
Chayra menatap Ardian sambil tersenyum pada pria itu. Beberapa hari terakhir ini, Ardian selalu pulang terlambat. Tapi, hari ini dia berjanji akan pulang cepat demi menemani istrinya pergi belanja perlengkapan bayi.
"Ingat janji Kakak kemarin. Aku nggak mau tau, pokoknya besok Kak Ardian harus pulang jam tiga sore. Pokoknya, Kakak harus sudah di rumah saat adzan Ashar nanti."
"Iya Sayang. Mudah-mudahan tidak ada kendala. Do'akan semoga tidak ada jadwal mendadak nanti." Ardian mengusap-usap kepala istrinya. Memperhatikan wajah Chayra yang akhir-akhir ini semakin manja padanya. Bukannya dia marah karena sikap istrinya itu. Tetapi keadaannya yang semakin kesini semakin sibuk membuatnya terkadang bingung bagaimana harus bersikap.
"Do'aku selalu menyertaimu, Kak. Iya.. walaupun Kak Ardian sering sekali membuat aku kesal. Tapi, aku bukanlah istri yang tidak tau cara mendo'akan suami agar mendapatkan rizki yang halal dan berkah." Chayra melirik suaminya saat mengatakan itu. Bicara berdua seperti ini membuatnya lebih leluasa mengatakan apapun yang ingin dia katakan.
"Terimakasih, Sayang." Ardian menarik tubuh istrinya lalu mencium pucuk kepalanya. "Aku jarang sekali melakukan ini sekarang sama kamu." Menghirup dalam aroma tubuh wanita itu.
Chayra menarik diri sambil menyebikkan bibirnya. "Bagaimana mau memeluk mencium aku kalau Kakak kebanyakan memeluk dan mencium berkas pekerjaan."
Ardian tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. Mencubit pipinya dengan gemas. "Kamu pintar merangkai kata-kata itu. Tapi percayalah, mencium dan memeluk berkas tidak seenak mencium dan memeluk istri." Kembali menarik tubuh Chayra ke dalam pelukannya.
"Kalau Kak Ardian tidak bilang begitu, aku jamin kalau kemarin malam adalah malam terakhir aku mau tidur bersama Kakak."
"Jahat.."
"Ya iyalah, masa iya, berkas lebih penting daripada aku. Mau digapok emangnya biar sadar."
"Hehehe.." Ardian cengengesan, semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku ngantuk Kak."
"Masa sih kamu sudah ngantuk? Baru jam delapan, Chay."
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan hasil penelusuran Kak Zidane."
Ardian tersentak. "P.. penulusuran apa maksud kamu?" Menatap istrinya dengan rasa takut.
"Penelusurannya pada si Alesha. Katanya, Kak Zidane mau ke rumah Alesha untuk meminta restu pada Papa Panji."
Ardian menarik nafas lega. Dia pikir penelusuran yang dimaksud istrinya adalah penelusuran tentang masa lalunya. Walaupun keluarga ini sudah mengetahui hampir seluruh masa lalunya. Tetapi ancaman Amira akhir-akhir ini selalu menjadi beban pikirannya.
'Apa iya, aku terkena penyakit **** itu? Tapi, selama ini aku baik-baik saja. Bahkan, jika aku terinfeksi virus itu. Tidak menutup kemungkinan kalau istri dan calon buah hatiku juga ikut terinfeksi. Tapi, aku lihat semuanya baik-baik saja. Bahkan Dokter Kandungan yang menangani istriku tidak pernah mengatakan seandainya ada kejanggalan pada hasil pemeriksaannya setiap bulan.'
"Hei, kenapa melamun?" Chayra menepuk-nepuk pipi suaminya.
"Eh, nggak kok, Sayang."
__ADS_1
"Masih capek emangnya? Padahal Kakak nggak pulang malam kan?"
"Iya," Ardian kembali mempererat pelukannya. "Aku.. cuma kepikiran nanti kalau kamu melahirkan, Sayang. Aku sibuk terus sekarang. Takutnya aku tidak bisa stand by dan menjaga kamu full time. HPL-nya kapan?"
"Mm.. kalau nggak salah tiga bulan lagi, Kak." Chayra mempermainkan kancing baju Koko yang dipakai suaminya. "Mmm... Kak," mendongak menatap Ardian.
"Mm.."
"Amira akhir-akhir ini sering mengirim pesan-pesan tak bermoral padaku."
Deg..!
Jantung Ardian langsung berpacu lebih cepat. "P.. pesan tak bermoral bagaimana maksud kamu?"
"Itu apa namanya? Dia sering mengirim video-video orang yang terinfeksi HIV AIDS itu. Tau nggak dia bahkan mengirimkan kata-kata buruk banget. Tunggu, aku ambil handphoneku dulu." Memindahkan tangan Ardian yang masih memeluknya.
"Nih, Kakak lihat dulu." Chayra menyerahkan handphonenya pada Ardian.
Suami lho memiliki masa lalu yang tidak jauh beda dengan orang-orang di video yang gue kirim itu. Jika orang-orang itu bisa terinfeksi. Maka tidak menutup kemungkinan kalau suami lho juga bisa terinfeksi. Lho harus hati-hati, Ayra. Suami lho itu mempunyai masa lalu yang sangat buruk. Jangan sampai karena lho terlalu asyik mencintainya, lho jadi lupa siapa dia. Ingat, penyakit **** menghantui hubungan kalian.
Ardian melafadzkan istighfar beberapa kali membaca pesan itu. "Kapan dia mengirim pesan ini, Sayang?"
