aku hanya mau memastikan kalau Ibu sudah tidur."


"Mau membicarakan sesuatu pada Ayra?" Alesha mencoba menebak ekspresi wajah Ardian.


Ardian menatap istrinya seraya mengangguk.


"Ngomong saja, Mas. Ibu juga tidak akan marah walaupun dia mendengar apa yang akan Mas Ardian katakan."


"Aku.. aku hanya nggak enak sama Ibu." Ardian kembali menunduk. Entah kenapa menatap istrinya terlalu lama membuat rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi. "Seperti yang Alesha katakan tadi, aku ingin mengajak kamu pindah rumah?"


Sepersekian detik Chayra mencerna ucapan suaminya. "P.. pindah rumah kemana? Kalau harus tinggal di rumah Mami dan Papi lagi, aku nggak mau."


"Kamu dengarkan aku dulu, Sayang. Aku tidak mungkin mengajak kamu kesana lagi. Aku sudah membeli rumah untuk kita tempati.


Bukan hanya Chayra yang terkejut, tetapi Alesha juga ikut terkejut. "Kamu beli rumah dapat uang darimana, Mas?" Chayra memejamkan matanya. "Jangan bilang kamu dibelikan oleh Papi dan Mami?"


"T.. tidak, Chay. Aku membelinya dengan uangku sendiri."


"Kamu baru beberapa bulan bekerja, Mas. Gaji kamu memang udah cukup untuk membeli rumah."


"Iya... kalau rumahnya sebesar rumah Ibu sih, tidak akan cukup. Rumahnya kecil, Chay. Tapi, aku hanya ingin mandiri."


"Apa tidak menunggu Ayra melahirkan dulu, baru kalian pindah rumah?" Usul Alesha..


"Sepertinya tidak. Tapi, aku harus menunggu persetujuan Ibu dulu."


"Kenapa tidak meminta persetujuan aku juga?" Chayra mencubit tangan suaminya yang sepertinya tidak akan perduli dengan pendapatnya.


"Suami sudah wajib ikut suami, Ayra. Untuk apa juga Kak Ardian meminta pendapat kamu. Kalau kamu diajak suami ya harus nurut."


"Tumben kamu berkata bijak begitu.."


"Udah dapat ceramah kemarin pas nolak pindah rumah.Gue kan masih ingin tinggal di rumah. Tapi, Pak Suami langsung mengeluarkan petuah bijak disertai dengan hadis. Huh, bener-bener mati kutu deh, gue. Nggak bisa nolak jadinya."


"Sudah tau nikah sama Ustadz, ngapain pakai nolak ajakan suami segala. Aku nggak bisa ngebayangin kalau kamu menolak ajakan Kak Zidane untuk itu." Chayra menahan senyum membayangkan ekspresi sang kakak yang mendapatkan penolakan.


Alesha kembali menatap Ardian. "Terus kenapa lho menunggu Ibu tidur dulu baru mengatakan ini pada Ayra. Seharusnya Kak Ardian mengatakan itu pas Ibu masih bangun tadi biar bisa musyawarah dengan baik."


"Tau ah," Chayra menimpali malas. "Seharusnya Mas Ardian ngomong pas Ibu masih bangun tadi seperti kata Alesha."


"Aku harus memberitahu kamu terlebih dahulu. Setelah mendapat lampu hijau dari kamu, baru aku akan mengutarakannya pada Ibu nanti."


Chayra hanya menyebikkan bibirnya. Dia sepertinya merasa berat kalau harus pisah rumah dengan ibunya. Apalagi mengingat kondisinya yang seperti ini. Ucapan Alesha untuk mengganti nomor handphonenya sepertinya perlu dipertimbangkan. Sedangkan untuk media sosial, dia tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu mengingat dirinya bukanlah pengguna aktif.


*********

__ADS_1


__ADS_2