
Ardian berhasil menepati janjinya pada Chayra untuk mengantar Chayra ke Kantor Zidane. Sebenarnya sampai saat ini dia masih bingung dengan ucapan istrinya yang mengatakan, kalau dia akan membuktikan pada Ghibran kalau apa yang diucapkan pria itu salah. Apa hubungannya pergi ke Kantor Zidane dengan Ghibran. Kalau mengatakan Ghibran bekerja disana juga tidak mungkin. Karena yang dia tau selama ini Ghibran berprofesi sebagai seorang Dosen. Berbagai macam pertanyaan menari-nari di kepala Ardian. Sepanjang perjalan hanya di pakainya untuk berperang dengan pikirannya. Sedangkan Chayra tertidur dengan paha suaminya dipakainya sebagai bantal.
Di tengah perjalanan menuju Kantor Zidane, Dodit yang bosan dengan suasana hening akhirnya membuka percakapan. "Mau ngapain sih, Ar ke Kantor cabang milik Kakek lu ini. Aku rada-rada rasa nggak nyaman kalau ini berhubungan dengan Kakek lu itu. Tau kan, Kakek lu itu banyak mata dan telinganya bertebaran di mana-mana."
Ardian yang masih berperang dengan pikirannya menoleh ke arah Dodit. "Sampai sekarang juga aku tidak tau apa tujuanku mendatangi tempat itu. Chay hanya bilang ingin ditemani aku."
"Terus kenapa kamu mengajak aku juga, Ar? Tau kan aku masih berjuang untuk nasib hubunganku dengan Tina kedepan. Aku malah diminta jadi Asisten pribadi kamu lagi. Iya.. walaupun sebenarnya aku memang Asisten kamu. Seharusnya kalau diluar ranah pekerjaan, aku boleh tidak mematuhi perintah kamu. Kalau seperti ini pekerjaan aku dobel jadinya. Selain jadi Asisten, aku juga menjadi sopir kamu."
"Aku hanya minta tolong untuk kali ini saja, Pak Dodit. Aku benar-benar membutuhkan bantuan Pak Dodit."
Dodit terkejut saat mendengar suara Chayra. Saat dia melirik ke belakang tadi, wanita itu terlihat tidur pulas. Tapi ternyata Chayra terbangun saat dia bicara tadi. Dia akhirnya hanya diam karena tidak tau harus menjawab dengan apa.
"Ada orang yang tidak tau malu menghina suamiku. Dan hari ini aku hanya ingin membuktikan ke orang itu, kalau orang yang dia hina bukanlah orang sembarangan."
"Maksud Bu Ayra?"
"Nanti juga Pak Dodit akan tau." Suasana kembali hening. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Chayra menarik nafas dalam setelah mobil berhenti karena sudah sampai di tempat tujuan. Ia menatap keluar melihat gedung yang menjulang tinggi. Gedung yang berdiri megah dengan tujuh lantai ke atas. Gedung ini akan menjadi saksi bisu bagaimana dia akan membalas perbuatan mantan terindahnya.
Chayra kembali ke posisinya setelah puas menatap keluar. Terdengar helaan nafas berat darinya membuat Ardian menatapnya dengan heran.
"Kenapa kamu terlihat tegang, Chay?"
Chayra tersenyum meringis menatap suaminya. "Sedang mempersiapkan emosi jiwa bertemu kembali dengan orang itu."
"Oh iya, Sayang. Ngomong-ngomong, kenapa Pak Ghibran ada di Perusahaan ini?"
"Apa aku belum cerita?"
"Aku tidak akan bertanya kalau kamu sudah bercerita."
__ADS_1
"Kak Ghibran bekerja disini sekarang. Aku nggak tau jabatan apa yang dia pegang. Dia hanya bilang sama aku kalau dia mau mencari pengalaman kerja." Chayra membuang nafas kasar. "Ayo Mas, kita keluar. Aku mau semuanya kelar hari ini. Aku ingin hidup dengan tenang bersamamu kedepannya. Aku tidak mau ada orang yang mengusik kebahagiaan kita lagi."
Ardian menarik sudut bibirnya. "Kamu bahagia menjadi istriku?"
"Pertanyaan macam itu, Mas?" Chayra melirik suaminya kesal. "Untuk apa coba aku bela-belain ke tempat ini kalau aku merasa tidak bahagia. Terus ngapain aku bela-belain nangis kemarin kalau aku tidak menyayangi kamu. Kita sudah berjuang bersama dari titik terendah kita, Mas. Apa aku akan diam saja, ketika kebahagiaan yang hampir sempurna ini diganggu gugat oleh orang lain?"
Ardian hanya tersenyum mendengar semua ungkapan hati istrinya. Ingin menimpali, tetapi mulutnya seperti sulit untuk berkata-kata. Berbagai perasaan campur aduk memenuhi jiwanya.
Dodit yang berada dibalik kemudi pun, tidak bisa berkata-kata. Hanya mulutnya yang menyungging senyum. Tidak menyangka kalau istri Ardian Baskara itu mencintai suaminya sampai seperti ini.
"Kok senyum, Mas? Ayo kita turun dulu. Pak Dodit, ingat! Dukung kami demi kesejahteraan kedepannya."
"Itu hal yang pasti, Bu Ayra. Intinya, sepulang dari tempat ini jangan lupa traktiran makan siangnya."
