Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Tuduhan buruk Mami


__ADS_3

Ardian berulang kali melirik jam tangannya. Rapat sudah berlangsung selama dua jam, tetapi rapat itu belum juga berakhir. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dia sudah mulai tidak konsentrasi mengikuti rapat karena memikirkan istrinya yang akan pergi memeriksa kandungannya.


Lima belas menit berlalu, akhirnya persentase terakhir selesai. Ardian menarik nafas lega. Ada harapan untuk bisa menemani istrinya. Beberapa kali melirik jam tangannya. Hanya bisa berdoa semoga tidak banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh karyawannya.


Satu persatu karyawan mengajukan pertanyaan. Ardian semakin tidak fokus saat terdengar adzan Ashar berkumandang. Saat semua diam, Ardian memanfaatkan kesempatan itu untuk mengakhiri rapatnya.


"Saya harus mengakhiri rapat ini sampai disini. Sekiranya ada pertanyaan lagi, silahkan bertanya pada Asisten pribadi saya. Saya ada urusan yang tidak bisa ditunda. Assalamualaikum.." Ardian bergegas meninggalkan ruang rapat. Bergegas memasuki lift agar segera sampai di ruangannya.


Saat sampai dalam ruangan, Ardian tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa menelan ludahnya saat melihat kehadiran Mami dan Papinya dalam ruangan.


"Oh, akhirnya putraku datang. Bagaimana rapatnya? Apa tidak ada kendala dari laporan para karyawan?"


"Mm.. alhamdulilah tidak ada, Pi. Papi dan Mami ngapa... eh, kapan datang?" Ardian meralat ucapannya yang hampir saja salah.


"Dari tadi jam tiga. Papi dan Mami mau bicara sama kamu. Ada hal serius yang tidak bisa Papi dan Mami bicarakan lewat telepon."


Ardian membuang nafas kasar seraya melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. "Ya Allah... Papi dan Mami mau membicarakan apa? Apa..." Ardian menghentikan ucapannya. Beberapa hari yang lalu dia berdebat dengan papinya. Dia harus tutup mulutnya agar Papinya tidak menyalahkannya lagi.


"Kenapa kamu terlihat sangat panik?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Renata.


"Ng.. nggak, Mi. Aku... aku cuma belum shalat, makanya perasaan aku sedikit gusar." Jawab Ardian.


"Sebentar saja. Dulu juga kamu nggak pernah shalat, nggak pernah kayak gini."


"Ardian yang sekarang bukan Ardian yang dulu. Jangan samakan yang dulu dengan yang sekarang."


"Duduk dulu makanya sebentar. Papi dan Mami benar-benar mau bicara sama kamu."


"Akan mau shalat sebentar." Ardian berlalu begitu saja. Meletakkan tas kerjanya di atas meja dan langsung masuk ke kamar mandi.


"Kami sudah capek nunggu kamu dari tadi, Ardian."


Ardian mendengar teriakan maminya. Namun, dia sengaja tidak merespon, agar tidak panjang ceritanya.


"Kami mau bicara sebentar saja." Kembali Renata bicara dengan mengangkat suaranya saat melihat Ardian keluar dari kamar mandi.


"Aku juga shalatnya sebentar, Mami. Aku sudah terlanjur ambil air wudhu'. Lagian, kita tidak boleh menunda-nunda shalat. Kenapa Papi dan Mami tidak shalat dulu, agar kita bisa bicara sampai petang nanti." Jawab Ardian seraya masuk ke dalam ruangan yang seperti sebuah kamar. Menggelar sajadah di sana dan langsung shalat.


Renata melirik suaminya kesal.


"Sudahlah, Mi. Mengalah saja kenapa sih. Tidak akan sampai sepuluh menit kok."

__ADS_1


"Tapi kita sudah menunggu dia dari satu jam yang lalu, Papi."


"Tadi dia sedang rapat. Duduk saja dulu."


"Huh," Renata mendengus seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Ardian mencoba menghubungi istrinya usai mendirikan shalat. Menarik nafas lega saat panggilan itu terhubung.


"Assalamualaikum, Sayang. Apa kamu sudah berangkat?"


"Sudah, Kak. Kalau Kakak masih sibuk jangan dipaksakan. Ada Ibu dan Bian yang menemani aku."


"Mm... Kak Zidane nggak ikut?"


"Kak Zidane pulang ke Pesantren. Katanya.. mm.. Kak Ghibran mau mengkhitbah salah seorang Santri. Jadi, dia tidak bisa tidak hadir."


"Mm.. aku akan usahakan untuk bisa datang. Ini aku baru selesai shalat Ashar. Tapi, ada Papi dan Mami di sini. Aku akan menemui mereka sebentar, baru aku meluncur ke sana."


"Alhamdulillah.. semoga Allah memudahkan segala urusan Kakak."


"Aamiin.. aku tutup ya, Sayang. Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Ting..!


Ardian menatap handphonenya saat terdengar notifikasi pesan masuk.