"Sudah, kamu jangan terlalu memikirkannya. Biarkan saja dia berbuat semaunya asalkan dia tidak mengganggu fisik kamu." Ardian menarik tubuh Chayra sampai jatuh ke atas pangkuannya.
"Dia memang tidak mengganggu fisik aku, Kak. Tapi pikirin aku yang terus dia racuni. Aku lagi hamil lagi sekarang. Ini semua memang salah aku. Seandainya dulu aku tidak meminta Kakak untuk menikah denganku. Tentu Amira tidak akan melakukan ini."
"Sssstttt..." Ardian memeluk tubuh Chayra dengan pelan. "Ini semua bukan salah kamu. Ini semua sudah menjadi takdir kita. Allah mempertemukan kita dalam keadaan yang berbeda. Tapi, Allah menghendaki aku untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Allah tidak menyatukan aku dengan Amira, karena Allah tau kalau Amira bukan yang terbaik untukku. Amira tidak akan bisa membawaku untuk menjadi Ardian yang seperti sekarang. Ardian yang bertanggung jawab, Ardian yang bisa mendirikan shalat, Ardian yang bisa membaca Al-Qur'an dan Ardian yang lebih-lebih dari Ardian yang sebelumnya." Ardian memperhatikan istrinya yang hanya diam mendengar semua ucapannya.
"Jangan pikirkan semua ucapannya, Sayang."
"Aku.. aku hanya khawatir, Kak. Bagaimana kalau..."
Ardian membenamkan wajah istrinya di dadanya. "Jangan pikirkan hal-hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Kalau kamu sakit, maka aku akan sangat merasa bersalah karena tidak bis melindungi kamu dari hal-hal buruk yang membuatmu sampai jatuh sakit."
"Tapi, bagaimana kalau semua ucapan Amira itu benar, Kak?"
"Astagfirullah, Sayang, kamu kenapa berkata begitu?"
"Aku... aku hanya takut.."
__ADS_1
"Kalau memang aku menderita penyakit itu, buktinya aku baik-baik saja kan, sampai sekarang. Aku tidak pernah mengeluh sakit atau apa."
"Penyakit itu tidak langsung berefek begitu kita terinfeksi, Kak. Butuh waktu yang lama baru kita menyadari keberadaannya dalam tubuh kita."
Ardian menghela nafas berat. "Itu berarti kamu sudah termakan omongan Amira."
"Aku.. aku bukan terpengaruh omongan Amira. Tapi, aku cuma khawatir kalau ucapannya sampai terbukti."
"Insya Allah, Allah akan melindungi kita dari keburukan itu."
Chayra hanya diam. Perasaannya semakin tidak tenang. Dari kemarin perasaannya jadi tak karuan pada suaminya. Tapi...
"Apa Amira berkata begitu karena menginginkan Kakak kembali padanya?" Menatap Ardian yang terlihat mulai tidak nyaman dengan pembahasan mereka.
"Entahlah, aku lama-lama ingin membunuh wanita itu. Dia benar-benar sangat jahat. Aku menyesal telah menjadikannya bagian dari hidupku."
"Kenapa ngomong begitu? Bukannya karena Amira Kakak mengenal aku?"
"Heh, tidak akan. Jika aku tidak mengenalnya, Allah pasti sudah mempersiapkan cara lain untuk mempertemukan kita. Sudahlah, aku mau shalat Sunnah dulu. Memikirkan dia membuat perasaan aku jadi eneg."
Chayra turun dari pangkuan Ardian. Namun, pria itu kembali menarik tubuhnya dan mendaratkan satu ciuman di dahinya. "Aku mohon jangan terpengaruh ucapan Amira. Dia hanya ingin merusak kebahagiaan kita. Apalagi sebentar lagi kisah ini akan sempurna dengan kehadiran anak kita. Jangan hanya karena Amira, kamu meragukan aku. Insya Allah, aku baik-baik saja sampai saat ini."
Chayra menelan ludahnya. "Insya Allah, aku akan mencoba melakukan seperti yang Kakak sarankan."
"Kurangi main ponsel kalau itu memang menjadi sarana dia untuk mempengaruhi kamu. Perbanyak hubungan dengan Allah, Sayang. Selama ini ku yang selalu mengatakan itu padaku. Tapi, kali ini aku yang mengatakan itu. Aku tau perasaan kamu tidak tenang saat ini karena pesan itu membuat kamu ragu padaku."
Chayra melirik suaminya tanpa sepatah katapun.
"Aku siap periksa kesehatan lengkap kalau kamu masih terus-terusan meragukan kesehatanku."
Chayra tersenyum hangat. "Tidak perlu sampai seperti itu, Kak. Aku akan mencoba menerima saran dari Kakak. Mulai besok, aku tidak akan menghubunginya lagi. Sudah cukup dia mengganggu pernikahan kita."
Ardian membalas senyuman istrinya. "Jangan salahkan dirimu kenapa dia menjadi seperti ini. Ingat, dia yang meninggalkan aku duluan waktu itu. Aku hanya memintanya untuk menungguku. Tapi, dia memilih pergi. Jadi, aku mencintaimu karena kamu memang tulus mencintaiku. Belajar menerimaku dengan segala kekuranganku. Iya... walaupun aku tau itu semua sangat berat bagimu. Kamu rela melepaskan cinta suci demi mencintai laki-laki bejat sepertiku."
"Jangan berkata begitu, Kak."
"Itu makanya, kamu jangan terus-terusan merasa bersalah. Dia sengaja memojokkan kamu agar kamu tidak bisa hidup tenang."
"Iya, insya Allah.."
__ADS_1
*********