"Insya Allah.." Chayra melirik ke arah suaminya. "Mas, Pak Dodit mau ditraktir, kamu bawa uang kan?"
Ardian melotot sambil menahan senyum. "Aku nggak ada uang, Sayang. Uangku sudah habis disetor ke kamu dan Kakek."
"Ada sih.. tapi.. aku nggak bawa dompet." Ardian pura-pura menggaruk kepalanya seperti orang bingung. "Sebenarnya aku sengaja melakukan ini, biar si Dodit tidak minta ditraktir. Dan ternyata dugaan ku tidak meleset sama sekali."
Dodit tertawa lepas. "Bu Ayra tau, di luar kota kemarin suami Ibu ini mengajakku masuk ke pusat perbelanjaan. Tetapi, pas kami di kasir, dia malah meninggalkan aku ke toilet. Udah tau aku kalau itu hanya akal-akalan dia karena nggak ada duit."
"Kalau aku sudah kaya lagi, aku akan mengganti semua uang yang sudah kamu keluarkan untuk menjamin kehidupanku yang sekarang."
Dodit kembali tertawa. "Melihat kalian bahagia seperti ini membuat aku ikut bahagia. Kalian benar-benar pasangan yang saling mendukung dalam keadaan apapun. Sebenarnya tanpa kalian melakukan akting pun, orang itu pasti akan sangat kepanasan melihat keromantisan kalian berdua. Kita mulai filmnya sekarang. Aku sudah mengerti dengan apa yang diinginkan Bu Ayra." Dodit keluar duluan dari dalam mobil, diikuti oleh Chayra dan Ardian yang menggendong Adzra.
Sampai di loby, Dodit menghampiri resepsionis untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Tak berapa lama menunggu mereka langsung dipersilahkan menemui Zidane di lantai tujuh.
Zidane sudah duduk di sofa menunggu kedatangan tamu yang tak diundangnya. Chayra datang tepat waktu karena kakaknya itu sedang bersantai.
"Ada apa gerangan kamu datang kemari, Dek? Apalagi kamu datang tanpa mengabari terlebih dahulu."
__ADS_1
"Apa kedatanganku menggangu pekerjaanmu, Kak?"
"Tidak seperti itu, Dek. Aku hanya terkejut saja karena tidak biasanya kamu datang tanpa konfirmasi terlebih dahulu."
"Hmm..." Chayra mengedarkan pandangannya. "Mm.. Kak, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Pertanyaan mulai lontarkan.
Zidane kembali menatap adiknya. "Kamu kok aneh sih, Dek. Biasanya juga langsung nyerocos tanpa izin terlebih dahulu."
"Aku kan sudah menjadi istri Ardian Baskara sekarang. Jadi, aku tidak bisa bersikap manja seperti dulu sama Kak Zidane. Aku hanya boleh manja pada suamiku tersayang."
Zidane menyebikkan bibirnya. "Cepat katakan apa yang kamu inginkan, Dek. Aku jadi curiga sama kamu. Kamu kok berubah aneh kayak gini."
Chayra tertawa puas berhasil membuat Zidane bingung. Ardian hanya menahan senyum sambil mengusap-usap kepala istrinya. Mereka lebih leluasa bergerak karena Adzra sudah berpindah posisi ke pangkuan Zidane. Melihat hal itu Zidane semakin dibuat penasaran. "Apa kalian datang kemari untuk..." ucapan Zidane terhenti ketika pintu ruangannya diketuk dari luar. Sesosok pria bertubuh tegap, bermata sipit dan berkulit putih masuk ke ruangan Zidane. Baru akan menghampiri Zidane, pria itu terkejut melihat pasangan suami istri yang sedang duduk di sofa.
Chayra tidak mau kalah. Dia malah terlihat tidak kalah terkejut dari pria itu. "Loh, kok ada Kak Ghibran disini, Kak?" Untung saja persiapan melatih emosi jiwa sejak tadi berhasil.
Zidane terdiam beberapa saat. "Oh iya, Dek. Kakak lupa cerita sama kamu, kalau Ghibran bekerja sama Kakak sekarang."
Ghibran hanya tersenyum kecil lalu duduk di samping Zidane. "Maaf mengganggu, Zi. Ada yang perlu kamu setujui dulu. Kamu perlu menandatangani beberapa berkas ini karena akan dibawa ke lapangan besok."
Zidane menatap tamunya. "Mm.. Dek, nggak apa-apa kan, kalau Kakak tinggal sebentar? Kakak mau membahas ini dengan Ghibran di meja kerja Kakak."
"It's ok.. tapi jangan terlalu lama ya, Kak. Kami ada acara setelah ini."
Zidane mengangguk seraya bangkit, diikuti oleh Ghibran di belakangnya.
Chayra menggenggam erat tangan Ardian sambil menatap suaminya itu. "Mas... kamu mau ajak aku kemana habis ini. Kamu janji semalam, kalau kamu akan membayar tuntas waktu yang sudah habis terpakai diluar kota. Kamu sudah janji akan mengantarkan aku kemanapun aku mau. Pokoknya aku tidak mau dititip lagi. Aku cuman maunya sama kamu saja."
Zidane mengernyit mendengar ucapan manja adiknya yang seperti dibuat-buat. Sedangkan Ghibran, pria itu terlihat mulai tidak fokus.
**********
__ADS_1