Aku dapat nomor antrian nomor tiga puluh, Kak. Aku sengaja tidak daftar dari kemarin agar lebih lama di Klinik. Berharap Kakak bisa datang dan mengetahui keadaan anak Kakak.


Ardian senyum-senyum sendiri membaca pesan itu. Menghempaskan tubuhnya di sofa depan Papi dan Maminya. Tangannya sibuk mengetik pesan balasan untuk istrinya.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Lagi selingkuh sama siapa kamu? Bosan punya istri yang selalu membatasi aktivitas kamu?"


Ardian mengernyit mendengar ucapan Maminya. "Eh, Mami itu jangan suka su'udzon kenapa sih?! Aku itu lagi membalas pesan dari istriku. Kayak nggak ada kerjaan aja pakai acara selingkuh-selingkuh segala."


"Siapa tau aja kamu bosan dengan istri macam begituan."


"Astagfirullahal'adzim.." Ardian meletakkan handphonenya dengan keras di atas meja. "Kenapa sih, Papi dan Mami berubah lagi sekarang. Kalian itu seperti menyepelekan keberadaan istri aku. Padahal dulu Mami dan Papi sangat menyayangi istri aku."


"Mami hanya nggak suka, Ardian. Semakin kesini wanita itu seperti memonitor kamu. Kamu seperti tunduk pada wanita itu. Kamu itu berasal dari keluarga yang berwibawa. Tidak jauh berbeda dengan keluarga dia."

__ADS_1


"Aku bukan dimonitor sama dia, Mami. Dia patuh kepadaku saat aku memerintahkannya. Tapi, semakin kesini, rasa cintaku kepadanya semakin besar. Mungkin karena aku tinggal di rumah mertuaku. Itu yang membuat Mami berkata begitu."


"Hal itu juga termasuk. Mami tidak suka melihat kamu seperti pria yang tidak berwibawa. Tinggal di rumah mertua karena istri tidak mau tinggal di rumah kamu sendiri."


Ardian tersenyum getir. "Apakah ini alasan kalian datang kemari. Kalian mau membujukku untuk pulang ke rumah lagi?"


"Iya.." Sucipto dan Renata menjawab serentak.


"Maaf, Papi, Mami, untuk hal itu aku tidak bisa karena aku yang tidak mau. Tidak ada unsur paksaan dari istriku ataupun mertuaku. Ini adalah keputusanku sendiri."


"Apa istimewanya tinggal di rumah sederhana itu, Nak?" Sucipto angkat bicara.


"Tinggal di rumah sederhana itu terasa jauh lebih istimewa daripada tinggal di istana kalian. Karena di rumah itu, semua penghuninya saling mengistimewakan."


"Jelaskan kepada kami alasan yang bisa kami terima. Jika kamu sudah mengutarakan alasan kamu dan itu bisa membuat kami paham. Mami dan Papi tidak bisa memaksa kamu."


Ardian menghela nafas berat. Menatap Papi dan Maminya secara bergantian. "Aku tidak mau kembali lagi karena kalian pernah mengusirku. Kata-kata kasar Papi waktu itu masih terngiang-ngiang jika aku mengingatnya lagi." Ardian tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari kedua orang tuanya itu. "Sedangkan waktu itu, mertuaku dan keluarga besarnya menerimaku dengan pintu terbuka. Mereka menanyakan kekhilafan itu sebelum menghukum aku. Bahkan aku tidak menerima hukuman dari mereka. Aku hanya diberi pencerahan agar bisa terus semangat berjuang menjadi laki-laki yang baik dan lebih berguna kedepannya."


Dua orang tua itu tidak bisa berkata-kata. Ucapan Ardian tidak ada yang bisa mereka pungkiri.


"Aku hanya berharap, kedepannya Papi dan Mami jangan pernah menyalahkan istri Ardian karena masalah apapun itu yang menyangkut tentang aku. Jika tidak ada yang ingin Papi dan Mami bicarakan lagi, Ardian mau pamit. Ada urusan yang harus segera aku selesaikan setelah ini."


"Mm... bagiamana keadaan kandungan istri kamu?" Renata sengaja melontarkan pertanyaan agar Ardian lebih lama duduk bersama mereka.


"Alhamdulillah baik, Mi. Istriku selalu rajin untuk periksa."


"Kenapa kamu tidak membawa istrimu untuk periksa di Klinik milik keluarga kita."


"Aku yang tidak mau. Aku masih mampu membayar di Klinik lain."


"Mami ingin makan bersama kamu, Nak. Apa kamu mau menemani Papi dan Mami ke Restoran?"


Ardian melirik jam tangannya. Sudah hampir jam lima. Ia kembali menghubungi istrinya untuk menanyakan nomor antriannya masih lama atau tidak. Namun, ia urungkan dan memilih untuk mengirim pesan singkat saja.


Sudah nomor berapa itu, Sayang?


Baru saja nomor dua, Kak. Masih lama sekali."


Ok, wait me...


Chayra hanya membalas pesan suaminya dengan stiker jari jempol.

__ADS_1


Ardian mengiyakan permintaan Maminya setelah Chayra bilang masih lama.


*********


__ADS_2