Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Maafkan kebodohan aku, Sayang


__ADS_3

Ardian masuk dengan menarik nafas lega ke dalam kamar. Nasihat dari Pak Akmal untuknya masih terngiang-ngiang. Mengira kalau Pak Akmal akan marah atau apa padanya. Ternyata pria itu malah memberikan nasehat yang benar-benar membuat hati Ardian merasa disayangi dan hargai keberadaannya. Walaupun nasehat panjang itu harus membuatnya berdiam di Musholla sampai waktu Dhuha tiba. Setidaknya dia merasa lega karena masih bisa diterima. Ardian tersenyum kecut saat melintas di ruang keluarga. Beberapa pasang mata menatapnya dengan tajam. Tapi, setidaknya pemegang guru kunci keluarga besar ini tidak menyalahkannya atas kedatangan Audy tadi.


"Assalamualaikum, Chay.." Ardian membuka pintu perlahan. Tidak ada jawaban membuatnya langsung menongolkan kepalanya ke dalam kamar. Melihat istrinya sedang rukuk mendirikan shalat, Ardian masuk perlahan dan duduk di sisi tempat tidur. Dia akan menunggu sampai wanita itu selesai shalat. Berniat meminta maaf karena sudah membuat masalah untuk keluarga yang selalu damai ini.


Sepertinya Chayra tidak menyadari keberadaan suaminya. Lama selesai shalat, tetapi dia tetap hanyut dalam do'a. Bahkan terdengar isak tangisnya. Lebih tepatnya seperti sedang curhat kepada Allah.


Ardian hanya menatap punggungnya. Mendengar do'a yang dipanjatkan istrinya membuat hatinya seperti teriris. Semakin merasa berdosa karena membuat wanita sebaik istrinya menangis berulang kali.


Chayra menutup mukanya dengan telapak tangan usai berdo'a. Sepertinya dia benar-benar tidak menyadari kedatangan Ardian.


Ardian berjalan mendekat karena tidak tahan menunggu Chayra yang tak kunjung bangun. Batu akan menyentuh pundak istrinya, ia menarik kembali tangannya karena Chayra kembali terisak. Kedatangan Audy ternyata membuat Chayra merasa terpukul.


"Ya Allah.. sampai kapan semua ini akan berakhir. Hamba lelah ya Allah. Hamba tau Engkau tidak akan menguji hamba-Mu melebihi batas kemampuannya. Tapi, hamba lelah dengan semua ini. Andaikan bisa, ingin aku putar kembali cerita ini dan mengganti kisah ini dengan kisah yang lain."


Deg..!


Ardian tersentak mendengar ucapan Chayra. Ia bangkit seraya berjalan mundur. Duduk kembali di sisi tempat tidur seperti yang dilakukannya tadi. Dia akan menunggu sampai istrinya menyadari keberadaannya.


Sepuluh menit menunggu, barulah Chayra bangkit. Melepas mukenanya, memakai kembali niqab yang menutupi wajahnya. Berniat ingin keluar untuk sarapan. Namun, ia tertegun saat mendapati suaminya sedang duduk menunggunya.


"K.. Kak Ardian kapan kembali?"


Ardian tersenyum kecil. Menatap istrinya yang terlihat kaget melihat keberadaannya di sana. "Barusan.. aku sudah mengucap salam. Tapi, sepertinya kamu khusyuk sekali berdo'a sehingga tidak mendengarkan salam yang aku ucapkan."


"Eh, maaf. Wa'alaikumsalam kalau begitu."


Ardian bangkit seraya tersenyum. "Kamu ini lucu sekali, Chay. Sudah lewat juga. Allah tidak akan murka karena kesalahan kecil itu. Apalagi kamu tidak tahu, kan? Tidak ada dosa bagi orang yang tidak tau. Bukan begitu, Sayang?"


"Mmm..." Chayra mengangguk-angguk kecil.


Ardian semakin mendekat, menarik tubuh istrinya sampai jatuh ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Chay. Maaf belum bisa membuatmu bahagia sampai sekarang. Maafkan aku yang selalu membuat luka baru untukmu."

__ADS_1


Chayra berusaha menarik tubuhnya. Tetapi, pelukan Ardian benar-benar kuat. Akhirnya dia kembali diam. Membiarkan pria itu memeluknya erat. "K.. kenapa ngomong begitu, Kak. A.. aku tidak merasa menderita. Aku baik-baik saja."


"Aku tau kamu terluka dengan kedatangan Audy tadi. Aku tau kamu hanya berpura-pura tegar di hadapan anggota keluarga yang lain. Aku juga terkejut. Tapi, aku akan membuktikan kalau aku benar-benar sehat dan tidak terinfeksi penyakit itu."


"Kak Ardian kenapa ngomong gitu? Aku.. baik-baik saja..."


"Jangan katakan apapun, Sayang. Aku tau kamu terluka. Maafkan aku.." Melingkarkan tangannya di kepala Chayra.


Chayra memejamkan matanya. Air matanya jatuh membasahi dada suaminya. "Aku hanya tidak mengerti dengan semua ini, Kak. Di saat aku merasa sudah bisa menerima Kak Ardian dengan segenap jiwa dan ragaku. Di saat itu juga cobaan datang dengan bertubi-tubi"


"Maafkan aku, Chay. Aku tidak ada niat membuatmu seperti ini. Aku yang salah selama ini memaksakan kehendakku. Aku yang memaksa kamu untuk menerima laki-laki hina ini. Seharusnya kamu tidak membimbingku sampai aku menjadi seperti ini. Seharusnya kamu pergi meninggalkan aku, agar kamu tidak terluka sampai sejauh ini."


"Jangan berkata begitu, Kak. Kita harus saling membimbing ke depannya. Saling mengingatkan di saat salah satu dari kita melakukan kesalahan. Kita harus bangkit agar orang-orang tidak lagi memandang hubungan ini dengan sebelah mata."


"Maafkan kebodohan aku selama ini, Sayang.." Ardian memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang. Dia juga mulai risih dengan tindakan-tindakan wanita di masa lalunya. Dia harus segera bertindak agar tidak ada lagi yang mengusik rumah tangganya.


"Aku ingin menyelesaikan semuanya dengan Audy, Chay.."


"Aku bosan terus-terusan bermasalah dengan wanita itu. Dia sudah keterlaluan, Chay. Semakin kesini dia semakin berani. Bahkan sampai mendatangi rumah ini. Itu tentu saja membuatku semakin tidak enak pada Ibu."


Chayra kembali menunduk. Dia juga sangat tidak suka dengan sikap semena-mena Audy. Apalagi mulutnya yang sangat pedas ngomong tanpa saringan membuatnya semakin kesal. "Apa yang Kak Ardian rencanakan?" Kembali menatap Ardian.


"Aku juga masih memikirkannya, Chay." Ardian membuang nafas kasar. "Belum lagi, Amira yang selalu mengirimkan pesan tak bermoral itu. Aku jadi curiga pada dua wanita itu. Seperti bersekongkol untuk menghancurkan kita."


"Jangan su'udzon dulu, Kak. Berfikir positif saja. Jangan sampai kita mendapat dosa karena memikirkan hal buruk tentang seseorang." Chayra melepaskan pelukannya lalu duduk di sisi ranjang. "Aku rasa, Mbak Audy hanya berniat memancingku agar aku terpengaruh. Mungkin ingin melihat aku terpuruk dan akhirnya putus asa. Dengan begitu Kak Ardian akan merasa semakin bersalah dan tidak tega kalau harus meneruskan pernikahan ini."


Ardian menatap Chayra dengan menautkan alisnya. Opini yang disampaikan istrinya terdengar masuk akal. Dia hanya manggut-manggut sambil mondar-mandir di hadapan Chayra. Baru begini saja dia sudah sangat-sangat merasa bersalah. Apalagi kalau sampai Chayra down gara-gara masalah ini. Mungkin opini istrinya itu benar-benar akan terjadi. "Serahkan urusan ini pada Allah. Kita hanya bisa berdo'a dan berusaha. Kalau perlu, kita harus menutup diri dari tamu-tamu tak penting seperti kemarin." Ardian membuang nafas kasta seraya duduk di samping istrinya. "Andaikan tidak ada Kakek kemarin. Entah apa yang akan terjadi. Mungkin aku sudah...." ucapan Ardian terhenti karena Chayra meletakkan jari telunjuknya di depan bibir suaminya.


"Jangan katakan apapun. Aku tidak mau Kakak mengatakannya apapun itu. Kak Ardian harus berjanji akan selalu di sampingku sampai anak kita lahir."


Ardian tersenyum manis melirik istrinya. "Jangan ragukan lagi hal itu. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu, Chay. Kamu harus berjanji akan selalu bersabar bersama laki-laki bodoh ini. Mengizinkan aku melihat anak kita saat anak itu lahir ke dunia."

__ADS_1


"Insya Allah, Kak. Semoga Allah selalu menjaga perasaan kita satu sama lain."


Ardian tersenyum seraya menarik tubuh istrinya. Memeluk tubuh mungil itu dengan hangat.


"Kak..."


"Mm...."


"Pindah topik yuk, capek ngomongin masa lalu Kakak terus."


Ardian tersenyum masam mendengar ucapan istrinya. Dia tau kalau Chayra sedang menahan perasaannya. Rasa sakit yang seperti merobek-robek sampai ulu hati. "Terus kamu mau kita bahas apa?"


"Besok jadwal periksa lagi. Apa Kakak akan masuk kantor besok?" Menatap suaminya dengan penuh harap.


"Kayaknya aku masuk, Sayang. Aku sudah tiga hari cuti kerja. Kerjaan aku sudah numpuk. Aku tidak mau Papi memarahiku lagi. Apalagi kalau Pak GM sudah komplain pada Papi, maka akan semakin panjang ceritanya."


"Jadi, Kak Ardian tidak bisa menemani aku periksa?"


"Aku akan usahakan." Ardian termenung, mencoba mengingat-ingat jadwal kerjanya besok. Sepetinya jadwalnya tidak terlalu padat. Tapi, menjadi sekretaris pribadi GM membuat jadwalnya terkadang tidak karuan. "Mm.. atau kamu ikut saja besok ke Kantor?"


"Hah, ikut ke Kantor Kak Ardian? Hmm.. nggak ah. Mungkin akan lebih baik kalau aku pergi bersama Ibu saja."


"Tidak. Aku akan usahakan untuk bisa menemani kamu. Atau... kamu hubungi aku saat kamu akan berangkat. Nanti kita bertemu di Klinik."


"Terserah Kak Ardian. Aku nggak mau maksa."


"Aku juga ingin tau perkembangan anak kita, Sayang. Orang tuanya kan, bukan kamu saja."


"Hhmmm...." hanya itu jawaban Chayra. Malas rasanya kalau harus memperdebatkan masalah kecil di saat perasaannya masih tidak karuan seperti saat ini.


Ardian mencium kepala istrinya. Perasaannya terasa lebih tenang saat dia bisa memeluk dan mencium istrinya seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2